menanamNasehat klasik siapa menanam padi panen padi, siapa tanam jagung panen jagung, apakah nasehat klasik ini berlaku untuk orang yang menanam kebaikan atau pun kejahatan? Ternyata banyak orang jahat hidup aman dan baik-baik saja, banyak orang baik-baik dan jujur hidup pas-pasan dan tidak jarang sengsara.
Beberapa topik dan diskusi akhir-akhir ini dari milis Superkoran didominasi oleh opini-opini keagamaan dimana agama, diyakini hampir semua warga Indonesia, dianggap bagian vital dari kurikulum pendidikan di Indonesia, tak ada yang berani menggugat apalagi melawan soal tersebut. Berbeda dengan Eropa di abad pertengahan dimana agama begitu powerfull dan tidak boleh ada yang menentang kekuasaan gereja, tetapi tetap ada orang-orang Eropa yang gigih dan berani menentangnya meskipun berakibat di tiang penyiksaan. Kegigihan mereka membuahkan hasil munculnya kemerdekaan berpikir dan berbicara, tidak lagi pemikiran mereka dibelenggu oleh agama yang ketika itu dianggap memasung cara berpikir, memasung kemajuan karena otoritasnya mencakup sampai ke bidang ilmu profan (duniawi).

Kalau menanam itu kita artikan mendidik, apakah bangsa ini telah berinvestasi menanam sesuatu yang berharga agar kelak memanen sesuatu yang berharga pula. Tentu mendidik pasti bertujuan baik tetapi bisa saja hasilnya sangat tidak baik karena ketidak pedulian bahwa yang ditanam pendidikan yang tidak baik pula. Suatu benih usang yang tidak diperlukan untuk pendidikan modern yang dilandasi keterbukaan terhadap nilai-nilai kebaikan yang berlaku secara universal. Lihat bagaimana bangsa Amerika belajar dari para perintis guru bangsa pendahulunya George Washington, Abraham Lincoln, Thomas Jefferson, Benjamin Frnklin, JF. Kennedy dan masih banyak guru bangsa yang lain seperti Gandhi, Nelson Mandela dsb. Pendidikan yang baik akan mampu menelorkan para pemimpin sekualitas mereka, mengikis perbedaan ras, suku, agama, dan rasisme lainnya, pendidikan yang baik merupakan fondasi kekuatan suatu bangsa untuk menggapai keadilan dan kesejahteraan. Rasanya saya belum pernah tahu ada negara republik yang mampu bertahan 200 tahun lebih dengan ganti-ganti pemimpin (presiden) di dunia ini selain Amerika Serikat karena mereka belajar dari para pemimpin yang terdidik yang memiliki komitmen dan integritas kebangsaan.

Lalu bagaimana dengan kita? Kita merdeka belum 70 tahun tetapi tanda-tanda kehancuran sudah ada di depan mata, segala yang buruk dan jahat dilakukan secara transparan dari tingkat rendah sampai ke tingkat kalangan kepresidenan. Karena apa? Karena yaitu tadi soal MENANAM !! Lihat pendidikan kita begitu menjujung tinggi pendidikan agama, semua orang percaya agama itu baik, tetapi apakah bibit agama yang kita tanam bibit yang baik? Tidak! Samasekali tidak! Belajar agama secara murni fisik agama hanya MENANAM PERPECAHAN karena agama fisik intinya apologetic, menyalahkan yang lain, mempertajam perbedaan, tak ada yang bisa diharapkan. Kalau sejak awalnya sudah begini apa yang bisa diharapkan dari pendidikan semacam itu??? Kecuali pertengkaran, kekuasaan dan saling curiga.

