Pernyataan Bang HAJI Rhoma Irama (yg juga adalah seorang ustadz) baru-baru ini bahwa muslim dilarang dipimpin non muslim, memang mau tak mau erat hubungannya dengan pencalonan Ahok (Cina Kristen) yg mendampingi Jokowi sebagai kandidat pemimpin ibukota.

Ahok itu kan Kristen, Kristen itu kan non muslim (atau bahkan bisa disebut kafir!), jadi ya ga layak jadi pemimpin atau pendamping pemimpin dong! Kira-kira begitu pesan yg bisa ditangkap beberapa orang muslim. (Suatu pemahaman yang memang politis…)

Hmm… benarkah Al Quran (kitab suci, sumber hukum utama bagi siapa saja yg mengaku muslim) telah melarang orang-orang muslim (=orang yang berserah pada Allah) untuk tidak menjadikan non muslim sebagai pemimpinnya? Jawabnya adalah benar sekali! Lantas apakah itu serta merta pula artinya Ahok, oleh karena dia itu Kristen, maka tidak boleh membantu memimpin orang muslim? Tunggu dulu!

Saya memiliki alternatif pandang yg demikian

Mari, bukalah Al Quran (kitab suci, sumber hukum utama bagi siapa saja yg mengaku muslim) kemudian lihat surat Yunus (10) ayat 94:

“Maka jika engkau (Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum engkau. Sungguh telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu.”

Ayo kita cermati, pesan tersurat dan tersirat dari ayat ini. Perhatikanlah di ayat itu frase (Firman dari Allah SWT) yang demikian: MAKA JIKA ENGKAU (MUHAMMAD) DALAM KERAGU-RAGUAN TENTANG APA YANG KAMI TURUNKAN KEPADAMU, MAKA TANYAKANLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG MEMBACA KITAB SEBELUM ENGKAU…

 

Mari kita bahas ayat tsbt. Konteks ayat tersebut adalah termasuk dalam ayat Al Quran yang mukhamat (jelas, terang benderang, bukan tamsil atau mutasyabihat). Di ayat itu Allah berpesan pada Muhammad, bahwa kalau Muhammad mengalami keraguan tentang (terkait, soal, perihal) apa yang Allah turunkan padanya, maka jalan keluarnya adalah Muhammad disuruh untuk bertanya (mohon bimbingan, minta pimpinan ilmu) dari orang-orang yang membaca kitab sebelum Muhammad.

Nah, siapakah yang dimaksud sebagai “orang-orang yang membaca kitab sebelum Muhammad”? Tak lain dan tak bukan orang-orang yg membaca kitab sebelum Muhammad adalah orang-orang Kristen/nasrani (beserta pendeta-pendetanya) dan juga orang-orang Yahudi.

Ingat, saat itu kitab Al Quran belum ada (belum dihafal oleh para sahabat Muhammad, belum ditulis di daun-daun atau di kulit binatang, dan belum disalin oleh Utsman). Jadi artinya sudah jelas bahwa “kitab” yang dimaksud oleh Surat Yunus 94 pada frase “…tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum engkau..” di situ niscaya adalah bukan kitab Al Quran melainkan kitab Taurat dan Injil (yang menjadi kitab suci orang-orang Kristen).

Lihatlah….musti dengan hati dan kejujuran yg dalam tentunya… Allah SWT sendiri yang menyuruh Muhammad jika ragu soal apa yang Allah turunkan untuk kemudian bertanyalah (tentu saja guna dibimbing, diarahkan, dipimpin) oleh orang Kristen (yg niscaya adalah orang-orang yang membaca kitab sebelum Muhammad).

Jadi, untuk urusan Firman  Allah (bisa dikata untuk urusan hidup-mati dan sangat penting), dan bukan urusan biasa (urusan mengatur kota atau yg lainnya) MUHAMMAD PERNAH DISURUH BERTANYA (belajar, minta bimbingan atau arahan atau pimpinan) DARI ORANG KRISTEN, lho

Oke my frenz… Jadi lantas bagaimana dengan ayat Al Quran yg tegas melarang muslim untuk menjadikan orang Kristen (dan Yahudi) sebagai pemimpin? Demikian jawabannya:

Di Surat Al Maidah (5) ayat 51 memang Al Quran tegas melarang “jangan jadikan orang Yahudi-Nasrani sebagai pemimpin (teman)”.

