Banyak orang mengira bahwa yang perlu bertobat adalah orang yang paling berdosa. Tentu di sini, bertobat dan berdosa adalah pengertian umum. Karena berbagai alasan, pengertian, motif, dan tujuan; berdosa dan bertobat pun bisa dipahami, diyakini, dan dipraktikkan berbeda.

Ya, secara umum begitulah yang dipercayai banyak orang. Tapi, ada lagi yang paling perlu bertobat, yakni orang yang merasa paling taat atau yang merasa paling benar atau orang yang merasa paling suci.

Kalau orang sudah merasa paling berdosa, dia sudah cukup dekat dengan pertobatan dan lebih mudah bertobat. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang merasa paling taat, paling benar dan paling suci? (Coba bayangkan orang-orang yang menyangkal kebenaran di pengadilan). Apakah orang yang merasa paling taat, paling benar, dan paling suci mau dan mampu bertobat?

Kalau kita baca riwayat orang-orang yang dianggap suci atau kudus di berbagai agama atau tradisi bahkan mungkin yang tanpa agama, justru orang-orang suci atau kudus ini menganggap dirinya bukanlah orang suci atau kudus, tapi justru kebalikannya.

Dalam tradisi Yahudi lebih daripada 2000 tahun yang lalu ada yang namanya golongan Farisi. Istilah Farisi itu sendiri berasal dari perusyim yang berarti yang terasing atau terpisah.

Dinyatakan bahwa Farisi ini suatu golongan dari para rabi dan ahli Taurat, mereka berpegang pada Taurat Musa dan pada “adat istiadat nenek moyang”. Seluruh hukum dan peraturan mereka taati secara mutlak.

Dengan demikian, mungkin sikap ‘memisahkan diri’ ini pada akhirnya membuat mereka cenderung memandang rendah orang-orang yang bukan Farisi. Sikap menganggap diri ‘lebih taat, benar, dan suci daripada orang lain’ itu telah menyebabkan nama mereka menjadi bahan cemoohan. Keangkuhan ini, ditambah lagi dengan legalisme yang kaku dan lebih mengutamakan ketaatan buta kepada upacara keagamaan daripada kebaikan tindakan belas kasih, menyebabkan mereka terlibat dalam konflik dengan siapa pun dengan yang bukan Farisi. Bukanlah karena sikap mereka yang ortodoks, melainkan akibat sikap angkuh dan tidak menunjukkan kebaikan dan belas kasih itu yang menjadi cara hidup mereka.

Sikap-sikap dan cara-cara inilah yang kita sebut dengan kesombongan rohani. Bisa disebut orang-orang Farisi bertindak seperti ini;

1. Suka mencari celah untuk menyalahkan orang lain.

2. Hidup dalam kepura-puraan.

3. Tampak mengikuti isi kitab suci tapi tidak berdasarkan kebaikan.

4. Suka menerima penghormatan manusia.

5. Mudah tersinggung.

6. Pendusta.

7. Mengetahui isi kitab suci, tapi gelap atau buta rohani.

Dan kalau dicari kata yang lebih singkat untuk itu semua, maka inilah hidup penuh kesombongan dan kemunafikan; dan hidup yang dianggap rohaniah seperti inilah yang disebut dengan kesombongan rohani.

🙂

Yang mana kita?

* * *

“Kunci untuk mencapai dunia yang lebih membahagiakan adala semakin banyaknya belas kasih. Kita tidak harus menjadi seorang yang religius, atau meyakini ideologi. Yang dibutuhkan adalah pengembangan sifat manusiawi yang baik.”~ Dalai Lama