Malam itu saya terkaget-kaget waktu mas Anung, teman dari grup Baltyra mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Saya bilang,

“Lagi mabuk apa salah kamar?”

Dengan berbagai dalih, mas Anung menyiratkan kalau sedang salah kamar. Saya tidak tahu kalau itu modus operandi dia untuk ngerjain saya dan (mungkin) teman-teman saya yang ada di fesbuk saya, hingga suatu ketika saya menemukan posting mbak Dewi di wall mas Anung.

“Selamat menempuh hidup baru.”

Jelas saya ngakak habis karena saya tahu mas Anung baru-baru ini tidak sedang menikah lagi. Jadi saya paham kalau itu ‘kerjaan’ mbak Dewi untuk membuat lelucon di wall mas Anung. Dari komen-komenan di situ, saya baru sadar kalau wall post mas Anung ‘ucapan selamat ulang tahun’ itu tidak cuma di wall saya saja. Mas Anung menulis ucapan yang sama di wall teman lain hingga mbak Ratna ‘kapusan’, ikut-ikutan nulis ucapan selamat ulang tahun. Padahal teman itu tidak sedang ulang tahun.

Untung waktu itu saya sedang onlen dan segera saya menyambut ucapan ulang tahun itu dengan ‘sanggahan’. Coba kalau tidak mungkin wall saya sudah penuh ucapan selamat ultah yang ‘salah mangsa’ (salah waktu).

Dengan gemas malam itu juga saya ikutan mengucapkan ‘selamat atas pernikahan’ mas Anung di wall dia. Melihat Mastok (teman gila-gilaan di Baltyra juga) sedang onlen, saya mengabarkan ‘pernikahan’ mas Anung. Memohon agas Mastok mengucapkan selamat juga.

Saya tidak tahu kelanjutannya karena saya tidur awal malam itu.

Saya pikir segala ‘kekacauan’ malam itu sudah selesai hingga siang hari di kantor saya berpapasan dengan murid saya. Dia tersenyum manis hingga terlihat lesung pipitnya dan mengucapkan,

“Selamat ulang tahun ya bu.”

Gubrak!

Dalam hati saya mengumpat mas Anung panjang lebar. Sungguh dalam otak saya segera berlangsung adegan yang diucapkan teman kantor beberapa waktu sebelum kejadian itu, sebuah kalimat untuk mengungkapkan kekesalan,

“Lungguhke, dipalu!”

Tapi sosok mas Anung saja saya belum pernah bertemu. Bagaimana bisa membayangkan mendudukkan manusia itu dan memalunya? Hedeh.

Maka dengan kesal saya menulis status,

“ketemu muridku dan dia bilang, “selamat ulang tahun ya bu…” hadeh. pasti efek kelakuan mas Anung Hartadi

nih!”

Eh, enggak lama malah ada saudara yang mengucapkan selamat juga. Gubrak!

Dengan geregetan saya menjelaskan bahwa saya tidak sedang ultah tapi itu pekerjaan teman yang iseng. Lalu saya menengok wall mas Anung untuk melihat apakah wall post ucapan selamat pernikahan dari saya kemarin ada yang komentar.

Di wall mas Anung mata saya tertumbuk pada ucapan selamat atas pernikahan mas Anung dari Mastok dan juga mas Joko Prayitno!

Saya ngakak jumpalitan, salto, kayang, split.

Well, tidak seheboh itu sih, tapi saya sungguh bahagia tak terkira. Akhirnya ada teman-teman yang dengan sadar ikut ngerjain mas Anung juga.

Dengan adanya murid saya yang mengucapkan selamat ultah pada saya, beruntung mas Anung tidak berbuat aneh-aneh lagi di wall saya. Huft… Coba kalau kejadian. Mungkin animasi dalam benak saya berubah menjadi,

“Lungguhke, cincang!”

Bagaimanapun, entah kenapa orang begitu saja percaya ketika kita iseng di fesbuk. Beberapa teman segera menginterview saya gara-gara status hubungan saya ganti dari menikah menjadi single. Padahal itu cuma gara-gara saya iri sama murid-murid saya yang seenaknya menulis status hubungan menjadi menikah padahal mereka masih SMA dan baru pacaran. Hedeh….