Tetapi kita semua (yg jujur tentunya) juga bisa mengetahui bahwa Al Quran bahkan masih di surat yang sama, yakni frase kedua pada Al Maidah ayat 82 juga tegas menyatakan bahwa

“…Dan sesungguhnya akan engkau dapati (pula) orang yang paling dekat kasih sayangnya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nashara (istilah lain dari Kristen, Nasrani).” Yang demikian itu disebabkan di antara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib dan sesungguhnya mereka itu tidak menyombongkan diri.”

 

Jadi, kita lihat di surat Al Maidah ada 2 pernyataan:

A)     Jangan jadikan orang Nasrani (Kristen) sebagai teman (pemimpin)

B)      Orang Kristen adalah orang yang dekat dengan orang beriman (dengan makna lain: boleh dan harus dijadikan teman)

 

Apakah pernyataan A dan B bertentangan satu dengan lainnya dengan demikian Al Quran sedang berkontradiksi? Bagi saya jawabannya adalah TIDAK! Dengan penjelasan dan analogi sebagai berikut:

 

Pada suatu ketika saya berkata bahwa orang Indonesia koruptor besar (sebab faktanya memang dalam skala dunia Indonesia termasuk juara korupsi dan pernah diwakili oleh Soeharto sang presiden korup), dan tetapi di waktu lain saya pun berkata bahwa orang Indonesia itu baik-baik. Sepintas kedua pernyataan tsbt seakan berlawanan, padahal tidak. Mengapa tidak? Sebab memang kedua pernyataan itu benar, yaitu bahwa ada orang Indonesia yg suka korupsi dan tetapi juga ada orang Indonesia yang baik.

 

Nah, menyikapi Al Quran – surat Al Maidah, saya juga meyakini hal yang serupa dengan analogi saya di atas. Artinya, menurut surat Al Maidah (yg oleh muslim diyakini sebagai Firman Allah SWT itu) bahwa ada orang (golongan) Yahudi dan Nasrani yang jangan dijadikan teman apalagi pemimpin, sebab mereka itu musryik, jahat, sombong dsbnya, tetapi ada juga Yahudi & Nasrani (Kristen) yang baik hati dan layak dijadikan teman bahkan boleh kepadanya dimintai bimbingan atau arahan atau pimpinan.

 

Jadi hemat saya, ketika Al Quran melarang muslim memilih pemimpin dari Kristen, itu yang dimaksud jelas adalah Kristen yang tidak baik. Begitu pula ketika Al Quran menuduh Yahudi sebagai musryik, itu yang dimaksud adalah Yahudi yg tidak baik, sebab faktanya banyak pula Yahudi yang baik.

 

Sekedar tambahan kita bisa ingat bahwa faktanya hampir seluruh nabi-nabi yang diimani kebenarannya oleh Islam (sebagaimana tertuang dalam Al Quran dan Hadits) sesungguhnya adalah nabi-nabi Yahudi lho! Dan juga Isa (Iso = Iesous = Yesus) yang keberadaannya sangat ditinggikan oleh Muhammad (dan Al Quran-Hadits) juga adalah orang Yahudi. Pengikut dan sahabat-sahabat Isa juga tak sedikit dari kalangan orang Yahudi!

 

Bahkan Al Quran sendiri tegas mengatakan bahwa bangsa Israel (keturunan Yakub, yg juga dikenal sebagai Yahudi) pernah dijadikan bangsa yang dilebihkan dari bangsa-bangsa lain. (LIHAT Al Quran surat 2:122). Kelebihan Israel itu diberikan oleh Allah sendiri! Maka terlalu bodoh kalau sampai ada seorang yang mengaku muslim tapi menjadi begitu benci hingga antipasti secara berlebihan kepada orang Yahudi dan atau juga pada orang Kristen…..

 

Apakah orang Kristen di zaman Muhammad memang penting untuk dimintai pengarahan atau petunjuk atau pimpinan?

