Semasa masih sering ke gereja dahulu, saya menyukai Natal. Bagaimana tidak. Natal memang menyenangkan. Semua serba meriah.

Hiasan-hiasan indah dipasang di pertokoan. Kakek berjenggot gendut yang suka tertawa muncul di mana-mana. Di rumah nenek, ada pohon natal lengkap dengan lampu kelap-kelip. Tentu saja pohon artifisial. Dari plastik. Kapas yang pura-puranya salju tapi tak dingin ditempel di sana sini.

Ada gua juga. Kecil. Dibuat dari kertas semen yang di cat obar-abir. Rumput-rumput kering ditaruh di dalamnya. Patung-patung kecil ditaruh di rumput itu. Ada patung Yosef, Maria, Raja 1, Raja 2, Raja 3, anak-anak gembala, tak ketinggalan bayi Yesus kecil dalam palungan. Tapi yang paling saya sukai tentu saja patung domba.

Saya pernah meminta pada orang tua agar kami juga memiliki pohon natal di rumah. Tapi permintaan itu ditolak. Boros katanya. Terlalu mahal untuk hal sekali setahun. Jadi saya buat pohon natal saya sendiri. Organik!

Saya petik ujung daun cemara kipas dari sekolah atau dari halaman gereja. Walau cuma daun, tapi bentuknya tetap seperti pohon cemara. Pohon cemara gepeng. Saya petik kecil saja. Sekitar satu atau dua centimeter. Saya dirikan di atas malam atau was. Untuk pita saya gunakan serutan krayon warna warni. Untuk salju, saya gerus kapur putih hasil mencuri dari sekolah. Tidak ada lampu kelap-kelip warna warni yang menyala berganti-ganti. Tapi saya suka pohon natal mungil saya itu.

Gereja juga didekorasi sehingga menarik. Cerah. Meriah. Guanya jauh lebih besar dari gua di rumah nenek. Tentu saja patungnya juga lebih besar. Pohon natalnya juga. Membumbung dari lantai sampai jauh di atas kepala saya. Jauh lebih besar dari pohon natal di rumah nenek yang hanya ditaruh di atas meja kecil. Dan tentu saja jauh lebih besar dari pohon natal saya yang hanya sekuku jari.

Di bawah pohon natal raksasa itu, banyak kado-kado tergeletak. Besar dan kecil. Dibungkus kertas kado warna-warni. Seperti jajanan anak di depan SD. Sedap dipandang. Tentunya itu bukan buat saya. Katanya untuk bayi Yesus. Walaupun lahir dalam kemiskinan, nampaknya Yesus adalah bayi yang menerima kado paling banyak di dunia.

Sedang sampai sekarang hanya sekali saya pernah mendapat hadiah Natal. Hasil berebut dari Sinterklas sehabis misa natal anak. Bukan berebut sih sebenarnya, cuma antre tapi tanpa antrean. Itu pun cuma beberapa buah snack yang tak enak. Tak sepadan dengan penantian yang lama dan melelahkan. Tak heran kalau kakak saya sebelumnya sudah menyarankan agar lebih baik pulang saja. Ya, kakak-kakak saya yang sering jahil bukan main itu kadang baik juga. Buktinya mereka mau sabar menemani saya.

Natal sekarang biasa saja bagi saya. Wajar, lha wong saya tidak pergi ke gereja. Belanja juga tidak. Nonton tivi jarang. Paling saya memutar lagu natal sedikit-sedikit. Sembari menulis ini, saya mendengar Carol of the Bells yang dibawakan Celtic Woman. Lagunya bagus sekali. Saya suka. Biar hawa-hawanya terasa sedikit-sedikit juga. Sepertinya masih ada secuil hati saya yang merindukan perayaan Natal. Sedikit-sedikit.

Natal memang mengasyikan kok!

Semua tentu sudah tahu kalau Natal ada untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus. Tapi sebenarnya hari kelahiran bayi Yesus sendiri tidak diketahui tepatnya. Biar punya hari ulang tahun, maka diada-adakan. Biar nasibnya tidak jadi seperti anjing saya, tidak punya hari ulang tahun. Cuma dapat dikira-kira saja bulannya. Menyesal dahulu tidak bertanya pada yang memberi.

