STROPHIC HYMNODY

Dalam note sebelumnya saya menampilkan sebuah puisi dari Robert Burns (1759-1796), seorang pujangga asal Skotlandia, yang kemudian digubah menjadi sebuah lagu indah dinyanyikan oleh si cantik Izzy (Isobel Cooper). Dan untuk mengingatkan para pembaca semua, saya kembali sisipkan lagu dan alamat webnya:

My Luve is Like A Red – Red Rose

my luve is like a red, red rose,

that’s newly sprung in June.

my luve is like a melody,

that’s sweetly played in tune.

as fair art thou, my bonnie lass,

so deep in luve am I,

and I will luve thee still, my dear,

till a’ the seas gang dry.

til a’ the seas gang dry, my luve,

til a’ the seas gang dry,

and I will luve thee still, my dear,

till a’ the seas gang dry.

till a’ the seas gang dry, my dear,

and the rocks melt with the sun,

and I will luve thee still, my dear,

while the sands of life shall run.

 

but fare thee well, my only luve,

oh fare thee well awhile!

and I will come again, my luve,

tho’ it were ten thousand mile.

 

tho’ it were ten thousand mile, my luve,

tho’ it were ten thousand mile,

and I will come again my luve,

tho’ it were ten thousand mile.

Dari segi rima (rhyme) kita mendapatkan suatu pola rima yang indah dari lagu ini. Dalam bait 1 kita menemukan tune dan june,  dalam bait kedua kita menemukan I dan dry. Di bait ketiga kita temukan sun dan run, di bait ke empat awhile dan mile.

Dari segi estetika, isi dari puisi inipun mengalir membawa pesan akan perasaan cinta yang mendala

til a’ the seas gang dry, my luve,

til a’ the seas gang dry,

and I will luve thee still, my dear,

till a’ the seas gang dry.

 

Meloncat ke bait terakhir :

tho’ it were ten thousand mile, my luve,

tho’ it were ten thousand mile,

and I will come again my luve,

tho’ it were ten thousand mile.

Kita tahu ini adalah sebentuk puisi cinta, suatu genre dalam kesusasteraan yang mengutamakan keindahan bahasa dalam menyampaikan perasaan cinta yang mendalam, dengan demikian kita tidak punya hasrat untuk menganalisa logis tidaknya puisi tersebut. Tak seorangpun dari kita yang akan meributkan pertanyaan-pertanyaan logis seputar : kapan semua laut akan mengering dan batu-batu mencair karena sinar mentari, dan debu-debu kehidupan sirna ?

Dalam terang ini maka saya akan mengajak para pembaca untuk melihat puisi cinta lain dalam kesusasteraan agama-agama yang sejatinya bukanlah kebenaran mutlak, namun hanya sebentuk puisi cinta, dan tak perlu ditanggapi begitu serius sebagai dasar dogmatik agama, apalagi dibawa-bawa ke ruang publik, dijadikan kebenaran mutlak agar orang lain percaya. Berikut adalah diantaranya :

Filipi 2 : 8-11

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Kalimat-kalimat yang saya kutip diatas  berasal dari Surat Filipi yang ditulis oleh Paulus. Para ahli kitab percaya bahwa kalimat-kalimat di atas diambil oleh Paulus dari sebuah hymne yang beredar saat itu. Paulus mengutipnya sebagai suatu inspirasi bagi komunitasnya untuk hidup seturut dengan Yesus. Hymne yang ia rujuk adalah suatu hymne yang mencitrakan Yesus sebagai pra-ada, sebelum ia menjadi manusia, sebagai kalam ilahi, yang dalam keyakinan mereka, dalam ruang dan waktu, menjadi manusia Yesus yang taat sampai di kayu salib, dan pemuliaan dirinya oleh Allah sebagai junjunan / master/ kyrios  atau perwujudan dari idea-idea summum bonum dalam paradigma Paulus dan gereja awal.  Dalam puisi / hymne tersebut ada keindahan bahasa, dan juga menyampaikan pesan cinta yang mendalam serta keyakinan teologis, namun apakah keyakinan teologis ini mutlak benar bagi setiap orang ? Bagi Paulus, Petrus, Yakobus dan para murid Yesus lainnya, sang guru adalah the embody of logos / perwujudan hikmah ilahi, namun persoalan lainnya adalah itu hanya akan bermakna apabila kita memegang asumsi akan adanya hikmah ilahi / logos  itu. Jika tidak, maka keyakinan Paulus, Petrus dan Yakobus itu tidaklah bermakna banyak bagi kita.

