Pertarungan Jokowi vs Prabowo bisa sedikit dimiripkan dengan kisah Mahabharata Yuda peperangan antara Arjuna melawan saudara seibu lain ayah Adipati Karna di Padang Kurusetra. Dalam peperangan tersebut dia memiliki “Team Suksesnya” masing-masing. Peperangan ini sangat bergantung pada team sukses ini, di Mahabharata Yuda digambarkan sebagai kusir kereta perang. Kereta perang Arjuna dibawah kendali Krisna seorang raja titisan Bathara Wisnu dari negara Dwaraka dan kusir Adipati Karna adalah Prabu Salyapati mertuanya sendiri dari kerajaan Mandaraka, isteri Adipati Karna adalah Dewi Surtikanthi anak kedua dari Prabu Salya dan semua yang sedang berperang antara Pandawa dan Korawa termasuk cucu-cucu kesayangannya. Di hatinya ia berpihak pada Pandawa karena cerdas dan bersih luar dalam sedangkan raja Hastinapura, Duryudana, yang menikah dengan anak Prabu Salya juga, Dewi Banowati, beserta ke 99 saudara-saudaranya adalah culas menghalalkan segala cara untuk mampu menguasai Hastinapura yang sebenarnya adalah hak Pandawa.

Kenapa Adipati Karna memilih mertuanya untuk menjadi kusir kereta perangnya? Karena ia tahu bahwa mertuanya sangat piawai dalam mengendalikan kerta perang yang mampu menjamin kemenangan untuk bisa mengalahkan saudara tirinya Arjuna. Sedangkan Krisna tahu bahwa Prabu Salya sangat mumpuni menjadi team sukses Adipati Karna maka dia cepat mengambil inisiatif untuk menjadi kusir Arjuna karena dia tahu hanya dia yang bisa mengimbangi kusir Adipati Karna, Prabu Salyapati.

Tetapi team sukses dari Adipati Karna mengalami cacat ketidak mulusan karena sebelumnya terjadi adu argumen antara Karna dan sang mertua Salyapati. Salyapati ngotot tidak mau menjadi team sukses Adipati Karna persoalan makin memanas kemudian datang raja Hastina, Duryudana, mendinginkan hati sang mertua agar bersedia menjadi kusir kereta perang Adipati Karna karena rakyat Hastina sangat berharap banyak kepada Prabu Salya. Setelah dipikir semalaman akhirnya Prabu Salya bersedia menjadi team sukses Adipati Karna meski dengan latar belakang kekecewaan yang mendalam.

Beginilah kondisi kubu Prabowo, kusir kereta perang Prabowo Mahfud MD tak ubahnya Prabu Salya yang berangkat dengan kekecewaan yang mendalam. Hati kecil dia tahu bahwa kebaikan dan kejujuran ada dipihak lawan. Kubu Jokowi dipendegani (dikendalikan) oleh kusir cerdas Anis Baswedan dari kerajaan (institusi) Paramadina yang mendukung dengan sepenuh hati, dilandasi niat tulus karena ia pengabdi kebaikan (tentu menurut dia). Dengan kesigapan seorang Resi dan Brahmana yang memberikan berkatnya pada Pandawa, ia senantiasa mengingatkan team Jokowi akan pentingnya CARA-CARA YANG HALAL bukan menghalalkan segala cara. Biar pun lawan menggunakan jebakan-jebakan hitam ia dengan tenang melawan dengan elegan mendidik para pejuang team Jokowi untuk tidak terpancing melakukan hal yang sama. Jika kebaikan yang kita perjuangkan hari ini kalah tidak mengapa, karena kebaikan tidak pernah akan mati dan menyerah atas kejahatan. Kejahatan akan hilang daya sengatnya terhadap kebaikan suatu saat nanti.

Dalam perang di Padang Kurusetra sebenarnya Adipati Karna bisa unggul dan membunuh Arjuna seandainya Prabu Salya tidak menggenjot dengan sengaja keretanya sehingga amblas rodanya ke bumi sehingga panah sakti Adipati Karna meleset dari sasaran hanya sempat mengenai mahkota Arjuna. Prabu Salya sangat menyayangi cucunya, Arjuna. Raja Dwarawati, Bathara Kresna, melihat hal ini sebuah kesempatan yang bagus dengan komandonya agar Arjuna cepat melepas panah sakti Pasopatinya maka lepaslah panah Pasopati dan menghujam tepat di dada Adipati Karna. Adipati Karna, sang senopati perang, terhuyung jatuh dari kereta dan matilah dia. Sukma sang Adipati diiringi oleh harum semerbak pahlawan sejati dari para bidadari untuk menghadap Sang Hyang Widhi.

Pertarungan JOKOWI vs PRABOWO adalah bukan Perang Badar seperti yang dikumandangkan sang provokator Amien Sengkuni tetapi perang saudara dalam pertandingan (kompetisi). Perang saudara disini adalah kompetisi bukan permusuhan (ENEMY) tetapi persaingan untuk maju (RIVAL) jika kalah yang kalah harus menerimanya sehingga menjadi keharuman jiwa untuk mengabdi negara ini dari sisi lain. Banyak yang bisa diisi tidak hanya menjadi Presiden tetapi menjadi apasaja asal berbuah di masyarakat agar buah perjuangannya bisa menambah keharuman keadilan dan kesejahteraan serta dirasakan oleh bangsa ini. Jika kalah bukan mati menjadi bangkai sebuah simbol kejahatan digerakkan oleh perasaan benci dan balas dendam seperti yang pernah didendangkan oleh almarhum Soeharto “Jiti jibeh (Mati siji mati kabeh)” jika ia mati (turun dari jabatan) ia tidak rela maka semuanya juga harus mati (menanggung sengsara). Tetapi mati dalam arti senopati perang yang harum mewangi untuk mengisi persaingan dalam membangun kebaikan demi kesejahteraan bersama.

Berbuahlah dalam perjuangan hidup jauh lebih bernilai daripada hanya sebuah sukses. Karena siapa saja bisa berbuah sedangkan sukses hanya milik orang-orang tertentu. Tetapi bangsa ini perlu oeng-orang yang bisa berbuah banyak yang bermanfaat bagi lingkungan, bisa dimulai darimana saja dari bisa buang sampah sampai bersedia diatur untuk tidak semau gue seperti kebanyakan para PKL.

Selamat PILPRES 2014.