I
Sehari sebelumnya (Minggu) telah tersiar di TV, bahwa Gus Dur akan operasi gigi pada hari ini (Senin). Telah berhari-hari Gus Dur mengeluhkan giginya sakit bahkan sampai bengkak. Ia juga baru kembali dari Jombang dan bahkan sempat sakit dalam perjalanan dari Jombang ke Surabaya karena salah makan. Jadi siang itu kurang lebih jam 11-an saya ke Rumah Sakit Cipto. (Sejujurnya inilah salah satu doa yang selalu saya panjatkan bahwa di saat-saat yang gawat Allah mengizinkan saya berada dekat Gus Dur/ Ibu Nur, dan itu telah berlangsung sejak Gus Dur kena stroke pertama kali).

Dari kamar tempat Gus Dur di rawat saya diantar asisten Ibu Nur ke ruang tunggu tempat Gus Dur dioperasi. Di ruang tunggu perawatan jantung Ibu Nur, Dr Umar, Ina sedang duduk menunggu. Tak lama datang kerabat keluarga, Mbak Faiqoh dari Depag yang juga saya kenal. Kami mengobrol, Ina mulai mengantuk. Ruangan tunggu itu sangat sederhana meskipun ber AC. Ibu Nur membawa buku terbitan WI dan ia sedang membacanya (saya lupa judulnya). Tak lama kemudian Dr Umar keluar untuk menjawab telepon. ”Kok lama ya” kata Ibu Nur sambil melihat jam dinding. Saya menelepon Prof Iwan Darmansyah, dokter yang selalu terbuka memberi penjelasan kalau saya membutuhkan informasi tentang obat dan medis. Kepadanya saya sampaikan bahwa saya sedang di RSCM menunggui Gus Dur sedang opearasi pencabutan gigi. ”Ngapain operasi?” teriaknya dari arah sana. Apa yang harus saya jawab?

Jam 12-an salah satu dokter keluar dan menjelaskan kepada Dr Umar, Ibu dan Ina tentang proses yang sedang dijalani. ”Lidah Gus Dur menjulur-julur jadi kami ambil tindakan lanjutan” ujarnya sambil menjelaskan teknis medis lainnya.

Kira-kira jam 13-30 kami pindah ke ruang pemulihan paska operasi. Operasi telah selesai dan Gus Dur telah mulai siuman. Ibu Nur, Dr Umar, saya, Ina, Sulaeman dan beberapa dokter mempersilahkan kami masuk untuk bertemu Gus Dur di ruang pemulihan. Karena ada selang di mulutnya Gus Dur tak dapat berkomunikasi. Tapi jelas bahwa ia sadar dan ketika Ibu Nur sapa” Mas !’, dia menyahut ”Mah” sambil tangannya meraih-raih mencari tangan Ibu Nur. Ia minta posisinya diperbaiki agar lebih nyaman. Dokter mengatakan sebentar lagi beberapa selang akan dicabut karena telah selesai fungsinya setelah efek biusan menghilang . Kami kemudian keluar dan masuk ke ruang meeting. Prof Misbach menjelaskan seluruh proses yang terjadi dan apa yang sekarang dilakukan.

Jam 14.30 saya ikut rombongan menghadiri konferensi pers. Sejumlah wartawan telah menunggu di ruang konferensi. Penjelasan yang tadi saya dengar di ruangan dijelaskan kembali dihadapan wartawan. Kali ini penjelasan disampaikan oleh para dokter yang mengambil tindakan. Setelah tanya jawab, konferensi pers bubar. Sekali lagi saya pamitan ke Ibu Nur karena harus kembali ke kantor….

II

Rabu 30 Desember 2009, setelah makan siang saya telepon Ira untuk mengecek keadaan Gus Dur di RSCM. Kemarin sore saya cek ajudan dan diinformasikan Gus Dur telah kembali ke kamar setelah cuci darah. Jadi, seperti biasa saya hanya ingin mengecek perkembangannya. Tapi Ira mengatakan Bapak baru saja (kembali) masuk ke ruang operasi. Menurutnya ia tidak sedang di RSCM jadi dia berjanji untuk mengabari kembali setelah mendapat kepastian. Hari itu di kantor sedang persiapan pesta akhir tahun.