 

Apa yang penting dari hymne itu adalah bahwa si pemercaya menjadikan Yesus sebagai simbol dari semangat penyempurnaan diri yang terus menerus, terlepas dari apakah benar Yesus yang manusia itu benar-benar sesempurna, seideal yang diyakini oleh pemercayanya. Lewat kepercayaan seperti itu si pemercaya merasa termotivasi untuk hidup segambar atau sesempurna mungkin dengan si tokoh yang diyakininya itu, terlepas dari persoalan apakah si tokoh tersebut benar-benar cocok dengan kriteria sempurna bagi setiap orang.  Jadi di sini sekali lagi kita menemukan motif-motif psikologis, karena sebagaimana yang saya selalu katakan dalam notes sebelumnya bahwa agama itu harus dilacak sampai pada psikologi manusia itu sendiri. Motif-motif manusialah yang menciptakan agama-agama, bukan suatu allah A, B, dan C.

Bagaimana dengan kalimat devosi dalam agama Buddha, seperti contoh di bawah ini :

Demikianlah sesungguhnya Sang Bhagava Yang Maha Suci, Yang telah mencapai Penerangan 

Sempurna, Yang sempurna dalam pengetahuan dan tindak-tanduknya, Yang berbahagia, Pengenal semua alam, Pembimbing Dhamma yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, Seorang Buddha Yang Mulia 

Kalimat di atas bukanlah sebentuk puisi, namun di sini tetap kita bisa rasakan adanya nada pengagungan yang bersifat puitis kepada Buddha yang dicitrakan melebihi kemampuan manusia. Tidakkah anda merasakan adanya semangat yang sama di sini, yakni semangat pemujaan kepada suatu tokoh di masa lalu, yang sudah tidak bisa dijamah oleh kita, sehingga aman dari segala kritik dan kelemahan, kemudian dijadikan personifikasi idea-idea mulia / summum bonum ?

Jikalau kita mau analisa secara rasional, alam apakah yang Buddha Gautama ketahui? Apakah dia juga memiliki pengetahuan astronomi seperti kita saat ini ketahui? Apakah dia tahu berapa banyak kehidupan ada di Galaksi Bima Sakti? Ada berapa banyak galaksi terhampar di alam semesta ini? Di manakah titik koordinat surga Tusita ? Di planet mana Surga Tusita itu berada? dsb. Pertanyaan-pertanyaan realistik ini tidak bisa diajukan pada dunia keagamaan yang datang pada kita dengan teks-teks yang diantaranya berisikan bahasa puisi, dan sama sekali bukan bahasa saintifik.

Sekarang kita beralih ke Islam. Dalam Quran tersebar puisi-puisi dan hymne, yang celakanya dalam pengakuan ortodoks islam ditafsirkan banyak salah sebagai prosa, bahkan sebagai ujaran dari Allah lewat Jibril kepada Muhammad. Mari kita lihat contoh puisi dalam Quran :

QS 101:

  1. Hari Kiamat
  2. Apakah hari Kiamat itu? 
  3. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? 
  4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,
  5. dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan,
  6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
  7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
  8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
  9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
  10. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
  11. (Yaitu) api yang sangat panas.

Siapapun yang membaca surrah ini dengan teliti akan jelas merasakan bahwa ini adalah sebuah puisi.  Dan tidak perlu suatu agen ilahi seperti Allah atau Jibril untuk memproduksi puisi-puisi semacam ini. Bahkan para filolog dan ahli Quran dari Barat percaya sekali bahwa sebagian dari Quran berasal dari teks-teks dan puisi-puisi / hymne Kristen pra-Islam, yaitu hymne –hymne milik kaum Kristen Unitarian atau Judeo-Kristen Arab yang ratusan tahun sudah ada sebelum Islam lahir. Hymne-hymne ini secara evolutif dikoleksi menjadi bagian dalam Quran dan ditafsirkan dalam paradigma Ortodoks Islam sebagai miliknya, kemudian diberi kerangka mitologi bahwa pewahyuan itu berasal Allah kepada Muhammad via Jibril. (Tentu saja Jibril berbicara kepada Muhammad dalam bahasa Arab ! Jibril tidak bisa berbahasa Ibrani,  Yunani atau Arami, apa lagi bahasa Inggris yang pada 1400 tahun lalu belum ada. Mengapa ?  karena Jibril hanyalah tokoh mitologis, personifikasi kesadaran, imajinasi dan intuisi Muhammad itu sendiri, sehingga kita tidak bisa menuntut tokoh mitologis ini untuk sekali lagi hadir di hadapan kita bersaksi bahwa ia pernah benar-benar disuruh Allah (suatu agen mitologis lainnya) untuk mendatangi Muhammad.) Dan salah satu hymne milik kristen-Arab pra-Isla itu adalah  itu adalah QS 101 ini.

