Tag

Image Malam Minggu di bulan October itu dalam sebuah kamar hotel Horisson Bandung saya sulit memejamkan mata barang sekejapan. Besok adalah hari H, the D- Day, atau yang lebih tepatnya lagi hari N. Hari nikah saya dengan sang belahan hati, non Pasundan pilihan tempat saya berencana menghabiskan sisa umur bersama sama. Saya gelisah jelas saja. Sebab walaupun ini bukan perkawinan pertama, tapi bakalan menjadi yang terakhir. Saya sadar saya tidak berbakat dan tidak berminat untuk menjadi Don Juan, Prophet Muhammad, AA Gym atau Nabi Sulaiman. Istri adalah sebuah bumi tempat saya hidup dan menginjakan kaki. Dalam perkara ini Saya tidak berminat untuk hidup di dua dimensi atau migrasi menetap di planet lain selain di sini. Bang Jamal tidur mendengkur di dipan sebelah. Pikiran saya berputaran seperti adonan Pizza. Saya pantas dag dig dug lantaran besok adalah moment yang paling menentukan sejarah hidup saya ke depan. Perkawinan adalah mengukir sebuah prasasti.

Minggu pagi seratus meter dari rumah tunangan, rombongan saya berhenti, keringat dingin mulai bercucuran di balik kopiah dan dasi. Hari demikian cerah. Sekian puluh atau mungkin ratus pasang mata fokus ke arah saya. Barang jemputan dibawa oleh sepupu dan keponakan di depan.Saya berjalan demikian pelan. Di bawah tenda sana sudah duduk sang penghulu dan beberapa tetua yang membuat saya grogi seperti sang terdakwa yang sebentar lagi bakalan diintrograsi jaksa dan polisi. Bu calon mertua menyambut saya dan mengalungkan untaian kembang. Matanya berkaca kaca mungkin dia sedih lantaran anaknya sebentar lagi akan berpindah status hak miliknya.Tapi mungkin juga lantaran dia sadar menantunya bertampang lebih mirip dengan si gendut SBY atau si nerd bung Hatta dari pada George Clooney. Saya cium tangan dia lalu teringat almarhum mama.

Saya gelisah bak mendudukan bara pentul rokok di depan penghulu yang senyum senyum menikmati rasa resah dan ketersiksaan ini. Saya gelisah sampai akhirnya sang Nonon keluar dari rumah. Ah sang calon istri,pemandangan itu sempat membuat jantung ini berhenti. Inikah gerangan partner hidup saya sampai mati nanti? Dalam bilangan nano second saya sempat mengucapkan puji sukur lantaran kini saya percaya Tuhan ternyata menciptakan manusia dari penampakannya sendiri. Saya juga sempat menyelamati diri sendiri lantaran saya sukses menculik dan membawa lari Nonon. Kabarnya kompleks bidadari di sorga kehilangan satu warganya lantaran ulah nakal ini.

Proses hijab kabul tidak mengalami hambatan walaupun saya sempat ketakutan kalau sempat ditanya atau dites oleh penghulu atau wali dari pihak perempuan soal menyebutkan syahadat.Sebab saya susah mengucapkannya dengan lancar walaupun semalaman saya sempat dilatih oleh tante, sepupu dan kakak perempuan untuk menyebutkannya berkali kali.” Ini penting, kalau gagal tes,Habe bisa gagak kawin ” saya meringkuk di pojok tempat tidur ketakutan, ini seriuskah?Meneyebut sahadat terakhir barangkali saya ucapkan ketika Carter masih menjadi President, dan Panbers adalah group idola para remaja di Indonesia.

Walaupun saya bukan seorang muslim lagi, saya harus bisa, ini buat kepentingan hidup saya berdua dengan sang idaman hati. ” Coba ulang ” kata tante Yus yang berkerudung seperti isti nabi nabi.

” Asyahdualah ilahi lalah, MuhamadModar rasalalah ”

” hus bukan MODAR tapi mu..dar ”

kena tulah lu nanti kata kakak perempuan saya setengah ketawa.Saya ulang lagi, walaupun kata modar setelah berkali kali diucapkan sudah mulai terkikis, tapi konsonan terakhir rasulah itu susah lentur di lidah, yang keluar jadi bunyi bunyian yang kedengaran lucu.Seperti orang Perancis yang mencoba berbahasa inggris ala Texas atau orang Batak yang sok njawani. Saya sempat sedih juga kenapa dulu saya yang ber SD di madrasah di Pejompongan bisa sesusah mengucapkan kalimat sesederhana ini. Tapi untunglah di acara Hijab Kabul tidak ada yang mencoba mengetes saya soal Syahadat. Palu pak Hakim mungkin sedang rusak. Saya curi pandang si belahan hati di sebelah kiri, benar benar dia adalah my eye candy. Tapi kenapa dia tidak sekalipun menoleh ke calon suaminya? Saya sempat bertanya tanya dalam hati. Dia begitu kaku seperti koleksi boneka Barbie pajangan rumah. Kelak saya tahu, menoleh ke calon suami atau istri adalah tabu buat penganten baru. Pantesan saya sempat mendengar bisik bisik gosip yang dilontarkan oleh pengunjung acara nikah kenapa penganten cowoknya selalu menoleh ke calon istrinya? Yang satu bilang, “cowoknya udah ngga tahan..” yang satu lagi bilang ” ngga sabar pengen belah duren ” mendengar yang terakhir saya sempat bilang ke Nonon, saya ngga pernah suka dengan Duren yang saya suka buah nangka. Dia ketawa dan saya tanya kenapa?

