“They say this is the city, the city of angels, all I see is dead wings.”

― The Distillers, City of Angels

Aku sedang duduk menunggu pesanan ketoprak, di pinggir jalan seberang Tugu Pancoran, kala kawanku mengabarkan melalui pesan singkat bahwa kedatangannya akan sedikit terlambat, dikarenakan ada beberapa hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu sebelum berjumpa denganku. Rasa lapar sedari siang tadi memang sengaja kutahan. Sepulang dari kampus, aku bergegas berangkat untuk bertemu seorang kawan lama―kawan semejaku semasa SMP yang kini menetap di Kalibata. Melirik jam tangan, sudah pukul lima kurang sepuluh (Tangerang menuju Jakarta, membutuhkan waktu 3 jam lebih. Bloody hell. Aku semakin yakin bahwa kualitas moda transportasi umum di sekitar wilayah Jabotabek memang semakin memburuk). Ternyata menahan lapar adalah sebuah blunder, kini aku sudah terlanjur kelaparan. Maka ketoprak menjadi pilihanku, kendati disekelilingku terdapat juga gerobak-gerobak soto mie, sate, bakso, hingga mie ayam, aku justru lebih memilih ketoprak. Lagipula lidahku memang tak cocok untuk menikmati junk food di KFC yang berjarak tak begitu jauh dari tempatku menunggu kawanku.

Sepiring ketoprak tiba, hampir seabad rasanya. Aku langsung melahapnya dalam waktu kurang dari lima menit. Peduli setan, batinku. Perutku tak lagi dapat menahan lapar. Pada suapan terakhir, aku tersedak. Beruntunglah si penjual ketoprak lumayan tanggap dan ia cepat-cepat menyorongkan segelas air teh hambar padaku. Dan teh inipun hangat, terlalu hangat, bahkan sepertinya masih mendidih. Sialan.

Dua orang mahasiswa datang, memesan ketoprak, lalu mereka duduk di bangku panjang, persis di sampingku. Aku memicingkan mata, dan menyadari bahwa mereka berasal dari kampus kuning, terlihat dari jas almamater dan lambang yang terdapat di sisi bahu mereka (Tentu, dengan jeans belel dan kaos oblong, takkan ada seorangpun yang menyangka bahwa aku seorang mahasiswa).

Sembari menunggu pesanan, mereka terlihat sedang memperbincangkan sesuatu secara serius. Aku yang duduk bersebelahan dengan mereka tak kuasa menahan diri untuk menguping. Dan seperti yang kuduga sebelumnya, Jokowi menjadi topik pembicaraan mereka.

Mereka mencoba membuat analisa politik dalam kerangka semangat zaman/zeitgeist, membandingkan gerakan Prabowo dan Jokowi dalam ranah pencitraan, lalu mengkritik pemerintahan SBY yang korup, seolah Megawati dan presiden-presiden sebelumnya tak lebih korup daripada SBY. Mereka pun menggunjingkan gerakan Occupy yang beberapa tahun silam heboh melanda Jakarta, dan seperti yang kini kita tahu, hasilnya nol besar dan hanya menjadi lelucon yang terlalu hambar untuk diceritakan kembali. Toh nyatanya hingga hari ini tak ada perubahan berarti yang benar-benar terjadi, dan sepertinya memang takkan pernah ada. Sebut saja aku pesimis, karena memang nyatanya kini aku tak lagi menaruh peduli pada hal-hal absurd semacam itu. Sungguh. Biar kawan-kawanku dari jejaring anarkis yang peduli perihal politik semacam itu. Atau mungkin korporat laknat seperti Bakrie dan TV One-nya.

Pasca Jokowi terpilih, wacana politik lokal kembali berulang pada wacana lama: berharap seorang ratu adil datang membereskan hiruk pikuk dan menyelamatkan hidup mereka. Yang pro menyoraki, dan yang kontra mengkritik habis-habisan. Selalu seperti itu yang terjadi di setiap awal masa pemerintahan seorang pemimpin, lalu biasanya berujung protes dan aksi demontrasi di setiap penjuru pada akhir masa jabatannya, seperti yang kini sedang terjadi pada SBY. Dan seorang eskapis sepertiku hanya mampu mengutuki dirinya sendiri, mengapa ia turut terjebak dalam kekonyolan ini.