Tak lama kemudian Ira memastikan bahwa Gus Dur memang benar menjalani operasi lagi. Dengan segera saya ambil tas, menuruni tangga sambil pamitan kepada seorang teman dengan janji akan kembali jam 4 jika suasana di Rumah Sakit sudah cukup baik. Dari dalam taxi sekali lagi saya mengecek salah seorang ajudan Bapak, Pak Latif, untuk menanyakan perkembangan Bapak. anehnya, ia justru heran karena menurutnya ketika pergantian tugas tadi jam 12 keadaan Bapak cukup terkendali. “ Bapak tadi hanya mengeluh sakit perut” ujarnya. Saya sempat ragu dan meminta taxi untuk mengurangi kecepatan dan bersiap memutar kembali ke kantor. Tapi sekali lagi saya telepon Ira , dan ia memastikan bahwa benar Gus Dur telah masuk ruang operasi di perawatan jantung. Sejak itu terselip perasaan cemas. Saya jengkel sekali dengan kemacetan Jakarta dan perjalanan dari Kebayoran ke RSCM terasa luar biasa lamban. Supir taxi Blue Bird , seorang perempuan, menenangkan saya sambil mengatakan bahwa mudah-mudahan semuanya akan baik-baik saja. Di tengah kemacetan saya telepon sahabat saya Amanda, suatu kebiasaan yang kami lakukan setiap kali Gus Dur masuk RS untuk saling meng-up date perkembangan Gus Dur atau untuk janjian besuk bersama. Tapi rupanya dia sedang dalam perjalanan ke airport hendak berobat ke Singapore, saya pun memintanya untuk cepat-cepat kembali, saya juga sempat mengabari Moqsith dan Ismed di rumah.

Sampai di RSCM, sekali lagi mbak supir taxi itu menyampaikan bahwa ia berdoa untuk kesembuhan Gus Dur. Saya mengiyakan dan berterimakasih atas doanya. Dengan berlari lari saya naik ke ruang perawatan jantung. Di ruangan temapt perawatan itu semuanya tertutup jadi saya tidak tahu di mana operasi itu berlangsung. Saya hanya bertemu seorang ajudan yang menjelaskan Bapak telah masuk setengah jam sebelumnya. Saya kemudian turun ke kamar tempat biasanya Bapak dirawat untuk menemui Ibu Nur yang sedang ganti baju. Di sana ada Inayah, putri bungsu Gus Dur dan Ibu Nur yang baru selesai ganti baju. Ina kemudian menjelaskan bahwa Bapak tadi mengaduh-aduh dan minta turun dari tempat tidur, Bapak mengeluh kesakitan di bagian perutnya bahkan sampai berguling-guling. Menurut Ina, ketika itu Ibu Nur belum datang karena pagi itu Ibu Nur besuk ke Pak Rozi Munir yang juga sedang sakit di daerah Pamulang. Selain itu Ibu Nur juga agak menghindar datang lebih pagi karena sejak kemarin setelah cuci darah Bapak terus menerus minta pulang ke Ciganjur. Ketika Ibu Nur kembali ke RSCM, Gus Dur telah diputuskan menjalani operasi akibat pendarahan di pembuluh vena (?). Ibu Nur sangat heran dengan perkembangan itu karena menurutnya kemarin ketika pamitan keadaan Bapak telah stabil setelah menjalani cuci darah.

Ibu Nur kemudian mengajak kami kembali ke gedung tempat Gus Dur operasi. Seperti biasa, Ibu Nur sedang menjalankan puasa. Ia meminta asistennya membawa makanan kecil untuk nanti buka agar jika perlu tak harus turun lagi ke kamar. Dan karena baru mendapatkan bingkisan kerudung , Ibu meminta agar kerudung itu dibawa serta ke atas, salah satu kerudung itu berwarna biru tua yang kelak Ibu Nur kenakan ketika pulang ke Ciganjur. Ketika keluar dari ruang perawatan kami bertemu dengan seorang tamu yang juga membawa bingkisan makanan, setelah ngobrol sejenak, tamu itu undur diri dan kami naik ke atas sementara Ina pamit keluar sebentar mau bertemu temannya dari Jepang.

