Jonea, keponakan saya berlari goyah. Maklum baru saja bisa jalan. Sulit baginya mempertahankan keseimbangan. Jalan atau lari tidak jelas bedanya. Dan duk, ia jatuh berlutut.

Sepertinya sih nggak apa-apa. Ia mendongak, melihat ekspresi kami yang juga kaget. Lalu mulai ancang-ancang untuk menangis. Ibu saya sigap. Dihampiri cucunya itu.

“Mana yang sakit? Ini yang sakit? Kena lantai? Lantainya nakal ya? Dipukul saja.”

Buk buk, ibu saya memukul lantai. Jonea heran, lalu ikut-ikut menendang lantai dengan tumitnya. Ia tidak jadi menangis. Hebatkah ibu saya?

Beberapa tahun kemudian keponakan saya itu berkunjung lagi ke rumah neneknya. Jonea sudah tumbuh jauh lebih besar. Dan lebih penakut. Jangankan dengan laba-laba, dengan sarangnya saja takut. Parahnya lagi, dengan semut juga.

Ia bermain dengan ibu saya. Tak disangka disekitarnya banyak semut. Terang saja ia ketakutan. Ibu saya kembali sigap menenangkan.

“Nggak apa itu. Cuma semut. Kecil-kecil gitu diinjak saja bisa.”

Bak buk bak buk, langsung saja Jonea berusaha menginjak-nginjak semut-semut tersebut. Saya pelototi ibu saya, sebelum berusaha menghentikan kekejaman raksasa cilik satu ini.

Kita, orang Indonesia memang khawatir sekali jika ada anak kecil jatuh atau ketakutan. Pokoknya harus segera ditolong.

Di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta, saya melihat seorang ayah muda dengan anak lelakinya yang masih belajar berjalan. Ia berkulit putih, berkebangsaan asing. Kaki anaknya dibebat perban tebal. Ada noda kuning besar ditengahnya. Tapi ayahnya dengan sangat bersemangat membiarkannya berjalan-jalan. Di lantai. Di pinggir pot besar. Si anak tampak sangat senang, ayahnya apa lagi.

Saat berada agak jauh dari ayahnya yang mengawasi, ia terjatuh di samping pria paruh baya yang berjalan lewat. Pria Indonesia tersebut langsung saja membantunya berdiri. Si ayah menghampirinya,

“Thank you, but you don’t need to do that.” Terima kasih, tapi kamu tak perlu melakukannya.

Waw, ayahnya sendiri bahkan tidak berharap anaknya ditolong. Kejamkah ayah ini?

Di tempat yang sama dan waktu yang berbeda. Sama-sama orang asing, tapi yang ini ibu muda cantik. Anaknya apa lagi. Imuuuttt sekali! Balita, sudah bisa berjalan sendiri. Pipinya montok. Rambutnya ikal keemasan. Matanya biru besar. Memakai tas punggung kebesaran. Berjalan mengikuti ibunya dari belakang, aduh lucunya.

Nah, karena anak lucu ini keasyikan menengok kiri kanan, ia tertinggal dari ibunya. Mulailah ia menangis. Mendengar tangisan anaknya, si ibu menoleh ke belakang. Dalam bahasa inggris ia berkata dengan nada kesal,

“Kita baru terpisah dua atau tiga meter, dan kamu sudah mulai menangis? Ayo sini!”

Anak kecil manis itu berlari menyusul ibunya sambil menahan tangis. Tas ranselnya terhentak-hentak di belakang. Adududududuhhhh…..lucunyaaaaaa…..

Pengalaman satu ini lebih ekstrem. Saya dan teman-teman makan di McD Kemang. Karena ramai sekali, terpaksa kami makan dekat permainan anak-anak. Tak jauh dari keluarga besar yang juga sedang makan di situ. Keluarga asing tentunya. Tak lama, salah satu anak menangis di arena bermain. Si ibu menjemput dan menggendongnya ke arah kami. Dan saat itulah saya mendengar percakapan “mengerikan” ini (tentunya dalam bahasa inggris),

“Mana yang sakit?”

Anak laki-laki itu menunjuk kakinya.

“Ohh, ini. Perlu kita potong nggak?” Sambil tangannya memperagakan untuk memotong kaki si anak.

<p style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; border-style: initial; border-color: initial; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 24px; margin-left: 0px; vertical-align: baseline; background-position: initial initial; background-repeat: init