Setiap Ramadan tiba, aku merasa jengkel. Tentu bukan karena bulan itu diyakini penuh berkah. Melihat orang-orang menghabiskan waktu dengan merenungkan kesalahan, memperbanyak kebaikan… tentulah hanya orang-orang gila saja yang tak menyukainya.

Semasa masih sekolah di Ibtidaiyah Muhammadiyah (1982-1985), aku pun selalu merindukan datangnya bulan itu. Entah mengapa, aku suka belajar Islam (padahal kelas 1 hingga 3 SD aku bersekolah di SD Roma Katolik). Bahkan untuk urusan yang satu itu aku termasuk cerdas. Pendidikan Ibtidaiyah yang mestinya enam tahun, bisa kuselesaikan dalam tempo tiga tahun. Tentu saja hak Anda bilang “dikatrol”. Begitupun, aku punya sertifikat beasiswa yang menunjukkan aku bukan sekedar terdaftar tapi memang terpelajar. Kecuali kalau Anda mau bilang, lulusan Ibtidaiyah Muhammadiyah, Tanjungsari, Medan, seluruhnya adalah idiot.

Mengapa aku tidak suka kedatangan Ramadan, sebenarnya sepele saja. Petasan menggelegar di mana-mana. Menerorku terus-menerus. Pagi hingga malam. Ketika aku mengendarai sepeda motor, petasan mengagetkan hingga ban nyaris selip. Ketika sedang tidur, teror petasan membuatku bermimpi buruk. Ketika menulis, bunyi petasan membuyarkan konsentrasiku.

Petasan, bagiku, menjadi satu benda paling terkutuk yang pernah diciptakan manusia.

Tentu ada masa aku begitu menyukai teror petasan. Sewaktu siswa di SMA, aku adalah penggemar petasan sejati. Aku pernah melempar petasan ke kerumunan kawan-kawan yang sedang bercanda hingga mereka semua melompat seperti orang gila. Aku suka menaruh petasan di dekat jempol kaki orang-orang yang tertidur di mesjid hingga membuat mereka ingin membunuhku; aku juga pernah meledakkan seratusan petasan di sepanjang jalan Setiabudi Medan saat duduk di boncengan. Ringkasnya, petasan memang pernah sangat menyenangkanku. 

Tentu pula, sebagai penggemar petasan sejati, aku pernah merasakan bagaimana sakitnya jika petasan meledak. Ceritanya, suatu saat aku menyalakan petasan dengan bara rokokku (memang begitulah caraku menyalakan petasan). Sialnya, sumbu petasan terlalu pendek. Sementara aku pantang melempar petasan ke tempat yang asal. Bagiku, petasan harus mengagetkan karena hanya untuk itulah ia diciptakan. Aku masih mengincar sasaran, sementara api terus saja membakar sumbu. Akhirnya petasan meledak di jari-jariku.

Rasanya lumayan. Sakit, pedih, perih, panas, dan berdenyut. Jari telunjuk dan jempol kananku langsung sobek tanpa aliran darah. Kuku jempolku keseluruhannya menghitam, seperti digetok palu besar. Seharian aku menikmati, bagaimana rasanya jemari bergetar tidak berhenti.

Tobat?

Mana mungkin.
Remaja adalah mahluk paling tidak bisa diberitahu. Pelajaran yang kupetik cuma satu, lemparlah petasan dengan lebih hati-hati. Itu saja. Petasan tetap kunyalakan dan kulemparkan ke mana-mana.

Hingga aku kuliah, kebiasaan main petasan masih tetap kusukai. Seorang seniorku yang angkatan 1986 (aku angkatan 1991) di Fakultas Sastra USU, pernah menungguku seharian karena ketika ia tidur di ruang seminar aku (dan rekanku Agus Mulia—kini staf Balai Bahasa di Medan) meletakkan petasan di dekat ujung jempol kakinya. Hanya karena kami sesama anggota teater saja maka aku dan Agus tidak sampai merasakan bagaimana rasanya ketupat bangkahulu yang sebesar tapak beruang dan sekekar Rambo.

Artinya, meledakkan petasan itu sangat menyenangkan. Aku yakin, manusia yang sudah mencium hawa pengap liang kubur pun pasti berminat memainkannya. Tetapi bagi mereka yang menjadi korban maka petasan adalah salah satu benda paling terkutuk yang pernah diciptakan.

Sudah tidak terhitung aku melihat orang yang memukul, menempeleng, memaki-maki, membentak, bahkan menendang para pelempar petasan karena bunyi petasan yang mengagetkan membuat korban-korbannya terjatuh dari motor; istrinya berteriak-teriak kayak kesurupan; penderita penyakit jantung berhenti bernafas sejenak…

Tidak mungkin pula mengharapkan petasan tidak berbunyi sepanjang pabrik pembuat petasan tidak dilarang berdiri. Petasan adalah salah satu permainan paling mencandu karena membangkitkan naluri purba manusia yang gemar kekerasan. Tidak mungkin mengharapkan anak-anak dan para remaja berhenti main petasan selama petasan diijual bebas dengan harga murah.

Satu-satunya cara menghentikan peredaran petasan adalah menutup pabriknya bahkan misalkan pabrik itu berada di pulau terpencil. Tentu pula sembari menunggu pabrik ditutup, para petugas negara harus merazia, merampas, dan menghancurkan petasan yang didagangkan murah meriah. 

Jika untuk menutup pabrik petasan pun pengelola negara ini tidak mampu maka prestasi Detasemen Khusus Antiteror 88 menangkap Abu Bakar Basyir hanya soal kepentingan politik. Tidak lebih, tidak kurang.

Jika Ramadan ini tidak ada lagi bunyi petasan di mana pun, barulah aku percaya bahwa pengelola negara memang tengah bersungguh-sungguh menghentikan teror terhadap masyarakat apa pun bentuknya.

Barulah aku bisa berharap, esok tidak akan ada lagi pembakaran mesjid Ahmadiyah atau gereja Kristen. Esok tidak akan ada lagi tempat bagi terorisme berkedok agama. Esok tidurku tidak terganggu lagi.