Beberapa waktu yang lalu kita dikagetkan dengan ditangkapnya LHI yang saat itu menjabat presiden PKS dan sahabat karibnya AF karena terjerat korupsi yang berkaitan dengan kuota daging impor.

Meskipun bagi kalangan yang selama ini terlibat dalam bisnis daging, sebenarnya ini sudah menjadi rahasia umum, tapi publik yang selama ini disodori oleh pencitraan massif dari PKS untuk menunjukkan bahwa mereka adalah partai yang bersih, berbeda dengan partai-partai lain yang bergelimang korupsi. Meskipun tidak sepenuhnya percaya pada pencitraan PKS, peristiwa ini tetap saja mengagetkan.

Yang lebih kaget lagi tentu saja para kader PKS, yang presidennya tertangkap ini. Peristiwa ini tentu mencoreng citra bersih dan agamis yang susah payah dibangun oleh partai ini. Apalagi, terkait penangkapan ini terdapat pula indikasi adanya gratifikasi seks. Ini tentu sangat menampar partai yang mencitrakan diri sebagai partai paling bermoral yang diindikasikan dengan paling getolnya partai ini untuk menggoalkan UU Pornografi dan kader mereka Menkominfo juga begitu banyak menghabiskan uang negara untuk menghapus situs-situs porno.

Sebenarnya citra bermoral partai ini sempat tercoreng dengan tertangkap basahnya seorang kader mereka tengah menonton film porno di tengah sidang paripurna di gedung DPR.

Ada dua pandangan yang berbeda di masyarakat terkait dengan penangkapan ini.

Bagi masyarakat biasa non PKS, penangkapan ini adalah kerja KPK biasa, tidak melebihi apa yang pernah dilakukan KPK terhadap Institusi Polri maupun partai-partai lain termasuk Demokrat.

Tapi pandangan dan sikap  PKS tidak demikian. Sikap yang ditunjukkan PKS terkait masalah ini cukup spesial.

Berbeda dengan partai lain yang kadernya tertangkap karena terjerat kasus korupsi, dimana partai biasanya langsung menarik diri dan menjaga jarak dengan menjadikan kasus itu sebagai masalah pribadi yang bersangkutan.

PKS malah bersikap all out dalam membela kadernya yang terindikasi korupsi. Oleh PKS langkah hukum yang dilakukan KPK terhadap kadernya ini dicitrakan seolah-olah terjadi karena KPK memang punya niat mengacak-acak partai mereka. Berbagai opini mereka kembangkan untuk menunjukkan seolah-olah bahwa KPK tidak adil memperlakukan kader mereka.

Berbagai argumen yang tidak masuk akal bahkan fitnah terhadap KPK dengan lancar dan mengalir keluar dari elit dan kader partai ini.

Selain elit mereka terutama Fahry Hamzah,  PKS juga menurunkan apa yang disebut oleh Fahry Hamzah untuk membela tersangka koruptor dari PKS di semua sosial media, mulai dari Kaskus, Kompasiana, Facebook, Twitter,Yyahoo, dan lain-lain. Kehadiran mereka dengan argumen yang benar-benar berat sebelah telah sukses membuat para sesepuh di masing-masing sosial media tersebut risih dan melahirkan gelombang antipati terhadap partai ini, dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Keberadaan para cyber army PKS yang terus menerus meladeni setiap komentar terkait PKS, membuat publik tak bisa beranjak dari isu-isu terkait korupsi yang menjerat mantan presiden PKS ini. Malah ketika beberapa hari yang lalu, isu terorisme sempat naik pun, berkat elit dan cyber army  PKS. Isu terorisme ini tidak tidak mampu meredakan dan mengalihkan isu, korupsi daging ini. Perhatian masyarakat tetap tidak beranjak dari opini yang berkembang terkait LHI, AF, dan wanita-wanita cantiknya.

Lebih dahsyat lagi, demi membenarkan opini yang mereka bangun. PKS yang selama ini mencitrakan diri sebagai partai yang islami, santun dan berakhlak mulia, rela menghancurkan citra yang mereka bangun dengan susah payah itu dengan cara menebar prasangkan dan fitnah di media massa.

Belum apa-apa, presiden baru partai ini sudah langsung menuduh apa yang menimpa mereka ini sebagai konspirasi Amerika. Hidayat Nur Wahid ketua fraksi PKS di DPR menuduh ini sebagai ulah antek Zionist. Fahry Hamzah kemudian menuduh Johan Budi tidak membawa surat penyitaan, sampai memfitnah ada lembaga asing yang menunggangi KPK dalam kaitannya dengan PKS. Tapi anehnya ketika ditantang untuk menyebut menyebutkan lembaga asing itu dan mem pra peradilankan KPK, PKS menghindar dengan berbagai alasan.

