Menjelang “ULTAH”ke 9 TRAGEDI MEMILUKAN Mei’98 yang mencoreng lembaran sejarah  bangsa Indonesia dimana rakyat Indonesia KEHILANGAN Citranya sebagai bangsa yang BERADAB akibat ulah segelintir manusia bejad yang tega MENGGERAKAN massa lapar untuk menjarah dan membakar bahkan memperkosa sesama anak bangsanya sendiri. Peristiwa Mei 98 adalah TITIK TERENDAH sejarah etnis Tionghoa Indonesia, mereka dipaksa kehilangan CITRA DIRINYA sebagai BAGIAN dari bangsa Indonesia,yang lebih MENYAKITKAN mereka merasa TIDAK DITERIMA menjadi anak bangsa Indonesia. (ditulis Mei 2007)

foto: ttp://indcoup.blogspot.com/2006/05/may-riots-in-jakarta.html

Pembiaran yang dilakukan penguasa saat mereka menjadi KORBAN penjarahan yang terorganisir,sangat MENYAKITKAN sanubari mereka,pembiaran ini menyadarkannya bahwa etnis Tionghoa TIDAK DIANGGAP SEBAGAI BANGSA INDONESIA,padahal sejak kecil mereka dijejalin doktrin2 agar MENCINTAI tanah tumpah darahnya Indonesia.
Kehilangan harta benda tidak seberapa bila dibandingkan dengan KEHILANGAN TANAH AIR, yel2 berisi hinaan anti China yang diteriakan para penjarah dan PEMBIARAN yang dilakukan aparat keamanan membuat mereka merasa terserabut dari BANGSANYA dan terbuang dari TANAH TUMPAH DARAHNYA INDONESIA.
Trauma sebagai kelompok yang terbuang inilah yang sesungguhnya harus disembuhkan.
Tragedi Mei merupakan KEJAHATAN POLITIK yang INDIKASINYA kuat sekali direncanakan oleh PENGUASA,TENTARA dan KELOMPOK KEPENTINGAN;tujuan melakukan PERSEKONGKOLAN KEJI menjarah Tionghoa tersebut adalah untuk menjadikan Tionghoa sebagai TUMBAL SASARAN KEMARAHAN RAKYAT pada penguasa.
Kehidupan rakyat kecil saat itu BERAT sekali memikul tekanan ekonomi akibat terjadinya KRISIS EKONOMI yang melanda Indonesia.
Penjarahan etnis Tionghoa tidak hanya terjadi di jakarta,tetapi hampir diseluruh Indonesia dan berlangsung hampir bersamaan,modus operandinya sama,dan juga dilakukan PEMBIARAN oleh aparat keamanan.
Sesungguhnya TRAGEDI penghancuran tempat2 ibadah[gereja]yang dimulai dari Situbondo pada tahun 1996 dan berlanjut hampir terjadi diseluruh tanah air yang menghancurkan 2000 gereja lebih,merupakan SATU PAKET SKENARIO KEJI persekongkolan penguasa dan politikus kepentingan untuk mengalihkan KEMARAHAN RAKYAT PADA KELOMPOK MINORITAS,”proyek” tragedi Mei 98 adalah KLIMAKSNYA..
Fakta2 dari kronologi berlangsungnya penjarahan tersebut[dikumpulkan Team Pencari Fakta/TPF] serta modus memprovokasi massa agar melakukan penjarahan dilokasi2 yang sudah ditentukan mempunyai kesamaan, membuktikan bahwa ada KOMANDO yang mengatur penjarahan tersebut.
Awal terjadinya peristiwa Mei 98 dari kampus universitas Trisakti,saat itu ribuan orang berkumpul untuk menyampaikan rasa DUKA CITA atas terbantainya empat Mahasiswa Trisakti sehari sebelumnya [tgl 12 Mei 98 ketika melakukan orasi2 persiapan unjuk rasa menuntut Soeharto Lengser dan bubarkan Dwi Fungsi Abri serta KKN, tiba2 mereka ditembaki oleh penembak jitu].
