Kemacetan adalah salah satu permasalahan Utama di kota Jakarta yang sampai hari ini masih belum terselesaikan juga dan sepertinya malah semakin bertambah parah dari hari ke hari.

Kemacetan dengan skala sebesar kemacetan di kota Jakarta ini pun tentu saja tidak akan bisa diselesaikan dengan cara yang parsial, setengah-setengah, dan tambal sulam. Akan dibutuhkan suatu metode penyelesaian yang bersifat menyeluruh dan mengatasi permasalahan hingga ke akar-akarnya.

Penulis sangat setuju bahwa akar permasalahannya terletak pada tidak tersedianya moda transportasi publik yang memadai – baik dari sudut pandang kualitas maupun kuantitas, terlalu banyaknya kendaraan pribadi yang membanjiri jalan-jalan, dan perencanaan kota yang terlampau berorientasi pada kendaraan pribadi. Ketiga hal tersebut saling mempengaruhi secara dialektis; tidak adanya transportasi publik yang memadai mendorong orang untuk menggunakan kendaraan pribadi, semakin banyak yang menggunakannya maka semakin berorientasi pada pengguna kendaraan pribadi pengembangan kotanya, semakin berorientasi pada penggunaan kendaraan pribadi maka akan semakin lesu perkembangan moda transportasi publik, dan seterusnya.

Dari antara ketiga akar permasalahan tersebut, yang terakhir, perencanaan kota yang berorientasi pada kendaraan pribadi, akan sangat menarik untuk dibahas dan ditelaah dari sudut pandang arsitektur. Tetapi itu mungkin di lain kesempatan saja, kali ini penulis hendak mencoba untuk menganalisa sepotong ruas jalan di Jakarta, sebagai bahan pembelajaran mengenai suatu tata ruang dan sirkulasi yang semrawut dan acak-acakan.

Yang akan dijadikan studi kasus adalah sepotong ruas jalan dari perempatan Grogol hingga Tomang dan sebaliknya. Setiap pagi, siang, dan sore hari ruas jalan ini di kedua arah didera kemacetan parah seperti penyakit kronis yang tidak kunjung sembuh.

Hal utama yang menyebabkan kemacetan di kedua arah adalah tentu saja jumlah kendaraan yang setiap jam-jam sibuk akan tumpah ruah membanjiri kedua ruas jalan ini. Ini menjadi terlihat jelas ketika hari Idul Fitri tiba. Karena sebegitu banyak warganya pergi eksodus ke luar kota membawa kendaraannya masing-masing atau meninggalkan kendaraan pribadinya di rumah, hampir seluruh jalan di Ibukota menjadi sedemikian sepinya hingga hampir terasa seperti jalan Tol. Tidak ada secuilpun kemacetan terjadi.

Tetapi ketika musim liburan berakhir, perlahan-lahan kemacetan akan kembali melumpuhkan kedua ruas jalan ini seperti sediakala. Hal tersebut akan semakin diperparah dengan banyaknya hambatan yang ditemukan, antara lain bus dan angkutan kota yang menunggu penumpang di tepi jalan, truk yang berjalan dengan sangat lamban, kendaraan-kendaraan yang keluar dari gang, mall, universitas, dan sejenisnya di sepanjang jalan, antrian memasukki Tol, pedagang kaki lima, dan lampu merah.

Di masing-masing ruas jalan, tidak kurang terdapat empat lokasi yang sangat sering dijadikan tempat untuk menaikkan penumpang oleh bus dan angkutan kota, baik dengan cara berjalan berlambat-lambat, berhenti total, maupun saling berbaris menyamping hingga memakan separuh badan jalan. Bus dan angkutan kota yang bertingkah laku seperti kolestrol menyumbat pembuluh darah ini diperkaya pagi dengan banyaknya jalur keluar masuk atau gang yang terdapat di sepanjang tepi jalan: di ruas Grogol-Tomang akan kita temukan sekitar sepuluh titik keluar-masuk kendaraan, sementara di ruas sebaliknya terdapat sekitar dembilan titik.

Kedua ruas jalan ini juga adalah merupakan suatu atraksi jalur sirkulasi yang sangat mengagumkan.

Di ruas Grogol-Tomang, kendaraan dari kiri (jalur bawah dari jalan Kyai Tapa) akan bertemu dengan jalur kanan (fly-over Grogol dari Pluit dan Daan Mogot). Atraksi akan dimulai ketika sebagian kendaraan yang berasal dari jalur kiri memotong dengan tajam empat baris kendaraan di sebelah kanannya untuk menuju pintu gerbang Tol. Dan sebagian kendaraan dari jalur kanan pun akan memotong ke arah kiri, selain untuk mengatasi salipan kendaraan dari kiri juga untuk bisa masuk ke jalur arah Tol Tangerang atau Slipi, atau bahkan untuk bisa langsung memotong hingga jalur paling kiri agar bisa memasukki gang. Dari hal ini saja tidak jarang terjadi deadlock yang cukup parah ketika kendaraan dari jalur kiri terjebak di tengah-tengah manuvernya menuju ke kanan dan menutupi kendaraan dari jalur kanan yang sedang melakukan aksi heroiknya memotong ke kiri dan demikian seterusnya hingga hampir tepat di muka gerbang Tol arah Slipi.

