Saya sungguh gerah dengan fatwa MUI yang begitu terbuka untuk tidak mengucapkan selamat natal. Apa sih yang tidak dilarang dengan fatwa MUI, fesbukan saja kita tidak boleh. Padahal justru dari fesbuk saya menemukan jalan spiritual saya, hal yang justru bukan saya dapatkan dari fatwa-fatwa MUI. Mengatakan tidak boleh mengucapkan selamat natal sama saja mengatakan ‘jangan main sama anak itu karena dia anak haram’, di depan anak tersebut, sementara kata ‘anak haram’ itu sendiri begitu nisb dan sama sekali tidak relevan. Menyakitkan dan tidak berperasaan.

Larangan mengucapkan natal itu sudah lama berhembus. Sudah lama saya dengar himbauan ini dari khotbah-khotbah yang saya dengar. Jujur saya juga sempat tidak mengucapkan natal pada teman-teman saya. Waktu bapak saya masih ada, meski himbauan itu ditiupkan dalam majelis-majelis pengajian dan jumatan, bapak tetap saja membeli kartu natal. Karena sejak dulu bapak selalu mengirimkan kartu natal kepada kenalan yang merayakannya, meski ada larangan begitu, bapak tidak peduli. Tetap saja bapak membeli kartu-kartu natal dan mengirimkannya. Saya sudah peringatkan bahwa itu dosa. Tapi bapak tidak mau dengar.

Sekarang, dengan pemahaman spiritual saya yang sekarang, baru saya memahami apa yang dilakukan bapak, sekitar 8 tahun setelah beliau meninggal. Saya baru tahu bahwa tidak perlu pendapat orang lain untuk menterjemahkan apa yang Tuhan mau dan apa yang Tuhan tidak mau. Lakukan saja apa yang kita yakini baik buat kita dan orang lain. Sepertinya itu yang ingin bapak tunjukkan pada saya waktu itu.

Itu jugalah yang saat ini saya yakini. Kalau itu menjadi keyakinan orang lain untuk memeluk agama selain agama yang saya peluk itu urusan kita masing-masing. Ketika saya sendiri tidak bisa menjamin bahwa agama ini yang bisa membawa saya ke surga, buat apa saya ngotot bahwa agama inilah yang paling benar dan orang yang memeluk agama lain itu salah lalu akan masuk neraka? Saya memeluk agama ini karena agama inilah yang saya tahu. Ibadahnya saya lakukan karena sudah terbiasa. Dan agama inilah yang membuat keluarga saya tenang, setidaknya ibu saya bahagia karena saya tetap dalam agama ini. Dan itu di atas segalanya. Masalah surga dan neraka itu urusan Tuhan . Saya percayakan pada Tuhan untuk memasukkan ke surga atau neraka. Bukan berdasar kriteria yang dibuat manusia yang memastikan saya akan masuk surga atau neraka. Enggak lah. Jangan-jangan nanti kita sama-sama ketemu di neraka. Haha..

Saya tidak merasa perlu mengambil persepsi orang lain tentang bagaimana saya harus memandang Tuhan. Kalau orang lain memandang Tuhan itu sebagai ‘SESUATU’ yang kejam dan suka menghukum dengan memasukkan manusia ciptaanNYA ini ke neraka, bagaimana kalau di mata saya Tuhan itu ‘SESUATU’ yang maha kasih hingga tak pernah ada yang namanya neraka? Apakah saya lantas salah lalu masuk neraka juga?

Saya di sini, dalam agama ini, dengan segala ketentuanNYA adalah karena saya ingin berada di sini. Bukan karena saya ingin masuk surga. Tuhan yang saya yakini, saya terjemahkan dengan rasa saya sendiri. Bukan berdasar terjemahan orang lain.

Kalau orang lain bisa saja menciptakan terjemahan mereka, saya boleh juga dong menterjemahkan sendiri bagaimana Tuhan itu? Saya kira Tuhan tidak akan keberatan diterjemahkan sebagai apa saja. DIA akan diam tenang-tenang diterjemahkan sebagai kejam atau penuh kasih. DIA juga terlalu peduli ketika diterjemahkan sebagai tidak ada oleh orang atheis, atau bahkan ketika diterjemahkan sebagai “YANG TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN” oleh Budhist. Apa saja boleh.

DIA adalah sebuah terjemahan bebas. Jadi, saya juga bebas menterjemahkan DIA sesuka saya. Anda juga boleh menterjemahkan DIA apa adanya kalau anda mau. Buat saya, menerima terjemahan orang lain untuk kita yakini sama saja menelan makanan yang sudah dikunyahkan orang lain lalu dimasukkan ke mulut kita. Tapi itu sah-sah saja. Hidup itu pilihan kok.

Sama juga dengan mengucapkan natal atau tidak, itu juga pilihan. Cuma kalau buat saya, melakukannya atau tidak mestinya karena memang kita meyakini kebenarannya. Bukan karena orang mengatakan jangan, lalu kita ikut-ikutan saja tanpa tahu benar kenapa. Terjemahkan saja sendiri, karena memahami DIA adalah sebuah terjemahan bebas.