Galileo Galilei, sang bapak sains modern, lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564, meninggal di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642, pada umur 77 tahun

Semua kitab suci agama-agama besar yang kita kenal ditulis pada era pramodern, pra-ilmiah, pra-saintifik. Jadi, akan sia-sia sama sekali mencari dan menemukan sains modern di dalam semua kitab suci, bahkan di dalam kitab suci yang anda yakini berasal dari wahyu ilahi sepenuhnya yang tak bisa salah. Kalau memang kitab suci apapun memuat pandangan-pandangan sains modern, mustinya sejak dulu sekali kaum agamawan yang menekuni kitab suci mereka, lewat hidayah ilahi, sudah bisa menghasilkan sains modern. Nyatanya apa? Nyatanya, tak ada para penekun teks-teks kitab suci apapun, sejak dulu hingga sekarang, yang mendadak berubah menjadi saintis sejati tingkat dunia. Hemat saya, Allah menugaskan manusia untuk menyelidiki alam raya ini, bukan teks-teks kitab suci, jika mereka ingin mendapatkan pengetahuan saintifik.

Sains modern muncul bukan dari pengkajian tekun atas kitab suci apapun, tetapi dari observasi atas segala fenomena alam (lewat mata telanjang atau lewat bantuan teknologi modern), dari eksperimentasi, dari konsistensi bernalar secara logis, dari teori-teori saintifik yang sudah ada sebelumnya, dan dari bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan. Yang diakui dunia sebagai bapak sains modern bukan ahli kitab suci manapun, tetapi Galileo Galilei, yang ketika mempublikasi pandangan-pandangan revolusioner saintifiknya ditolak oleh gereja (abad ke-16 dan ke-17) dengan keras, diancam akan dijatuhi hukuman, tetapi akhirnya hanya dikenakan tahanan rumah sampai akhir hayatnya.
Tetapi ada sangat banyak agamawan bekerja keras untuk menunjukkan (mungkin seperti anda) bahwa kitab suci mereka berisi sains modern atau minimal sejalan dengan sains modern. Nah, hemat saya, usaha keras mereka ini sia-sia saja. Sebab, ketika mereka melakukan usaha ini, yang mereka lakukan sebenarnya hanyalah mencocok-cocokkan kitab suci dengan sains modern. Ini saya namakan COCOKOLOGI. Cocokologi sebenarnya sangat merugikan dunia agama, sebab kemana saja sains modern bergerak, ke sanalah kitab suci (demi kecocokan) dibawa dan diarahkan, atau bahkan dipaksa dibawa dan dipaksa diarahkan. Jadi, cocokologi sebenarnya menaklukkan kitab suci pada sains modern; jadi sangat merugikan integritas agama sendiri. Selain itu, cocokologi sangat melelahkan kaum agamawan, sebab, begitu sains yang semula bisa dicocokkan dengan kitab suci berubah, mereka harus berlelah-lelah lagi mencari teks-teks kitab suci lainnya yang bisa dicocokkan dengan sains modern. Terus demikian. Sangat melelahkan, dan sia-sia!

Selain itu, hendaklah anda sadari sains itu suatu bidang yang sangat kompleks, tidak sederhana, dan sama sekali tidak bisa disusutkan atau disederhanakan menjadi sebuah ayat kitab suci. Dunia sains modern sama sekali bukan dunia kitab suci dan para penulisnya. Ayat-ayat skriptural bisa memuat wisdom untuk moral manusia, tetapi ayat-ayat kitab suci sama sekali bukan pandangan saintifik tentang hal apapun yang sesungguhnya kompleks, yang jika diuraikan akan menghasilkan berjilid-jilid buku. Kitab-kitab suci tentu juga memuat catatan-catatan tentang pengalaman-pengalaman umum umat manusia, misalnya pengalaman akan kemandulan, persetubuhan, membesarnya janin dalam rahim, kelahiran, bayi yang cacat ketika dilahirkan, perkembangan tubuh, tidur dan istirahat, kecerdasan, kebodohan, kebahagiaan, depresi, sakit penyakit, kesembuhan, usia yang bertambah, tubuh yang menua dan makin lemah, tulang yang patah, pingsan, keadaan koma, kematian, rasa sedih dan duka, dan pembusukan mayat; tetapi tidak ada satupun penulis teks-teks kitab suci apapun yang pernah mengadakan penelitian mendalam, dengan menggunakan metode saintifik, atas pengalaman-pengalaman ini untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah.