“The politics were too convenient, the revolution was a lie!” ― Against Me!, I Was A Teenage Anarchist

Jarum jam terus berputar dan waktu terus berlalu hingga akhirnya kawanku tiba dengan mengendarai sepeda motornya. Untung saja ia tak lupa membawakanku helm, karena polantas di sekitar sini memang terkenal akan keganasannya (Mungkin karena mereka tak mempunyai cukup uang untuk sekedar membeli makanan dan mengisi perutnya, namun herannya mereka mempunyai uang untuk membelikan iPhone dan BlackBerry―Smartphone yang digunakan oleh anak-anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar/menengah, dan kuyakin mereka belum terlalu membutuhkan barang seperti itu). Enam ribu rupiah, uang yang kubayarkan pada tukang ketoprak. Lumayan murah, di tengah-tengah harga bawang dan cabai yang kian melonjak naik di pasaran.

Meninggalkan kedua mahasiswa yang sedang berbincang tadi tak lantas membuatku lega. Waktu sudah terlalu banyak berlalu ketika kami harus melewati Jalan Pasar Minggu, dimana antrean panjang kendaraan bermotor sudah mengular cukup panjang di depan Masjid Al-Munawar, yang disebabkan karena kegiatan pengajian oleh Majelis Rasulullah yang menutup hampir separuh jalan dan menimbulkan kemacetan parah.

Aku tak tahu mengapa mereka menutup jalan dan malah memilih untuk beribadah di jalan raya yang seharusnya menjadi fasilitas publik, dan menambah daftar panjang titik-titik kemacetan yang sudah terlalu banyak di kota ini. Yang kutahu, beberapa waktu lalu Gereja Katolik di Tambora malah disegel dan jemaat Gereja tersebut dilarang beribadah. Begitu pula GKI Yasmin di Bogor dan HKBP Filadelfia Tambun di Bekasi yang disegel sehingga jemaatnya terpaksa beribadah di pinggir jalan.

Entahlah. Aku heran. Benar-benar heran. Namun setidaknya Homicide terbukti benar; bahwa setiap tema legitimasi agama harus dipastikan memiliki hak cipta, supaya seluruh kesuciannya dapat tercuci dengan sperma.

Aku juga tak tahu sampai kapan mampu bertahan hidup dalam kota ini. Semua ini berangsur-angsur semakin memuakkan; kota ini; banjir musiman; dan kemacetan hariannya. Juga fasisme religius yang sudah lebih dari cukup untuk membuatku mual dan memuntahkan ketoprak tadi―sepiring ketoprak yang bahkan ampasnya belum keluar melalui lubang anusku.

Jakarta. Kota ini terlalu riuh dalam gemerlapnya. Jutaan orang telah menjadi saksi bisu kekejaman kota ini, termasuk mereka yang diam membisu ketika duduk saling bersisian di Transjakarta. Banjir yang melandanya Januari lalu hanyalah sebuah contoh yang membuktikan bahwa kota ini sudah terlalu sesak, dan mungkin akan lenyap dari peta dunia. Mungkin beberapa ratus tahun lagi―atau entah kapan―kota ini hanya akan tinggal menjadi nama yang ditemukan di buku-buku sejarah. Kota ini terlalu kejam, ia memperbudakmu sedemikian rupa (namun kuyakin engkau takkan pernah menyadarinya), membakar habis semua kenangan yang kau miliki, lalu membunuhmu perlahan-lahan sebelum pada akhirnya ia membunuh dirinya sendiri.

Sumber: http://avenk27.wordpress.com/2013/03/25/jakarta-ketika-kita-terpaksa-menelan-apa-yang-seharusnya-kita-muntahkan/