Beberapa waktu yang lalu, seseorang mengajak saya berdiskusi. Ia mengutarakan tentang betapa tidak bisa dipercayanya kisah-kisah tuturan agama-agama. Demikianlah kira-kira kalimatnya:

”Coba Aa bayangkan, betapa teganya Pangeran Sidharta meninggalkan istrinya yang baru saja melahirkan hanya untuk menjadi seorang pertapa. Iya sih istrinya masih putri di kerajaan, tidak kekurangan suatu apapun, tapi perasaan cinta kan tetap perasaan cinta. Apalagi ia baru melahirkan anak. Ironisnya anaknya itu ia beri nama ‘Rahula’ yang artinya beban. Hmmm sekalipun anak bisa jadi beban, bukankah anak juga adalah anugerah hidup? Sudah tahu anak itu ‘beban’ koq dia malah meninggalkannya untuk diurus oleh istrinya seorang diri. Ironis sekali cerita ini. Bagi saya Sidharta Gautama tidak bermoral.”

Saya jawab saja, “Untuk hal-hal demikian silahkan anda bertanya pada apologet buddhis. Saya rasa anda akan temukan banyak orang semacam itu di FB. Saya tidak tertarik dengan membela ataupun memberi interpretasi longgar kisah-kisah semacam itu.”

Tidak puas dengan jawaban saya, kemudian dia mengeluhkan pula, “Mana mungkin Sidharta yang masih bayi merah, seketika dilahirkan kemudian langsung berdiri dan berjalan tujuh langkah, kemudian di setiap ia melangkah ada bunga teratai muncul yang menjaga agar kakiknya tetap bersih. dsb. Itu mustahil. Belum dengan cerita-cerita agama Kristen: Yesus membuat mukjizat penambahan roti dari 5 ketul roti dan 2 ikan menjadi banyak tak terhingga, cukup untuk 5 ribu laki-laki (tidak dihitung perempuan dan anak-anak), jasad Yesus bangkit setelah 3 hari mati, lalu Yesus naik ke surga. Belum termasuk irrasionalitas pewahyuan ala Muhammad yang harus menggelepar-gelepar dahulu tak sadarkan diri, lalu berkatarsis ria ini dan itu yang kemudian dianggap wahyu dari Allah. Dengan hasrat berahi ke perempuan dan peperangan yang begitu amoral dalam standar kita sekarang, sukar bagi saya memahami dia masih merasa bangga dan menuntut diri disebut nabi penutup, terakhir dan sempurna.  Dst. Dst. Dst.”

 

Setelah saya sabar mendengar keluhannya.   Akhirnya saya katakan, “ Kisah-kisah agama seperti yang anda keluhkan tadi memang bermasalah.”

 

“Setuju.” Katanya tegas serasa mendapat angin segar dari saya.

 

”Namun yang lebih bermasalah adalah anda dan semua orang yang mempercayai kisah-kisah itu.”

 

“Saya lebih bermasalah? Maksudnya?”

 

“Ya. Sekali lagi saya katakan, kisah-kisah itu bermasalah. Namun anda juga sama bermasalahnya dalam memandang kisah itu. Kenapa? Karena anda dan milyaran umat beragama, baik rohaniwan atau umat awam, menganggap atau bahkan mempercayai bahwa kisah-kisah itu benar-benar terjadi, dan kisah itu mengisahkan sejelas-jelaskan kejadian tersebut apa adanya, itulah masalahnya. Bedanya mereka menerima begitu saja, sedangkan anda tidak menerima dan asyik mengkritiknya. Kalau anda tahu itu bukan kisah sejarah kenapa memusingkan diri dengannya? Kebanyakan itu mitos koq, kenapa begitu sengit dibantah? Boleh saja kita menganalisanya dengan metodologi saintifik, tapi yang lebih penting adalah membuat mereka sadar bahwa itu mitos dan memaparkan kepada mereka motif-motif keagamaan, budaya, dan politik dibalik penciptaan mitos-mitos tersebut ”

 

 

Dia tersentak dan termenung mendengar jawaban saya.

***

Banyak orang yg ketika membaca kisah-kisah dalam agama-agama tidak menyadari bahwa ada banyak lapisan tradisi dan genre kesusastraan yg saling menjalin dalam kisah-kisah itu. Orang awam seringkali dgn begitu polosnya meyakini bahwa semua cerita itu pastilah benar baik dari segi moral dan etika dan benar-benar terjadi dalam sejarah. Keimanan yang begitu polos ini pada gilirannya melahirkan perlawanan rasional dari kaum yang berpikir kritis. Selama ini paradigma milyaran manusia keliru memandang kitab-kitab, sehingga respon atasnya bisa jadi bervariasi :

– Bagi seorang pemercaya buta, mereka akan menerima kisah-kisah itu sebagaimana adanya sebagai kejadian faktual dan menyejarah, terang benderang dalam alur sejarah ruang dan waktu, tak bisa dibantah dan kisah itu membuktikan sendiri kebenarannya (self-proven).

– Bagi umat yang sedikit kritis, mereka mempertanyakan kisah-kisah itu tapi tidak berani mengkritisinya. Mereka mencari penjelasan-penjelasan “ilmiah” yang mendukung kisah-kisah itu, dan menyisihkan penjelasan-penjelasan yang historis analitis yang membedah dan menelanjangi kisah-kisah itu.

