Sudah lama saya mendengar tentang pesta perceraian di luar negeri. Maka ketika seorang teman menceritakan hal ini di tempat dia tinggal di Brasil, saya tidak terlalu heran. Di Indonesia, perpisahan adalah hal yang harusnya disesali, ditangisi, kalau perlu dikutuk habis-habisan. Itulah kenapa di Indonesia, pesta perceraian itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa merayakannya? Melakukannya saja begitu beratnya. Lebih baik hancur lebur daripada harus bercerai.

Lihat saja apa yang terjadi pada mbak Londri. Namanya Sukini, orang memanggilnya mbak Ni, tapi karena Izza memanggilnya mbak Londri, kami semua jadi ikut memanggilnya mbak Londri. Dia membantu menyelesaikan pekerjaan rumah di rumah kami di siang hari.

Ketika awal membantu di rumah kami, dia tiba-tiba sudah bermasalah dengan suaminya. Pagi-pagi ketika masih bekerja di keluarga lain, suaminya datang menjemput dan meminta ijin menikah lagi. Seorang perempuan sedang hamil karena hasil perbuatannya menuntut dinikahi. Bukan hanya marah pada suami, mbak Londri juga marah habis-habisan pada perempuan itu. Dia tumpahkan amarahnya dengan curhat pada saya dan ibu saya.

Semua kata-katanya menjelek-jelekkan perempuan itu sebagai pelacur, padahal perempuan itu adalah pembantu rumah tangga. Dia lupa bahwa selama ini suaminya memang suka main perempuan. Lelaki itu bahkan pernah terkena penyakit kelamin karena gemar berkencan dengan pelacur. Dari sejarah pernikahannya sendiri, mbak Londri dinikahi setelah dia menceraikan istri pertamanya yang minta cerai karena sering dipukul. Selama menikah dengan mbak Londri, dia juga masih sering memukul. Belum lagi dia juga suka membentak mbak Londri dan tidak memberi nafkah sama sekali. Kalau dia punya uang dari kerjanya yang serabutan, dia pakai untuk mabuk-mabukan.

Kalau mau mengupas, sebenarnya sudah tidak ada untungnya mbak Londri mempertahankan pernikahannya. Tapi herannya, kalau kami menyarankan bercerai, dia malah bertahan. Dia menggunakan komentar tetangga-tetangganya yang mengatakan, “yo kamu rugi kalau kamu yang mengajukan cerai. Nanti kamu yang ragad (keluar biaya). Belum lagi nanti kamu tidak dapat nafkah.”

Saya tidak habis pikir. Kalau dari pertimbangan saya, lebih baik keluar biaya yang penting bisa keluar dari situasi yang menyakitkan seperti itu. Kalau alasannya tidak dapat nafkah, bukankah selama ini juga sudah tidak dinafkahi dan dia mampu menafkahi dirinya sendiri? Cuma, apa mau dikata. Kami tidak bisa mempengaruhi jalan pikiran orang lain tanpa seijin dia sendiri.

Waktu berjalan. Tuhan sebenarnya sedang menyelamatkan mbak Londri ketika malah suaminya yang menuntut cerai. Sejak menikah lagi dia memang ingin sekali bercerai. Dia meneror mbak Londri, tapi mbak Londri tidak berani apa-apa. Mbak Londri pindah kost membawa anak lelaki tunggalnya tapi tidak berani menggugat cerai.

Entah kenapa ketika suaminya menggugat cerai, mbak Londri tetap saja marah, sakit hati dan berharap suaminya kembali padanya. Kami, saya dan ibu saya, sudah selalu menguatkan dia bahwa selama ini dia juga sudah seperti janda yang hidup sendiri. Dia menghidupi dirinya sendiri dan anaknya, tanpa nafkah dan perhatian suami, belum lagi tiap kali dia disakiti dengan kata-kata yang menyakitkan. Harusnya bersyukur dengan situasi ini. Kadang-kadang dia mulai menyadari, tapi besoknya ketika datang, dia bercerita sambil marah-marah lagi.

Proses cerai berjalan, suaminya berjanji memberi uang melahirkan sebesar dua juta dan nafkah per bulan lima ratus ribu. Saya agak ragu janji itu bisa dipenuhi karena selama ini saja mbak Londri tidak mampu menuntut suaminya memberikan nafkah. Apalagi kalau mereka sudah bercerai, pasti akan dengan mudahnya suaminya melarikan diri dari tanggung jawab. Nyatanya suaminya membayar satu juta, tapi tidak membayarkan uang bulanannya.

Akhirnya surat cerai terbit setelah proses tiga kali sidang yang singkat dan terkesan buru-buru, karena seperti kata mbak Londri, “pripun nggih (gimana ya), sehari itu bisa ada 60 orang yang sidang. Mana bisa pak hakim bicara panjang lebar. Padahal saya maunya mengungkapkan isi hati saya.”

