Religio Melodrama

DUNIA AGAMA, DUNIA HIBURAN, PANGGUNG DRAMA PENGABURAN & PENYESATAN  

Kejadian kecil ini terjadi kira-kira setahun lalu. Suatu kejadian yang mungkin tidaklah begitu membawa kesan pada orang lain, namun selalu jadi kenangan buat saya. Dalam perjalanan ke rumah seorang teman lama, saya tertarik membeli gorengan sebagai teman minum kopi bersama teman saya ini. Saya menepikan kendaraan saya di dekat roda si tukang gorengan. Ternyata si penjual tidak ada di situ. Saya tengok kanan – kiri, ternyata si tukang gorengan ada di seberang jalan lain, sambil hendak menyeberang ia melambaikan tangan meminta saya untuk menunggu. Setibanya ia di rodanya, ia meminta maaf karena tadi sambil menunggu pembeli, ia menonton TV di toko seberang.

“Oh, gak apa-apa. Gak masalah koq”, saya katakan, dan memang itu bukan suatu kesalahan sehingga perlu meminta maaf.

“Wah rame banget pak tadi acaranya, lucu banget.”

“Acara apa, mas ?” Tanya saya.

“Itu… acara hipnotis, Pak. Hebat banget yah si Uya Kuya bisa hipnotis orang sampai-sampai semua unek-unek si orang itu keluar. Lucu-lucu cerita hidupnya.”

“Oh… begitu yah. Dan bapak percaya itu kejadian sebenar-benarnya?”

”Emangnya itu bukan sebenar-benarnya?”

”Bukan. Itu rekayasa. Kalau benar si tukang hipnotis itu jago sekali sampai bisa mengeluarkan semua unek-unek orang lain, kenapa ia tidak disewa polisi untuk menghipnotis pelaku korupsi sehingga semua modus operandinya terbongkar?”

 

“Dia tertanya menyeringai, “Ia yah, Pak. Kalau gitu kita selama ini dibohongin donk, Pak. Kita dibuat percaya kalau itu bener-bener kejadian,  ehhhh  ternyata sudah ada jalan ceritanya.”

“Yahhhh bisa jadi si Uya Kuya cs itu tidak bermaksud berbohong, tapi penontonnya sendiri yang terlalu polos menanggapinya.” Jawab saya dengan nada datar.

 

***

 

Dunia hiburan adalah dunia yang menyesatkan dan mengaduk-aduk perasaan. Sulap, hipnotis, sinetron, lipsing, reality show, kisah petualangan di alam bebas, bahkan apa yang disebut program investigasi dan talk show – pun tidak pernah tanpa skenario. Masuk akalkah bagi kita jika setiap kali si Panji berkelana selalu saja mendapatkan ular yang siap dimain-mainkan? Dan jangan lupa,  acara itu harus tayang setiap minggu, tidak boleh ada absennya, masuk akalkah? Tidakkah anda merasa aneh bahwa dalam kasus-kasus investigasi, selalu saja ada pedagang polos yang menceritakan setiap detil modus operandinya? Dan jangan lupa, acara itu harus tayang tiap minggunya ! Mungkin anda akan bertanya, “Bukankah ada sample-sampel yang dianalisa di laboratorium?” Ya, tapi para ahli di laboratorium tidak berwenang mengintrograsi dari mana sampel-sampel itu datangnya, mereka hanya menerimanya  dari pembawa sampel, yakni dari kru acara investigasi tersebut. Nah tidak mungkinkah ada satu atau dua, atau lebih kasus hanyalah rekayasa si kru-kru tersebut? Tidak mungkinkah, dengan gambar si pelaku yang di ‘blur’ membuat si kru merasa leluasa untuk membuat drama-drama tentang kecurangan-kecurangan yang terjadi atas beberapa dagangan? Ini hanya sebuah sangkaan, tapi tidak mungkinkah itu terjadi? Atau anda masih tetap polos menerima begitu saja suguhan investigasi tanpa filter akal sehat kita?

