Agama memang seperti pedang bermata dua. Di satu sisi agama bisa menjadi sumber untuk membangun perdamaian dan merajut persaudaraan, akan tetapi di pihak lain agama juga bisa menginspirasi pemeluknya untuk melakukan kejahatan, kekerasan bahkan terorisme.

Hans Kung, profesor ecumenical theology di Universitas Tubingen, Jerman pernah merumuskan agama sebagai sumber malapetaka paling kejam dalam sejarah kemanusiaan. Dalam salah satu karyanya Christianity and the World Religion :Paths of Dialogue with Islam, Hinduism, and Buddhism (Doubleday, 1986) menulis dengan getir bahwa “rasa fanatik yang terbesar dan kebijakan politik yang kejam terinspirasi dan dilegitimasi oleh agama”.

Lebih lanjut, Sumanto Al Qurtuby dalam Pluralisme, Dialog, dan Peacebuilding Berbasis Agama di Indonesia (hlm.168, Merayakan Kebebasan Beragama : Bunga Rampai 70 Tahun Djohan Effendi, ICRP&Buku Kompas, 2009) menyatakan agama bisa berperan sebagai “faktor pembelah” dalam beberapa kasus-kasus tragis dewasa ini yang terjadi di Palestina, Israel, Sudan, Kashmir, Irlandia Utara bahkan juga di Indonesia sendiri seperti di Ambon dan Poso. Agama menjadi “sumber konflik” yang memilukan. Belum termasuk sejarah gelap “perang agama” masa lalu yang terjadi dalam tradisi Islam, Kristen, Yahudi, dan agama-agama besar lain. Agama menjadi sumber kekerasan dan “biang keladi” permusuhan.

Akan tetapi pelbagai contoh yang telah terjadi kekerasan atas nama agama membuktikan bahwa masalah kebebasan beragama dan perdamaian sampai saat ini, termasuk di negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim (seperti di Indonesia sendiri) dan berbasis Islam seperti di Arab Saudi, Mesir, Pakistan, Iran memang sedang dalam tahap memprihatinkan.

Di Indonesia hal yang kerap kali terjadi adalah salah baca dalam menilai konsep pluralisme, baik dari golongan Muslim maupun Kristen. Kalau dari kaum Muslim berdasarkan fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang secara serampangan menyamakan pluralisme dengan sinkretisme –sebuah pencampuradukan paham keagamaan, penyamarataan doktrin kebenaran yang secara esensial, menurut mereka bertentangan dengan Islam sebagai “satu-satunya jalan kebenaran”, golongan Kristen konservatif menilai wacana pluralisme sebagai ancaman atas identitas dan nilai-nilai kekristenan yang diyakini kebenarannya mutlak dari Tuhan sehingga mereka menyerang kelompok Kristen moderat-pluralis bahkan menganggap mereka telah menyeleweng dari ajaran tradisional Kristen.

Padahal dalam kenyataannya pluralisme jelas beda dengan sinkretisme. Kalau pluralisme terbangun atas basis saling menghormati dan menghargai perbedaan dan keunikan masing-masing tradisi agama, sinkretisme adalah sebuah kreasi agama baru dengan mencampuradukkan elemen dari berbagai tradisi agama yang berbeda.

Pertanyaan mengusik, ada apa dengan masalah kebebasan beragama di sini? Kenapa masih dalam tahap memprihatinkan seperti terjadi di negara-negara lain, bahkan di negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim seperti di Indonesia sendiri? Mengapa seperti tulisan Sumanto Al Qurtuby tadi agama bisa menjadi “faktor pembelah” dan “sumber konflik yang memilukan”? Adakah yang salah dengan dialog antar agama kita? Atau memang sejak dini ada yang salah dengan pendidikan agama di sekolah-sekolah kita yang terbukti mayoritas masih kurang menerapkan pemikiran berdasarkan pluralisme?

Bisa jadi pernyataan ini benar adanya karena Sumanto Al Qurtuby menyatakan bahwa sampai saat ini “format dialog agama di Indonesia belum menunjukkan perubahan yang berarti” (hlm.190) kendati lembaga-lembaga dialog interfaith menjamur di mana-mana lantaran semuanya menurut Sumanto “hanya diisi oleh orang-orang yang memiliki pemahaman keagamaan yang seragam.”

