Tag

“Apa Itu Sosialisme Dengan Ciri-Ciri Tiongkok ?” — Ungkapan ini ditutup dengan “tanda-tanya” besar dan tebal. Itu bukan salah tik. Penulisnya sendiri, sarjana Tiongkok Zhuo Zhikui, dalam bukunya “What is Socialism With CHINESE Characteristics?” sengaja menempatkan tanda tanya besar itu. Ada sebabnya mengapa tanda tanya itu dibuat dalam huruf yang leih besar!!

Zhao Zhikui, pemimpin proyek pada Sinolisasi Marxisme di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok (Sinolization of Marxism — Chinese Academy of Social Sciences – CASS), peneliti dan pembimbing mahasiswa-mahasiswa yg mengambil gelar doctoral pada CASS — menyatakan bahwa: Banyak pakar asing menanyakan sekitar masalah “Sosialisme dengan Ciri-ciri Tiongkok”. Pertanyaan ini diajukan, tulis Zhao Zhikui – a.l. “karena riset yang saya lakukan meliputi masalah teori dan praktek sosialisme dengan ciri-ciri Tiongkok. Ada orang yang menyatakan sesuatu gejala sosial tertentu sebagai ‘ciri-ciri Tiongkok’ . Sementara orang bahkan mengéjék dengan mengatakan bahwa ‘ciri-ciri Tiongkok’ itu adalah ‘banting setir ke-Kanan menempuh jalan kapitalis dengan membiarkan menyala lampu warna Kiri”. Dsb, dsb. . . “

Pertanyaan lainnya yang sering diajukan ialah: Apakah dengan bertambah kuatnya Tiongkok melalui REFORM dan BUKA PINTU, — lalu . . . Tiongkok akan merupakan bahaya bagi Barat?

Pertanyaan yang kedua itu, sebenanrya sudah dijawab oleh seorang historikus Belanda, Prof Jan van der Putten dalam bukunya “Verbijsterd China. Wereldmacht van een andere soort”. Tulis Van der Putten: “Dari Tiongkok orang tidak perlu takut bahwa negeri itu akan melakukan aksi-aksi sefihak dibidang politik, invasi-invasi, ekspedisi penghukuman maupun operasi militer bersifat kemanusiaan. — Tiongkok tidak akan memaksakan sistim (politik)nya pada siapapun. Dan hal itu juga tidak mungkin. Karena sistim ( politikTiongkok) itu tidak bisa dipisahkan dan terikat dengan kebudayaan Tiongkok yang unik”.

* * *

Sebagai orang Indonesia, yang negerinya, Republik Indonesia ( diproklamasikan tahun 1945), termasuk negara pertama mengakui berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (1949) . . . akupun ingin mengerti dan memahami sekitar pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dan politik seperti apa yang ditempuh Tiongkok dewasa ini. Bukankah Ir Sukarno, salah seorang pemimpin besar perjuangan kemerdekaan nasional bangsa Indonesia, Bapak Nasion, Proklamator Kemerdekaan Indonesia, serta Presiden Republik Indonesia pertama negara Republik Indonesia, —- dengan tegas menunjukkan bahwa untuk tujuan keadilan, kemakmuran dan kejayaan, — Indonesia harus membangun negara yang Sosialis. Kalau kita bertolak dari Undang-Undang Dasar dan dasar falsafah negara, yaitu Pancasila, maka jalan yang hendak ditempuh Indonesia, adalah jalan Sosialisme.

Oleh karena itu seyogianya Indonesia menarik pelajaran dari negeri-negeri lain yang juga membangun Sosialisme, a.l dari Republik Rakyat Tiongkok.

