TANYA :

AA saya ingin kembali bertanya dan bertukar pikiran.

Menurut AA apakah yang menyebabkan babi menjadi haram? diluar dari berbagai  penyakit yang menyertainya seperti kolesterol, stroke dll kalau makan berlebihan, saya tidak melihat adanya masalah jika dimasak dengan baik dan benar – apalagi tentu aa juga yakin bahwasanya segala sesuatu yang berlebihan tidak baik. 

Kemudian mereka – terutama islam – mengajukan premis agar logika mereka diikuti, seperti babi ada cacing banyak, babi memiliki dna seperti manusia lah, yang makan babi seperti babi — saya hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal saja, cacing? ya dimasak dong dengan baik dan benar; memiliki dna seperti manusia? ya ampun beda sedikit dna saja bisa jumlahnya milyaran, yang makan babi kelakuannya seperti babi? apa iya? trus gimana dong yang makan sapi atau kambing? — pembenaran seperti itu yang saya rasa diluar nalar dan logika; rakyat china yang telah beribu tahun makan babi tidak pernah ada masalah, bahkan menjadi raksasa ekonomi belakangan ini

Jadi apakah analisa secara logika yang menyebabkan Yudaisme dan Islam mengharamkannya?Saya berpikir bahwasanya ada kemungkinan pada zaman dahulu belum ditemukan teknik memasak yang dapat membunuh cacing pita dalam babi; tapi itupun sempat terpikir gugur karena sapi dan kambing tentu juga ada cacingnya toh? Kalaupun iya dilarang kenapa dalam AlQuran memperbolehkan makan daging babi jika terdesak padahal dalam kitab suci mereka sendiri mengharamkannya (standar ganda detected) — padahal menurut logika sederhana saya sama seperti di Hindu yang mengkultuskan Sapi tapi mereka tidak pernah mengatakan untuk makan sapi jika keadaan terdesak.

Mungkin AA memiliki referensi yang lebih dibanding saya untuk lebih dalam mengulas, menilik, menganalisa dan menelanjangi topik ini?

Salam.

JAWAB :

Halo, mengenai pengharaman babi di agama Yahudi dan Islam, ijinkan saya sedikit berbelat-belit dulu sebelum menjawabnya.

Ada kenaifan yang sering terjadi antara kaum agamis yang awam, fundamental, konservatif dan bahkan radikalis dalam menafsirkan agamanya, dengan kaum ateis (pada umumnya), rasionalis dan empiris dalam menyikapi kelompok yang pertama tadi. Kaum beragama begitu polos, menganggap semua aturan dan dogma dalam agamanya bersifat mutlak benar, sempurna, tak bercacat, tak terbantahkan dan mengatasi analisa logika karena semua itu berasal dari sesosok tuhan / allah yang maha begini dan begitu.  Di lain pihak, kepolosan, bahkan ketidakmautahuan para agamis memancing reaksi para rasionalis yang kebanyakan lebih cerdas, tahu banyak ilmu, terbiasa dengan analisa kritis dan empiris untuk membuktikan keyakinan para agamis ini. Dan dalam derajat tertentu diskusi2 mereka malah menjauh dari natur topik yang dibahas.

Saya ambil contoh kasusnya ya: tentang peristiwa Isra Miraj. Kaum agamis percaya kejadian itu benar-benar terjadi dalam sejarah. Muhammad dibawa oleh Buraq, kuda terbang berwajah wanita cantik dari Mekkah ke Yerusalem, dan dari Yerusalem ke Arrsy. Di sana ia bertemu dengan para nabi sebelumnya, kemudian di surga terakhir ia bertemu dengan allah dan tawar menawar tentang berapa kali shalat itu harus dilakukan muslim.  Muslim yang polos percaya begitu saja kisah ini sebagai kejadian faktual dalam sejarah. Benar bahwa Muhammad diterbangkan Buraq, entah tubuhnya entah rohnya. Benar ia melakukan shalat di mesjid al-Aqsa ( padahal mesjid itu baru dibangun tahun 683, 70 tahun setelah tahun kematian Muhammad, 632 M. Pada saat itu tidak ada bangunan apapun di tempat yang disebut al-aqsa. Yang ada hanyalah tumpukan sampah. Itu disebabkan karena penguasa Romawi tidak mengijinkan kaum Yahudi mendekati dan membangun tempat itu kembali menjadi bait allah.

Kaum rasionalis dengan bersemangat menganalisa lewat sains, mana mungkin tubuh  Muhammad diterbangkan dengan kecepatan cahaya. Bukankah tubuh proto-plasmiknya akan hancur bergesekan dengan udara dengan kecepatan seperti itu? Mana mungkin ada kuda punya sayap, berkepala wanita dan bisa terbang? Muhammad mau dibawa ke atas kemana? Di atas hanya ada bintang gemintang dll. Dan seperti biasa kritik tersebut diakhiri dengan caci-maki para agamis dan seruan bertobat kepada para kaum anti-agamis ini,  “Semoga kalian diberi hidayah, sebelum ajal menjemputmu, mengantarkanmu pada api neraka.”