TANAMLAH SEMANGAT & JIWA dari agama-agama, jiwa yang islami adalah semangat menegakkan keadilan, jiwa kristiani adalah semangat mencintai sesama, jiwa budhisme semangat unity (penyatuan), jiwa hindu trimurti semangat untuk memelihara alam semesta, jiwa dari orang-orang atheist adalah mengajak orang-orang yang mengaku beragama kritis dan tidak hanya bisa menjadi penikmat sambil mencaci maki. Jika semangat ini yang ditanamkan bangsa ini akan bangkit dari keterpurukan, agama yang fisik tidak perlu diajarkan di sekolah-sekolah tetapi ajarkan diluar sekolah, yang perlu diambil semangat dan jiwa agama yang murni dari dalam. Yang mau belajar secara fisik Islam cari kiai dan ustad di mesjid, yang Kristen belajar ke pendeta atau pastor demikian juga bagi agama yang lain. Sehingga pemerintah tidak lagi dibebani pembiayaan institusi agama, guru-guru agama dan buku-bukunya yang sebenarnya hanya belajar bertengkar. Belajar hal-hal yang tidak produktif, belajar angan-angan tentang surga-neraka, hal yang sangat merugikan, belajar agama secara kasarnya sama dengan belajar soal angan-angan hal yang tidak produktif. Agama memang perlu sebatas itu membuat pemeluknya menjadi berlomba dalam semangat kebaikan sehingga semua bisnis dijiwai dan disemangati oleh sikap religius pemeluknya. Agama tidak diperlukan lagi di sekolah, KTP, dan kartu identitas lainnya jika hal-hal ini masih ada dan masih perlu maka tak perlu kita mengharap hal yang baik tumbuh di negara ini karena kita menanam hal yang tidak baik. Penulis tidak bermaksud meniadakan agama dalam kehidupan tetapi mengajak menempatkan agama pada tempat yang menurut penulis tepat yaitu di dalam hati yang menyemangati dan memperindah hidup kita, hidup menjadi berkat sekaligus hadiah bagi setiap orang.

Tetapi siapa berani memulai dalam hal ini? Para mullah, kiai, guru agama, pendeta dan pastor akan marah bersama pengikutnya… kenapa marah?? Marah, karena kehilangan lahan bisnis sekaligus otritas kewibawaan duniawinya…lalu? Tak ada cara lain selain berpikir kritis dan terbuka untuk segala kebaikan yang muncul dari mana saja. Sejak kecil kita sudah diberi sabu-sabu agama fisik sehingga tanpa itu kita akan mati mengenaskan, jalan satu-satunya adalah membekali generasi muda agar mendapat pendidikan yang benar dan baik. Sangat berbeda orang terdidik dan orang pintar hasil godokan universitas, orang terdidik mampu mengukur perasaan orang lain tidak akan buang sampah sembarangan apalagi dari dalam mobil. Bisa saja dia seorang sarjana yang berhasil berkarir tetapi sanggup buang sampah dari dalam mobil, piara puluhan burung-burung kicau di rumahnya jelas orang ini pintar tetapi tidak terdidik seperti anggota DPR kita jelas mereka pintar-pintar tetapi tidak terdidik. ORANG YANG TERDIDIK adalah gabungan dari hasil kecerdasan yang didapatkan di sekolah dan kebijaksanaan yang didapatkan dari berkembangnya pengalaman hidup serta terbukanya budi pekerti (humanisme/inti kebenaran agama) yang menyertainya.

Berikut dua contoh dari dua guru yang berbeda dan anda yang menilainya sendiri mana kelak yang mampu membuat anak-anak tumbuh memiliki pribadi yang dewasa berperhatian terhadap yang lain (caring others) atau tumbuh menjadi pribadi orang tua yang cenderung menggurui, menghakimi dan merasa benar sendiri. Perhatikan contoh berikut :
Guru Indonesia mengatakan:
“Anak-anak kalian harus tahu tidak ada tuhan selain Allah SWT, yang maha pemurah dan pengasih. Barang siapa menyekutukan DIA maka akan dihukum di api neraka yang sangat panas tidak pernah padam. Allah SWT suka pada anak-anak yang membantu orang tua, beramal soleh mereka akan mendapat pahala yang berlimpah”.