Untuk tujuan tsb, selain menjenguk kawan-kawan seperjuangan lama orang-orang Tiongkok dan teman-teman Indonesia yang bermukim diTiongkok, selama dua minggu, dari 26 Mei s/d 8 Juni 2013, bersama Murti, aku bekunjung (lagi) ke Tiongkok. Terakhir kunjungan kami ke Tiongkok adalah 13 tahun yang lalu, yaitu tahun 1998. Undangan datang dari organisasi yang sama: “ Chinese People’s Association for Friendship With Foreign Countries” (CPAFFC). Adalah organisasi non-governmental ini juga yang mengundang kami sekeluarga untuk tinggal di Tiongkok dan aku bekerja disana (1966-1986).

* * *

Dua bangunan baru besar di Beijing, sedikit banyak, mencerminkan perubahan dan kemajuan yang terjadi selama dasawarsa ini. Amat jauh berubah dibanding keadaan ketika kami meninggalkan Beijing pada tahun 1986. Begitu besar dan meluas perubahan itu hingga orang jadi pangling dan mudah tersesat. Meskpun dulunya pernah bertahun-tahun tinggal di Beijing. Beijing dewasa ini sudah berubah-total menjadi sebuah kota besar ukuran dunia dengan ribuan flat perumahan baru untuk warganya, kantor-kantor pemerintah dan perusahaan dalam negeri dan asing, rumah-rumah makan, kedai-kedai dan mal-mal serta hotel-hotel modern, dengan infrastruktur modern, taksi-taksi serta kendaraan umum bus serta metro ratusan kilometer.

Menonjol adalah bangunan Stadion Olahraga “Birds Nest”, “Sarang burung”, dimana telah diselenggarakan Olympiade Musim Panas 2008 yang megah dan terbesar di sepanjang sejarah Olympiade. Beijing menjadi tuanrumah untuk para olahragawan dari 86 negeri. . . . Dunia tercengang meyaksikan Tiongkok menggondol terbanyak medali emas (51). Baru pertama kalinya Tiongkok memenangkan medali emas terbanyak sejak ikut dalam pesta olah raga musim panas Olympiade.

the-egg-building-in-beijing-china

Satunya lagi adalah bangunan indah budaya “The Giant Egg” (Photograph by JoeyWan )yang selesai tahun 2007. “The Giant Egg” adalah sebuah bangunan megah milik “The National Centre for the Performing Arts (NCPA)”. Di sinilah dibangun teater opera Peking dan drama (1040 kursi), konser (2017 kursi) dan panggung Opera (2416 kursi) . Senafas dengan semangat “Buka Pintu”, gedung kesenian indah “The Giant Egg”, yang terdiri dari elipsoid dome titanium dan kaca itu dibangun menurut blueprint seorang arsitektur Perancis, Paul Andreau. Kemampuannya menampung lebih dari 5000 pengunjung. Dengan demikian, memberikan syarat pada warganya untuk ambil bagian dalam kehidupan kebudayaan nasional maupun dari negeri-negeri lain.

* * *

Manusia-manusianya: Ratusan ribu berkendaraan mobil milik sendiri. Jutaan lainnya yang berkendaraan umum serta yang berjalan-kaki tampak berpakaian rapi, bagus dan banyak yang pakaian, sepatu dan tasnya, “bermerek”. Paling tidak satu diantara sepuluh orang memegang ponsel (HP) ukuran besar yang mutakhir. Banyak yang bermerek Apple, Samsung atau bikinan dalamnegeri. Sambil duduk-duduk atau berjalan mereka sibuk bicara melalui tilpunnya model terbaru. Sehingga aku merasa agak sungkan malu-malu kucing mengeluarkan ponsel sendiri berukuran kecil yang sudah dipakai bertahun-tahun.

Betul, . . . . . gejala yang dikemukakan diatas menunjukkan peningkatan kemakmuran masyarakat di satu kota Beijng serta kota-kota besar lainnya yang kami kunjungi seperti Shanghai, Nanchang dan Shenzhen —- dalam tigapuluh tahun terakhir. Namun dalam artian umum juga mencerminkan situasi umum kota-kota besar Tiongkok lainnya. Menunjukkan pula arus urganisasi yang juga punya dampak problematik tidak kecil.