Mohammad Guntur Romli, seorang intelektual muslim, pernah menulis artikel yang dimuat di harian Kompas. Demikian tulisannya yg mencerahkan (bacalah):

 

judul:

Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen

 

buka di

 

http://www.facebook.com/notes/frans-donald-free-thinker/muhammad-dan-kaum-cerdik-pandai-kristen/171622533704

 

*****

Sebagai tambahan info kajian yg awesome, saya copas-kan juga tulisan Sudarto Darto (yg saya kira adalah dekonstruksi pemaknaan teks) yg berikut ini:

 

  • Sudarto DartoBenarkah memilih pemimpin non muslim haram? Setidaknya begitulah pendapat sebagian kalangan Islam seperti yang mengemuka dalam kisruh isu SARA di pemilukada DKI akhir-akhir ini. Dalil Al-Qur’an yang mereka pakai di antaranya adalah surah Ali Imran 28 dan Al Ma’idah 51 . Dalam terjemahan Indonesia, ayatterakhir berbunyi : “Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

     

  • Kata “pemimpin-pemimpin” pada ayat di atas adalah terjemahan dari kata auliya’. Pertanyaannya, tepatkah terjemahan tersebut? Coba kita telusuri terjemahan ayat ini dalam bahasa Inggris. Yusuf Ali dalam The Meaning of the Holy Qur’an menerjemahkan auliya’ dengan friends and protectors (teman dan pelindung). Muhammad Asad dalam The Message of the Qur’an dan M.A.S Abdel Haleem dalam The Qur’an sama-sama menerjemahkannya dengan allies (sekutu). Bagaimana dengan penerjemah Inggris yang lain? Muhammad Marmaduke Pickthal dalam The Glorious Qur’an mengalihbahaskan kata auliya’ menjadi friends. Begitu juga N.J. Dawood dalam The Koran dan MH. Shakir dalam The Qur’an. Sedangkan berdasar The Qur’an terjemahan T.B. Irving, auliya’ diartikan sebagai sponsors.Walhasil, tak satupun terjemahan Inggris yang saya sebutkan tadi mengartikan auliya’ sebagai “pemimpin.” Dan secara bahasa Arab, versi terjemahan Inggris ini agaknya lebih akurat. Perlu diingat, kata auliya’, bentuk plural dari waliy, bertaut erat dengan konsep wala’ atau muwalah yang mengandung dua arti: satu, pertemanan dan aliansi; kedua proteksi atau patronase (dalam kerangka relasi patron-klien).Karena itulah agak mengherankan ketika dalam terjemahan Indonesia pengertian auliya’ disempitkan, kalau bukan didistorsikan, menjadi “pemimpin”, yang maknanya mengarah pada pemimpin politik. Bisa jadi karena kata tersebut dianggap berasal dari akar kata wilayah, yang memang artinya kepemimpinan atau pemerintahan.Selintas masuk akal. Tapi kalau kita perhatikan lebih teliti, akan kelihatan bahwa anggapan ini tidak tepat. Mengapa? Kalau memang kata auliya’ bertolak dari kata wilayah, mestinya kata itu disertai dengan preposisi ‘ala. Dengan begitu, kalau QS 5:51 berbunyi ba’dhuhum auliya’ ‘ala ba’dh, auliya’ pada ayat tersebut bermakna pemimpin.Tapi ternyata redaksi ayat tersebut berbunyi ba’dhuhum auliya’u ba’dh, tanpa kata ‘ala setelah auliya’. Jadi tidak pas kalau akar katanya wilayah. Yang tepat, seperti sudah saya sebut di atas, adalah wala.’ Singkat kata, penerjemahan auliya’ sebagai pemimpin terbukti tak berdasar.

    Lantas bagaimana kita mesti memahami ayat wala’ seperti QS 5:51 dan QS 3:28 yang secara harfiah melarang kaum mu’min untuk menjalin pertemanan dan aliansi dengan kaum non muslim, apalagi minta perlindungan dari mereka? Apakah ini larangan yang berlaku mutlak atau situasional?Memahami ayat tersebut secara leterlek dan berlaku mutlak di manapun dan kapanpun akan sangat bermasalah. Ada tiga alasan.

