Dari banyaknya sumber Islam yang beredar, diketahui bahwa adalah tanggung jawab ummat Islam dan yang tidak melaksanakannya wajib diperangi (secara halus maupun kasar, BTW, masih ingat kasus penyunatan pria kristiani di Ambon?) dan hukum ini harus ditegakkan.

Berbicara mengenai apa yang hilang apabila penyunatan pada anak kecil terjadi, tentu saja pertama dan terutama adalah hak anak itu akan tubuhnya sendiri, yang kedua adalah fungsi itil dan titit itu, yaitu fungsi sensori, proteksi dan seksual.

Rabbi Yahudi yang cukup terkenal di masa pertengahan, Maimonides (1135-1204) mengatakan bahwa dengan disunatnya si kulup dari titit si bocah, tidak memperbaiki fungsi seksualnya, namun memperbaiki fungsi moralnya. Mengutip Mainonides:

The bodily pain caused to that member is the real purpose of circumcision. None of the activities necessary for the preservation of the individual is harmed thereby, nor is procreation rendered impossible, but violent concupiscence and lust that goes beyond what is needed are diminished. The fact that circumcision weakens the faculty of sexual excitement and sometimes perhaps diminishes the pleasure is indubitable. For if at birth this member has been made to bleed and has had its covering taken away from it, it must indubitably be weakened.”
– Moses ben Maimon, Guide of the perplexed, Part III, Chapter 49

Diketahui bahwa di kulup itu sendiri memiliki banyak ujung saraf yang sensitif dan juga pembuluh darah yang banyak (Taylor, 1996) [http://www.cirp.org/library/anatomy/taylor/]. Bila dibandingkan dengan pria bersunat, pria berkulup jauh lebih mampu merasakan sensasi seksual dengan lebih baik dan lebih mampu memegang kontrol karena lebih banyaknya saraf yang memegang kendali atas proses hubungan seksual yang berlangsung (Sorrells, 2007) [http://www.cirp.org/library/anatomy/sorrells_2007/], (O’Hara & O’hara, 2001) [http://www.sexasnatureintendedit.com/eBook/SANII_by_chapters_in_pdf.html].

Hal ini tentunya merupakan pelanggaran terhadap hak asasi anak, karena memotong kelamin anak adalah tindakan yang kejam dan tidak manusiawi, disamping umumnya tidak adanya persetujuan yang diberikan oleh anak, dalam hal ini tidak adanya penjelasan yang jujur, terbuka dan bebas kepada anak yang bersangkutan mengenai pembedahan macam apa yang akan dilakukan kepadanya. Umumnya bila orang tua meminta petugas medis untuk melayani permintaan untuk menyunat anak yang bersangkutan, seharusnya petugas medis mempertimbangkan pertanyaan tentang >siapakah pasiennya?< Dalam hal ini, karena operasi yang akan dilancarkan kepada si anak, maka menjadi hukum yang wajib bagi dokter atau tenaga medis lain untuk meringankan sebanyak mungkin akibat negatif dari tindakan apapun yang akan dilakukan. Namun, perlu juga dilihat mengapa tenaga medis akhirnya memilih untuk menyunatkan anak yang bersangkutan, umumnya karena ketidaktahuan dari pihak medis, ataupun juga terjadi bias dari sisi tenaga medis yang bersangkutan mengenai anatomi, fungsi dan peran dari organ kelamin yang asli.

Yang pasti adalah trauma dari anak yang terlibat dalam operasi demikian ini. Ini adalah suatu kekejaman, dengan mengajukan seorang anak kecil yang tak berdaya ke dalam operasi traumatis ini [http://www.cirp.org/library/psych/boyle6/]

Melakukan penyunatan terhadap genital yang sehat adalah pelanggaran terhadap empat prinsip etika kesehatan, yakni:

Beneficence
Non-maleficence
Justice
Autonomy

Dalam penyunatan untuk hal keagamaan, akan sangat tidak etis dan juga melanggar hak asasi manusia bila memaksakan penyunatan untuk seorang anak dan menandai anak tersebut seumur hidupnya sebagai anggota agama tertentu tanpa anak itu punya pilihan, pertama terhadap tubuhnya, kedua terhadap kebebasannya, ketiga terhadap kepercayaannya. Ini adalah pelanggaran hak asasi yang sangat besar, bila akhirnya baik orang tua membawakan anaknya kepada petugas medis untuk dipersunatkan, petugas medis mematuhinya, alim ulama agamawan menjaminnya secara moral dan spiritual, dan hukum memperbolehkannya terjadi, serta masyarakat melanggengkan keberlangsungannya dengan pemahaman bahwa penyunatan adalah hal yang baik, yang bermanfaat, yang harus sesegera mungkin dilakukan, dan bila seseorang tidak melakukannya maka anggota masyarakat akan menjelek-jelekkannya, mendorongnya baik secara halus maupun kasar untuk bersunat, dan tidak jarang menjadi faktor resiko penentu dari dilanggarnya hak asasi seorang anak akan pilihan seksualnya di masa dewasa.

Sekedar catatan bagaimanapun, saya tidak anti penyunatan dewasa, asalkan orang yang bersangkutan benar-benar mengetahui resiko dan akibat tindakannya, potensi serta manfaatnya, dan memilih keputusan yang ia ambil dengan sadar.

Saya ingin membahas hal ini dengan rekan-rekan, bagaimana pendapat rekan-rekan, dan apa yang perlu dilakukan mengenai hal ini?

Dari yang saya ketahui, ada upaya-upaya untuk menyusupkan penyunatan pada budaya yang tidak melakukannya di Indonesia ini. Contohnya di Papua [http://www.thejakartaglobe.com/home/govt-denies-plans-for-mandatory-male-circumcision-in-papua/499253]. Diklaim bahwa penyunatan akan mengurangi resiko HIV, nyatanya yang benar2 efektif mencegah HIV hanyalah kondom.

Pun begitu dengan kanker pada umumnya yang terlibat dengan hubungan seksual dan organ kelamin [http://www.circumstitions.com/Cancer.html], [http://www.circumstitions.com/cancer-pros.html].

Saya melihat bahwa sejarah penyunatan di barat sendiri yang mendorong dipromosikannya kesalahkaprahan ini (lihat disini: [http://www.icgi.org/medicalization/], [www.circumstitions.com/Chronology.html], [http://www.nocirc.org/milestones/]), sehingga masyarakat mempercayai dokter, sang manusia separuh dewa yang kata-katanya tidak sanggup dibantah terutama apabila awam pada umumnya tidak mengerti dan malas menyelidiki hal-hal diluar pemahamannya.

Saya pun berharap bahwa doktrin keagamaan hendaknya tidak mengambil tempat diatas hak asasi manusia, dan hendaknya praktek ini dikritisi dari sudut pandang kedokteran modern.

Saya memposting ini dengan tujuan untuk berbagi dengan rekan-rekan mengenai isu yang jarang dilihat seakan terjadi di bawah kolong jembatan, namun sebenarnya adalah hal yang sangat umum terjadi di dunia ini. Saya ingin rekan-rekan menyadari hal ini dan bertindak yang terbaik.

Sekedar intermesso, saya melihat bahwa 80% pria di seluruh bumi ini masih whole package. Yah, syukur deh [http://www.circumstitions.com/Maps.html]. Selama ini saya pelajari bahwa ada upaya untuk menyembuhkan hal ini, yang, sampai batas-batas tertentu, sudah berhasil dipulihkan.

[http://www.cirp.org/library/restoration/]
[http://www.norm.org/]
[http://www.clitoraid.org/]
[http://www.cagem.org/]
[http://www.foregen.org/