Rajawali: Apakabar – Perang melawan kebodohan

melawan bodohHola.., buenas noches..,

Hehehe.., Apakabar masih seperti dulu saja ya? Ada yang ribut adu kepala, yang jelas-jelas basis pemikirannya beda. Contohnya, ada yang bilang Hilaly kucing edan, dibales dengan ngeles sana-sini yang ujung-ujungnya, faith-bashing luh.. Kapir! Hehehe…

Ada yang mengawang-awang gak nyambung, sambil sibuk jualan.. :)

Ada yang marah karena dituding munafik (kalo yang ini kelasnya agak beda dengan yang pertama dan kedua tadi, lebih baik. Tapi dikiit..) Terus mau nuntut atau duel. Tak mau judgmental, saya cuma usul, jangan diteruskan Pak. Toh, yang dituduh sudah minta maap. Kebesaran itu bukan di menang duelnya, Pak. Tapi pada kemampuan kita meletakkan kepentingan kita dibawah kepentingan yang lebih besar lagi (jangan juga dianggap pedantik, saya cuma usul).

Bukankan freedom of speech dan anonimity dari Apakabar ini, yang membuatnya jadi begitu terbuka dan mencerahkan (atau malah membutekkan, yah? Tapi kalau begitu, kenapa tinggal disini? Keluar aja, gitu aja kok repot..)? Kalo nanti ndaftar forum harus pakai KTP, supaya jelas kalau tuntut-tuntutan, waah.., semua arus pemikiran yang begitu berwarna-warni itu, langsung macet.., cet! Ndak bagus! Dan kita harus akui lho, Apakabar membuat kita lebih pinter! Kalau ada yang nggak ngaku itu pasti self-contradicting, ngapain disini. Hehehe… Karena at worst, jadi lebih pinter ngeles!

Sekarang saya mau ke poin utama saya.

Saya kok dari dulu melihat Apakabar itu refleksinya Indonesia, bangsa kita ini, dalam bentuk yang lebih telanjang, dan.. aman! Dulu, ngomong ke publik bahwa Suharto kaco, ya anda pasti di-prodeokan. Kalo sekarang mungkin sama dengan ngomong ke publik, Habib Rizieq itu kaco, ya.. anda akan digebuki gerombolannya.. Jadi anonimitas itu atribut penting untuk menjaga kebebasan beradu kepala.

Dari semua debat-debat itu, saya juga kok yakin kalau banyak yang bisa melihat, bahwa hampir semua krisis-krisis bangsa ini tidak lepas dari kebodohan. Pemimpin yang ndak cukup bulet untuk jadi eksekutif (betul bahwa untuk sukses menari dalam kompleksitas tatanan politik Indonesia ini butuh genius, tapi itu tidak melepaskan tuntutan bahwa pemimpin ya perlu bulet, kalo tidak, ya jangan dipilih lagi.. cukup nyoba sekali saja). Representatif yang mikir perut dan titit-nya sendiri, ini yang lebih banyak kaconya. Rakyat yang juga pelupa.. mau-maunya ditipu janji pemilu, tetapi pas pemilu berikut, asal ada 50 ribu, milih gambar yang sama lagi.. yang terakhir ini yang menjengkelkan sekaligus mengharu-birukan, karena saya tahu, mereka begitu karena mereka ndak tahu harus bagaimana, mereka BELUM sadar hak politiknya!

Edian tenanan.., 61 tahun merdeka, rek! Diperkosa habis-habisan, kemudian dikasih 50 ribu, terus menciumi tangan pemerkosanya bilang terima kasih! Kalau nangisku bisa buat rakyat pinter, I’ll cry a river!

Tambah lagi dengan banyaknya social cancers dimana ada figur-figur yang sebenarnya ndak pinter, tapi karena tahu dia lebih pinter dikit dari gerombolannya, terus manipulasi.. wakil sorga, polisi tuhan.. padahal cuma mau nyolong sendiri. Mereka ini yang memperkeruh situasi, which is expected. Karena eksistensi mereka dijamin oleh kekeruhan itu. Kalau masyarakat itu bening dan pinter, maka tiba-tiba preman-preman bodo ini jadi gak punya raison d’être.

Harusnya lawan mereka adalah lapisan menengah, educated dengan life values yang relatif baik. Sayangnya lapisan ini yang sekarang hilang dari bangsa ini. Mereka ini jijik untuk mandi lumpur bobroknya Indonesia, dan memilih untuk menonton dari pinggir kubangan, berteriak-teriak dari sana. Atau sekalian pergi, berenang di danau cantik nun jauh disana. Ndak ada yang salah, secara pribadi.

Jadi sebagai kesimpulan, saya menganggap Apakabar itu bagian dari usaha kemanusiaan untuk memerangi kebodohan, sukur-sukur ada efek multiplikasinya yang akan membuat masyarakat yang lebih luas juga sedikit tercerahkan. Sedikit lho..

Poin kedua, problematika perang kemanusiaan melawan kebodohan, adalah perbedaan pada code of morality atas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Monster bodo, bisa melakukan apa saja. Apalagi manipulasi rakyat itu gampang. Tapi biar monster bodo, kalau cukup modal perang, bisa menang lho.. Jadi, meskipun demokrasi manipulatif, monster tetep bisa menang.

Kok sedih, yo..

