Kita sungguh heran dengan pernyataan-pernyataan yang kita dengar atau baca yang diucapkan oleh para politisi. Pernyataan yang mengherankan itu bisa kita buatkan seperti ini:

“Jangan dengarkan pendapat-pendapat atau opini-opini masyarakat, para pengamat politik, atau para pakar ilmu politik. Kita lihat saja proses hukum.”

“Jangan banyak komentar soal (A) ….”

“Tak perlu tanggapi ucapan (R) ….”

Itu baru beberapa. Yang menjadi pertanyaan adalah, untuk siapa pendapat para politisi itu ditujukan? Untuk jurnalis? Untuk masyarakat? Atau untuk golongan atau orang-orang separtainya sendiri? Atau untuk dirinya sendiri?

Apa artinya fakta-fakta jika tidak diinterpretasikan, ditafsirkan, atau dimaknai? Apakah ada artinya fakta-fakta jika fakta-fakta itu tidak bisa dimengerti?

Wikipedia berkata tentang opini, “In general, an opinion is a subjective belief, and is the result of emotion or interpretation of facts. An opinion may be supported by an argument, although people may draw opposing opinions from the same set of facts. Opinions rarely change without new arguments being presented. However, it can be reasoned that one opinion is better supported by the facts than another by analysing the supporting arguments. In casual use, the term opinion may be the result of a person’s perspective, understanding, particular feelings, beliefs, and desires. It may refer to unsubstantiated information, in contrast to knowledge and fact-based beliefs.”

Artinya:
Para politisi tidak pantas mengatur atau mengendalikan opini atau pendapat masyarakat. Para politisi bukan hanya tidak pantas, tapi juga tidak akan bisa memaksakan sesuatu yang harus dituliskan oleh para jurnalis. Apakah para politisi sekarang masih ingin mengatur opini jurnalis, media, dan masyarakat?

Juga, para politisi itu sendiri menyampaikan pendapat yang berarti menjadi opininya. Jika dia berkata bahwa tidak perlu mendengarkan pendapat atau opini publik, maka pendapat atau opininya sendiri pun tidak berarti apa-apa, karena pendapatnya sendiri adalah opini.