 

Kita tahu bahwa reality-show bukanlah the real reality, kita tahu bahwa sulap hanyalah trik, apalagi … sinetron. Namun sayang, milyaran umat awam tidak pernah curiga bahwa kisah-kisah dalam tuturan kitab suci, adalah semacam pemanggungan drama juga, suatu karya sastra pada jaman dahulu yang ditulis oleh orang jaman dahulu, untuk orang jaman dahulu dalam bahasa jaman dulu, dalam kerangka berpikir orang jaman dulu. Dan apa yang dulu – dulu, belum tentu, dan tidak harus, benar bagi kita saat ini.

 

Mungkin orang jaman dahulu puas dengan kisah penciptaan ala Kitab Kejadian, bahwa dunia ini diciptakan dalam enam hari. (sekalipun si penulis tidak pernah mengatakan bahwa ‘hari’ yang dimaksud setara dengan 24 jam dalam pemahaman kita, pula si penulis tidak pernah mengatakan bahwa 1 hari tersebut sama dengan 1000 tahun seperti yang orang-orang berikutnya pahami). Dalam kapasitas berpikir mereka yang sederhana, baik si penulis maupun si pembaca merasa bahwa lewat kisah-kisah tersebut, beberapa hal sudah terjawab. Tujuan penulis kisah itu hanyalah untuk memanggungkan suatu idea bahwa ada satu tuhan yang mencipta langit dan bumi. Idea ini adalah kontra dari idea-idea kaum pagan saat itu. Kaum pagan mempercayai bahwa matahari adalah dewa tertinggi, bulan adalah dewa tertinggi, dll. Si penulis kitab memiliki keyakinan yang berbeda, ia mengisahkan bagaimana matahari dan bulan bukanlah dewa-dewa, melainkan hanya hiasan ciptaan tuhan yang digantung di langit-langit. Tak sedikitpun ia terpikir dari mana tetumbuhan yang diciptakan di hari ke-3 bisa mendapatkan sinar jika matahari sendiri diciptakan di hari ke-4.

 

Mungkin orang pada jaman dahulu merasa puas dengan kisah Adam dan Hawa, baik itu sebagai pasangan pertama yang diciptakan oleh tuhan allah (versi Yudaisme & Kristen), atau sebagai nabi pertama (versi Islam & Druze). Namun itu tidaklah menjawab soal bagi kita sekarang yang hidup dalam abad moderen, bagaimana mungkin dari satu pasangan ini terlahir manusia sebegini banyak hanya dalam beberapa ribu tahun saja? Apa bahasa yang dipakai oleh Adam? Bagaimana sampai ia diusir dari surga dan dijatuhkan ke bumi ? (versi Islam). Semua itu hanya bisa dipahami apabila kita dengan jernih melihat natur dari kisah itu sebagai mitos, sebagai kisah dimana idea-idea sederhana dipanggungkan. Dan bukan sebagai kisah sejarah sebenar-benarnya tentang awal mula umat manusia.

 

Lewat kisah-kisah, orang jaman dahulu menyampaikan idea-idea. Lewat kisah-kisah, mereka mengkomunikasi apa yang mereka anggap benar, bermakna dan bertujuan moral. Dalam jaman dimana piranti-piranti komunikasi tidaklah secanggih sekarang, maka penceritaan adalah alat yang baik, dan tradisi oral yang disampaikan dari satu generasi ke generasi lainnya memperbesar kemungkinan bahwa kisah tersebut akan subyektif, melebar, semakin melegenda, kehilangan makna dan tautan real-nya.

 

Jikalau di note sebelumnya, kita bersentuhan dengan puisi-puisi, di note sekarang kita akan bersentuhan dengan prosa. Dari begitu banyak kisah yang bisa dianalisa, saya hanya mengambil dua prosa saja.

 

 

YESUS MENGUSIR ROH JAHAT DI GERASA

Markus 5:1-20

 

Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya  dimusnahkannya, sehingga tidak  ada 

seorangpun  yang cukup kuat untuk menjinakkannya.  Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu.

Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah iamendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, 

dan dengan keras ia berteriak : “Apa urusan-Mudengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” 

Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya : “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” Kemudian Ia bertanya kepada orang itu : “Siapa namamu?” Jawabnya : “Namaku Legion, karena kami banyak.” Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu. Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan, lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya : “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babiitu, biarkanlah kami memasukinya!” 

Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlahroh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya ituterjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.

Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi.

Mereka datangkepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras,orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka.

Orang-orang yang telahmelihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orangyang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu.

Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia.

Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu:

“Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”

Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuatYesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

 

 

 

 

Gerasa / Gadara

 

Orang awam yang membaca kisah ini pastilah berpikir bahwa kisah ini menceritakan apa yang benar-benar terjadi saat itu. Dengan membaca kisah ini si pembaca biasanya digiring untuk meng-highlight betapa berkuasanya Yesus sehingga roh-roh jahat itu ketakutan. Namun pertanyaannya adalah apakah kisah ini benar-benar melaporkan suatu kejadian sebenar-benarnya? Ataukah kisah ini sebenarnya hanya wahana yang dipakai untuk membawa suatu pesan-pesan dibalik kisah itu, yang hanya bisa dipahami apabila kita mengerti benar maksud dan bahasa penulisannya, serta latar belakang apa yang memunculkan motif penulisan kisah ini.

 

Jika kita menganggap kisah ini menceritakan apa yang sebenar-benarnya terjadi, maka di sini kita akan menemukan begitu banyak masalah. Pertama, mungkinkah di kota Gerasa, kota yang pada waktu itu masuk dalam wilayah Galilea (sekarang daerah itu diberikan kepada Yordania berdasarkan British Mandate tahun 1922) , yang berpenduduk mayoritas penganut Yudaisme, ada peternakan babi? Rasanya janggal. Tapi bisa saja ada peternakan babi, sebab daerah itu dijajah oleh Romawi. Baiklah, kita ambil asumsi ini : ada peternakan babi di daerah dengan mayoritas penduduk Yahudi yang sangat membenci babi. Tapi problem berikutnya muncul, bijaksanakah Yesus, mengirim setan-setan itu masuk ke tubuh babi-babi? Apa alasannya sehingga dua ribu babi itu harus dikorbankan? Apa salahnya dengan babi-babi itu? Lalu seharusnya kita mendengar cerita tentang Yesus yang  didakwa oleh si pemilik babi karena telah merugikan dirinya. Mengapa Yesus tidak bertanggung jawab? Kemudian, karena babi adalah binatang haram, apalagi bangkainya, jika 2000 bangkai babi itu masuk ke danau Galilea, kejadiannya ini akan menimbulkan efek yang luar biasa, para nelayan akan mogok mengambil ikan karena danau itu tercemar bangkai babi dsb. Lihatlah betapa rumit konsekwensi logis jika kita menganggap kisah ini adalah kisah sejarah sebenar-benarnya. Yesus telah berlaku ceroboh, baik secara moral dan ekonomis menghancurkan lebih banyak kepentingan orang lain.

 

 

PENAFSIRAN YANG PALING MEMUNGKINKAN

 

Inilah tafsiran dari beberapa akademis. Injil bukanlah cerita sejarah. Dan para penulisnya memang tidak memaksudkan untuk menuliskan sejarah. Mereka menulis karena suatu latar belakang iman, budaya dan politik. Mereka memiliki kepentingan, suatu idea, dan idea itu dituangkan dalam kisah-kisah. Mereka meminjam sosok Yesus dan murid-muridnya untuk menjadi alat komunikasi idea-idea si penulis. Sehingga ketika kita membaca kisah-kisah itu, seharusnya kita bertanya : Apakah Yesus benar-benar melakukannya? Atau ada maksud terselubung dari si penulis Injil dibalik kisah ini?

Kita harus ingat bahwa pada jaman itu bangsa Yahudi dijajah oleh Kekaisaran Romawi. Sekalipun Roma tidak berkepentingan dengan agama Yahudi, dan malah untuk menarik simpati bangsa Yahudi mereka membantu mendirikan Bait Allah di Yerusalem, namun ego bangsa Yahudi terlalu besar untuk dibeli dengan iming-iming harta. Mereka ingin memerdekakan diri dari penjajahan Romawi dan mendirikan negara teokrasi. Dan lewat cerita itu tersisip dengan jelas pesan-pesan politis. Lelaki dari Gerasa itu adalah lambang dari bangsa Israel dan setan-setan yang disebut Legion adalah lambang dari penjajahan Romawi. Legion / Legiun berarti satuan militer dalam ketentaraan Romawi yang berjumlah sekitar 6000 orang. Dan bangsa Israel bagaikan lelaki malang yang  dirasuki Setan Legion itu. Ia dikungkung, dipenjara dalam ketidakbebasan, tidur dipekuburan dan terhina dari teman-temannya (simbol dari bangsa-bangsa lain di luar Israel). Ketika Yesus datang, Yesus dianggap sebagai pemersatu politik dan keagamaan bagi bangsa Yahudi. Ia dipercaya sebagai keturunan Daud yang mampu menghalau para tentara Romawi itu. Bangsa penjajah tidak layak bercokol di Yudea, Galilea dan Samaria, mereka layaknya pergi dari wilayah ini, tempat mereka yang tepat adalah di dalam tubuh babi (suatu penghinaan yang luar biasa yang timbul dari kebencian yang amat sangat dari bangsa Yahudi).

