Mas Agus, personal trainer saya, menundukkan badan untuk meraih selot beban. Umurnya jauh lebih muda dari saya, tapi saya memanggilnya ‘mas’. Saya tahu dia pasti akan menambah beban untuk dua set terakhir. Saya meringis ngeri. Membayangkan dia akan menambah beban yang akan berat luar biasa dan meragukan diri saya, apakah saya mampu mengangkatnya.

“Teganya…” keluh saya.

“Tenang bu. Kuat, kuat…” mas Agus membesarkan hati saya, “bukannya ibu ke sini memang nyari susah gini?”

Saya terkekeh.

“Kalo nyari enak mbok mending ke warung soto aja bu..” goda dia.

Saya mengumpat dalam hati karena dia seratus persen benar. Saya masuk ke gym ini memang untuk nyari susah. Melemparkan diri dalam sebuah penderitaan. Menguji sejauh mana saya mampu menahan beban. Ketika satu beban sudah mampu saya angkat dengan mudah, itu berarti sudah saatnya saya mengangkat beban yang lebih berat lagi. Begitu seterusnya.

Saya memutuskan untuk ke gym ketika kaki kiri saya terkilir dan menyadari koordinasi saya sudah memburuk karena tubuh yang sudah mulai sangat tidak fit lagi. Pertama kali saya latihan bersama mas Agus, saya tertatih-tatih naik lantai dua karena kaki terkilir. Waktu itu tujuan utama saya adalah : menjadi langsing. Sekarang saya sudah bisa berlari menyusul mas Agus naik ke lantai dua. Meski berat badan saya belum juga turun, tidak ada kata menyesal sudah masuk ke gym dan sudah berlatih selama ini.

Mas Agus memberi aba-aba untuk mulai menarik beban. Perlahan saya menggerakkan tangan seperti gerakan sebelumnya, kali ini dengan beban yang sudah bertambah 5 kg.

Huuft..

Saya takjub ketika saya mampu menarik tuas dengan beban keseluruhan 20 kg. Keraguan saya lenyap.

Dalam hati saya muncul sebuah kesadaran bahwa sebenarnya dalam kehidupan juga mestinya seperti itu. Ketika satu masalah sudah terlampaui, entah kenapa muncul masalah lain yang lebih berat. Bukankah itu sebenarnya Cuma sebuah ‘latihan beban’ seperti latihan beban untuk otot ini juga?

Kita saja yang sebelumnya sudah ketakutan, meragukan diri kita sendiri bahwa kita mampu menghadapinya. Padahal kita sebenarnya kuat menghadapi apa saja. Seperti juga kita sebenarnya mampu mengangkat beban seberat apapun. Hanya butuh satu keberanian. Itu saja.

Sejak itu gym menjadi tempat kontemplasi buat saya. Saya bisa dengan percaya diri datang ke gym yang dipenuhi laki-laki dan saya satu-satunya perempuan dan paling tua di situ. Saya sudah hapal siapa-siapa yang sering mengunjungi gym itu.

Saya belajar betapa ketelatenan, konsistensi, atau istiqomah, apapun istilahnya, hanya itulah yang diperlukan untuk mencapai sebuah keberhasilan. Pengunjung gym yang rutin datang, menunjukkan hasil betapa lengan mereka menjadi kencang dan berotot. Itu bukan hasil sehari semalam.

Mas Agus yang meski tidak tinggi besar tapi kekar itu sering mencandai saya saat mengeluh lengan saya masih saja lembek.

“Coba tanya mereka bu, sudah berapa lama di sini?”

Dan yang otot yang sudah bagus, setidaknya sudah 6 bulan rajin mengunjungi gym. Bandingkan dengan saya yang baru 4 bulan dan sering bolong 2-3 minggu. Hahaha..

Akhirnya gym bagi menjadi tempat seperti goa meditasi bagi para pertapa. Di sini saya bisa merenungkan apa saja. Tidak ada yang mengganggu saya. Masing-masing sibuk memilih beban yang harus mereka angkat, menyesuaikan dengan otot mana yang ingin mereka latih. Tidak ada keinginan untuk mengacaukan latihan teman lain. Beberapa malah saling membantu ketika seorang teman butuh ditemani untuk diangkatkan bebannya. Seseorang bisa meminta teman yang ada di situ untuk ‘berjaga’, membantu meletakkan beban di tempatnya, kalau-kalau dia nanti tidak kuat.

Satu hal yang paling penting dari ‘main’ ke gym ini adalah, saya bisa bercakap dengan otot-otot tubuh saya.

“Masih kuatkah kalo ditambah lagi?” tanya saya sebelum menambah beban lagi.

Kalau ternyata tidak kuat ya dikurangi lagi. Komunikasi saya dengan diri saya sendiri semakin intens di gym. Pengenalan yang mendalam ini menimbulkan rasa kangen saya untuk mengunjungi gym kalau sudah terlalu lama absen.

Tujuan utama saya untuk menjadi langsing malah terlupa sekarang. Saya tidak terlalu peduli lagi kapan saya akan menjadi langsing. Saya sudah bersyukur sekarang kaki saya sudah tidak sakit lagi. Saya sudah senang sekarang saya punya tempat untuk kontemplasi.