Dengan hati sedih dia mengambil surat di pengadilan agama. Namun ternyata waktu mengambil surat cerai itupun banyak sekali orang yang punya tujuan sama dengan dia. Dari yang masih sangat muda, menurut mbak Londri, “sak mbakyune mbak Dila niku” (kira-kira lebih tua sedikit dari Dila, anak saya yang kelas dua SMA), sampai yang sudah paruh baya. Dia menggumam heran, “buat apa ya sudah tua begitu kok malah cerai?”

Kata mbak Londri, sang istri yang juga sudah separuh baya yang mengajukan cerai. Saya bilang, “yah mungkin mumpung masih sempat, dia pengen bebas, to. Daripada seumur hidup ngurusin orang yang nyebelin.” Mbak Londri tertawa.

Setelah surat cerai di tangan, sekarang keluhan mbak Londri ganti lagi. Kata ibu saya yang tiap hari sempat ngobrol dengan dia, dia sering bilang, “hidup kok sengsara begini ya bu?”

Oleh ibu saya disanggah, “Sengsara gimana to? Wong sudah cerai dari suami yang kaya gitu kan itu harusnya bersyukur. Kamu itu diselamatkan. Lagian wong ya badan sehat, bisa kerja, dikasi anak sebagai amanah, itu kan berkah. Disyukuri. Jangan liat sengsaranya. Kalo gitu caranya enggak ada syukurnya lagi nanti dalam hidup.”

Kalau sudah dibegitukan ibu saya, biasanya dia menyadari dan berkata, “inggih nggih bu.. Wong yo sehat, duwe duit dewe.”

“Lha yo,” kata ibu saya, “wong yo punya celengan tanah segala.”

Diam-diam dia sebenarnya punya tanah yang dia beli dari hasil keringatnya. Saat proses cerai tanah ini sempat diminta suaminya untuk jadi gono gini, tapi akhirnya mbak Londri berhasil mempertahankannya.

Apa yang dilakukan mbak Londri ini mungkin mewakili pandangan banyak wanita Indonesia : predikat janda lebih mengerikan daripada disakiti begitu rupa. Tapi apa sebenarnya penjabaran kata ‘sakit’ itu? Apakah sama antara kata ‘sakit’ menurut saya dan menurut dia? Jangan-jangan kata sakit hati menurut dia berbeda dengan apa yang saya pahami.

***

Tentang pesta perceraian tadi, sepertinya itu sebuah cara yang realistis. Cerai ya cerai. Sudah begitu saja, tanpa ketakutan apa-apa, tanpa emosi apa-apa. Tidak cocok ya berpisah. Untuk apa bertahan tapi saling menyakiti? Kenapa takut diomongin orang yang Cuma komentar tadi tidak paham? Entah di luar negeri ada juga orang yang suka menghakimi seperti di Indonesia atau tidak, saya tidak tahu situasi budayanya. Tapi di Indonesia, semua orang seolah paling tahu kehidupan itu seperti apa. Jadi ketika ada orang yang berniat cerai, semua orang mengadili.

Yang jelas perayaan cerai dimaksudkan untuk mengumumkan kepada para teman dn relasi bahwa mereka sudah bercerai. Jadi apapun yang terjadi pada mereka berdua, tidak perlu disangkutpautkan lagi.

Menurut cerita teman saya tadi, pengundang pesta cerai itu adalah dua orang yang sudah tidak muda lagi. Dalam pesta mereka akan datang membawa pasangan masing-masing yang selama ini sudah tinggal bersama.

Memang kehidupan orang asing, meski sudah paruh baya, bisa saja mereka hidup bersama tanpa nikah. Hal yang sangat tabu untuk di Indonesia. Di sini, lebih baik beristri banyak dan tersebar di banyak tempat asalkan menikah meski itu siri sekalipun. Itu tetap lebih baik daripada orang yang hidup bersama tanpa nikah meski mereka menganut komitmen monogami sekalipun. Agak rancu memang.

Di Indonesia, tipuan, kebohongan dan kemunafikan itu tetap jauh lebih indah. Sebagaimana bahasanya yang banyak menggunakan ungkapan-ungkapan eufimisme yang memperhalus, kehidupan juga seperti itu. Semua harus tampak halus dan indah sehancur apapun di dalamnya.

Apa yang terjadi dengan pesta cerai itu sebenarnya adalah, ketika kesadaran mulai muncul, orang sudah memandang semua dari sudut obyektif. Memang cerai, ya kenapa mesti ditutup-tutupi? Orang lain yang mengetahui ada pasangan yang cerai harusnya tidak usah berkomentar apa-apa karena mereka bukan pelaku yang mengalami sendiri. Tidak adil berkomentar atas hal yang tidak mereka ketahui dengan persis.

Jadi pesta perceraian? Jangan-jangan memang seharusnya dirayakan.