Di ruang perawatan jantung kami masuk ke ruang jaga dokter yang luas dan lengkap sebagai tempt istirahat. Ada sofa panjang hitam, meja makan yang lumayan besar perlengkapan makan dan minum, dispenser dan rak spatu yang diletakkan di depan kamar untuk ganti baju dan cuci tangan/wudhu. Sebetulnya kamar ini bukan kamar tamu melainkan kamar untuk istirahat para dokter. Di tengah ruangan itu tergantung tv monitor. Dari layar TV itulah saya, Ibu Nur, asisten Ibu Nur, dan Mas Faris suami Yenny yang tadi bertemu di ruang bawah, mengamati jalannya operasi. Saya melihat Gus Dur sedang dikelilingi 5-7 dokter dan perawat. Semuanya memakai baju operasi biru dengan penutup masker. Mas Faris tak lama kemudian pamit karena ia akan mengorganisir pencarian donor darah untuk Gus Dur, begitu juga Ina. Praktis saya kemudian hanya berdua dengan Ibu Nur.

Agar bisa dipijat kakinya, Ibu Nur meminta pindah dari kursi roda ke sofa dan sambil dipijat kami terus menatap layar monitor. Semuanya berjalan biasa saja. Tapi waktu terasa begitu lamban bergerak. Saya bolak balik telepon ke rumah untuk menyampaikan perkembangan operasi kepada Ismed.
Kira-kira jam 4, salah seorang dokter dari tim operasi masuk ke ruangan kami untuk minum kopi. Kami mengobrol dan menanyakan apa gerangan yang sedang terjadi di meja operasi. Ia mengatakan bahwa tim dokter sedang membersihkan aliran darah karena banyak plaque (?) yang menyumbat dan menyebabkan Gus Dur tadi kesakitan. Dengan bodohnya saya bertanya “ apakah ini situasi biasa dan proses standar atau dapat dikatakan kritis”. Dia mengatakan bahwa ini adalah operasi besar yang terhitung gawat!. Hati saya berdegup kencang. Ibu bolak balik meminta ajudan untuk memanggil Ina dan Nita, serta menanyakan Yenny kepada Faris yang sudah kembali ke ruangan. Menurut Faris, Yenny sedang menuju ke RSCM. Saat itu Yenny sedang hamil muda. Tak lama kemudian Ina datang dengan napas terengah-engah dan menceritakan ia baru kembali dari PMI.

Selama proses operasi berlangsung saya beberapa kali mengambil gambar dengan HP. Saya begitu jengkel dengan kegelisahan yang tak terbendung hingga menuliskan kegelisahan itu dalam status Facebook . Ibu minta dipindahkan ke kursi roda dan pindah ke dekat pintu masuk. Salah satu putri Dr Umar juga datang dan suasana terasa makin mencekam . Dari layar monitor saya melihat para dokter sedang mengambil tindakan dengan memasang alat bantu pernafasan. Kira-kira jam 17 lewat saya melihat prof Yusuf berlari-lari menghampiri Ibu dan mengatakan bahwa ia pun belum tahu perkembangan Gus Dur. Hanya sebentar menemui Ibu Nur, Prof Yusuf pamit untuk masuk ke ruang operasi. Ketika itu layar monitor telah dimatikan. Sebelumnya seorang perawat perempuan meminta izin untuk mematikan monitor. Tapi Ibu Nur keberatan dan ia pun kembali lagi ke dalam. Tak lama kemudian dia datang dengan petugas lainnya, kali ini laki-laki dan memberitahukan bahwa monitor TV harus dimatikan karena powernya akan dipakai. Kami tak mengerti apa yang dia maksud, tapi tak lama kemudian layar monitor itu memang mati

Saya menelepon ke rumah, kali ini saya telah mulai menangis tanpa berkata-kata. Suasana luar biasa mencekam. Tiba-tiba beberapa petugas masuk ke ruangan kami sambil mengangkut beberapa kursi merah. Saya bertanya ada apa. Mereka mengatakan Pak SBY akan datang. Saya benar-benar gemetar. “ Ibu –ibu ada apa ini, mengapa jadi begini…” keluh saya. “Tuhan jangan… Tuhan jangan” saya berbisik sambil terus membaca doa semampu yang saya bisa baca. Karena telah masuk waktu buka puasa, saya buatkan teh manis untuk Ibu Nur. Baru saja Ibu Nur minum satu teguk, saya melihat SBY bergegas masuk ke ruangan kami diiringi Ibu Endang menteri kesehatan menemui Ibu Nur. Ketika dari jauh melihat Pak SBY saya bertanya kepada Ibu Nur setengah berteriak ” Bu ngapain dia kesini, mau ngapain dia kesini!”. Suasana benar benar tegang, tapi tak ada satupun di ruangan ini yang bersuara!