Bahkan bukan hanya KPK, dalam kaitan kasus korupsi yang membelit mantan presiden mereka ini. PKS bersikap frontal memusuhi siapapun yang berbeda pandangan dengan mereka. Sehingga kadang-kadang argumen mereka sebegitu lucunya. Misalnya seperti ketika mereka mengatakan, apa yang mereka alami adalah konspirasi KPK dengan penguasa. Ini lucu sekali, karena siapapun tahu PKS adalah salah satu anggota partai koalisi yang saat ini berkuasa.

Kemudian saking membabi butanya, PKS malah menyeret-nyeret Partai Demokrat ke dalam masalah mereka, seolah-olah KPK tutup mata terhadap semua korupsi yang dilakukan Demokrat dan hanya bisa melihat kesalahan PKS saja. Fitnah tak berakhlak ini dengan telak dimentahkan oleh Sutan Bathoegana dari Demokrat dalam satu episode Indonesian Lawyer Club di TV One, dengan satu pernyataan polos yang cukup mengundang tawa. “Dua tahun kami jadi pasien ILC, Ketua Umum kami lewat, Bendahara kami lewat, menteri kami lewat, kami tabah saja, tak ada kami salahkan partai lain. Ini PKS baru satu kadernya yang kena kok udah menyeruduk sana-sini menghantam Demokrat”

Ke Ge Er an PKS yang menggambarkan seolah-olah KPK memperlakukan mereka sebegitu eksklusifnya itu juga terbantahkan kalau kita melihat bagaimana KPK mengobok-obok dapur Polri, tapi toh Polri tidak menuduh KPK ingin menghancurkan Polri, ini PKS baru satu orang kadernya ditangkap sudah menuduh KPK ingin menghancurkan mereka.

Tentu saja berbagai sikap yang ditunjukkan oleh PKS terkait kasus korupsi daging ini semakin menghancurkan citra partai ini di mata masyarakat non PKS. Indikasinya, bahkan seorang yang “Nonsens” seperti Fahri Abbas yang biasanya hanya menjadi bahan olok-olok dan sasaran caci maki pun kini menuai dukungan ketika dia mencari perkara dengan cara menyerang PKS.

Banyak dari kita menyangka PKS melakukan ini karena mereka begitu bodoh, emosional, tidak pintar mengelola isu dan berbagai pandangan negatif lainnya. Banyak yang berpikir ini akan membuat PKS akan ditinggalkan pemilih pada Pemilu 2014 nanti.

Tapi menurut penulis, orang yang berpikir seperti ini pasti lupa bahwa PKS adalah partai peserta pemilu 2014 yang punya basis massa kader yang paling solid yang soliditasnya tidak bisa diimbangi partai manapun, sebab para kader partai ini sudah didoktrin sejak masih mahasiswa wakatu jadi  aktifis di LDK. Kepada mereka selalu dikatakan PKS itu partai paling bersih, paling Islam, paling diridhoi Allah. Dan mereka percaya itu 100% tanpa bertanya.

Jadi penulis menilai, semua perlawanan membababi buta yang dilakukan PKS sekarang sebenarnya karena PKS sangat cermat berhitung. Mereka tahu persis citra mereka di luaran sudah hancur lebur dan tidak mungkin diperbaiki lagi. Jadi persetan dengan semua anggapan masyarakat terhadap PKS toh suara mereka juga tidak terlalu signifikan. PKS lebih baik fokus menyelamatkan basis pemilih PKS yang sangat solid dan militan, yang sudah terbukti biarpun ada topan badai tidak akan beranjak dari memilih partai ini.

Basis massa ini tidak boleh dikecewakan, mereka harus tetap dibuat percaya, bahwa PKS ini partai paling bersih, paling Islam dan paling dicintai Allah. Kepada mereka PKS harus mencitrakan bahwa semua serangan ke PKS itu direncanakan oleh musuh Islam, orang yang yang tidak ingin Islam jaya dan berkembang.

Dan sejauh ini, strategi ini sangat berhasil. Keyakinan massa fanatik partai ini terhadap PKS tidak goyah. contohnya bisa kita baca di artikel ini http://pkslampura.blogspot.com/2013/05/publik-lebih-dukung-pks-dibanding-kpk.html

Mengingat rendahnya tingkatnya kepercayaan publik terhadap partai politik saat ini, di Pemilu mendatang angka Golput sudah pasti akan naik signifikan. Dan ini tentu keuntungan buat PKS, dengan menurunnya jumlah pemilih tentu angka pembagi untuk sebuah kursi juga akan menurun signifikan. Dengan jumlah pemilih yang tetap dan pembagi yang menurun, PKS tentu akan mendapat jumlah kursi yang lebih besar.

Ini sudah terbukti pada Pilkada Sumut yang dimana angka Golput mencapai 52%, calon PKS dengan gagah menang hanya dalam satu putaran.