Beberapa tahun terakhir ini, melalui Internet saya menemukan beberapa ajakan untuk menjadi vegetarian dalam rangka menyelamatkan planet Bumi ini, baik melalui email, blog, situs berita, maupun dari social networking. Awalnya tidak begitu saya pedulikan, namun akhirnya saya penasaran, apa hubungannya “menjadi vegetarian” dengan keselamatan planet Bumi, begitu saya bertanya-tanya. Di bawah ini adalah sebuah ringkasan dari berbagai tulisan mengenai itu.

Setelah sedikit Googling, saya cukup terkejut dengan apa yang telah dicapai umat manusia dalam mencukupi kebutuhan protein di dalam makanannya, terutama soal daging dari ternak hewan dan unggas. Jika dahulu saat manusia makan daging ternak hanya dari hewan dan unggas yang ada di sekitarnya, sekarang hewan dan unggas dipelihara di sebuah tempat yang tidak lagi mirip dengan peternakan hewan dan unggas, tetapi lebih mirip sebuah pabrik besar di mana hewan dan unggas dihasilkan secara cepat atau efisien, kemudian daging ternak ini dikirim berjuta-juta kilometer jauhnya melintasi lautan atau benua untuk dikonsumsi. Di pabrik itu tingkat kematian ternak sangat kecil, meski bukan berarti ternak itu sehat. Hewan dan unggas itu mendapat suntikan aneka obat atau hormon agar tetap hidup dan tumbuh amat cepat untuk dapat segera dijagal.

 

Yang juga mengejutkan adalah, jika dahulu kala hewan hanya makan dari tumbuhan yang tersedia di sekitarnya, sekarang jutaan hektar hutan di seluruh dunia yang seharusnya menjadi paru-paru dunia ditebang untuk dijadikan pertanian atau perkebunan yang hasil panennya diperuntukan bagi makanan ternak di berbagai belahan dunia yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah manusia yang mengkonsumsinya. Ternak yg jumlahnya milyaran ini tentu harus diberi makan. Silahkan bayangkan berapa luas pertanian atau perkebunan di planet Bumi ini yang harus disediakan untuk memberi makan ternak ini. Contohnya adalah, di Amerika Selatan, 400 juta hektar tanaman kedelai digunakan sebagai pakan hewan ternak, padahal seluruh manusia di planet Bumi ini hanya memerlukan 25 juta hektar saja untuk mendapatkan pasokan protein nabati (protein dari kedelai). Penggunaan 1 hektar lahan yang hasilnya untuk untuk peternakan hanya menghasilkan 20 pon protein hewani, sedangkan jika kita menanam kedelai pada lahan yang sama besar maka dapat menghasilkan 356 pon protein nabati. Peternakan juga menguras secara besar-besaran sumber air kita yang berharga dan semakin tipis. Peternakan menggunakan 1.200 galon air hanya untuk menghasilkan 1 porsi daging sapi sedangkan 1 porsi makanan para vegetarian hanya membutuhkan 98 galon air.

 

METANA LEBIH BERBAHAYA DARIPADA CO2

 

Watch Magazine menyatakan bahwa peternakan saat ini menjadi penyebab terbesar global warming, setidaknya sebesar 51 persen. Penulisnya, Dr. Robert Goodland, mantan penasihat utama bidang lingkungan untuk Bank Dunia, dan staf riset Bank Dunia, Jeff Anhang.

 

Mereka berdua menghitung emisi industri ternak dari awal ke akhir mulai dari memproduksi pupuk, menanam tanaman pangan untuk hewan ternak sampai pemeliharaan, penjagalan, pengolahan, pendinginan, dan pengangkutan produk-produk hewani. Hasilnya, mereka menemukan bahwa industri peternakan menghasilkan 9 persen emisi karbon dioksida, 37 persen emisi metana, dan 67 persen emisi dinitrogen oksida. Tulisan ini juga menyatakan bahwa metana memiliki efek global warming 23 kali lebih besar daripada efek CO2 (karbon dioksida), sedangkan dinitrogen oksida memiliki efek global warming 296 kali lebih besar daripada karbon dioksida.

 

Dr. Kirk Smith dari Universitas Kalifornia, Berkley, AS bahkan telah mengatakan, bahwa jika dunia beralih ke ekonomi nol-karbon hari ini, planet ini tetap akan memanas hingga ke tingkat yang berbahaya. Selain itu, teknologi ramah lingkungan untuk menciptakan ekonomi nol-karbon saat ini masih sangat sedikit dan belum diterapkan secara luas. Dalam presentasinya kepada Dewan Sumber Daya Udara AS dari negara bagian California yang berjudul “Karbon pada Steroid, Kisah yang Tak Diungkapkan tentang Metana, Perubahan Iklim, dan Kesehatan”, Dr. Smith mengusulkan bahwa walaupun penanganan emisi karbon dioksida penting untuk jangka panjang, tetapi lebih penting lagi untuk mengurangi emisi metana dengan segera.

 

25 Tahun yang lalu, di pertemuan pertama yang diadakan di Rio, KTT Bumi tentang Perubahan Iklim menyatakan, bahwa CO2 adalah emisi yang menyebabkan global warming. Tentu itu masih benar hingga sekarang, bahkan emisi karbon bisa bertahan lama. Namun riset yang diterbitkan dalam Journal Science edisi Oktober 2009 menemukan bahwa ternyata metana menjadi penyebab global warming yang lebih besar daripada yang diperhitungkan sebelumnya. CO2 yang dihasilkan dari bahan bakar fosil ternyata berinteraksi dengan aerosol atau partikel kecil di udara sehingga juga menghasilkan efek pendinginan.