Kalau hendak memperoleh gambaran menyeluruh tentang perubahan luar biasa yang terjadi di Tiongkok selama 30 tahun terakhir, sejak diberlakukannya kebijakan “Buka Pintu dan Reformasi”, dan bila ada kesempatan, salah satu cara yang efektif adalah brkunjung ke gedung pameran Expo 2010, seperti yang kami lakukan di Shanghai itu.
Expo 2010, resmi populer disebut Shanghai Expo 2010. Ikut serta dalam Expo ini lebih dari 190 negara dan lebih dari 50 organisasi internasional. Expo Shanghai 2010 berlangsung di kedua belah tepi S, Huangpu (1 Mei sampai 31 Oktober 2010). Shanghai Expo 2010 merupakan Expo Dunia. Dengan tema “Better City – Better Life” (Kota yang lebih baik – Kehidupan yang lebih baik).

* * *

Di Beijing, berkat perhatian dan bantuan Xiao Qun, putri mendiang Siauw Giok Tjhan, mantan Ketua Baperki dan anggota DPR-RI, — kami berkesempatan berkunjung ke Universitas Beijing (Beida). Disitulah kami memperoleh kesempatan yang jarang dan amat berharga, — mendengar dan mengadakan percakapan tanya jawab langsung dengan 6 orang profesor Beida. Percakapan berkisar pada politik “Buka Pintu dan Reformasi”, serta tema “Sosialisme dengan Ciri-Ciri Tiongkok.” Xioa Qun juga telah mengundang kami menyaksikan sendra-tari modern Tiongkok “The Golden Mask Dinasty”, yang dipentaskan diatas panggung pertunjukan ultra modern di THEATER OCT (Overseas Chinese Theater), Beijing. Baru pertama kali ini bisa menyaksikan panggung teater yang begitu modern.

Kesempatan diskusi juga diperoleh ketika kami mengujungi Akademi Komunikasi Tiongkok di Beijing. Disitu kami berdiskusi dengan belasan mahasiwa S1 dan 4 orang dosen mereka. Juga mengenai tema yang sama.

Seterusnya, — sempat pula kami mendengarkan dan berdiskusi dengan sahabat-sahabat Tiongkok di Shanghai, Nanchang dan Daerah Ekonomi Istimewa Shenzhen. Di Nanchang kami mendengarkan dan berbincang-bincang mengenai tema yang sama dengan dua orang sarjana ekonomi dari Universitas Nanchang, tempat studi tidak kurang dari 50.000 mahasiswa studi disitu. Kesempatan lain adalah menjenguk teman-teman Indonesia yang bermukim di Nanchang, a.l dengan sahabat lama Suar Suroso, mantan wakil pemuda Indonesia di Organisasi WFDY – World Federation of Youth, Budapest. Suar Suroso selama ini telah menulis tidak kurang dari 9 buku. Diantaranya mengenai Perang Dingin, Bung Karno dan Marxisme.

* * *

Kami belum sempat mengunjungi pedesaan. Dengan asumsi bahwa berita yang bisa dibaca di Gelora45 mencerminkan siatuasi sesungguhnya (lihast lampiran), maka bisa disimpulkan bahwa politik Tiongkok yang populer dirumuskan “BUKA PINTU DAN REFORMASI” telah menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi luar biasa di sepanjang sejarahnya. Membuat Tiongkok, sebuah negeri berkembang (developing country) menjadi kekuatan ekonomi dunia nomor dua sesudah AS. Yang telah mengejar dan melampaui Jepang dan Eropah.