Ketika berlangsung upacara duka cita tersebut[sekitar pukul 12.00]tiba2 ada sebuah truk sampah yang dibakar[?]didepan kampus Trisakti;terjadi kejanggalan kalau tiba2 ada truk sampah yang bisa nyelonong,sebab semua jalan saat itu di blokir aparat keamanan,
Bersamaan dengan kebakaran tersebut,tiba2 ada gelombang massa yang mengamuk dan menyerang aparat keamanan dengan batu serta merusak fasilitas2 umum disekitarnya.
Tiba2 ada kelompok yang meneriakan yel2 anti China serta memprovokasi massa untuk melakukan  pembakaran2 dan penjarahan2 properti dan harta orang2 Tionghoa,karena tidak ada aparat keamanan yang membendung,perusakan dan penjarahan terus menyebar hampir keseluruh wilayah2 kantong perdagangan Jakarta yang mayoritas penghuninya etnis Tionghoa.
Dalam waktu bersamaan diwilayah2 sasaran penjarahan muncul sekelompok orang[5-10]yang datang dengan kendaraan pikup,truck kecil atau motor2 yang mengangkut “korlap” berikut karung2 berisi batu,ban bekas dan bensin yang dibagi2kan untuk merusak.
“Korlap2″tersebutlah yang mengumpulkan dan memancing massa dengan membakar ban2 bekas atau kendaraan,selanjutnya memprovokasi massa dengan meneriakan yel2 kebencian anti China serta ajakan melakukan perusakan,penjarahan dan pembakaran.
Korlap mengarahkan massa melakukan pengrusakan pada sasaran yang sudah ditentukan, setelah massa melakukan aksinya mereka meninggalkannya dan menuju sasaran baru.
Melihat adanya penyediaan alat2 perusak,keseragaman modus serta sistimatisnya,dapat dipastikan bahwa penjarahan2 yang terjadi tersebut dibawah SATU KOMANDO.
Indikasi bahwa DALANG tragedi tersebut adalah PENGUASA sangat gamblang yaitu TIDAK ADA SATUPUN APARAT KEAMANAN YANG MELAKUKAN PENCEGAHAN selama 48 jam lebih,meskipun Jakarta dan kota2 sekitarnya sudah menjadi lautan api.
HILANGNYA secara bersamaan’korlap2″penjarah pada tanggal 15 Mei juga suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa KORLAP2 PENJARAHAN tersebut dibawah satu  KOMANDO.
Pelaku Penjarahan yang terjadi pada tanggal 15 Mei adalah penjarah”LEPAS”,penjarah yang bukan dikomando, hal ini dapat ditandai dengan banyaknya penjarah yang tertembak dan terbakar hidup2 hari itu.
Sesungguhnya sejak 14 Mei sore pusat komando penjarahan sudah menarik”pasukannya” hal ini bisa diindikasikan dengan mulai adanya aparat keamanan yang mulai MENEMBAKI penjarah dengan peluru karet didaerah Semanggi Thamrin.
Untuk mengungkap siapa dalang TRAGEDI MEI 98 harus dimulai dari TRAGEDI2 SEBELUMNYA yaitu PEMBIARAN OLEH PENGUASA TERHADAP PEMBAKARAN2  RIBUAN GEREJA DI INDONESIA SEJAK 1996,dan REAKSI DARI TOKOH2 KELOMPOK2 YANG MERASA TELAH “DICURIGAI”.
*[Saifudin yang menteri pertanian menyatakan bahwa menjarah maximum 5% harta Tionghoa adalah HALAL;KISDI menggugat majalah jakarta2 dituduh menfitnah;Dubes Saudi Arabia Aburahman A Alim menuduh pihak2 tertentu membesar2kan berita tersebut;Habibie menantang intelejen Taiwan,China Hongkong,Singapore dan Amerika untuk membentuk Team untuk mencari bukti].
Dari fakta yang terkumpul bahwa sasaran penjarah tragedi Mei 98 adalah etnis TIONGHOA, disamping harta bendanya dijarah juga DITEROR MENTALNYA dengan PERKOSAAN2 pada wanita2 Tionghoa bahkan disiksa sehingga ada puluhan jiwa yang tewas.