Saya kok jadi mikir, kenapa gak ada yang mutusin jadi Batman ya..? Bagi yang punya sarana, apa sih susahnya menghilangkan ABB? Habib Rizieq? Dengan begitu, Bali ndak perlu kehilangan wisatawan? Ical Bakrie? Dengan begitu urusan Lapindo gak berlarut-larut. Habib Rizieq? Toh mereka-mereka ini patriarkal sekali, tidak gampang bagi mereka cari pengganti.

Ada yang bisa beri pencerahan tidak, kenapa knights (at least saya ngaku, ini self-proclaiming) tidak boleh sekali-sekali pakai caranya monster? Padahal semua tahu, kapal besar ini hampir tenggelam? Ya.. pasti akan ada yang bilang, kalau begitu knight itu hanya akan jadi monster yang lain. Tapi kalau dengan jadi monster itu, burden kapal ini berkurang. I’ll take it.. :)

Ya… ya… deep down, salah tetap salah, dan itu bukan yang terbaik bagi bangsa ini. Hanya sangat prihatin saja, dengan semua perlambatan yang depressing ini, sehingga jadi delusional of being God.. hehe..

Rajawali.

 

Komentar Babat:

Wah, tulisan RP (=Rajawali Pagi – mod) ini tulisan paling seger so far!

Aku nggak bisa ngerumusin role AK lebih baik lagi.  Memang begitu itulah.  Jadi forum blos-drong spt AK ini tetap mempunyai tempat, dibanding forum2 lain (tentu saja forum2 lain juga ada perlunya).

Banyak pemain disini yg ingin ‘menunggangi’ forum ini untuk kepentingan / harapan kelompoknya sendiri2 (atau harapan pribadinya, untuk jualan buku! he he ..).  Sah2 saja.

Tetapi inti dari semangat berkomentar di forum blos-drong begini adalah untuk membahas hal2 yg bersifat masyarakat  – agregat kataku.  Mengenai kejahatan2 yg dilakukan bukan hanya oleh maling dan perampok fisik, tetapi juga mereka2 yg maling secara alus (golkar, habib-brisig dll yg di sebut RP :P ).   Mereka2 yg sering menggunakan teknik2 agregat untuk kepentingan pribadi sendiri.

Inherently dalam forum spt ini akan lebih banyak kejelekan yg dibahas  jika masyarakat yg dibahas memang masih jelek –  dan isfun bashings jika isfuns masih tetap mengakibatkan kerusakan agregat di masyarakat.
Sopan-santun atau ‘mem-baik2in lawan bicara’ itu sekunder di forum begini ( di rapat RT itu yg primer .. ).

Tidak menutup mata dari hal2 baik yg terjadi tentu saja bagus, tetapi harus tetap realistis / berbasis pada kenyataan.
Aku masih nunggu2 tuh, ‘ofensif’ SBY baur2 ini ttg ‘hal2 baik yg kami lakukan’ itu dirinci lebih lanjut. Baik atau tidaknya suatu tindakan itu amat terukur secara praktis.   Tidak hanya konsepsual.

Apa yg dilakukan kabinet mengenai lapangan kerja?
Apa yg dilakukan kabinet mengenai kemajuan industri (lepas dari peresmian pabrik)?

Note lain, forum umum spt ini bagus untuk kalian2 mengasah cara berpikir yg lebih luas, mendengar suara dari orang lain — orang2 buta lain yg memegang gajah di sisi yg beda dari anda (yg pasti juga salah satu dari orang buta!) — secara mudah dan murah meriah!
Pertama mengakui bahwa anda orang buta, setelah itu melihat sudut pandang orang2 buta lain, kemudian mulai belajar ‘tidak buta’.

Dari situ bangkit dari ‘kebodohan’.   Karena kebodohan bukan hanya masalah IQ, tetapi juga masalah childhood programming, masalah pilihan2.  Selain juga masalah kesempatan.

Yg terakhir ini catatan untuk RP soal 50 ribu untuk tangan yg memperkosa itu.  Jika kau miskin, maka 50 ribu itu terasa sangat penting (padahal sangat tidak penting bagi si pemberi!).  Diskrepansi spt ini inti dari banyak masalah sosial — termasuk dilemma pelacur, ‘untungnya poligami’ dllsb.

Inti masalah sesungguhnya adalah di masalah2 agregat itu, kemiskinan, pemerataan, pendidikan umum, lapangan kerja, kesejahteraan –> hal2 yg menjadi portfolio kementrian setiap negara!! (jadi siapa yg salah?)

Bahwa akan selalu ada manusia2 spt habib-brisik maupun ical dan konglo2 hitam yg menunggangi massa untuk kepentingan sendiri — ini juga keniscayaan.

AK bukan satu2nya – tetapi jelas forum spt ini perlu ada!
(dan jika anda lebih seneng forum yg berbentuk lain, spt ngomong yg baik2 saja, me-muji2 raja, berpendapat seragam ttg sesuatu (agama. ideologi) maka lebih baik ikut forum lain atau bikin forum sendiri ..)

Kurasa judul RP ini, kemanusiaan dan kebodohan memang cocok!
Dan AK memang masih sama saja.
Karena situasi negara ngindo gonta-ganti, maling ganti baju, tetap saja maling … he heh !

(dibanding 10 tahunan yl kondisi ngindo ada yg maju — diktator monolith nggak ada lagi – pemerataan perbajingan kini!  Prez bukan lagi bajingan terbesar.  Kalo secara kesejahteraan rakyat Sby ngaku lebih baik, apa detailnya ..aku masih nunggu )

b@b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s