Guru Amerika mengatakan (cerita ini benar-benar kejadian, seorang teman yang berimigrasi ke USA bercerita ketika pertama kali si kecil bungsu masuk ke sekolah taman kanak-kanak di USA) :
G: Anak-anak kita memiliki teman baru tetapi teman kita ini dari suatu tempat yang jauuuh… sekali dan tidak mengerti bahasa yang kalian gunakan setiap hari…..
A: Wow…. (dalam benak anak-anak Amerika kok ada anak lain yang nggak bisa mengerti bahasanya).
G: Untuk itu aku minta bantuan kalian, dia butuh teman untuk main-main di halaman, untuk ke library, dan membantu menunjukkan tempat-tempat yang dia butuhkan ke toilet, tempat sampah dll.
G: Nah…! Siapa di antara kalian yang bersedia menemani main-main di halaman?
A: Saya bu…, saya juga bu…, saya! Saya!
G: Siapa yang bersedia menemaninya ke library?
A: Saya…! Saya…! Saya…juga mau!

Nah! Dari kedua cerita tadi kita sudah bisa memperkirakan kelak jika mereka dewasa. Sepintas guru Indonesia nampak lebih baik tetapi kita akan memetik buah yang ditanam pada anak-anak tersebut ketika dewasa. Mereka akan membagi manusia menjadi hitam-putih yang benar sesuai seleranya dan yang tidak benar yang harus dijauhi (dimusuhi). Mereka mengabdi Allah SWT tidak akan pernah tulus karena setiap amal baiknya selalu dikonversi dengan pahala, maka apa yang bisa diharapkan dari pengajaran semacam ini? Lebih menekankan perbedaan daripada persatuan dan saling membantu, lebih banyak khaosnya juga.
Sedangkan anak murid dari hasil pendidikan guru Amerika tadi ketika dewasa akan lebih berkomitmen terhadap sesamanya tanpa ada pembedaan. Mereka belajar memberi, belajar mncintai sejak dini tanpa mengharapkan ada pahala atau tidak, ada hadiah surga atau tidak. Segala kegiatan dari soal ekonomi, hukum dan agama untuk manusia bukan manusia untuk agama, hukum atau pun ekonomi. Berbalikan dengan kita bahwa manusia Indonesia boleh diamankan (dibunuh) hanya karena dianggap melecehkan agama, yang kriterianya gak jelas.

Banyak keuntungan jika pelajaran agama dihilangkan dari kurikulum sekolah, dihilangkan dari KTP dan identitas lainnya seperti budget belajar angan-angan yang tidak produktif dialihkan menjadi yang lebih produktif. Seleksi kepegawaian akan lebih modern dengan mengutamakan skill daripada sentimen agama, perusahaan-perusahaan akan lebih mendapatkan profit karena tidak lagi dipaksa mengadakan mushola, air, listrik untuk hal tersebut. Rasa kebersamaan sebagai bangsa yang bersatu akan mudah digalang tanpa ada unsur pemaksaan dari pihak mayoritas. Dan masih banyak lagi keuntungan dengan menempatkan pendidikan dan agama pada porsi dan posisi yang benar.

Segala tindakan yang kita lakukan atau ekspresikan setiap hari adalah hasil reduksi dari apa yang kita tanam dan percayai. Jika kita diajar bahwa Gusti Allah itu suka menghukum, maniak membunuh orang-orang yang tidak turut perintahNYA, dan memberi pahala pada yang berbuat baik. Maka bisa dipastikan kita juga akan kejam terhadap kesalahan orang lain. Jika kita diajar bahwa Gusti Allah itu penuh belas kasih, mengerti dan memahami kita, yang rusak dibetulkan dengan penuh kasih sayang maka kita pun akan berlaku demikian. Sehingga hukuman kepada seseorang yang salah bukan lagi menyakiti dan menyiksa agar mereka jera tetapi hukuman adalah sarana untuk memperbaiki kemanusiaan mereka yang rusak agar mampu merenungi kesalahannya dan kembali ke masyarakat dengan harapan baru. Maka kenapa banyak negara-negara di Eropa meniadakan hukuman mati karena mereka orang yang cerdas dan terdidik. Itulah buah dari yang ditanam oleh pendahulunya. Siapa menanam ia menuai.
Hash021