    Pertama, makna harfiah ayat itu bertentangan dengan ayat lain yang justru menyatakan kebalikannya. Misalnya ayat yang menghalalkan laki-laki muslim menikah dengan perempuan Yahudi atau Kristen. Dalam ayat yang sama juga ditegaskan bolehnya kaum muslim untuk memakan makanan mereka, dan sebaliknya (Q 5:5) Selain itu, ada juga ayat lain yang menegaskan bahwa Allah tidak melarang umat Islam untuk “berbuat baik dan berlaku adil” terhadap pemeluk agama lain yang tidak memerangi mereka dan mengusir dari tanah kelahiran mereka (QS: 8).

    Kedua, Nabi sendiri pernah menjalin aliansi dan meminta perlindungan dari kalangan non Muslim. Kita ingat cerita hijrah para Sahabat ke Abessina (Habasyah) yang saat itu diperintah oleh seorang raja Kristen. Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi pernah meminta perlindungan kepada non muslim. Ketika di Madinah, Rasulullah memelopori pakta aliansi dengan komunitas Yahudi kota itu dalam bentuk Piagam Madinah. Bahkan pada level personal, Nabi bermertuakan orang Yahudi, yakni dari istrinya Sofiah binti Huyai.

    Ketiga, kalau QS 3:28 dan QS 5:51 dipahami secara harfiah dan mutlak, lalu bagaimana dengan pendirian Republik Indonesia yang dalam arti tertentu merupakan hasil kerjasama antara kaum muslim dengan pemeluk agama lain? Kasus lain: bagaimana dengan keterlibatan negara-negara Islam di PBB yang nota bene terdiri dari banyak negara non muslim sedunia? Bagaimana pula dengan Saudi Arabia, negara yang tak mungkin berdiri tanpa sokongan dari imperialisme Inggris untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah pada awal abad 20? Sampai sekarang pun kita tahu Saudi mendapat perlindungan dari Amerika Serikat. Bukankah semua itu termasuk dalam kategori menjadikan non muslim sebagai auliya’? Berarti haram? Oh alangkah absurdnya jalan pikiran semacam ini!

    Karena itulah ayat tersebut mesti ditafsirkan secara kontekstual. Penerapannya pun tak bisa sembarangan. Di sini ada baiknya saya mengutip Rashid Rida. Menurutnya, ayat-ayat pengharaman aliansi dengan, dan minta proteksi dari non muslim sejatinya hanyalah berlaku untuk non muslim yang nyata-nyata memerangi kaum muslim. Aliansi yang dilarang juga yang nyata-nyata merugikan kepentingan umat Islam ( Tafsir Al Manar, Vol.3, 277).

    Pandangan Rida ini juga sejalan dengan pendapat Fahmi Huwaydi, pemikir Islam kontemporer dari Mesir. Dalam karyanya Muwathinun La Dimmiyyun (Warga Negara, Bukan Dzimmi) Huwaydi menyatakan bahwa Islam sejatinya tidak melarang umatnya untuk membangun solidaritas kebangsaan yang berprinsip kesetaraan dengan non muslim, khususnya Kristen Koptik di Mesir. Ayat wala’/muwalah, di mata Huwaydi, mestinya tidak dilihat sebagai larangan terhadap solidaritas semacam itu. Ayat 5: 51, misalnya, sebenarnya diarahkan kepada kaum munafiq yang ternyata membantu pihak non muslim yang kala itu berperang dengan umat Islam.