Teori tentang terintegrasinya kisah-kisah dan hymne  Judeo-Kristen dan Kristen Arab pra-Islam ini ke dalam al Quranini sudah lama digemakan oleh filolog dan Islamis Barat, di antaranya adalah Gunter Luling. Ini bukanlah tanpa bukti-bukti dan tesis yang tidak berdasar, namun disertai demonstrasi folologi yang memadai. Luling menyatakan bahwa setidaknya 1/5 bagian dari quran sekarang diambil dari teks dan strophic hymnodi (hymne berbait) milik Kristen Arab Unitarian pra-Islam. Bagian ini dia sebut sebagai ur-Koran atau Quran asli, yang kemudian mengalami redaksional di jaman Muhammad dan terlebih di jaman paska Muhammad dimana teks-teks tersebut ditafsir ulang dalam paradigma ajaran yang baru yang dalam evolusi berikutnya akan disebut : Islam.  Teks-teks dari Kristen Arab ini entah karena kurang dimengerti, atau salah baca, atau salah interpretasi, sehingga dalam aksara aslinya, apa yang seharusnya tidak diberi tanda diakritik sekarang diberi, atau sebaliknya apa yang dulunya diberi tanda diakritik sekarang, karena kesalahan transliterasi , menjadi hilang. Hal ini akan kita pahami jika kita mengenal bahwa dalam aksara dasar Arab tidak didapati vokal, dan konsonannya pun terbatas. Sehingga salah baca tulis, akan mengakibatkan kesalahan dalam pembacaan dan pemaknaan pula.

 

Menyangkut Surah di atas   Luling memperkirakan bahwa apabila direkonstruksi dari catatan tradisionalnya (apa yang tertulis di Quran) lewat rekonstruksi filologis maka akan menjadi sbb:

 

 

Perhatikan bagaimana Luling mampu merekonstruksi puisi di atas (di bagian kiri, reconstruction) sehingga rima-nya lebih sempurna ketimbang ayat-ayat tradisional dalam Quran  (di bagian kanan, tradition ). Bahkan dalam versi rekonstruksinya kata al-qari’atu  yang diterjemahkan menjadi ‘kiamat’ adalah tidak tepat, seharusnya adalah al-qari’ah yang diterjemahkan menjadi  ‘yang mengoyak’, dan kedengarannya ini lebih bernilai puitis. Jika benar tesis & metodologi Luling, maka arti dari Surah 101 seharusnya adalah :

 

 

1. yang mengoyak

2. apakah yang mengoyak itu ?

3. dan apa yang kamu ketahui tentang ‘yang mengoyak’ itu?

 

4. di hari pada saat manusia

    seperti dimasuki ngengat

5. dan gunung-gunung akan seperti wool  yang hendak digaruk

 

6.tidakkah pada hari itu manusia

Yang timbangannya berat

7.Akan hidup dalam rasa puas hati ?

 

8. dan tiadakah pada hari itu manusia

Yang timbangannya ringan

9. ibunya akan menjadi tak beranak?

 

Ayat kesembilan ini menyatakan betapa malangnya nasib orang tersebut, bahkan keberadaannyapun dianggap tiada, bagai seorang ibu yang merasa tak pernah melahirkan.   Dua ayat quran di bagian terakhir surah ini, dalam versi tradisional,  yaitu :

 

10. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?

11. (Yaitu) api yang sangat panas. 

 

diyakini oleh Luling sebagai sisipan yang untuk menjelaskan kata ‘hawiyah’ yang para redaktur Islam kurang pahami. Penyisipan tersebut terlihat janggal dalam format strophic hymnodi saat itu. Jikapun kedua ayat itu diterjemahkan maka artinya akan menjadi :

 

10. dan tahukah kamu dia ?

11. Api yang menyala-nyala.

 

Kata ‘dia’  disini sebenarnya berarti ibu yang tak beranak hawiyah  yang disalah-baca sebagai hawiyatun ‘ dan ditafsirkan sebagai  nama dari suatu bagian neraka, yaitu Neraka Hawwiyah,  sehingga diperlukan adanya sisipan penjelasan di ayat 11  ‘api yang menyala-nyala’.