 

Noam Mohr, dosen bidang fisika di Universitas New York, AS menjelaskan proses ini. Berdasarkan sejarah, semua sumber karbon dioksida juga mengeluarkan aerosol atau partikel kabut yang selama ini mendinginkan Bumi. Dan Dr. James Hansen yang dipandang sebagai pencetus teori global warming menunjukkan bahwa dua jenis emisi ini kurang lebih saling menetralisir. Jadi pada kenyataannya, kita tidak begitu mengalami efek global warming karena karbon dioksida selama ini. Jadi ketika kita membakar bahan bakar fosil, kita menghasilkan karbon dioksida yang memanaskan planet dan sekaligus aerosol yang mendinginkan planet. Dan jika kita menghitungnya maka efeknya menjadi sekitar nol. Jadi global warming yang terjadi sekarang disebabkan oleh sumber yang lain, yaitu metana. Ya, metana! sesuatu yang sama sekali baru bagi kebanyakan orang.

 

Ternak memang bukan mobil, kendaraan atau sebuah pabrik yang menghasilkan polusi udara atau CO2, namun ternak sekarang menjadi ancaman teratas bagi planet Bumi atau lingkungan hidup manusia. Gara-gara industri peternakan di seluruh dunia, hewan ternak dibuat beranak-pinak sangat cepat sehingga menjadi ancaman terbesar terhadap lingkungan, hutan dan hingga iklim di Planet Bumi ini. Gas buangan dan pupuk dari kotoran ternak menghasilkan lebih dari sepertiga gas metana di atmosfir yang kontribusinya terhadap global warming 20 kali lebih cepat daripada kardondioksida yang dihasilkan oleh seluruh mesin-mesin di seluruh dunia yang berbahan bakar fosil (minyak bumi dan batubara).

 

Bukan hanya itu, ternyata industri peternakan telah mengorbankan persediaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui kembali. Seekor hewan di sebuah peternakan ternyata membutuhkan banyak sekali air. Dibutuhkan 2500 gallon air untuk menghasilkan hanya 1 pon daging hewan ternak. Padahal kita hanya membutuhkan 29 gallon air untuk menghasilkan 1 pon tomat, dan 39 gallon air untuk 1 pon roti tawar.

 

Di Amerika, setengah dari penggunaan air dan 80% persen tanah pertanian di Amerika Serikat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri peternakan. Hampir semua perkebunan kacang kedelai dan separuh lebih hasil biji-bijian dunia digunakan untuk menjadi makanan ternak. Padahal ada 1 milyar penduduk yang menderita kelaparan dan kekurangan gizi, serta 24 ribu anak-anak yang meninggal setiap hari karena kekurangan gizi dan kelaparan.

 

Simak juga ini: Planet bumi sebenarnya menyimpan metana beku dalam jumlah yang sangat besar yang disebut dengan methane hydrates atau methane clathrates. Methane hydrates banyak ditemukan di Kutub Utara dan Kutub Selatan, dimana suhu permukaan air kurang dari 0 derajat Celcius, atau dasar laut pada kedalaman lebih dari 300 meter dimana temperatur air ada di kisaran minus 2 derajat Celcius. Methane hydrates juga ditemukan di danau-danau yang dalam seperti danau Baikal di Siberia.

 

Global warming yang sekarang sedang terjadi telah membuat suhu es di Kutub Utara dan Kutub Selatan menjadi semakin panas, sehingga metana beku yang tersimpan dalam lapisan es di kedua kutub tersebut juga ikut terlepaskan ke atmosfer. Padahal metana ini adalah emisi yang paling berperan menyebabkan global warming. Para ilmuwan memperkirakan bahwa Antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar ton metana beku. Gas ini sekarang dilepaskan sedikit demi sedikit ke atmosfer seiring dengan semakin banyaknya bagian-bagian es di Antartika yang runtuh. Bayangkan, betapa mengerikannya keadaan ini! Bila Antartika kehilangan seluruh lapisan esnya, maka 400 miliar ton metana tersebut akan terlepas ke atmosfer dan semakin memanaskan planet Bumi!

 

Ini belum termasuk metana beku yang tersimpan di dasar laut yang juga terancam mencair karena makin panasnya suhu lautan akibat pemanasan global. Sekali terpicu, global warming ini tidak akan bisa dihentikan lagi. Gambaran ini adalah sebuah gambaran baru tentang kiamat di planet Bumi!

 

Sekarang para vegetarian aktif mengkampanyekan hal-hal berikut ini:

 

1 porsi DAGING SAPI membutuhkan lebih dari 1.200 galon air.

1 porsi DAGING AYAM membutuhkan 330 galon air.

1 hidangan VEGAN komplit dengan tahu, tempe (protein nabati), beras, dan sayur-mayur hanya membutuhkan 98 galon air

 

Saya menambahkan ini: Hari raya kurban juga menyumbang kerusakan lingkungan, karena sepanjang tahun di seluruh dunia hewan ternak harus dipelihara agar siap untuk disembelih pada hari raya kurban.

 

Anda boleh menyebut tulisan ini sebagai fantasi atau paranoid, namun tulisan ini adalah true science. Anda bisa mempelajarinya dengan melakukan sedikit Googling.

 

Dari berbagai sumber, antara lain:

http://suprememastertv.com/ina/SOS/

http://www.pemanasanglobal.net/faq/solusi-untuk-planet-dari-maha-guru-ching-hai.htm

http://bayivegetarian.com/?p=467http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&jd=Menjadi+Vegan%2C+Solusi+Utama+Pemanasan+Global&dn=20100430201110

 

 

3Like · · Share