Minggu, 2 Juni 2013, pukul 07.46 WIB

Saya sedang menumpang bus Transjakarta dari halte Pinang Ranti untuk menuju Slipi. Persis sebelum melewati gedung DPR/MPR, saya melihat deretan bendera putih bertuliskan huruf-huruf arab yang sama sekali tak saya ketahui maknanya (karena saya adalah seorang Katolik yang tak melulu taat akan dogma Vatikan). Beberapa saat kemudian, laju bus Transjakarta terhenti. Sekumpulan bus sedang diparkirkan di sepanjang sisi jalan Gatot Subroto yang mengakibatkan lajur jalan menyempit dan menyebabkan kemacetan parah. Usut punya usut, ternyata para jamaah HTI akan melaksanakan tabligh akbar (atau apapun namanya, saya sama sekali tak menaruh peduli) di Senayan dan sepanjang jalan Gatot Subroto menjadi lahan parkir mereka.

Bedebah, gerutu saya dalam hati. Ini hari minggu pagi dan saya sudah terjebak kemacetan? Yang benar saja. Saya selalu berdoa kepada Tuhan saya agar cadangan minyak bumi cepat habis sehingga tak ada lagi kendaraan atau mesin-mesin yang dapat beroperasi. Dan yang terpenting adalah, agar para bigot agamis tersebut menyadari kepongahan mereka. Lihat saja, apa yang akan mereka kendarai jika tak ada lagi bus? Unta? Atau Buraq? Cuih.
*******

Senin, 10 Juni 2013. Pukul 11.10 WIB

Sekelompok mahasiswi (kalau bisa disebut mahasiswi, karena mereka semua menggunakan niqab yang menutupi sekujur tubuhnya dan hanya dapat terlihat telapak tangan serta kedua matanya saja) yang tergabung dalam KAMMI sedang berunjuk rasa di depan gedung rektorat.

“Tegakkan khalifah islamiyah! Demokrasi hanyalah omong kosong kaum kafir liberal! Allahuakbar!”
Kurang lebih seperti itu orasi basi yang saya dengar dari mereka ketika saya sedang berjalan menuju ruang kerja saya.

Rekan saya, seorang muslim yang tergabung dalam JIL sempat berkomentar dengan penuh keheranan kepada saya, “Ckckck, apa mereka nggak kepanasan ya?”

Saya hanya menyunggingkan senyum, mengiyakan perkataannya. Walau memang demontrasi sah-sah saja dalam sebuah negara demokrasi, tetapi kelakuan para aktivis KAMMI yang merongrong kesatuan NKRI memang tak dapat ditolerir. Mentoleransi intoleransi adalah hal terkonyol yang pernah saya ketahui, apalagi mentoleransi banyolan para bigot agamis yang merasa dirinya paling benar dan mengangkat dirinya menjadi tuhan atas sesamanya manusia. Sungguh, sebuah ketololan yang terakhir dan sempurna.

hti bbm

If this shit still going on, Islam will not dominate the world, but detonate the world. Boom! Civilization collapsed and moron wins.

“Sudahlah, biarkan saja. Nanti juga mereka capek sendiri,” ujar saya sambil berlalu. Saya memasang headset pada kedua telinga dan racauan sarkastik dari sebuah grup band yang pernah mengisi masa muda saya mulai terdengar.

“Kau paksakan budaya, tapi kita bukan di Arab, di jaman nabi. Cepat-cepatlah kau mati, tagih pahalamu di surga, surgamu nerakaku!” Milisi Kecoa, Ini Bukan Arab, Bung!