Membangun kesadaran sebagai sebuah bangsa itu tidak banyak terkait dengan masa silam, pembangunan bangsa itu lebih banyak terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas.” (Benedict Anderson)

Aceh dan Rohingya adalah satu. Terbukti, ketika bangsa Rohingya dihina dan dilecehkan, orang Aceh marah seolah dirinya sendiri yang terhina dan dilecehkan.

Argumen dari orang luar, apalagi orang Myanmar dan Buddha yang bilang itu hanya perlakuan dari segelintir orang Myanmar yang kebetulan beragama Buddha, nggak akan bisa diterima oleh Rakyat Aceh.

 

Orang Aceh saking marahnya sampai menuntut menutup Wihara tempat beribadah umat Buddha yang ada di Banda Aceh sebagai bentuk solidaritas untuk orang Rohingya.

 

Aceh dan Palestina adalah satu. Terbukti, ketika bangsa Palestina dihina dan dilecehkan, Rakyat Aceh marah seolah dirinya sendiri yang terhina dan dilecehkan.

Argumen dari orang luar, apalagi orang Israel dan Yahudi yang bilang itu hanya perlakuan dari segelintir orang Israel yang kebetulan beragama Yahudi, nggak akan bisa diterima oleh Rakyat Aceh.

 

Orang Aceh baru akan puas kalau Yahudi lenyap dari muka Bumi…

 

Lalu, apakah Aceh dan Gayo, Aneuk Jamee, Alas, Kluet, Devayan, Sigulai adalah satu?

 

Ketika wakil resmi rakyat Aceh mengatakan suku-suku yang tidak berbahasa Aceh sebagai orang yang tidak jelas, marahkah masyarakat Aceh?

 

Jelas tidak, bahkan banyak dari orang Aceh yang sama sekali tidak tahu menahu dengan adanya berita itu. Sama seperti tidak tahunya orang Aceh,  bahwa di Jawa ada sekelompok manusia dizalimi penguasa di mana satu kampung yang ditenggelamkan untuk dijadikan waduk. Sama seperti tidak tahu dan merasa tidak perlu tahunya orang Aceh, bahwa orang Tibet ditindas Cina.

 

Ketika KONI Aceh dengan diskriminatif, menyingkirkan atlet Gayo dari kontingen Aceh yang bertanding ke PON sehingga, si atlet terpaksa memperkuat provinsi lain dan meraih medali bersama provinsi yang diperkuatnya. Apakah rakyat Aceh marah?….Ya marah, tapi bukan marah pada diskriminasinya, melainkan marah karena seharusnya Aceh lah yang mendapatkan medali tersebut, bukan provinsi lain.

 

Artinya, Gayo, Aneuk Jamee, Alas, Kluet, Devayan, Sigulai dan suku-suku minoritas lainnya di Aceh, bagi rakyat Aceh kebanyakan, secara psikologis tidak ada bedanya dengan orang Jawa atau orang Tibet.

 

Bagaimana bagi kaum intelektual Aceh yang mengetahui peristiwa itu. Bersimpatikah mereka?….

 

Marahkah mereka pada wakil resmi rakyat Aceh yang melecehkan kaum minoritas?

 

Marahkah mereka pada sikap diskriminatif yang dilakukan KONI?

 

Harap jangan kecewa, jawabannya adalah TIDAK…

 

Menghadapi peristiwa itu, kaum intelektual Aceh bersikap persis seperti kaum intelektual Myanmar atau Israel. Yang alih-alih menyalahkan bangsanya, mereka dengan berbagai argumen logis, meyakinkan kita semua. Bahwa itu hanyalah perilaku OKNUM, itu hanya segelintir orang Aceh, bukan semuanya. Orang Aceh yang lain tidak begitu.

 

Jadi…?????

 

Tak ada gunanya berpura-pura…FAKTANYA kita memang BERBEDA….

 

Salahkah kalau kita berbeda?….Kalau kita masih beragama Islam, kita tentu paham di dalam Al Qur’an Surat al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman ” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan yakni dari Adam dan Hawa dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. karena sesungguhnya kebanggaan itu hanya dinilai daru segi ketakwaan dan sesungguhnya orang mulia diantara kamu adalah yang bertakwa, sesungguhnya Allah maha mengetahui dan Maha Mengenal apa yang ada dalam batin kalian

Apakah karena kita berbeda lalu kita tidak bisa bersatu?….

Bisa, tapi persatuan tidak harus diartikan berada dibawah satu wilayah administratif yang sama yang sepenuhnya dikuasai oleh satu Suku Mayoritas yang hanya mampu berpikir sebatas kepentingan sukunya saja…

 

Wassalam