 

 

 

****

 

Dengan melihat contoh-contoh puisi dalam kitab-kitab agama, seharusnya kita sadar bahwa kita bisa tersesat dalam bahasa, dalam hal ini bahasa keagamaan, jika tidak memahami natur dari bahasa itu sendiri. Seperti yang saya tuliskan dalam note yang lalu, paradigma kitalah yang telah membuat penilaian keliru tentang kitab-kitab itu sendiri. Kitab-kitab itu mengandung masalah, namun kita yang membacanya dengan pikiran yang naïf menyumbang kesalahan interpretasi yang lebih nyata. Kita tahu lagu-lagu adalah bahasa puisi, yang menjadi wahana untuk mengekspresikan perasaan lewat bahasa-bahasa indah, namun ketika kita melihat kasus yang sama dalam teks-teks agama, kita mempercayai kalimat-kalimat itu sebagai penggambaran suatu realitas sebenar-benarnya. Di lain pihak para agamawan dengan tingkat intelektualitas yang terbatas dan kadar kejujuran intelektual yang rendah justru menggiring umat yang polos untuk mempercayai adanya neraka dan surga dengan penggambaran fisikal sebenar-benarnya, yang disediakan oleh tuhannya hanya untuk kaum pemercaya saja. Bahkan dalam quran dikatakan pria penghuni surga mendapatkan bidadari bermata jeli berdada montok ! Kegilaan semacam itu seharusnya sudah ditinggalkan oleh kita yang hidup dalam jaman pengetahuan dan ketercerahan.

 

Apa yang penting di sini bukanlah deretan kalimat puitis yang diyakini sebagai penggambaran sebenar-benarnya, namun semangat apa, yang tentunya dalam dimensi psikologis manusiawi, yang mendorong mereka dan latar belakang apa yang menyebabkan orang-orang pada jaman itu menghasilkan teks-teks ini. Yang tentu kita sebagai subyek dalam memadang teks-teks tersebut mempunyai hak untuk mengetahui dengan benar, menganalisa secara kritis, bahkan memberi interpretasi baru sesuai dengan konteks kekinian kita, bahkan apabila perlu, jika kita yakin itu tidak diperlukan lagi oleh peradaban manusia, yahhh kubur saja dalam pusara sejarah.

 

Jika dalam note ini kita sedikit berkenalan dengan puisi-puisi, maka di note yang akan datang kita akan berkenalan dengan prosa-prosa dalam kitab-kitab agama, dan mencari tahu tema-tema umum yang menyertai setiap kemunculan kisah itu yang seharusnya ditelusuri dalam kelembab dan kegelapan psikologi manusia itu sendiri.

 

Dan untuk menutup note ini saya ingin para pembaca menyimak suatu puisi lagi, suatu lagu yang indah, yang tidak mutlak harus menyatakan kebenaran tentang apa yang terjadi di malam Natal, malam kelahiran Yesus  di Betlehem 2000 tahun lalu. Jangan pedulikan dengan detil kisah kelahirannya, seperti Kelahiran dari Perawan Maria, kunjungan malaikat Jibril, sensus penduduk menjelang kelahiran Yesus, Bintang Timur, kedatangan orang Majusi dll, yang tentu saja tidaklah benar-benar terjadi karena tidak sesuai dengan catatan sejarah yang ada. Namun sejenak larutkan perasaan anda dalam untaian nada-nada dan kedalaman kerinduan manusia untuk menyentuh nilai-nilai yang dianggap sebagai kesempurnaan.  Nikmati lagunya, simak liriknya, larutkan diri anda dalam deburan irama philharmonic orchestra-nya, dan tak lupa wajah-wajah cantik penyanyinya.  Lihatlah betapa sudah jauhnya kemajuan sastra, musik, dan estetika peradaban manusia, terimalah semua itu , puisi sebagai puisi, sastra sebagai sastra, dan mitos sebagai mitos, tidak perlu mencampur adukkan dan terjerambab dalam kubangan emosioanal agama, apalagi mati-matian membela mitologi sebagai kebenaran mutlak.

 

http://www.youtube.com/watch?v=9Bts7ndhPw4

 

THE FIRST NOEL

The First Noel, the Angels did say

Was to certain poor shepherds in fields as they lay

In fields where they lay keeping their sheep

On a cold winter’s night that was so deep.

Noel, Noel, Noel, Noel

Born is the King of Israel!

 

 

They looked up and saw a star

Shining in the East beyond them far

And to the earth it gave great light

And so it continued both day and night.

Noel, Noel, Noel, Noel

Born is the King of Israel 

 

Celtic Women – percayalah, di surga Jannah, anda para pria, hanya akan mendapatkan serenteng anggur putih, bukan 72 bidadari berdada montok bermata jeli ala  Sarah Azhari. Dan Celtic Women jauh lebih indah dan melegakan hati dari pada serenteng anggur di taman di mana terdapat air mengalir dan air mancur bersemburan.

Bagian 1 bisa dibaca di: AA Jin: Menelaah Bahasa Teks-teks Keagamaan 1