Kenyataannya mayoritas KORBAN JIWA[ribuan] tragedi tersebut adalah RAKYAT KECIL, dari data tersebut terlihat bahwa target dalang penjarahan Mei adalah HARTA serta existensi etnis Tionghoa dan NYAWA rakyat kecil/miskin.
Sejak awal tahun 1996 sesungguhnya telah terjadi gejolak dijajaran penguasa;elite tentara dan elite[sipil] politik MEMPEREBUTKAN “WARISAN” KEKUASAAN dari Soeharto yang sudah tua,sebaliknya Soeharto masih ingin tetap berkuasa meskipun sudah TOP[tua,ompong peyot] seperti katanya sendiri.
Sedangkan dikalangan rakyat sudah mulai timbul gerakan untuk melengserkan Soeharto yang dimotori oleh aktivis dan mahasiswa.
Dalam upaya MEMPERTAHANKAN KEKUASAANNYA dalam pemilu 1997, Soeharto mewajibkan GOLKAR harus memenangkan pemilu dengan SUARA BULAT[mayoritas tunggal],dia tidak mau kejadian pemilu 1992 terulang dimana GOLKAR mengalami KEMEROSOTAN perolehan suara cukup telak yang tidak pernah terjadi sejak 1972.
PPP mengalami nasib yang lebih tragis kehilangan suara hampir 42% dibanding pemilu 87, sebaliknya PDI mengalami peningkatan yang luar biasa yaitu 39%.
Penyumbang suara PDI ditenggarai dari kelompok Kristen,Tionghoa,rakyat miskin dan warga NU yang keluar dari PPP.
Rezim ORBA sebenarnya adalah ABRI dengan alibi politiknya DWI FUNGSI ABRI yang memakai GOLKAR sebagai kendaraan politik untuk legitimasi.
Disamping Golkar saat itu hanya ada dua parpol yang diizinkan yaitu PPP dan PDI,dimana PPP adalah gabungan dari partai2 yang berbasis Islam yaitu Mohamadiyah dan NU, sedangkan PDI merupakan FUSI 5 partai nasionalis yaitu Parkindo,Partai Katolik, Murba, PNI dan Permusi.
Sebaliknya didalam Golkar sendiri sedang terjadi sikut2an antara elite GOLKAR SIPIL melawan elite GOLKAR ABRI untuk memperebutkan kursi presiden[bila Soeharto Lengser], hal tersebut ditandai dengan pernyataan Harmoko[ketum Golkar] bahwa Golkar TIDAK DIBESARKAN OLEH ABRI sehingga membuat ABRI marah.[rumah Harmoko di Solo termasuk yang dibakar saat peristiwa 13-15 Mei 98].
Dalam upaya memperkuat posisinya,elite Golkar Sipil menfaatkan ICMI “MENGHIJAUKAN”
elite Abri junior [yang oleh Gus Dur dituduh sebagai gerakan NAGA HIJAU],sehingga di tubuh ABRI sendiri terpecah menjadi ABRI HIJAU DAN ABRI NASIONALIS.
Diangkatnya Habibie sebagai wapres saat Soeharto terpilih lagi,membuktikan Soeharto berpihak pada Golkar Sipil,artinya memang ada friksi antara Soeharto dengan elite ABRI.
Sedangkan didalam PPP juga terjadi gontok2an antara Mohamadiyah melawan NU  memperebutkan jabatan ketua PPP,untuk memenangkan hal tersebut Mohamadiah merangkul ABRI hijau.
Akhirnya Gus Dur memutuskan warga NU kembali ke KHITAH yang maknanya NU tidak berpolitik dan warga NU menjadi massa MENGAMBANG.
Massa Nu sendiri saat itu diteror dengan munculnya pasukan NINJA yang membantai ratusan kader2 NU di daerah2 Jawa timur dan TIDAK PERNAH TERUNGKAP SIAPA PELAKUNYA,hal tersebut juga menyiratkan penguasa sengaja melakukan PEMBIARAN.