Jalan di seberangnya, jalur dari Tomang menuju Grogol, menyuguhkan pemandangan yang tidak kalah menariknya, atraksi sirkulasi serupa akan kita temukan: kendaraan yang baru saja meluncur turun dari fly-over Tomang di sisi kanan dari arah Slipi akan seperti sirkus memotong dengan gesit dan lincah ke arah kiri agar dapat masuk ke jalan akses Taman Anggrek. Yang dari kiri akan memotong ke arah kanan atau sekalian memasukki jalur Busway agar dapat menghindari antrian dan hambatan di sisi kiri jalan yang diakibatkan oleh bus yang menaikkan penumpang atau jalur keluar dari jalan akses Taman Anggrek. Kemudian sebagian kendaraan yang meluncur cepat di jalur Busway akan memotong lagi ke kiri tepat sebelum ramp fly-over Grogol, karena rupa-rupanya mereka hendak berbelok ke kiri ke arah Daan Mogot atau ke kanan menuju Kyai Tapa. Sementara itu sebagian kendaraan dari kiri pun akan memotong ke arah kanan agar bisa menaikki fly-over menuju Latumeten.

Kemudian, semua atraksi tersebut akan dibuat semakin meriah dengan adanya penyempitan jalur di kedua arah jalan. Di jalur Grogol menuju Tomang kita menjumpai penyempitan jalur di tepi gerbang Tol Grogol menuju ke Slipi, sementara di arah sebaliknya kita temukan penyempitan jalur tepat sesudah percabangan Tanjung Duren dan sekali lagi menyempit di depan Mall Citraland akibat – terutama – banyaknya pedagang kaki lima di tepi jalan.

Masing-masing hal di atas akan semakin memperparah satu dengan yang lainnya, membuat kedua ruas jalan terkadang bahkan berhenti total pada jam-jam tertentu. Seperti sudah disebutkan di atas, permasalahan kemacetan ini tidak akan bisa diselesaikan dengan upaya yang setengah-setengah dan tambal sulam, permasalahan moda transportasi publik, volume kendaraan pribadi yang terlampau kolosal, dan perencanaan kota yang berorientasi kendaraan pribadi harus diselesaikan,

Tetapi untuk jangka pendek, untuk sekadar meringankan penyakit kronik yang diderita kota ini sebelum penyelesaian yang menyeluruh tercapai, dari hasil studi kasus sederhana di atas tentu ada beberapa hal yang dapat dilakukan terlebih dahulu untuk saat ini, selain sebagai pembelajaran untuk tidak lagi-lagi menciptakan jalur transportasi yang membuat para penggunanya tergoda untuk melakukan atraksi sirkus:

1. Kurangi jalur keluar masuk kendaraan ke jalan utama

Rencanakan jalur keluar masuk kendaraan yang terintegrasi antara beberapa titik tujuan. Misalnya penggabungan jalur keluar masuk antara Mall Taman Anggrek dengan Mall Central Park, atau Universitas Trisakti dan Tarumanagara. Berikan juga ruang yang memadai untuk mengantri masuk dan bergabung ke jalur utama.

2. Berikan tempat berhenti yang layak dan memadai untuk bus dan angkutan kota

Jangan biarkan bus dan angkutan kota memakan badan jalan utama ketika menaik-turunkan penumpang, hal ini bisa diintegrasikan juga dengan fasilitas atau bangunan publik yang berada di sepanjang jalan. Selain untuk memberi kemudahan bagi pengguna transportasi publik yang menuju ke tempat-tempat tersebut, bisa dianggap juga sebagai semacam Corporate Social Responsibility.  

3. Cegah terjadinya arus kendaraan yang simpang siur

Jangan berikan alasan bagi pengendara untuk cepat-cepat memotong dengan tajam menyeberangi jalan, beri jarak yang memadai antara pertemuan jalur dengan objek yang terletak di kanan/kiri jalan, baik itu pintu masuk mall, universitas, hotel, gang, maupun gerbang Tol.

4. Cegah truk-truk besar untuk memasukki jalan utama pada jam-jam sibuk

5. Tertibkan pedagang kaki lima di tepi jalan, sekaligus buat sistem pedestrian yang baik