“We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars. But we won’t. And we’re slowly learning that fact. And we’re very, very pissed off.” ― Chuck Palahniuk, Fight Club

Aku tak dapat mengingat secara tepat sejak kapan aku mengurangi intensitas untuk menonton televisi. Mungkin beberapa saat semenjak lulus SMA dan memasuki bangku perkuliahan, karena tak banyak waktu luang yang tersisa bagiku, yang juga disibukkan oleh pekerjaan part-time. Kalau tak salah ingat, terakhir kalinya aku menonton televisi adalah ketika menyaksikan Gaia dan Elmo Eyefeelsix melakukan freestyle ’ngent*t Bakrie’ di Radioshow TV One, hampir setahun lalu.

Namun seorang kawan yang menetap di sebuah kost-an di belakang kampus yang kerap kusinggahi agak berbeda, ia memilih untuk menghabiskan waktunya menonton televisi. Ditengah padatnya rutinitas sehari-hari, tidakkah televisi dapat menjadi hiburan untuk sekedar melepas penat? Ujarnya padaku satu waktu.

Ia salah. Pernah sekali aku menonton televisi bersamanya. Aku meraih remote control dan memilih saluran.

Klik. Sinetron. Muncul sesosok perempuan paruh baya berwajah sendu meratap-ratap seusai shalat…

― Mau lihat ini? Tanyaku padanya.

Kawanku malah tertawa.

― Terserahmu saja, jawabnya santai lalu merebahkan kepala di bantal.

Membosankan, aku sudah muak dengan cerita dangkal semacam itu. Aku kembali menekan tombol. Klik.

…SBY membuat akun twitter resminya…

Baiklah, lalu selanjutnya akun apalagi yang akan ia buat? Toh rakyat di luar sana tak lagi membutuhkan pencitraan semu semata. Klik.

Iklan. Klik. Dahsyat, tempat sekumpulan korean-wannabe berjoget menyaksikan boyband dan girlband. Klik. Jambul baru Syahrini dan kisah pupusnya jalinan asmara para selebritis kelas teri. Yang benar saja, memangnya kita perlu tahu tentang hal itu? Ah, aku lupa, bukankah privasi hari ini adalah konsumsi publik? Baiklah, baiklah.

Klik.

Kulihat kawanku mulai terlelap. Sialan.

Klik. Klik. Klik.

Tak ada lagi yang benar-benar menarik untuk dilihat. Tak ada film-film box office yang kebetulan diputar. Tak ada serial cartoon yang bisa membuatku tertawa. Aku teringat kawanku tadi sempat berujar, lihatlah kanal berita seperti TV One atau Metro TV untuk meng-update berita-berita terbaru.

Klik. Acara perbincangan beberapa tokoh. Entah siapa, namun nampaknya mereka cukup penting. Terlihat dari raut muka para penonton yang amat antusias menyimak.

Tontonan yang justru terlihat tragis bagiku. Betapa tidak? Mereka menyatakan dirinya pintar, seakan-akan jauh lebih pintar dari yang lain. Entah karena telah berhasil menyusun buku, entah karena  memiliki posisi pakar pada suatu bidang tertentu. Entahlah. Tapi selalu saja hasil akhirnya sama, mereka merasa memiliki pengetahuan namun tak pernah mempunyai nyali untuk memperjuangkan apa yang mereka ketahui. Mereka lebih memilih menukarkan pengetahuan dengan popularitas. Toh pengetahuan juga menjual, pengetahuan tentang berjualan tepatnya, seperti Mario Teguh. Disinilah terlihat jelas perbedaan antara bercinta dan menonton film porno, antara bertindak dan omong kosong

Para penonton televisi juga tidak lebih baik. Mereka mendukung KPK dan merasa telah membantu memberantas kemiskinan, dengan cara melawan korupsi. Oh ya? Lagi-lagi aku lupa, karena sepanjang pengetahuanku, mereka yang sibuk berkoar-koar soal dukungan terhadap KPK dimotori oleh para kelas menengah yang sama sekali tidak miskin, oleh mereka yang memiliki pekerjaan dengan gaji cukup dan doyan menghabiskan waktunya di lounge kafe kopi mall-mall ibukota sembari menenteng gadget terkini, bukan di warung kopi di pinggiran jalan dimana realita permasalahan pada akar rumput nampak jelas terlihat.

Klik. Aku menekan tombol untuk mematikan televisi. Sekarang, apalagi yang dapat ku tonton?

Kulihat kawanku malah  tertidur semakin nyenyak, semakin pulas. Mendengkur. Aku menyesali mengapa ia tak mempunyai DVD player, karena dengan benda itu, setidaknya televisi dapat menjadi sedikit lebih berguna.

Aku meletakkan remote control di samping televisi dan ikut merebahkan badan di samping kawanku. Remote control pun tak lagi berguna, karena nyatanya aku telah kehilangan kontrol atas televisi.

Kini, tontonan di televisi hanyalah manipulasi para pemilik modal dan penguasa untuk mengontrol hidup para penontonnya, hingga mereka lupa bahwa kehidupan sesungguhnya berada di luar sana, bukan di dalam kotak ajaib yang dinamakan televisi. Bukan pula di ranah maya seperti twitterland, tempat dimana sekumpulan aktivis militan berbangga ketika mereka saling melempar argumen rapuh yang mereka sebut twitwar.

War. Perang. Perang apanya? Perang omong kosong, begitu maksudnya? Maha benar Debord dan Zerzan. Semoga kalian lekas mampus wahai para pengagung spectacle, para pembual intelektual, dan para korporat laknat yang telah sengaja menciptakan jaring-jaring kapitalisme dimana kita semua terjerat lalu mati membusuk di dalamnya.

Sumber: http://avenk27.wordpress.com/2013/04/20/televishit/