Semua pembicaraan dan tanya-jawab dengan fihak Tiongkok berlangsung dalam suasana bershabat, terbuka, kritis dan analitis. Dalam semangat “bertolak dari keadaan yang nyata, mencari kebenaran”, diskusi amat lancar dan menarik. Hal-hal baru kudapati yang amat bermanfaat dalam rangka MEMAHAMI TIONGKIOK. Teristimewa pembicaraan yang dilakukan di Shenzhen, sutu daerah ekonomi khusus , dibawah kekuasaan Sosialis, yang tujuannya a.l menyedot kapital Tionghoa perantau dan asing lainnya serta teknologi dan menagement mutakhir. . . .. DEMI PEMBANGUNAN SOSIALISME DENGAN CIRI-CIRI TIONGKOK.

* * *

Dalam setiap pembicaraan-tanya jawab yang berlansgung dengan kami, fihak Tiongkok, baik yang pejabat, sarjana, mahasiswa, maupun orang biasa. . . semua punya kesamaan pandangan, yaitu . . .

”Bahwa tugas utama Tingkok dewasa ini ialah bagimana memakmurkan rakyat yang berjumlah 1.4 milyar itu.” . Bahwa perkembangan Tiongkok dewasa ini berada pada tahap PERMULAAN SOSIALISME.

Selanjutnya ditandaskan, bahwa kekuatan pendorong utama dan pokok pertumbuhan, perkembangan kemajuan masyarakat —– adalah KEKUATAN PRODUKTIF MASYARAKAT.
Bahwa Kemiskinan itu Bukan Sosialisme!

* * *

Dalam pada itu disadari bahwa kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi sekarang ini bukan tanpa munculnya RISIKO atau dampak negatif. Dikemukakan secara terus terang dan terbuka, bahwa dampak negatif itu menjadi tugas nasional untuk diatasi bersama, yaitu:

1) Kesenjangan sosial,
2)Polusi, dan
3)Kemerosotan moral, seperti korupsi dan kriminalitis lainnya.

Semua itu diakui secara terbuka dan terus terang dan mereka berketetapan hati untuk mengatasinya.

* * *

Di tulisan berikutnya pada kolom ini akan dimasuki lebih lanjut tema dan masalah yang jadi percakapan tanya jawab.

* * *

Lampiran:

ENAM DESA MAKMUR DI TIONGKOK
<Xin Hua Net: 08-09-2012>

1. Desa Hua Xi: ditahun 70-an adalah desa perladangan, tahun 80-an menciptakan pabrik dan tahun 90-an menciptakan kota. Sekarang didesa ini, telah muncul Gedung 72 tingkat dengan ketinggian 328 M, menjadi gedung ke-8 tertinggi di Tiongkok. Inilah yang dikatakan Wu Ren Bao, kepala Desa Hua Xi, “Kita akan membangun Desa Hua Xi di Langit”.

Gedung-gedung dibangun dengan modal 200 orang terkaya Desa Hua Xi, masing-masing 10 juta RMB. Setiap “Pemilik modal” mendapat satu-set flat–berbintang 5, yang boleh dijual keluar atau diubah menjadi kamar hotel. Seluruhnya bisa menampung lebih dari 1000 orang, restoran untuk 5000 orang, dan lengkap dengan jalan, kota, pelabuhan dan bioskop, … pantaslah disebut Desa Hua Xi dilangit. Restoran diatas langit terbesar di Asia, Sistem lift pertama diDesa Tiongkok dan sistem pengontrolan modern didunia, penduduk desa bisa ikut menikmati pelayanan Hotel berbintang 5, mencuci baju dikirim ke ruang cuci, makan masuk saja ke restoran, …

2. Desa Nan Ling. Desa Nan Ling berada di distrik Long Gang kota Shen Zhen. Setiap tahun melangsungkan Makan Malam Bersama Penyerahan Hadiah bagi Teladan. Hampir setengah yang menghadiri Makan Bersama adalah ahli pendatang dari luar. Yang hadir sedikitnya dapatkan 200 RMB ang-pao. Huang Chang Le ditahun 2011 memperoleh hadiah “Pekerja Teladan dari Luar”.
“Kami semua senang menetap disini, karena toleransi yang kuat didesa Nan Ling”, kata Huang Chang Le. Di desa Nan Ling, kecuali mendapatkan bonus keuntungan setiap tahun, penduduk desa setiap tahun bisa keluar bertamasya, pembagian rumah tinggal dan “kue” keuntungan didapat setiap tahun. Huang sekarang sudah mendapat perumahan flat gratis 3 kamar 1 ruang tamu. “Saya sudah menjadikan Desa Nan Ling sebagai kampung halaman ke2, saya sangat senang dengan lingkungan hidup demikian.” Tegas Huang.