 

Sekalipun pada waktu Injil Markus ini ditulis (paling awal sekitar tahun 70an M), Yesus telah wafat 40 tahun sebelumnya, dan cita-cita Yesus dan bangsa Yahudi untuk membebaskan diri dari penjajahan Romawi tetap sia-sia namun semangat pemberontakan itu tetap ada. Apalagi karena pada tahun 70 M Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah di Yerusalem karena pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi. Dan semakin bencilah kaum Yahudi dan Yahudi Kristen terhadap Romawi. Dengan demikian maka kisah Yesus dan Orang Gila dari Gerasa ini akan sangat mudah dipahami bukan sebagai kisah sejarah, namun sebagai cerita yang menggelorakan semangat anti-penjajahan. Ketika kisah itu dibacakan di komunitas Kristen awal, maka sang imam akan membawa audiensnya pada sebuah tanggapan ideologis, bahwa dalam diri orang yang dirasuk setan Legion itu, termaktub bangsa Yahudi dan Yahudi Kristen yang hidupnya dikungkung oleh penjajahan Romawi. Kaum penjajah Romawi disimbolkan sebagai setan-setan yang berjumlah banyak (Legion) yang cuma layak disetarakan dengan babi-babi yang layak diceburkan ke danau.

 

Kisah-kisah Injil semakin sukar dipahami ketika para pembacanya tidak memahami situasi politik pada saat kitab-kitab ini dimunculkan. Orang-orang dari segala macam budaya, jaman dan bahasa ketika membaca kisah-kisah ini hanya akan mentok pada teks bukan pada konteks. Ketika saya memahami latar belakang dan motif serta tafsir yang paling memungkinkan dari kisah ini, maka saya teringat dengan Patimura, pahlawan dari Maluku. Konon menurut cerita yang saya baca ketika SD, ketika ia hendak ditembak mati, Patimura berkata “Satu Patimura akan mati, namun lihatlah Patimura-patimura lain akan bangkit.” Tidak mungkinkah bahwa si penulis Injil Markus pun menggemakan  motif yang sama dengan Patimura?  “Yesus dari Nazaret memang telah mati, namun lihatlah Yesus-yesus lain telah bangkit mengambil peran dan misi dari Yesus Nazaret yang belum selesai. Dalam hal ini maka kebangkitan Yesus adalah kebangkitan dan penubuhan semangat Yesus di dalam diri  si pemercaya.

 

Kita akan beralih pada Religio- Melodrama lainnya, yaitu tentang Muhammad dan seorang Pengemis Yahudi

 

MUHAMMAD DAN SI PENGEMIS YAHUDI 

 

 

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi Rasulullah Muhammad SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari, sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain adalah isteri Rasulullah SAW. Beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”

 

Aisyah RA menjawab, “Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum Ayah lakukan kecuali satu saja.”

“Apakah Itu?”, tanya Abubakar RA. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana”, kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapa kamu?!”

Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).”

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, bantah si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….”

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

 

Sebagus-bagusnya cerita ini, seindah-indahnya moral yang terkandung dalam kisah ini, tetap saja kita patut bertanya apakah kisah ini benar-benar pernah terjadi? Ataukah hanya kisah belaka yang bisa dikarang oleh siapa saja, dan melibatkan tokoh siapa saja selain Muhammad?