III

30 Desember 2009 jam 18.00

SBY masuk ke ruangan kami disambut Mas Faris. “Mbak Yenny mana?” tanyanya, yang dijawab oleh Faris bahwa Yenny sedang dalam perjalanan. Ia kemudian mengajak tim dokter yang juga datang menemuinya ke luar ruangan. Dengan suara yang ditekan dalam agar tak terdengar Ibu, dia meminta penjelasan dan dokter mengatakan sedang diusahakan tetapi situasinya sangat berat. Dia kemudian masuk ruangan kami lagi, sambil berdiri dihadapan Ibu Nur dikelilingi tim para dokter yang masih mengenakan baju operasi ia mnegajak Ibu dan Ina bicara. Berdasarkan informasi dari tim dokter ia menjelaskan bahwa tim dokter sedang terus mengusahakan ( sebetulnya rada aneh juga ungkapan itu karena para dokter pada kenyatananya berada di ruang tunggu bersama kami). Ibu Nur membisu seribu bahasa. SBY menyatakan akan masuk ke dalam untuk melihat keadaan. Dibantu dokter ia mengenakan baju steril dan menukar sepatunya dengan sandal plastic biru tua yang kedodoran. Ibu Nur berbisik agar Faris ikut masuk ke dalam ruang operasi.

Suasana begitu lengang. Di ruang tunggu kami (saya Ina, Ibu dan beberapa kerabat) hanya mematung. Ibu meminta ajudan untuk menghubungi Nita dan Yenny. Ia tahu Alissa telah dihubungi dan telah berangkat dari rumahnya di Yogya Tak lama kemudian SBY keluar dan duduk di hadapan Ibu. Dia berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Tapi belum lagi terjelaskan kami mendengar suara tangisan (tepanya lolongan) Mas Faris. Jelaslah sudah apa yang terjadi. Dipenghujung azdan magrib Gus Dur berpulang. Ina tersengal-sengal sebelum sanggup menjerit dan menangis. Ia menghentakkan kakinya dan bereaksi untuk menolak kenyataan. Keringatnya bercucuran. Faris bersimpuh dipangkuan Ibu Nur. Ibu menutupi wajahnya dengan kerudung sambil terus membaca doa dan takbir. Saya berlari di antar Ina dan Ibu Nur. Menghibur keduanya ingin kulakukan, tapi hampir tak ada gunanya. Saya hanya berusaha membuat Ina dan Ibu tetap sadar meskipun Ibu sempat terdiam seperti pingsan. SBY berlalu tanpa pamit… sesaat kemudian Yenny masuk yang disambut tangisan Ibu dan Faris. Ia masih menggunakan masker penutup mulut dan hidung karena sedang flu. “ Mana Bapak?” tanyannya dengan sangat cemas sambil berlari meninggalkan Ibu menuju ruang operasi didampingi Faris, saya dan Ibu Nur menyusul kemudian.

IV

Magrib telah berlalu, SBY juga telah berlalu, tanpa pamit kepada Ibu. Saya tak sadar memakinya mengapa ia datang.  Di ruang tunggu VIP hanya ada saya menanggui Ibu dan anaknya dokter Umar dan Ina. Yenny telah di ruang operasi bersama Faris. Saya kemudian mendorong ibu masuk ke ruangan /tepatnya gang yang membawa kami ke ruang di mana operasi dilakukan. Yenni di sana, Ia menelungkup di atas tubuh Gus Dur yang ditutupi selimut biru muda.  Tanpa suara. Beberapa dokter dan perawan ada di sekitar kami.  Tak ada yang berani mendekat,  Ibu mendekat sambil memanggil-manggil Bapak. Ia mengguncang-guncang pundak Bapak sambil merajuk “ Mas tangio  ayo mulih… ayo mulih , kok adem men sihh ( Mas bangunlah, ayo pulang.. ayo pulang,mengapa (pundaknya) begitu dingin. Saya mencoba menyentuh pundak Yenni, tapi ia menepis. Ia tak mau ada yang menangisi Bapak. Ia sedang menolak keadaan.