    Dengan kata lain, dalam pandangan Rashid Rida dan Fahmi Huwaydi, QS 3:28 dan QS 5:51 tidak berlaku secara mutlak, melainkan situasional. Artinya, larangan menempatkan non muslim sebagai sekutu atau protektor hanya berlaku manakala pihak non muslimnya jelas-jelas memerangi umat Islam. Adapun jika mereka tidak seperti itu, maka berarti larangan tadi otomatis tidak berlaku.Menarik untuk dicatat, argumen Rida dan Huwaydi ini sebenarnya bisa dipakai juga untuk membantah klaim sejumlah kalangan Islam yang bergeming untuk memaknai kata auliya’ dalam QS 3:28 dan 5:51 dengan bersandar pada terjemahan Indonesia yang saya kutip di awal tulisan, yakni sebagai “pemimpin.” Dengan demikian, mereka tetap ngotot untuk mengharamkan memilih pemimpin non-muslim. Terhadap mereka kita bisa katakan bahwa ayat tersebut tidaklah berlaku mutlak melainkan situasional. Artinya, larangan menjadikan non-muslim sebagai pemimpin berlaku manakala si non muslim tersebut nyata-nyata memerangi umat Islam. Di luar itu, larangan tersebut tidak berlaku.

  • Sudarto DartoTapi lepas dari itu, kalaupun auliya’ tetap diartikan sebagai “pemimpin,” penerapan QS 3:28 dan 5:51 untuk konteks Indonesia modern juga salah sasaran. Perlu diingat, negara kita berbentuk republik yang menerapkan demokrasi langsung, sesuat

    u yang sama seklai tidak dikenal dalam sistem politik Islam klasik. Dalam sistem politik Islam klasik yang lazimnya berbentuk kerajaan, otoritas kepemimpinan yang dipegang khaliafah didasarkan pada legitimasi kuasa dari Tuhan, bukan dari rakyat. Pemimpin dianggap sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, dengan kekuasan yang absolut. Tidak ada yang namanya pembagian kekuasaan ala Trias Politica sehingga sang pemimpin memegang kekuasaan tertinggi dalam ranah legislatif, eksekutif, dan yudikatif sekaligus. Dengan kata lain, kepemimpinan dengan model “Daulat Tuanku.”

     

    Ini secara diametral berbeda dengan sistem republik yang menganut asas kepemimpinan bersendi “Daulat Rakyat.” Di sini pemimpin bukanlah pemegang kedaulatan tertinggi, karena legitimasinya justru berasal dari rakyat yang memberinya mandat melalui pemilu. Kekuasaannya tidak tak terbatas, karena ia bekerja dalam sistem demokrasi yang menerapkan pembagian kekuasaan. Dalam sistem semacam ini, presiden atau gubernur hanyalah pemegang kuasa eksekutif saja alias “hanya” pelaksana. Sebagai pemimpin, ia hanya berkuasa sepertiga.

    Dengan demikian, kalau memang pemimpin non-muslim hukumnya haram, mestinya penerapannya untuk konteks negara kita bukan hanya berlaku untuk lembaga eksekutif saja, melainkan juga legislatif dan yudikatif. Ini karena kepemimpinan dalam sistem republik modern bukanlah bersifat personal melaiankan kolektif dan sistemik. Tapi kalau itu dilakukan, maka sejatinya yang diharamkan bukan hanya memilih pemimpin non muslim, melainkan juga bisa mengarah pada pengharaman terhadap republik kita.

    Hal lain, kalau memang dipimpin oleh non Muslim hukumnya haram, bagaimana dengan umat Islam yang menjadi warga negara di India, Amerika atau Eropa? Apakah mereka semuanya berdosa hanya karena jadi warga negara di negara-negara yang dipimpin oleh non muslim? Apakah para pemain bola seperti Zinedine Zidane, Mesut Oziel, Sami Khedira, Samir Nasri, Ibrahim Afellay, yang semuanya dipimpin oleh presiden atau perdana menteri non muslim, harus hijrah ke negara orang tuanya masing-masing di Timur Tengah?

    Dengan paparan di atas, saya ingin menunjukkan bahwa wacana pengharaman pemimpin non-muslim bukan hanya berbahaya karena membawa kita berkubang dalam isu SARA yang berpotensi memecah belah Indonesia. Yang tak kalah problematis, wacana tersebut ternyata tidak punya pijakan yang kokoh dari kacamata Islam itu sendiri, karena pedomannya adalah terjemahan ayat secara tidak akurat, penafsiran yang sempit, dan penerapan yang salah alamat.

    *Dimuat di Majalah TEMPO, Edisi 16 Agustus 2012