Sampai saat ini saya belum berhenti melakukan kejahatan, maksiat, dosa dan sejenisnya. Bahkan semakin waktu mendekati bibir Ramadhan saya semakin gencar melakukan maksiat. Apa sebab?  (July 18, 2012)

Karena saya tahu Ramadhan adalah software cleaner adi kodrati. Sebuah medan waktu pembersih terhadap segala karat, cokies, jungkies, dan segala sampah registri religius dalam diri manusia.

Ada 3 fitur Ramadhan yang saya andalkan untuk ini. Yaitu: 10 hari pertama adalah fase pendaftaran untuk mendapatkan pengampunan. 10 hari kedua adalah fase pengampunan. Dan 10 fase terakhir adalah fase penerimaan siapa-siapa yang terpilih sebagai penghuni sorga.

Karena adanya 3 fitur Ramadhan itulah saya tidak merasa bersalah melakukan segala dosa di luar Ramadhan. Karena Tuhan telah menyediakan waktu khusus untuk masa pemutihan. Dan yang sangat melegakan saya adalah, para setan dan iblis dipenjara selama bulan Ramadhan. Sehingga saya akan bebas dari segala godaan dan bujuk rayu kejahatan.
“Ketika tiba malam pertama bulan Ramadhan, maka pintu-pintu sorga dibuka. Tidak satu pintu-pintupun yang ditutup selama sebulan penuh. Pintu-pintu neraka ditutup. Tidak satu pintu-pintupun yang ditutup selama sebulan penuh. Keangkuhan jin dibelenggu …” (Durratun Nashihin).
Bahkan saya juga tambah lega karena selama bulan Ramadhan banyak plugin dan tools optimasi religius. Banyak bonus disediakan. Misalnya, segala apa yang dilakukan selama bulan puasa akan dinilai berpahala sekian kali lipat. Bahkan tidur selama bulan puasa pun dinilai sebagai pahala oleh Tuhan.
“Jika seorang kalian bangun dari tidurnya di bulan Ramadhan, bergerak-gerak pada ranjangnya dan membolak-balik tubuhnya dari satu sisi ke sisi lain, maka Malaikat akan berkata kepadanya: Bangunlah. Semoga Allah memberkahimu dan merahmatimu. Maka jika bangun dengan niat untuk melakukan sholat, maka ranjangnya akan mendoakannya dan berkata: Ya Allah, berilah dia ranjang yang ditinggikan …” (Durratun Nashihin).
Itulah sebabnya saya tidak menghentikan segala perbuatan maksiat saya pada hari ini. Karena Tuhan begitu gencar mengobral janji dan rayuan agar saya gembira menyambut bulan Ramadhan walau diri berlumur dosa. Tuhan begitu peduli. Begitu butuh agar saya sadar. Begitu butuh agar saya mengakui betapa bulan Ramadhan itu wah. Bulan Ramadhan itu suci. Month of the best. Dan dimana-mana keutamaan bulan Ramadhan dipajang, disiarkan, dilagukan, dan diteriakan oleh para pengemar bulan Ramadhan.

Apakah saya menggugat bulan Ramadhan?
Tidak. Saya menggugat penyembah bulan Ramadhan.
Saya menggugat pemberhalaan terhadap bulan Ramadhan.

Meski tidak ada kata berhala dalam kosa kata pemuja bulan Ramadhan, tapi kumpulan nasehat, wejangan, kotbah dan ceramah tentang keutamaan bulan Ramadhan bagi saya kata lain dari pemberhalaan. Kesadaran umat bergeser dari medan penempaan diri menjadi ritualitas perburuan babak bonus dan karnaval sosial. Dalam rangka memburu sertifikat Tuhan. Dalam rangka menghias diri dan mempompa nafsu yang tertahan untuk dilepaskan begitu lonceng waktu berbuka berdentang. Dan itu terbukti dari jumlah hidangan yang meningkat di meja makan. Terbukti dari statistik belanja rumah tangga yang melonjak tajam di bulan Ramadhan. Harga sembako melambung. Beberapa diantaranya begitu langka. Dan seterusnya.

Saya melihat fenomena. Realitas sosial. Kenyataan sehari-hari.
Apakah bulan Ramadhan itu hanya karnaval sosial?
Apakah bulan Ramadhan itu bulan pesta bonus spiritual?
Apakah dagangan Tuhan kurang laris, sehingga Tuhan sengaja membuka mega promo di bulan Ramadhan?