Para praktisi cocokologi sebetul-betulnya tidak menemukan sains modern apapun dalam ayat-ayat kitab suci mereka, tetapi memakai poin-poin tertentu dari pandangan-pandangan saintifik yang sudah diketahui mereka sebagai pra-paham (presupposition) yang menjadi bingkai imajinatif dalam memahami teks-teks kitab suci mereka. Jadi, imajinasi merekalah, yang bisa sangat liar, yang dengan paksa menentukan makna teks-teks kitab suci. Bukan teks-teks kitab suci sendiri yang berbicara, tetapi kemauan dan imajinasi mereka mengendalikan apa dan bagaimana isi teks-teks kitab suci yang mereka telah pilih-pilih, yang mereka mula-mula anggap paling dekat atau paling klop dengan pandangan-pandangan saintifik, sementara menyembunyikan atau menolak teks-teks lain yang tidak klop atau yang malah bertentangan. Cara “cherry picking” teks-teks kitab suci semacam ini hanya bisa dijalankan jika teks-teks kitab suci dipahami secara literalistik, dengan sama sekali melepaskan teks-teks ini dari konteks sejarah dan konteks kebudayaan zaman lampau yang telah memunculkan teks-teks ini. Padahal kita tahu, untuk memahami teks kuno apapun dengan benar, teks ini harus ditempatkan dalam konteks sejarah dan konteks kebudayaannya di zaman lampau. Jika sebuah teks dilepaskan dari konteks sejarah dan konteks kebudayaannya di zaman lampau, teks ini bisa berbicara apapun sejalan dengan kehendak bebas penafsirnya.

Selain dengan metode cocokologi, kaum agamawan, dalam rangka mengunggulkan agama mereka di atas sains modern, juga memakai strategi yang dinamakan “god of the gaps” strategy. Apa maksudnya? Maksudnya: Allah kaum agamawan difungsikan sebagai Allah pengisi celah-celah (gaps) sains yang belum bisa diisi dengan data dan bukti saintifik. Sains umumnya akan selalu memiliki celah ketika baru tumbuh; tetapi makin tua usia sains, makin sedikit celah di dalamnya yang masih kosong. Strategi God of the gaps dijalankan ketika misalnya orang bertanya dari mana asal kehidupan, atau dari mana manusia berasal, atau dari mana jagat raya berasal. Semua pertanyaan ini dijawab dengan strategi god of the gaps: semuanya berasal dari Allah, karena dulu sains belum bisa menjawab dengan memakai bukti-bukti objektif dan autentik. Tetapi, untuk semua pertanyaan ini, god of the gaps strategy kini sudah tidak bisa dipakai lagi, karena semua pertanyaan itu sudah bisa dijawab sains modern dengan tanpa melibatkan agama sama sekali. Dus, god of the gapskini menganggur, karena belum ditemukan celah baru yang ke dalamnya kaum agamawan akan menugaskan Allah mereka untuk mengisinya.Ya, saya tahu ada sekian yayasan di Barat, dengan dana besar, yang mendorong orang mengkaji bidang-bidang ilmu tertentu yang dapat membuktikan otoritas kitab suci agama-agama. Anda mungkin tahu, The John Templeton Foundation didirikan untuk misi ini, dan memberi beasiswa besar atau dana penelitian besar untuk membuktikan kebenaran agama/kitab suci jika disandingkan dengan sains modern. Ph.D. bukanlah gelar yang selalu bisa berbicara tentang kebenaran dan kejujuran. Pada dasarnya, misi yang diperjuangkan untuk membuktikan sebuah kitab suci berisi sains modern adalah misi cocokologi dengan memakai strategi “god of the gaps”.

Masih ada satu hal lain yang perlu dikemukakan pada kesempatan ini. Banyak sarjana agama dewasa ini berusaha keras untuk melahirkan apa yang dapat dinamakan “sains skriptural”, yakni “sains” yang disusun dan dijalin dari teks-teks kitab suci yang dipahami literalistik, yang dianggap akan menandingi, atau bahkan menggantikan, berbagai cabang sains modern.

Di kalangan sarjana Muslim, ada usaha keras untuk melahirkan “sains Islami” atau “sains Al-Qur’an”, misalnya fisika Islam atau psikologi Islam atau astronomi Islam (tentu saja, anda akan mengernyitkan kening dalam-dalam atau melototkan mata ketika membaca nama cabang-cabang ilmu yang janggal semacam ini!). Di kalangan Kristen Barat, sudah lama dibangun apa yang para pendirinya namakan “sains Alkitab”, misalnya apa yang dinamakan kreasionisme dan “Intelligent Design”, yang disusun untuk melawan dan menggantikan sains evolusi dan kosmologi modern yang keduanya dinilai telah merongrong otoritas ilahi Alkitab.

Apakah setiap “sains skriptural” betul-betul sains sejati? Jawabnya: semua “sains skriptural” bukanlah sains sejati, melainkan doktrin keagamaan, berada pada wilayah teologi dan bukan pada wilayah sains. Metodologi saintifik yang dipakai untuk menyusun sains modern sama sekali tidak dipakai para sarjana agama ketika mereka menyusun “sains skriptural”. Semua “sains skriptural”, dari agama apapun, sebetulnya disusun kalangan keagamaan konservatif untuk mempertahankan otoritas kitab suci sebagai wahyu ilahi, yang dipandang telah dirongrong oleh sains modern. Kalangan ini adalah para pembela kitab suci, bukan para pembela sains. Serahkanlah peradaban insani ke tangan para agamawan yang menyusun “sains skriptural” untuk mereka kelola, maka lihatlah, dalam beberapa dasawarsa saja peradaban ini akan binasa!