Duren yang dimaksud penonton bukan yang itu lagee..

O ya?

Nikah adalah sebuah frame dalam roll kehidupan. Berkesan atau tidaknya jelas tergantung aktor dan sutradaranya. Tapi saya kan sudah bilang saya bukanlah laki laki bertampang George Clooney. Hanya saya percaya prosesi nikah momentnya sangat tergantung oleh sang cameraman.Photographer handal yang menyelamatkan dan membingkai frame itu bernama Deden Alaihi salah alias sang juru slamat yang berdomisili di Depok, Jawa Barat. Emcee acara itu ustad muda guru ngaji dan pengurus mesjid dalam kompleks. Melihat bakat dia yang pekat, jika saya Rupert Murdoch, saya akan angkat dia jadi penyiar TV di Fox News Channel menggantikan Sean Hannity

Saya dan istri berdiri di sebuah podium. Pengunjung antri dan datang berjabatan tangan, cium pipi, atau peluk antara mereka yang perempuan dengan istri. Semua yang datang mengucapkan kalimat ngiring bingah yang saya tidak tau artinya.Ah saya benar benar jatuh hati bukan cuma dengan istri tapi juga pada adat Sunda yang lebih kaya dari semua budaya di jazirah Arab sana. Lalu satu persatu antri untuk foto bersama. Saya sempat berpikir, asik juga jadi raja dan pusat perhatian sekali sekali. Seminggu setelah itu saya sempat bilang ke istri, say yuk kita kawin lagi dan jadi raja kecil lagi. Saya lupa apa jawaban dia. Sableng mungkin pikirnya.

Ceramah dan petuah di acara pengantenan bukanlah sesuatu yang sangat istimewa bagi anda yang datang ke sana. Tapi bagi penganten sendiri, acara itu saya nikmati dengan atensi yang tinggi. Om saya bernama Tamadjudin mengingatkan saya pada Temeudjin, sang Genghis Khan yang ironisnya walaupun bertampang mongoloid angker, dia adalah dokter umum yang praktek di bilangan Cilandak, tekenal dengan kedemawanannya yang solid. Saya dengar tidak jarang pasien melarat dia yang datang merawat tidak membayar justru dikasih bekal duit. Sedang ceramah uwak dari pihak istri berasal kampung Cicalengka, 3/4nya saya tidak bisa mengerti lantaran aksen sundanya yang begitu tinggi.

Nikah membuat saya happy, tapi lebih happy lagi adalah setelah acara itu usai, secara formal saya telah memiliki istri yang menurut survey terakhir yang saya edar pada teman teman kerja di sini, 12 dari 13 laki laki bilang istri saya cantik, yang satu sisanya adalah si Damien yang sudah pasti dengki lantaran dia memiliki bini bertampang bagai Michelle Obama, the first Ape.

10 dari 10 perempuan yang saya sodori foto bini, bilang yes, shes very pretty. Bukan, saya bukan sedang mengumbar kesombongan. Tapi kalau saya boleh bertanya pada anda,

sudikah kiranya memberikan jawaban kwis di bawah ini:

Menurut anda, Istri si Habe itu:

a. Ah biasa aja kok
b. dahsyat
c. Habe memang paling paling dah, rejekinya bagus melulu
d. maksudnya lu , ngeledek penampilan bini gue gitu be?

Saya tidak akan menceritakan proses belah duren buat anda.Yang jelas kalau “itu” yang dimaksud Mat Kopling dan seorang pengunjung acara kawinan, semua laki laki normal kecuali si Wiro,Dorce dan sejumlah ppopulan Tawan Lawang tentu pasti dan wajib suka. Dari hasil belah duren nanti, saya sangat mengharapkan seorang
keturunan yang baik, progresif, humble dan baik hati seperti bapaknya. Kalau anak itu laki laki kami berdua sepakat untuk menamakannya, Romney Pelalang Basri. Sebab saya tahu president Amerika berikutnya adalah Mitt Romney, saya ingin anak saya gagah dan cerdas juga seperti dia.Saya juga ingin anak saya melalang Indonesia dan dunia. Agar cakrawala berpikir dia seluas samudra. Kalau anak perempuan saya akan menamakan Keti Akindah Basri. Maunya saya dia semenarik ibunya. Dan kalau bisa lebih merdu suaranya ketika sedang karokean.

Saya adalah laki laki paling beruntung. Maksudnya dibandingkan nasib teman kerja dan mayoritas alumni sekolah atau teman teman semasa kecil. Beberapa orang memang memiliki rejeki dan materi yang bagus, tapi berbini sangat non-bagus. Beberapa lagi memiliki istri geulis tapi memiliki rejeki senasib dengan para penumpang kelas ekonomi di kapal Titanic. Maka wajar saja kalau saya berani mengumbar pernikahan ini adalah finishing touch dalam rangka saya melengkapi hidup yang kita semua tahu begini pendek. Maka ketika hidup hampir komplit saya cuma mau mengucapkan …

Life is good..

January 11, 2012

Diskusi Habe Nikah di Forum: http://superkoran.info/forums/viewtopic.php?f=1&t=55241