– Bagi para rohaniwan yang sudah melek analisa kritis, mereka tahu akan kerapuhan dasar dari kisah-kisah itu. Namun karena panggilan karir mereka sebagai rohaniwan, mereka tidak mau jujur dengan semua keragu-raguan dan bahkan fakta-fakta yang menyanggah validitas kisah-kisah tersebut. Mereka memilih-milih yang ringan dan yang lucu saja untuk umatnya. Ketika ditanya oleh umatnya tentang validitas kisah-kisah itu mereka dengan sigap menawarkan jawaban-jawaban yang samara dari balik jubah kerohaniwanan mereka.

-Bagi seorang yang sangat rasional dan ateistik, ia akan segera menghempaskan kisah-kisah itu sebagai omong kosong tak berdasar.

Begitulah semburat respons dari banyak orang terhadap kisah-kisah agama.  Namun masalah yang paling mendasar, yang muncul, ketika kita membaca kitab-kitab ini sebenarnya terletak pada paradigma kita, pada kerangka berpikir kita. Kita sering berpikir bahwa kitab-kitab agama itu bagaikan surat kabar hari ini dengan gaya bahasa deskriptif, dalam horizon ruang  dan waktu kita saat ini. Tidak. Tidak demikian. Kisah-kisah dalam kitab-kitab tidak ditulis dalam kerangka pelaporan jurnalistik berstandar saat ini dengan motto : langsung, tajam dan terpercaya, dilaporkan dari Tempat Kejadian Perkara, tak lupa pula dengan pelaporan yang obyektif dan berimbang, covering two sides of disputing  sources.

Kita tidak bisa mengandalkan kisah-kisah dalam kitab-kitab itu sebagai self-proven (kisah itu membuktikan kebenarannya sendiri) dan self-explained (kisah itu menjelaskan validitas-nya sendiri).   Namun tidak berarti bahwa kisah-kisah dalam keluhan teman saya diatas itu adalah melulu kebohongan, dan jeratan tipu daya. Ada beberapa kisah yang menyertakan elemen-elemen dalam sejarah. Misalnya dalam kisah penyaliban Yesus ada Prokurator Roma Pontius Pilatus, juga dalam kisah-kisah Buddha ada Raja Pasenadi. Dalam jamannya Muhammad ada kaisar bernama Heraklius. Tiga orang ini memang benar-benar ada dalam sejarah. Namun pertanyaan lebih lanjut adalah, apakah benar Pontius Pilatus dan Raja Pasenadi terlibat langsung membentuk kisah-kisah Yesus dan Buddha, berkata-kata tepat seperti yang dituliskan dalam Injil dan Sutra-sutra buddhis? Apakah Muhammad pernah memberi surat pada Kaisar Heraklius yang berisikan seruan agar Heraklius memeluk Islam? Di sinilah pentingnya analisa historis.

 

Adalah lebih baik untuk memandang bahwa semua kitab agama adalah buatan manusia dalam sejarah, yang ditulis orang-orang tertentu, dalam ruang dan waktu tertentu, dalam lengkungan budaya dan world-view tertentu, dalam bias-bias motif politik tertentu. Mereka menuliskannya demi suatu tujuan dan motif tertentu.

 

Sebagai manusia, para penulis ini tidak bisa lepas dari bias-bias budaya dan keterbatasan bahasa untuk mengungkapkan apa yang mereka percayai.  Sengaja saya menggaris bawahi anak kalimat “apa yang mereka percayai.” Sebab kisah-kisah itu berdasar dari apa yang mereka yakini sebagai benar dan bermakna bagi mereka, dan tidak memiliki penuntutan bahwa apa yang mereka yakini harus diyakini oleh setiap manusia di segala tempat dan di segala jaman. Sebab kalau mereka menuntut kisah-kisahnya diyakini oleh segala manusia di segala tempat dan disepanjang jaman, mereka harus rela agar kisah-kisah ini dianalisa dan didemitologisasi dan didekonstruksi demi mendapatkan signifikansi kisah-kisah itu bagi semua orang.

 

Dan untuk masuk dalam memahami kitab, yang saya tadi sudah katakan tidak bisa lepas dari budaya dan juga gaya bahasa, maka saya ingin mengajak teman-teman untuk menikmati salah satu produk budaya yang sangat indah, yaitu nyanyian. Simaklah video klip ini dan salami lirik-liriknya.

My Luve is Like A Red – Red Rose

my luve is like a red, red rose,

that’s newly sprung in June.

my luve is like a melody,

that’s sweetly played in tune.

as fair art thou, my bonnie lass,

so deep in luve am I,

and I will luve thee still, my dear,

till a’ the seas gang dry.

 

til a’ the seas gang dry, my luve,

til a’ the seas gang dry,

and I will luve thee still, my dear,

till a’ the seas gang dry.

 

till a’ the seas gang dry, my dear,

and the rocks melt with the sun,

and I will luve thee still, my dear,

while the sands of life shall run.

 

but fare thee well, my only luve,

oh fare thee well awhile!

and I will come again, my luve,

tho’ it were ten thousand mile.

 

tho’ it were ten thousand mile, my luve,

tho’ it were ten thousand mile,

and I will come again my luve,

tho’ it were ten thousand mile.

Sengaja saya tutup note ini dengan lagu dan puisi. Dalam note yang akan datang kita akan lebih jauh menganalisa kisah-kisah dan tokoh-tokoh keagamaan secara ringkas.

Iklan