Dulu, saya adalah seorang penyembah setia berhala Ramadhan.
Tapi sekian waktu berjalan, saya kesasar ke sebuah buku:

Hadits-hadits Lemah dan Palsu, sebuah disertasi doktoral Dr. Ahmad Lufti Fathullah, Ma. Dan thesisnya, banyak hadist tentang keutamaan bulan Ramadhan adalah lemah bahkan palsu, yang banyak terdapat dalam Kitab Durratun Nashihin karya Al Khubawi.

Saya mengangguk.
Hmm …. Pantas. Pantas kotbah dan ceramah tentang pemujaan terhadap bulan Ramadhan begitu siar dan marak. Ternyata ada sumbernya. Ada hadistnya. Bukankah hadist diyakini sebagai fondasi sumber hukum Islam kedua setalah Alquran? Dan asal sudah disebut hadist, maka segala logika dan nalar harus dipinggirkan. Karena stratafikasi wacana keislaman konvensional menempatkan dalil nash diatas dalil naqli. Maka akal harus tau diri di hadapan Hadist. Maka bisa dimaklumi jika para pengkotbah tanpa beban menghiasi ceramahnya dengan kutipan hadist disana-sini..

Tapi membaca buku ini, dan fenomena kemelut kodifikasi hadist, saya jadi sadar. Ternyata kitab-kitab hadist itu ditulis oleh manusia . Jadi kitab hadist itu bukan ditulis oleh Muhammad. Apalagi oleh malaikat dan Tuhan. Dengan kata lain, juga sebuah tindakan alamiah. Yaitu proses menulis sebuah karya oleh seorang manusia. Hanya saja bedanya, yang ditulis tentang agama. Tentang hadist..

Seandainya di zaman Muhammad sudah ada internet, sudah ada blogger, wordpress, Kompasiana, Tempo, dan seterusnya, mungkin ratusan penulis hadist di sepanjang sejarah Islam tidak akan ada. Tapi itulah yang terjadi. Muhammad tidak pernah menulis satu karya ilmiah dan catatan harian pun. Tapi setelah dia meninggal, ribuan buku, kitab, hadist, muncul bak cendawan tumbuh di sepanjang sejarah. Tapi benarkah yang ditulis itu adalah persis apa yang dikatakan Muhammad? Apa yang dilakukan Muhammad?

Hanya penelitian sejarah yang bisa menjawab. Dengan apa metodologi sejarah menjawab? Dengan apa lagi kalau bukan dengan artefak-artefak sejarah. Dengan segala bukti-bukti yang ditinggalkan sejarah. Lalu apa bukti tertulis yang bisa dijadikan untuk itu? Yang langsung ditulis oleh Muhammad? Atau para sahabat yang masih hidup di zamannya? Apakah semuanya sudah tersedia dengan lengkap dan rapi?

Saya tidak kuasa menjawabnya.
Silahkan bongkar perpustakaan Islam dunia dimana-mana.
Tapi jika tidak sanggup melakukannya, dan tidak tahu persoalannya dengan pasti, maka bagi saya, terlalu konyol jika kita merasa pasti dengan semua itu. Ini kalau kita mengaku sudah berpikir ilmiah. Sudah berpikir secara metodis. Sudah mengaku memliki keyakinan yang beralasan. Yang merujuk pada sumber yang tidak terbantah.

Karena itu, saya menyambut gembira hadirnya bulan Ramadhan. Tapi tidak untuk gembar gembor dan pemujaan. Apalagi dengan segala iming-iming spiritual yang bertebaran di seputar Ramadhan. Karena bagi saya pribadi, semua itu tidak mendidik. Tidak membangkitkan kesadaran terdalam. Tidak merangsang gairah psikologis untuk optimasi diri. Kecuali hanya bersifat arak-arakan sosial. Itu sebabnya begitu Ramadhan berakhir, kondisi moralitas sosial tetap sama. Padahal sejatinya Ramadhan bulan uji coba. Bulan penempaan. Bulan training spiritual secara kroyokan. Dengan ekstra ketat, agar secara psikologis, semuanya saling termotivasi dan terinspirasi. Dengan harapan, hasilnya terlihat di bulan sesudah Ramadhan, Rahayu, Karyonagoro