— Maksudnya dikosongin saja?
Iya, nggak perlu ditulis. Saya percaya Tuhan, bukan percaya agama.
— Nggak bisa, Mas. Form ini mesti diisi lengkap.
Oh, begitu. Ya sudah isi saja.
— Apa, Mas?

Aku menyodorkan fotokopi kartu keluargaku.
Seperti yang tertulis disitu saja.
— Kristen?
Ya, jawabku pelan.
Ia tertawa.
Aku tak tahu apa yang ia tertawakan.

***

Aku mengingat kembali apa yang terjadi beberapa tahun lalu, ketika aku membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) di kantor kelurahan untuk pertama kalinya. Kala itu wacana penghapusan kolom agama di KTP belum lama digulirkan. Aku disambut gelak tawa sang petugas kelurahan ketika hendak mengutarakan maksudku.

Maksudku, bukankah Tuhan dan agama adalah dua hal yang berbeda?

Aku tak membenci agama. Aku terlahir dalam keluarga yang amat taat menjalankan perintah agama. Hanya saja, setelah sekian lama merenungkan kehidupan beragamaku, pada akhirnya aku menyadari bahwa aku bukanlah seorang suci. Aku pun tak merasa menjadi orang yang ‘tercerahkan’.

Dalam konteks kejadian yang kualami, Marx benar, bahwa agama hari ini memang diproyeksikan sebagai kesadaran palsu dan menjadi legitimasi penguasa untuk menindas. Maka seketika itu pula, aku menanggalkan jubah agamaku. Aku mempercayai Tuhan, tentu saja, tetapi tidak demikian halnya dengan agama.

William James, seorang psikolog dari Amerika, dalam salah satu bukunya yang berjudul Varieties of Religious Experience berusaha menjelaskan fenomena keagamaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan individu manusia. Manusia sebagai individu dan bukan manusia sebagai kelompok angka-angka statistik belaka.

William James melihat bahwa agama hanya berarti apabila dialami sebagai pengalaman pribadi. Artinya, ada pengalaman pribadi yang bisa diterangkan dengan menggunakan simbol-simbol dari agama tertentu yang dihayati secara sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dari narasi kehidupan seseorang. Beragama dalam arti itu tidak lagi berputar di segi argumentasi belaka, tetapi sudah masuk kedalam kesaksian pribadi tentang bagaimana sosok imanen dan transenden yang dinamakan Tuhan telah beraksi secara konkret dalam kehidupan personal seorang pemercaya. Aspek inilah yang sangat dangkal di Indonesia. Selama ini, argumen yang ada hanyalah berputar pada pertanyaan: agama mana yang paling benar?

William James juga melihat bahwa ada dua macam manusia penghayat keagamaan, yaitu manusia yang lahir dua kali (twice born) dan manusia yang lahir satu kali saja (once born). Manusia yang lahir dua kali adalah manusia yang mengalami suatu pengalaman relijius traumatis; suatu perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Perjumpaan pribadi itu bisa diceritakan dengan narasi yang terstruktur rapi sehingga dapat pula dimengerti oleh orang lain. Narasi akan berupa deskripsi tentang hal-hal yang sedikit demi sedikit akhirnya membawa seseorang sehingga mengalami hal traumatis tersebut. Dan setelah hal traumatis berupa pengalaman relijius yang menggoncangkan itu dialami, subyek akan berubah total. Berubah total dalam artian ia akan menjadi seorang yang percaya penuh bahwa Tuhan memang berperan dalam hidupnya dan bahwa ada misi tertentu dihidupnya. Tuhan tidak lagi menjadi suatu kekosongan seperti yang dialami oleh sebagian besar dari kita, tetapi merupakan suatu pemaknaan yang terkait erat dengan hidupnya dalam hari per hari, menit per menit, detik per detik. Sedangkan manusia yang lahir satu kali adalah mereka yang tidak pernah mengalami pengalaman relijius traumatis. Ia malah terjebak menjadi penyembah agama, bukan penyembah Tuhan. Tak heran bila seorang kawan sempat mengatakan padaku bahwa agama hari ini adalah sebentuk berhala baru.

Tak dapat dipungkiri bahwa umat beragama di Indonesia terutama terdiri dari mereka yang lahir hanya satu kali saja. Memang terlihat relijius, tetapi hanya relijius suam-suam kuku saja. Aku jarang menemukan seseorang pemercaya yang ‘asli’, yang tahu bahwa sesuatu yang dipercayainya adalah benar menurutnya walaupun orang lain tidak mempercayainya. Hal itulah yang bermakna signifikan secara rohaniah baginya karena tidak ada lagi yang bisa menggoyahkan keyakinannya.

Mereka yang lahir hanya satu kali, umumnya, pengalaman relijiusnya hanya seperti itu saja. Komunal, berupa perayaan hari raya yang semakin lama semakin terasa membosankan, yang mencari Tuhan ke sana kemari tetapi tidak juga ditemuinya. Begitulah kurang lebih menurut William James, dan sayangnya, seperti itulah situasi di Indonesia sekarang.

***

— Mas, biayanya Rp 50.000,-.

Lho, bukannya di loket depan tertulis biayanya hanya Rp 20.000,- atau bahkan gratis bila membuat KTP untuk kali pertamanya?

— Oh, itu peraturan lama, Mas. Sekarang biayanya Rp 50.000,-.

Aku menyodorkan selembar uang  Rp 50.000,- kepadanya dan menertawakannya sambil berlalu pergi. Dari balik pintu kulihat ia mengernyit heran.

Sudahlah, batinku. Beragama dan bertuhan memang dua hal yang berbeda. Kenyataannya, beragama  memang tak melulu menjamin seseorang berbuat jujur.

Sumber: http://avenk27.wordpress.com/2013/12/15/losing-my-religion/