Mungkin jika kita mengamati anggitan Sumanto Al Qurtuby yang menyatakan “format dialog agama di Indonesia belum menunjukkan perubahan yang berarti dikarenakan hanya diisi oleh orang-orang yang memiliki pemahaman keagamaan yang seragam” bisa jadi benar adanya karena sedari awal pendidikan agama kita sejak dini di sekolah-sekolah sudah gagal lantaran kebanyakan hanya lebih bersifat ritual dan dogmatik semata.

Tekanan pengajaran agama di sekolah-sekolah kita menurut Benny Susetyo Pr dalam bukunya Politik Pendidikan Penguasa (LKiS, 2005) tekanan pengajarannya masih terletak pada to have religion, bukannya pada to be religious (hlm.88) sehingga pelajaran semacam itu masih menekankan kesalehan individual daripada kesalehan sosial lantaran agama yang diajarkan di sekolah masih belum mampu membebaskan murid dari kesempitan ritualitas, kepicikan, dan fanatisme buta.

Jika sedari awal pendidikan agama kita salah maka boro-boro menanamkan dialog terbuka antar agama atau paham pluralisme apabila dalam pendidikannya sendiri mayoritas masih menekankan pada kesalehan individual semata.
Pendidikan agama kita kita sekarang ini terkesan membuat orang menjadi suci sampai taat pada peraturan agama sampai sedetil-detilnya (kesalehan individual) tetapi kurang memberi perhatian pada masalah-masalah sosial (kesalehan sosial). Akibatnya memang sadar atau tak sadar dalam banyak hal relasi antar agama di sini masih dalam tahap toleransi bukan pluralisme.

Kita memang toleran terhadap agama lain, tetapi lantaran kita terlalu taat pada kesalehan individual sehingga terjebak atau dengan kata lain “mencetak” pada pribadi-pribadi yang sebenarnya kurang bersedia mendengarkan. Memang betul sikap untuk mampu “bersedia mendengarkan” pihak-pihak yang secara fundamental berbeda agama dan keyakinan bukan persoalan mudah. Oleh karena itu dibutuhkan usaha keras untuk memecah kebuntuan itu baik di tingkat elit maupun akar rumput. Dan di tingkat akar rumput itu sendiri yang diperlukan untuk memecah kebuntuan itu adalah dari pendidikan agama di sekolah masing-masing juga harus memberi perhatian pada masalah-masalah sosial yang menurut Benny Susetyo adalah kesalehan sosial. Lebih lanjut Djohan Effendi mengemukakan masalah ini dalam sebuah makalah yang ditulisnya tahun 2002 di Padang sebagai “agama: ilmu versus laku” yang artinya boleh jadi pendidikan agama yang kita berikan selama ini lebih bertolak dari pendekatan yang memandang agama lebih sebagai ilmu dan bukan sebagai laku.

Pengajaran agama harus terkait dengan realitas kehidupan di mana kita diajak secara aktif melihat, mengamati, mengambil sikap terhadap kejadian itu, bukan hanya sekedar hapalan yang melekat di bibir dan mewarnai kulit, tapi tidak mampu mengubah perilaku.
Pengajaran agama saya katakan harus mampu menjawab realitas bukan kesemuan belaka. Agama bukannya mengasingkan seperti kata Feurbach, guru besar Karl Marx: “agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri” melainkan bisa membaca tanda-tanda zaman.

Sejarah masa lalu sudah membuktikan bahwa ketika agama ”tak mampu membaca tanda-tanda zaman” telah terjadi kepicikan yang menyebabkan masyarakat modern yang ramai-ramai memilih kebenaran, menjadi melihat agama sebagai ”musuh” kejujuran, kemajuan, dan sains.
Sejarah juga telah membuktikan terjadinya “perang agama” masa lalu yang terjadi dalam tradisi Islam, Kristen, Yahudi, dan agama-agama besar lain dapat menjadi sumber kekerasan dan “biang keladi” permusuhan yang disebabkan pada pendidikan agama yang lantaran karena tak mampu melihat kondisi di sekelilingnya secara aktif sehingga boro-boro di tingkat paling rendah sekalipun mau mengubah perilaku.

Rawamangun, November 2009.
(Majemuk, November 2009)