Jatuhnya Hari Natal pada tanggal 25 Desember baru ditentukan tahun 354 Masehi. Perayaannya menggantikan perayaan kelahiran Dewa Matahari. Urusan politiklah. Menggusur kepercayaan lama tanpa harus menghancurkan perayaannya. Rekonsiliasi yang lumayan bagus. Yah memang termasuk akal-akalan. Tapi kekuasaan kan memang lebih sering dibangun dari akal-akalan daripada kejujuran.

Pohon Natal aslinya juga tidak ada hubungannya dengan kelahiran Yesus. Asline budaya pagan juga. Daun-daun dirangkai dan dijadikan hiasan untuk menghormati dewa-dewa pertanian. Kebiasaan ini terus berevolusi. Nah konon, sekitar tahun 1500an, seorang pendeta berjalan dalam salju. Ia tertarik pada semakan yang selalu hijau pada musim dingin. Maka ia membawanya ke rumah, lalu menghiasnya dan meletakkan lilin menyala di atasnya. Untung semak itu tidak terbakar. Karena kalau iya, mungkin kita lebih mengenal arang natal daripada pohon natal.

Ada juga yang berkata kalau pohon natal diperkenalkan pada abad ketujuh. Seorang biarawan menggunakan bentuk cemara yang mirip segitiga untuk mengenalkan konsep trinitas. Entahlah mana yang benar. Kan sebenarnya lebih efektif dan ramah lingkungan kalau pakai cawat saja. Eh, mungkin tahun itu celana dalam belum berbentuk segitiga seperti sekarang.

Nah, untuk Sinterklas ini juga demikian. Awalnya tidak ada hubungannya dengan perayaan Natal. Bermula dari abad ketiga, lahir seorang Santo di Patara. Sekarang sekitar Turki. Namanya Santo Nikolas. Ia senang memberi hadiah pada orang miskin dan semakin lama semakin melegenda. Ia kemudian diperingati tiap tanggal 6 Desember. Tepat hari wafatnya.

Kisah Santo Nikolas ini semakin menyebar, dan sangat populer di Belanda. Di sana ia terkenal dengan nama Sinter Klaas. Sinter artinya ya santo itu. Orang suci. Sekitar abad ketujuh belas, legenda dan perayaannya diboyong oleh para imigran ke daratan Amerika. Di sana, Sinter Klaas berubah jadi Santa Claus. Sama saja. Santa ya sinter, ya santo. Klaas yang ejaan Belanda berubah ejaan jadi Claus. Lalu lama-lama, disatukanlah perayaan Santa Claus dengan Natal. Kan dekat tuh dengan tahun baru. Pas, jadinya liburan panjang. Cocok dengan orang belanja-belanja. Dipakailah Santa Claus untuk menarik orang belanja. Muncul di iklan-iklan. Puncaknya tahun 1931. Santa Claus dipakai Coca-cola sebagai tampilan seri iklan di majalah-majalah. Iklan itu sedemikian populernya sehingga akhirnya, tampilan Santa Claus di iklan itulah yang kita kenal sekarang. Gemuk, berjenggot, dan suka tertawa. Citra yang asli, yaitu sebagai tukang membagi hadiah, bukan model iklan, masih tetap terjaga dalam legendanya. Tapi entah dari mana kisah bahwa ia masuk rumah lewat cerobong asap berasal.

Sinter Klaas, atau Santa Claus, atau Santo Kolas tidak pernah datang ke rumah saya untuk memberi hadiah. Mungkin karena saya nakal. Mungkin karena tidak ada cerobong asap di rumah saya. Tapi tidak apa, orang tua saya, dan saya sendiri, selalu mampu menyediakan apapun yang saya butuhkan. Jadi bisa dibilang, saya tidak butuh Sinter Klaas, atau Santa Claus, atau Santo Kolas. Lha wong memang saya tidak pernah mengharapkan apapun darinya.