 

Sumber-sumber muslim seperti Sirat, Hadist dan Sunnah, yang darinya semua konstruksi keagamaan islam dan sumber informasi tentang Muhammad bisa kita dapatkan, baru hadir 200 tahun setelah tahun yang disangkakan sebagai tahun kematian Muhammad. Dan sumber-sumber kisah ini tidak ditulis di Mekkah atau Madinah, melainkan di Irak. Selama 200 tahun pertama (atau paling aman kita katakan 150 tahun ) peradaban Islam, tidak ada kisah sejarah Muhammad ditulis, bahkan nama Islam dan Muslim tidak terdengar sampai tahun 690M. Catatan-catatan sejarah non-muslim hanya menyebutkan kaum Mahgraye / Muhajirun, yakni kaum Saraken / Arab dari daerah Sinai yang hijrah  ke Yerusalem. Tidak begitu terdengar tentang seorang nabi Arab bernama Muhammad yang melakukan Hijrah dari Mekkah ke Medinah. Bahkan koin-koin yang melanda Damaskus bertuliskan MHMT dan bergambar Salib. Ini sama sekali tidak berbau Islam !

Apakah kesimpulan yang bisa kita ambil di sini? Yakni bahwa Islam sebagai agama yang seperti kita pahami saat ini, pada jaman itu belum terbentuk. Islam, sebagai agama yang kita pahami saat ini, baru diformulasikan di Baghdad di tahun 750 di bawah pemerintahan Dinasti Abbasid. Baru di bawah dinasti inilah Islam mulai dipanggungkan sebagai agama baru yang konon katanya lahir di Hejaz Arab dengan dua kota pilarnya Mekkah dan Madinah. Di masa sebelumnya, di bawah pemerintahan Abdul Malik, bahkan ia membangun Kubah Batu / Dome of The Rock, sebagai pusat dari ritualnya, bukan di Mekkah. Itulah kenapa Dome of The Rock tidak memiliki Kiblat, karena memang inilah yang diharapkan sebagai titik pusat dari ritual keagamaan baru yang nantinya kita kenal sebagai Islam.

 

Dinasti Abbasiyah dengan segala cara menghancurkan apa saja yang diwariskan oleh Dinasti Ummayah, terutama keagamaan mereka yang tidak ‘Arab’ sama sekali. (Bayangkan saja : koin bertuliskan MHMT tapi bergambar SALIB ! Juga Yerusalem dijadikan pusat ritual dengan Kubah Batu sebagai titik utamanya !). Untuk itu perlu disusun kisah-kisah dimana agama yang baru ini, suatu agama yang benar-benar menyandang identitas Arab, yang lepas dari pengaruh kekristenan dan Yahudi. Maka dari itu disusunlah kisah-kisah tentang permusuhan Arab (Islam) dan Yahudi, Arab (Islam) dan komunitas Kristen.  Dimana akhir dari kisah itu harus memuluskan dan memuliakan Muhammad dan Arab.

 

Harus kita ingat bahwa di Irak pada jaman dimana literatur awal Islam ditulis, kesusasteraan Yahudi Rabbinik, dan juga kesusasteraan kekristenan Aramaik berkembang pesat. Dan tidak bisa dipungkiri apabila Sunnah, dan Hadist  mengambil pola dan tema-tema cerita dalam midrash kaum Yahudi. Bahkan sebagian dari kisah-kisah dalam Quran jelas-jelas adalah penceritaan lain dari kisah-kisah Midrash Yahudi abad 2 M dan puisi-puisi Kristen Arab pra-Islam. Dan untuk menghilangkan cita rasa Yahudi dan Kristen ini maka disusunlah kisah-kisah perseteruan antara Muhammad cs vs. komunitas Yahudi dan Kristen. Semua itu diupayakan untuk mengaburkan fakta bahwa Islam mengambil banyak elemen-elemen dan pemikiran agama ini tepat di akar kemunculannya.

 

Jikalau kita menganggap kisah Muhammad dan Pengemis Yahudi ini adalah kisah sebenar-benarnya, maka akan ada banyak pertanyaan yang harus dijawab logis. Janggal sekali rasanya jika ada pengemis Yahudi yang suka mencemooh Muhammad  tapi masih bisa hidup tanpa dipenggal oleh pengikut Muhammad (bandingkan dengan kisah-kisah hadist lainnya dimana Muhammad seringkali mudah tersinggung dan para pengikutnya, dengan dan tanpa perintah dari Muhammad, mudah sekali menumpahkan darah)  . Bahkan jika Muhammad setiap kali menghampiri dia, memberi makan 2 kali sehari, bahkan mengunyah dahulu makanan yang keras, rasanya ini sudah keterlaluan. Benar-benar tidak mungkin. Muhammad terbiasa berperang berbulan-bulan, lalu siapa yang memberi makan pengemis buta ini? Muhammad seorang pemimpin yang tindak-tanduknya dilihat oleh para pengikutnya, masa kah tidak ada orang yang tahu kalau Muhammad setiap hari memberi makan pengemis ini? Ada begitu banyak pertanyaan logis yang tak terjawab dalam cerita ini jika ini dianggap laporan kejadian yang sebenar-benarnya.