Suara  tangisan Ina terdengar. Ia tak berani masuk ia hanya berdiri di depan ruangan yang pintunya terbuka lebar. Ia menghentakkan kakinya berkali kali. Sambil menjerit tertahan. Tak lama kemudian Nita datang. Ia berdiri di depan kepala bapak, Ia begitu tenang. Ia sedang mengandung Khalil beberapa bulan sata itu. Mungkin karena itu hampir muntah. Seorang perawat berlari membawa tissue lebar. Tapi Nita tak jadi muntah. Ia mengeluarkan Al Qur’an memulai mengaji di depan kepala Gus Dur. Ina masuk dan keluar lagi. Saya merasa Ina sedang tidak sadar. Ia berjalan terhuyung huyung ke luar gang dan dikejar Nita. Faris menuntun Yenni ke gang dan merebahkannya di tempat tidur pasien. Yenny terus memanggil Bapaknya. “ aku moh mas. Aku moh”  (aku tak mau Mas.. aku tak mau..) demikian ia bergelung di tempat tidur itu sambil menendang-nendang dinding.  Ia terus protes mengapa  Gus Dur tak menanti kelahiran anaknya. Saat itu Yenni sedang hamil anak pertama yang kelak diberi nama Malika.

Agak lama kami di ruangan itu. Lalu kami diminta keluar karena Gus Dur akan dibersihkan sebelum dipindakan ke lantai lima. Di gang Annita terus mengaji. Qur’an itu terlalu kecil dan gang  lumayan gelap. Dengan Annita saya bisa berdiskusi apa yang harus kita lakukan. HP saya hampir mati. Saya hubungi Ira untuk atur di rumah. Ibu saya dan Nita bersiap pindah ke lantai V tempat Gus Dur akn disemayamkan selama 2 jam.

Ke salah satu kamar di lanta V Gus Dur dibawa. Yenny berkeras ingin naik dan ingin  tidur disamping Gus Dur. Tak mala kemudian para tamu berdatangan. Ibu Endang, Menteri Kesehatan yang tadi datang bersama SBY datang lagi. Juga Pak Agum dan Ibu Linda. Tak lama tamu mulai membludag. Pintu kamar hampir di jebol. Yenny terus menangis. Mbak Sri Mulyani dan Rosianan Silalahi datang. Mereka berdua menghibur Yenny. “Yenny ayo  karo Mama” (Yenni mari kemari dengan Mama) demikian Ibu membujuk Yenni. Ia masih terus emosi kepada siapa saja yang menyatakan belasungkawa. Yenny  agaknya masih menolak kenyataan itu.

Kami semua bingung karena gang telah penuh oleh media. Saya melihat pak Djohan Effendi dan Muslim Abdurrahman di mulut pintu. Saya tak bisa menolong karena jika pintu dbuka pasti media akan merangsek masuk. Para ajudan dan Pak Agung berunding. Mas Faris memutuskan bahwa bapak di bawa langsung dengan melawan rangsekan warga dan media. Saya dan ajudan Ibu  Nur seperti berada di arus gelombang yang mneyeret kami ke luar,  kami turun melalui tangga sementara Gus Dur melalui lift. Kami setengah berlari mengikuti iring-iringan jelazah. Di jalan aku bertemu Ulil, kami berpelukan dalam tangis. Tanpa kata-kata.

Entah bagaimana lautan  gelombang itu membawa saya ke samping ambulance. Saya dan Syeanne sahabat Yenny masuk ke Ambulance duduk di depan. Tidak ada yang mengomando. Begitu  saa terjadi. Susah payah bagi jenazah Gus Dur untuk mencapai ambulance itu. Akhirnya Ibu masuk ke Ambulance didampingi asisten dan ajudan serta Mas Faris.  Saya raih tangan Ibu dari arah depan. Ibu terus menangis. Ia telah menukar kerudungnya dengan rana biru yang semula jambon kesukaannya.

Sepanjang perjalanan saya melihat orang berhenti melambaikan tangan. Seorang supir taxi keluar dari taxinya mengangkat tangan mengantarkan doa doa bagi Gus Dur. Di belakang kami lautan konvoi mengikuti ambulance…  Hari itu 30 Desember bangsa Indonesia mengantarkan putra terbaiknya dengan cinta…

Lies Marcoes

30 Desember 2012. (memperingati 3 tahun meninggalnya Gus Dur)