Nah, wajar kan kalau sekarang saya tidak turut merayakan Natal. Walau mengaku-ngaku sebagai murid Yesus, saya tetap tidak tertarik merayakan kelahirannya di Hari Natal. Bukan karena tanggalnya yang mengada-ada dan saya takut turut merayakan kelahiran dewa matahari. Tapi tidak tertarik saja. Untuk mengenang rasanya juga aneh, bukankah bisa kita mengenang kapan saja. Kapan ingin dan kapan butuh. Hmmm, apa perlu alasan yang diada-adakan seperti hari ulang tahun Yesus tadi?

Ya sudah. Saya merasa aneh jika harus merayakan kelahiran Yesus di akhir tahun. Desember kita rayakan kelahirannya, April kita sudah menyalibkannya lagi. Tiga hari kemudian kita rayakan kebangkitannya. Tak lama, Mei atau Juni kita rayakan ia naik ke surga. Eh, akhir tahun kita rayakan lagi kelahirannya. Begitu terus sepanjang tahun. Seperti siklus.

Seperti reikarnasi. Lahir, wafat, lahir lagi, wafat lagi, dan seterusnya.

Padahal Pastor Kepala Divisi Pengusiran Setan di Vatikan, Gabriel Amosh namanya, mengatakan bahwa reikarnasi adalah kepercayaan yang sesat. Mari saya kutipkan pernyataannya beberapa waktu lalu,

“Mempraktekkan yoga membawa kejahatan seperti membaca Harry Potter. Mungkin kedua hal itu tampak tidak berbahaya, tapi keduanya berurusan dengan sihir dan mengarah pada kejahatan. Yoga adalah pekerjaan iblis. Anda pikir Anda melakukan hal itu untuk peregangan pikiran dan tubuh, tapi itu mengarah ke agama Hindu. Semua agama-agama oriental ini didasarkan pada keyakinan palsu reinkarnasi.”

Jangan-jangan saya tidak tertarik lagi untuk merayakan Natal, apalagi ikut misanya yang super duper lama dan berdesakan, karena saya suka sekali dengan Harry Potter. Waktu saya masih kecil kan belum ada Harry Potter. Dan ah ya!

Ya!

Saya tahu apa yang saya inginkan untuk hadiah Natal dari Sinter Klaas, atau Santa Claus, atau Santo Kolas!

Saya ingin hadiah berupa permintaan maaf resmi dari Vatikan atas ucapan salah satu petingginya itu! Tidak peduli ia sudah jompo dan mungkin telah pikun tujuh keliling, pernyataannya mau tidak mau dapat dianggap sebagai sikap Vatikan. Vatikan, yang konon katanya perpanjangan tangan penuh kasih Yesus itu.

Tidak masalah kesukaan saya akan Harry Potter disinggung. Tapi menghubungakan yoga dan kejahatan, apalagi menyatakan bahwa agama oriental, Hindu khususnya, sebagai keyakinan sesat sangatlah menyakitkan. Bukan hanya kepada mereka yang mempraktekkannya, namun juga bagi saya yang dibabtis atas nama Gereja Vatikan.

Kecewa saya kecewa.

Saya berharap dalam rasa pesimis.

Sinter Klaas, atau Santa Claus, atau Santo Kolas, belum pernah mengabulkan keinginan saya. Untuk apa mengabulkan yang satu ini?

Mungkin karena saya masuk daftar anak nakal. Mungkin karena tak ada cerobong asap di atap rumah saya. Mungkin permintaan ini tak terbaca olehnya (padahal katanya blog seseorang dapat dibaca dari seluruh dunia).

Atau mungkin karena memang tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari Vatikan.

Yogyakarta, di kamar sudah ngantuk.
4 Desember 2011

http://www.christmas-time.com/ct-history.htm
http://www.christmas-tree.com/where.html
http://www.christmasarchives.com/trees.html
http://www.the-north-pole.com/history/
http://www.thecoca-colacompany.com/heritage/cokelore_santa.html
http://www.history.com/topics/santa-claus
http://www.tempo.co/read/news/2011/11/26/060368557/p-Vatikan-Yoga-adalah-Pekerjaan-Setan