 

Dari kisah Muhammad & Pengemis Yahudi di atas, jelas bahwa sosok Muhammad ini personifikasi dari idea-idea supremasi Arab, ia adalah dentitas Arab, Arab yang paling Arab adalah Muhammad itu sendiri, ia digambarkan pemimpin mulia yang baik hati , sedangkan Yahudi digambarkan sebagai pengemis, pencemooh, peminta-minta yang tak tahu diri (Ingat Kaum Arab dibawah pimpinan Umar bin Khatab pernah membantu bangsa Yahudi membebaskan Yerusalem dari bangsa Romawi dan dengan demikian kaum Yahudi untuk sementara waktu mendapatkan tanah mereka kembali berkat kaum Arab !) Harapan bangsa Arab adalah bahwa kaum Yahudi (yang digambarkan sebagai Pengemis buta yang tak tau terima kasih ini) “bertobat” dan mengaku Muhammad sebagai nabi dan memeluk Islam.  Jadi jelas sudah bukan?

 

Dengan kata lain, jika dalam kisah Yesus dan Orang Gila dari Gerasa si penulis memberikan stigma buruk pada Romawi sebagai roh jahat yang berjumlah banyak / Legion, yang layak dimasukan ke dalam tubuh babi-babi dan ditenggelamkan ke danau, dalam kisah Muhammad dan Pengemis Yahudi, si penulis menstigmakan kaum Yahudi sebagai pengemis yang hina dina, pencemooh, tak tahu diuntung yang diharapkan,  seperti pengemis itu, mau memeluk Islam. Pertanyaan berdimensi moral lainnya adalah, masih layakkah kisah-kisah subyektif dan diskriminatif terhadap kaum lain seperti kisah-kisah di atas dijadikan sumber-sumber inspirasi moral?

 

Dan pola-pola yang sama akan kita temukan dalam kitab-kitab setiap agama, contohnya percakapan antara Firaun dan Musa, percakapan antara Krishna dan Arjuna, percakapan antara Buddha Gautama dengan pertapa-pertapa Jain dll. Semua itu bukanlah pelaporan sejarah, itu adalah kitab sastra dimana idea-idea tertentu dari si penulis dipanggungkan. Sedari awal kita sudah disuguhkan dengan kisah-kisah subyektif dan bermuatan sektarian, yang biasanya selalu menstigmakan kaum lain sebagai musuh yang nantinya harus kalah sementara sang tokoh utama harus menang atau dipermuliakan. Sudah saatnya kita sadar bahwa kita tidak boleh terperosok dalam sekat-sekat agama dan kisah-kisahnya yang subyektif, diskriminatif dan degradatif.

Artikel ini saya beri judul Religio Melodrama karena bagi saya banyak dari kisah-kisah agama hanyalah benar-benar kisah (dan bukan murni sejarah) yang ditulis secara subyektif dan beberapa diantaranya justru bermuatan kadar moral yang rendah. Kisah-kisah ini hanyalah kisah drama yang mendesak pembacanya untuk bereaksi secara emosional dan berlebihan (melow) dengan tujuan untuk mendukung misi-misi relijius si penulis.

 

Jika dalam artikel sebelumnya (Strophyc Hymnody) saya menyoal tentang konten-konten puisi yang harus dipahami sebagai bahasa puisi dan bukan bahasa prosa yang menuntut suatu pembuktian empiris, dalam artikel ini saya membahas bahwa kisah-kisah prosa pun bukanlah sejarah sebenar-benarnya dan hanya berupa drama yang ditulis untuk menubuhkan idea-idea si penulis, maka di artikel yang akan datang kita akan sedikit menyoal natur dan kecenderungan dari proses agama sampai ke tangan kita.

Iklan