Saya jarang nonton televisi. Sangat jarang. Jarang juga membaca koran. Sepertinya saya kebanyakan fesbukan. Begitulah. Dan tadi karena nungguin Izza belajar sementara buku-buku dan laptop di kamar, saya meraih koran Kompas yang tergeletak di meja. Awalnya saya cuma membaca sekilas ini itu, sampai kemudian mata saya tertumbuk pada kolom opini tentang kisah Bang Maman yang muncul di LKS anak kelas dua SD itu. Waktu saya dengar tentang cerita yang mengambil kata ‘istri simpanan’ di LKS anak SD saja saya sudah heran. Ini ternyata LKS anak kelas dua SD dan dari tulisan di situ ternyata kisahnya lebih mengejutkan.

Alkisah Bang Maman menikahkan anaknya, Ijah, dengan orang kaya bernama Salim. Ketika Salim bangkrut, Bang Maman menyuruh Ijah minta cerai dari Salim tapi Ijah tidak mau. Bang Maman akhirnya meminta seorang perempuan bernama Patme untuk mengaku sebagai istri simpanan Salim hingga Ijah cemburu dan minta cerai dari Salim. Cerita ini muncul di LKS yang mestinya mengajarkan tentang budaya Betawi.

Sungguh kisah yang ajaib untuk diceritakan kepada anak-anak yang mestinya diberi teladan-teladan baik. Jangankan istilah istri simpanan,dari kisahnya saja tidak ada keteladanan yang bisa diambil. Menikahkan anak dengan orang kaya, lalu ketika menantunya miskin anaknya diminta menceraikan suaminya? Wow, saya sungguh ingin tahu apa yang ada di benak penyusunnya (kali aja dia cuma copas tulisan ini dan tidak menulisnya sendiri).

Saya ingat beberapa waktu lalu ketika saya diminta mengikuti work shop literasi media untuk anak-anak dimana hasilnya adalah kami masing-masing harus mampu menghasilkan satu cerita pendek untuk anak-anak yang akan dikumpulkan menjadi buku kumpulan cerpan. Setelah kami semua mengumpulkan karya-karya kami, semua tulisan dipampangkan satu demi satu dan semua peserta mengkritisi. Penulisnya diperkenankan menerima masukan dari teman lain atau membela diri dan mempertahankan tulisannya.

Dalam diskusi yang sangat alot itu kami selalu berusaha berpikir sebagai anak-anak. Setelah berpuluh tahun lewat dari masa kanak-kanak, kami semua sudah lupa bagaimana cara mereka berpikir. Saya yang paling sering memprotes, khawatir anak-anak tidak paham. Sementara teman-teman selalu berbesar harapan bahwa anak-anak tidaklah selugu itu hingga tidak bisa memahami tulisan kami. Justru kadang-kadang tulisan yang ‘tidak terlalu detil’ itu bagus untuk merangsang mereka berimajinasi. Begitu teman-teman berkilah.

Terkenang betapa kami sungguh-sungguh memikirkan bagaimana pola pikir kami yang sudah terlanjur lupa bagaimana menjadi kanak-kanak, saya sangat heran bagaimana mungkin LKS untuk anak SD, sebuah kesempatan luar biasa untuk menanamkan nilai moral yang baik, justru disia-siakan begitu saja. Saya tidak tahu apa yang terjadi di balik itu. Bisa jadi LKS itu disusun dengan terburu-buru. Tidak sempat berpikir dengan baik tentang apa yang mesti disusun karena waktunya mepet sehingga asal saja mengambil bahan bacaan. Bisa saja muncul berbagai alasan. Setiap orang bisa saja melakukan kesalahan. Cuma andai saja seorang penyusun buku itu benar-benar peduli dengan pendidikan anak-anak terutama anak SD, saya kira dia pasti punya banyak bacaan yang lebih bagus yang bisa ditampilkan untuk menunjukkan budaya Betawi yang tak kalah adi luhung dengan budaya daerah lain di Indonesia.

Apa yang terjadi dengan LKS tentang budaya Jakarta ini sungguh mengherankan. Sama mengherankannya ketika Gubernurnya mengacungkan jari tengah dan gambarnya muncul di media lalu mengatakan tidak tahu artinya. Sepertinya banyak orang sedang pingsan saat ini…