bq

Bagaimana bisa tahu siapa yang mana?

Setidaknya ada dua pendekatan untuk memahami persoalan ini.Keduanya berimplikasi beda dalam pencegahan atau penangan perkosaan. Pandangan pertama, menganggap perempuan diperkosa karena salahnya sendiri. Cara pandang Bupati Aceh Barat yang sedang menuai protes hari-hari ini termasuk dalam kategor ini. Menurutnya perempuanyang berpakaian ketat atau minim mengundang untuk diperkosa. Cara pandang ini berangkat dari asusi bahwa sumber masalah perkosaan ada pada prilaku perempuan.

Lanjutan dari cara pandang ini adalah bahwa lelaki memperkosa sebagai sesuatu yang wajar akibat diundang perempaun. Selaras dengan cara pandang ini adalah bahwa watak dasar lelaki adalah pemerkosa. Cara pandang kedua, perkosaan hanya terjadi manakala relasi antara pelaku dan korban dalam posisi timpang. Karenanya pakaian, prilaku bukan faktor penting dalam menentukan terjadinya perkosaan. Seorang pekerja TKW meskipun pakaiannya terbungkus dari ujung kaki ke ujung rambut jauh lebih rentan diperkosa majikannya yang masih remaja daripada perempuan yang berpakain minim namun punya posisi sosial politik setara dengan ayah sang pemerkosa TKW. Seorang santri seperti Ulfa, rentan terhada perkosaan “syech”Puji meskipun Ulfa menggunakan pakaian tertutup sebaga imana santri putri di pesantren. Di masa konflik di Aceh, perempuan Aceh jauh lebih rentan perkosaan meskipun mereka telah menggunakan pakaian bernuansa Syariah dibandingka nperempuan lain di luar wilayah konflik meskipun mereka tak menggunakan pakaian tertutup. Dua pandangan ini mendominasi cara berfikir masyarakat tentang sebab musabab perkosaan. Tetap iimplikasi atas cara pandang ini akan sangat berbeda. Undang-undang anti Pornograf ipada dasarnya berangkat dari cara pandang pertama. Berusaha melindungi perempuan dengan menyalahkan prilaku perempuan. Karenanya yang diatur adalah tingka laku perempuan: tidak boleh bergoyang di depan umum, tidak menampakkan hal hal yang dapat mengundang syahwat lelaki. Dalam pandangan ini, diakui bahwa pada dasarnya akal lelaki begitu payah dan tak punya kesanggupan untuk mengontrol syahwatny sendiri. Dan atas kelemahan itu , kesadaran peremuan diminta untuk tidak mengusik syahwat lelaki. Cara pandang Bupati Aceh Barat, pada dasarnya berangkat dari cara pandang serupa itu. Dan manakala pandangan serupa itu dijadikan program kerja bupati, maka bentuknya kira-kira melakukan razia pakaian, membagi-bagikan rok panjang dan jilbab, atau jika lebih ekstrim lagi, melarang peremuan ke luar rumah, atau memisahkan ruang gerak lelaki dan perempuan.

Cara pandang pertama mengabaikann faktor lain di luar isu auruat yang dianggap sebagai pemicu perkosaan. Lalu pertanyaannya jika benar bahwa penyebab perkosaan perempuan disebakan cara perempuan berpakaian, mengapa fakta menunjukkan bahwa: perkosaan menimpa perempuan dari usia bayi 2 tahun sampai 70 tahun. Perkosaan lebih sering terjadi di dalam rumah dan oleh orang yang dikenal dari pada di luar rumah oleh orang yang baru dikenal. Perkosaan terjadi pada anak-anak -dilakukan oleh lelaki dewasa. Perkosaan oleh mereka yang punya hubungan kekuasaan dengan yang dikuasainya (buruh ole hmajikan, murid oleh guru, rakyat di daerah konflik oleh militer). Cara pandang kedua melihat bahwa penyebab perkosaan adalah rendahnya relasi kuasa korban dan bukan karena cara berpakaian.

Dengan cara pikir seperti itu, penanganan perkosaan bukan dengan menata cara perempuan berprilak umelainkan dengan mengatur hal-hal yang memungkinkan terjadinya kerentanan perempuan dalam posisi sosial dan politiknya. Bukan memaksa perempuan menutup aurat misalnya, tetapi menghukum seberat-beratnya lelaki memperkosa. Harus diakui,cara candang pertama memang jauh lebih populer bukan saja karena cara pandang keagamaan menyumbang dalam konsep aurat perempuan, namun cara pandang ini juga tak membutuhkan kecerdasan untuk mencari akar masalah perkosaan. Persoalannya, cara pandang pertama ini takkan pernah bisa mengurangi apalagi mengakhiri perkosaan meskipun bisa digunakan untuk alat kampanye. Satu hal yang pasti, cara pandang serupa itu pasti dapat digunakan untuk membuktikan betapa naifnya seseorang untuk tidak dikatakan betapa dangkal cara berpikirnya.
_____________

Penulis adalah aktivis perempuan, Pengurus Yayasan Rumah Kitab