Di tubuh PDI sendiri sedang terjadi perebutan kekuasaan antara Suryadi dengan Megawati, dimana Suryadi dirangkul penguasa,sehingga terjadi peristiwa PENYERBUAN dikantor PDI yang menimbulkan korban ratusan jiwa kader PDI yang pro Megawati.
SUKSESNYA penyerbuan tersebut berkat PEMBIARAN yang dilakukan oleh aparat keamanan,dan sampai sekarang pelaku utama dan dalang penyerbuan tersebut juga tidak pernah TERUNGKAP.
Akhirnya Megawati tersingkir dan membentuk parpol baru yaitu PDIP dan mendapat dukungan dari RAKYAT MISKIN yang sedang marah dan benci pada rezim Soeharto,karena menganggap ORBA korup,sewenang2 dan menyengsarakan rakyat kecil.
Pada saat itu KONDISI EKONOMI NEGARA HANCUR2AN,pada bulan Juli 1997 banyak   perusahaan yang kolaps akibat kebijaksanaan IMF dan kehidupan rakyat tambah sengsara sebagai dampak pengangguran dan PHK.
Inflasi mencapai 50% dan mata uang rupiah anjlok menjadi Rp 10.000/$ us.
Bila kita rangkai PEMBIARAN2 YANG DILAKUKAN PENGUASA ORBA;dari sejak terjadinya PENGHANCURAN ribuan Gereja,pembantaian ala NINJA pada warga NU, PEMBANTAIAN pada pendukung Megawati,pembantaian dan penghilangan Mahasiswa  serta aktivis yang menuntut REFORMASI sampai ke PENJARAHAN Tionghoa 13-15 Mei 98,terlihatlah BENANG MERAHNYA dimana semua korbannya adalah kelompok2 yang ditenggarai sebagai kelompok yang”TIDAK DISUKAI”PENGUASA.
Bahwa tuduhan PENGUASA BERADA DIBALIK SEMUA TRAGEDI TERSEBUT,bukan sesuatu yang tanpa alasan sebab tidak masuk akal sehat bila kejadian yang melibatkan ribuan masa bisa terlaksana dengan MULUS[ tidak ada pencegahan] dan terjadi berkali2  serta tidak pernah terungkap dalangnya,bila pelakunya BUKAN APARAT PENGUASA itu sendiri atau minimal atas persetujuan penguasa.
Alasan yang melatar belakangi jelas kepentingan sempit Penguasa,tetapi tujuan spesifiknya setiap tragedi tentunya berbeda2.
Harus Diakui bahwa Soeharto adalah seorang AHLI STRATEGI,sayangnya kelewat KEJI bila bersentuhan dengan kepentingannya yang HAUS KEKUASAAN,siapapun HALAL dijadikan TUMBAL demi tercapai keinginannya.
Sebagai PANGLIMA TERTINGGI sudah SEHARUSNYA bila rezim Soeharto DITUNTUT TANGGUNG JAWABNYA atas semua pembantaian maupun penjarahan yang terjadi di Indonesia dalam era pemerintahannya,minimal harus dituntut karena MELAKUKAN PEMBIARAN.
Sepertinya SKENARIO peristiwa”Pemberontakan”PKI 1965 diulang kembali,PKI yang dijadikan kambing hitam dan harta etnis Tionghoa jadi TUMBAL untuk merangsang rakyat miskin BERGERAK.
Meskipun saat itu belum jelas siapa”PENJAGAL”para jenderal, tetapi tentara sudah  meniup2kan cerita mengenai kekejaman anggauta PKI saat membantai para jenderal tersebut.
Akibatnya rakyat marah dan membantai”anggauta”PKI tanpa pengadilan serta MENJARAH harta etnis Tionghoa sebagai hadiahnya.
Akibat PEMBIARAN yang dilakukan tentara,ratusan ribu jiwa rakyat TERBANTAI dan mayoritas etnis Tinghoa LUDES harta bendanya,saat kondisi sudah cheos,Soeharto mempunyai”alasan”untuk menodong Bung Karno menerbitkan SUPERSEMAR yang dimanipulasinya untuk MENJARAH KURSI PRESIDEN RI.
.
Nuwun sewu,
singo.