3 in 1 disini bukanlah yg rekayasa lalin yg biasa berlaku setiap Senin – Jumat di ruas jalan utama Jakarta.

Tapi adalah strategy politik Foke dan teamnya dalam mengganjal strategi “koalisi bersama rakyat” ala JOKOWI-AHOK. (foto: http://tanahabangreview.wordpress.com/)

Three yg PERTAMA :

1. Koalisi Parpol, meskipun jelas ditebus dgn harga lumayan, tp sebenarnya tidak mahal2 amat, karena disini sentimen politik nasional bermain. Jika di tingkat lokal daerah2 lain partai2 seperti PKS, PPP, PKB, Golkar, Demokrat, Hanura bisa lebih luwes berkoalisi dgn PDI-P dan Gerindra yg nyata2 adalah partai oposisi serta amat berpeluang memiliki capres yg populer, maka dlm kontek DKI, yg bermain ada konstelasi nasional. Partai2 Islam jelas tidak mungkin berkoalisi dgn PDI-P. Partai nasionalis seperti Demokrat & Golkar yg adalah “musuh” di tingkat nasional jg tidak mungkin berkoalisi dgn PDI-P, Gerindra yg ditengarai menjadi saingan kuat di pemilu dan pilpres 2014. Jadi ada kepentingan bersama dari parpol2 supaya JOKOWI-AHOK yg didukung PDI-P & Gerindra kalah. Ketemu dgn kepentingan FOKE yg ingin menang. Sehingga saya menduga kuat, mahar yg mesti ditebus Foke utk dukungan parpol2 ini tidak sebesar ketika koalisi dilakukan di putaran pertama. Sisa dana Foke kemudian digunakan utk melancarkan strategi THREE in ONE yg kedua dan ketiga. Dengan dikuasainya parpol, maka strategy kedua dan ketiga Foke akan lebih mudah dilakukan, karena bagaimanapun mesin parpol ini akan bergerak di tingkat akar rumput, kecamatan2 dan kelurahan2.

Three yg KEDUA dan KETIGA :

2. Strategi SARA.
3. Strategi mengecilkan keunggulan kepemimpinan Jokowi – Ahok.

Kedua hal ini amat terkait, sehingga saya jadikan satu dalam pembahasannya.

Sebenarnya dari dulu juga isu agama ndak menarik.Sejak pemilu dilakukan di Indonesia kubu religius menang cuma di thn 1955, sisanya bahkan PKI menang, yg jelas2 ndak suka agama (bukan berarti anti agama jg). Jadi saya ndak percaya faktor agama adalah “win” faktor dalam Pemilu, level apapun. Namun demikian faktor ras lebih jadi faktor penentu dibanding agama.

Urutannya gini :

kalo kualitas individu dianggap mirip2/rata2. Liat ras nya apa, setelah itu baru liat agamanya.

Tp kalo kualitas individunya bedanya jauh, jelas, nyata. Ya faktor ras dan agama belakangan. Ini yg terjadi di Pilkada DKI.

Kualitas individu (moral, kepemimpinan, kedekatan dgn rakyat) Jokowi – Ahok beda jauh dgn Foke – Nara. makanya bisa menang telak di putaran pertama.
Saya ndak khawatir dgn serangan SARA. Yg lebih saya khawatirkan adalah serangan2 baik below the line maupun above the line ( meminjam istilah advertising) utk kemampuan Jokowi – Ahok.
Ketika muncul berita2 kemiskinan di solo yg besar, banjir di solo, dugaan korupsi jokowi,bahkan bahwa jokowi nir prestasi hanya semata-mata pencitraan dan macam2 serangan senada kepada Ahok.
Ini bisa menurunkan nilai dari kualitas individu yg sudah sempat di percaya rakyat pemilih, mempersempit beda nilai kualitas antara Jokowi-Ahok dgn pasangan Foke – Nara. Kalo sudah begini, ketika beda kualitas individu pasangan calon sudah sempit, maka faktor agama dan ras akhirnya bisa mengambil peran lebih besar. Saya kira ini yg sedang dimainkan timses Foke – Nara. Sungguh strategi yg cerdas. Saya menduga kuat juga, team LSI adalah dibalik strategy yg cerdas, licik dan bisa dibilang manipulatif ini.

Terus terang, bagaimana kondisi di lapangan, terutama di masyarakat bawah yg kurang akses ke internet tapi terekspos masif pd tayangan televisi terpengaruh dengan strategy ini, saya belum bisa mengambil kesimpulan.
Tapi kesan saya, team LSI-Foke, melihat banyaknya relawan Jokowi yg bergerak mandiri di level online, blog, social media dan lain sebagainya, melakukan counter dgn strategy 3 in 1 dgn cukup masif disini. Bahkan dengan disewanya akun anonim seperti TrioMacan2000 di twitter dgn follower ratusan ribu orang.
Saya kira, kalo seperti ini, peluang Jokowi masih besar, kaum melek internet di Jakarta, tidak mudah dipengaruhi dgn pemberitaan negatif, mereka cenderung akan melakukan verifikasi mandiri. Tp tetap team Jokowi tidak boleh lengah terhadap ini, harus ada counter insurgency yg cerdas juga. Dgn 1 tujuan, menjaga gap kualitas moral dan kepemimpinan Jokowi-Ahok tetap jauh diatas Foke-Nara.

Di lapangan, team relawan harus tetap rajin bergerak, masuk ke kampung2, ke kantong suara masyarakat, mendekati tokoh masyarakat setempat.Tetap jaga jgn sampai pengetahuan & simpati masyarakat atas kualitas moral & kepemimpinan Jokowi-Ahok mengalami erosi karena jurus 3 in 1 Foke. Bersaing ketat dgn team dari parpol2 pendukung Foke, yg juga sudah mulai turun ke bawah. Bagaimanapun juga, meskipun secara fakta kualitas individu Jokowi-Ahok jauh diatas Foke-Nara, manusia tidak ada yg sempurna, kesalahan sekecil apapun akan di lihat dgn kaca pembesar ber ratus2 kali lipat.

Team media, harus dapat membuat berita2 simpatik di televisi nasional, juga dengan 1 tujuan, menjaga kesenjangan kualitas individu Jokowi-Ahok (moral, kepemimpinan & kedekatan dgn rakyat) tetap jauh diatas Foke-Nara.

Selain itu, perlu tetap dimainkan isu yg menyorot ketidak becusan dan praktik2 kotor Foke ketika memimpin DKI selama 5 thn.

Dengan demikian, keunggulan Jokowi-Ahok akan terus bertahan sampai akhirnya resmi terpilih kelak.

Untuk JAKARTA YG BARU, MANUSIAWI & BERMARTABAT !