Disamping memberi bayaran besar untuk menyedot keahlian, Desa Nan Ling juga sangat memperhatikan mendidik KEAHLIAN. Desa ini memberi beasiswa, beserta tunjangan 10 ribu RMB bagi pelajar pintar yang masuk Universitas.Setiap bulan memberi 500 RMB uang saku. Bagi mereka yang berhasil masuk 10 Universitas terbaik di Tiongkok, tunjangan diberikan 100 ribu s/d 500 ribu RMB. Sedang bagi pelajar yang meneruskan sekolah di luarnegeri bisa diberi sekaligus 200 ribu RMB; Setelah mahasiswa tamat dan kembali bekerja didesa Nan Ling, diberi fasilitas setingkat Wk. Kepala Pabrik. Bagi siswa yang tidak tamat SMA di Desa, tidak hanya tidak diatur pekerjaan, juga tidak dibagi bonus tahunan.

3. Desa Xi Tang, penduduknya mendapat lebih 2000 RMB uang pensiun.
Shi Mei Ling, penduduk Desa Xi Tang di distrik Qian Zhou Kota Wu Xi, bersama suami, putra dan ibunya tinggal di gedung Villa 3 tingkat seluas 300 M2,.
Namun kehidupan macam ini, hanyalah kehidupan menengah saja di Desa Xi Tang. Lebih 2000 penghuni Desa, sudah lebih 70% tinggal di gedung macam Shi Mei Ling tinggal. Di Desa ini, setiap penduduk sudah ada jaminan pensiun dan tanggungan kesehatan/pengobatan, sekalipun tidak pernah bekerja di perusahaan Desa, setelah mencapai usia pensiun, juga bisa mendapatkan 2000 RMB uang pensiun. Setiap keluarga bisa mendapatkan tunjangan pertanian dan tunjangan air-listrik. Disamping itu, Desa Xi Tang juga menanam modal untuk membangun perumahan orang-tua, lengkap dengan air-co dan perlengkapan pemanas, mengatur 3 X makan yang sangat makmur. Penduduk desa yang berusia genap 73 berhak jadi penghuni rumah orang-tua hanya dengan pembayaran 100 RMB/bulan.

4. Desa Hang Min: Semua penghuni Desa adalah pemilik saham.
Desa Hang Min berada didistrik Gua Li, daerah Xiao Shan Kota Hang Zhou, dengan areal 2 Km2, lebih 300 keluarga, jadi lebih dari 1000 orang saja. Dengan menggunakan hanya 300 ribu RMB sudah bisa menempati gedung Villa sekitar 300 meter persegi yang dibangun dengan perancangan terpusat. Penghuni Desa setiap keluarga sudah masuk Gedung Villa. Setiap keluarga sudah punya garasi mobil. Diatas tanah ladang Desa Hang Min seluas 800 Mu, ada 23 petani yang melakukan produksi pertanian dengan mekanisasi. Padi hasil produksi dijual secara terpusat, berdasarkan harga 1 RMB/Kg dijual pada penduduk desa.

Tahun yl., sekretaris Partai Desa Hang Min, Zhu Zhong Qing, menetapkan hak-milik kolektif Desa, dibagikan menjadi saham setiap penduduk Desa sesuai dengan nilai kerja, besar-kecil jasa yang diberikan pada Desa. Dengan demikian seluruh penduduk desa, setiap tahun mendapatkan bonus sesuai persentasi saham yang dimiliki. “Kami tidak hanya penghuni Desa, tapi juga Pemilik Desa ini”, demikian kata Zhu Jin Lian, bersama dengan suaminya bekerja diperusahaan yang diusahakan Desa ini, tahun lalu keluarganya dapatkan pemasukan gaji 180 ribu Yan, ditambah lagi 700 ribu Yan bonus pemilikan saham.

5. Desa Teng Tou: Desa perumahan Daerah Pemandangan Touris A-5.
“Tunjangan sosial tahun ini di Desa dinaikkan lagi, setiap penduduk desa mendapatkan tunjangan 1000 RMB. Keluarga kami ada 5 kepala, jadi setiap tahun sedikitnya dapatkan tunjangan sosial lebih dari 60 ribu RMB”, demikian kata Chen Yin, penduduk Desa Teng Tou sambil tertawa. Didesa sudah dibangun Rumah Sakit, lengkap dengan asuransi kesehatan. Orang tua diatas usia 60 tahun, diperbolehkan mengambil uang pensiun 400 – 1000 RMB/bulan. Setahun sedikitnya bisa dapatkan 6000 RMB lebih.

Puluhan tahun yl, Desa Teng Tou yang tidak jauh dari kota Ning Bo, justru dikenal sebagai “Desa-Miskin”. Tahun 1993, Desa Teng Tou membentuk “Komite Lingkungan”, merupakan satu-satunya di Desa Tiongkok. Mereka melakukan penilaian terhadap pencemaran lingkungan akibat berbagai industri, untuk mempertahankan Pedesaan Hijau. Dengan keuntungan lingkungan, Desa Teng Tou membuat Pengembangan sumber daya agro-ekologi pariwisata, membuat salah satu wilayah Pemandangan Touris tingkat A5 di Tiongkok, setiap tahun menyedot 600 ribu touris dengan pemasukan untuk tiket 55,5 juta RMB.

6. Desa Jiu Xing: dengan “Tiga Jaminan” kehidupan lebih terjamin.
Memasuki Desa Jiu Xing yang berada didistrik Wen Xing barat daya kota Shang Hai, seperti masuk dalam lautan toko. Diatas tanah 1600 Mu, didirikan Pasar Grosir integral terbesar di Tiongkok Timur. Ia juga merupakan Pasar Grosir integral terbesar di seluruh Tiongkok yang diselenggarakan di tingkat Desa. Penduduk desa yang berjumlah 3757 orang, rata-rata penghasilan setiap orang 35 ribu RMB/tahun.

Selain untuk setiap penduduk ada kerja dan ada jaminan, setiap orang juga memiliki saham. Tidak hanya menjadi penghuni Desa tapi juga menjadi pemilik Desa. “Setelah memiliki saham, petani baru mendapatkan keuntungan jangka panjang. Sebenarnya, mendapatkan sesuai hasil kerjanya dan pembagian bonus sesuai pemilikan saham diperusahaan Desa ini, ditambah mendapatkan pensiun dihari tua, jaminan kesehatan/pengobatan dan jaminan penganggur, di Desa Jiu Xing dikatakan “3 Jaminan”, demikian kata Wu En Fu, sekretaris Partai Desa Jiu Xing.

Asuransi Kesehatan, tunjangan pensiun, saham dan bonus, … adalah istilah yang hanya dikenal di kota dan sekarang sudah “masuk ke setiap keluarga di Desa”, bahkan banyak orang kota menjadi merah matanya melihat kehidupan “mewah” didesa. Dari seluruh Desa menikmati tunjangan sosial yang ada, tidak sulit untuk melihat: bahwa kemakmuran ekonomi daerah pesisir Tiongkok tenggara, tidak sepenuhnya tergantung dari kemakmuran Desa, sedang petani menjadi “TUAN DESA” inilah sebab utama mendorong visi dan spirit mereka sehingga mencapai “perkembangan melompat” ini.
(Bersambung).