Kalau kita kembalikan kisah ini dalam perjalanan sejarah agama dalam kerangka kritik historis, kita tahu benar bahwa kisah ini, paling memungkinkan, diciptakan oleh kaum Islam di abad 8 – 9 M, dalam masa-masa formatif Islam di bahwa dinasti Abbasid. Inti kisah ini adalah menggantikan mitos-mitos lama dengan mitos baru. Para tokoh agama lain, yakni Henok, Musa, Yesus, dan Zoroaster dikabarkan naik / terangkat ke surga. Nah, kenapa ini tidak terjadi pada Muhammad? Maka dikaranglah kisah ini. Pada jaman itu, Mesjid Kubah Batu sudah ada, maka dikait-kaitkanlah kisah kenaikan Muhammad ke surga ini dengan Mesjid Kubah Batu. Para pengarang cerita ini lupa bahwa bangunan itu dibangun 70 tahun setelah wafatnya Muhammad (dengan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan penting, seperti misalnya : apakah benar Muhammad ini wafat dalam tahun itu? Benarkah Kubah Batu ini didirikan oleh dinasti Islam? kenapa tidak dijadikan Masjid? kenapa tidak ada kiblat di dalamnya?  dll). Singkatnya, kalau kita melihat kisah itu sebagai suatu upaya politik agama, dimana mitos-mitos lama ditumbangkan oleh mitos baru, maka apa perlu kita menganalisa dengan sains tentang dimana ordinat surga, jika memang surga itu ada di atas? bagaimana tampaknya Buraq itu, apakah aerodinamis atau tidak? dsb.

Dan memang ketika kita mempelajari kisah-kisah sejarah Islam (perhatikan kata “kisah”) kita harus sadar bahwa kisah ini dibuat paling dini 200 tahun setelah kejadian atau jaman yang dia coba komunikasikan, jadi dalam sense of history maka kisah-kisah ini dianggap tidak valid, dan hanya menjadi wahana ideologi kelompok pengusung kisah itu belaka. Mereka tidak menuturkan apa yang sebenar-benarnya sangat mungkin terjadi, namun menuturkan apa yang mereka ingin kita percayai sebagai yang pernah terjadi untuk mendukung asumsi-asumsi dan iman mereka.

Begitu juga dengan kisah Eksodus bangsa Israel dari Mesir, 10 tulah yg ditimpakan pada Firaun dan bangsa Mesri, kenaikan Yesus ke surga, Buddha berkunjung ke surga Dewa Indra,  atau kisah penciptaan manusia. Kisah-kisah demikian tidak perlu dipandang serius sebagai kisah sejarah dan harus dianalisa dengan sains. Jangan menganggap serius cerita2 agama sebagai sumber sejarah faktual. Pahami itu sebagai mitos yang dikarang oleh orang-orang jaman dahulu, dalam bahasa-bahasa simbolis, untuk tujuan egitasi komunitas iman mereka sendiri.  Menganalisa kisah2 itu dengan memakai sense of science entah dengan motif untuk mendukung validitasnya ataupun menghancurkan kredibilitasnya sama saja dengan berdebat tentang berapa ukuran lingkaran payudara Wonder Woman, dan berapa banyak wanita yang pernah dikencani oleh Bruce Wayne (Batman). Mitos koq dianalisa sama metodologi sains. Tapi saya juga sadar bahwa masih banyak orang sukar untuk menerima bahwa kisah2 tersebut hanyalah mitos atau juga kisah –kisah moral berbalut bahasa-bahasa metafora.

Untuk itu kritik pada agama harus juga melibatkan sejarah dan hermeunetik yang kritikal-historikal, bukan semata-mata lewat kacamata pengetahuan fisika, biologi, atau astronomi. Kritik pada agama harus melibatkan filsafat, antropologi, psikologi sosial dsb.

Nah, apakah anda bisa memahami tujuan saya menjelaskan di atas itu, khususnya ketika kita akan membahas tentang pelarangan memakan daging babi di Yahudi, sebagian sekte Kristen, dan Islam ?  Okey, begini: Pengharaman babi oleh agama Yahudi dan Islam tidak semestinya dipandang bahwa tuhan, allah tahu bahwa dalam daging babi terkandung kolestrol dan cacing pita sehingga karena kasih sayangnya, maka babi diharamkan untuk dimakan mengingat medis saat itu belum berkembang (setahu saya, dalam gram yang sama, telur puyuh dan jeroan sapi lebih tinggi kadar kolestrolnya dari pada daging babi). Kalau memang tuhan itu jago meramal, kenapa dia tidak mampu meramal akan bahaya yang ditimbulkan oleh agama2 monoteistik dalam sejarah dan psikologi sosial manusia ? Lihatlah fakta sejarah 3 agama samawi ini dalam hubungannya satu sama lain, dan intra sekte-sekte didalamnya, penuh dengan prejudice, kekerasan, diskriminasi, stigmatisasi, pelecehan pada kaum perempuan, pemasungan berpikir kritis dsb. tidakkah tuhan sadar akan efek negatif yang ia timbulkan dengan menelorkan 3 agama monoteistik ini? (kalau memang benar-benar ada tuhan berpribadi yang berinisiatif memberikan 3 agama tersebut, hal mana tidak saya percayai).

Pelarangan makan daging babi harus dilihat dari segi-segi antropologi dan psikologi sosial masyarakat di sana di jaman itu. Untuk alasan yang tepatnya kita tentu tidak tahu kenapa babi itu diharamkan, namun ada beberapa kemungkinan yang logis yang bisa dikemukakan.

1. Menyangkut masalah Totem & Tabu 

Totem adalah binatang yang dianggap sebagai leluhur, atau memiliki daya magi tertentu, atau menjadi simbol suatu perjuangan khas dari suatu klan atau suku bangsa, dan memakan binatang totem adalah tabu. Di agama-agama India misalnya adalah tabu untuk memakan sapi dan kerbau, karena sapi memberi susu dan dianggap sebagai ibu, sedang kerbau digunakan untuk membajak sawah dan hewan helaan. Memakan mereka adalah sama dengan membunuh peradaban.

Badra Naya memberi saya alamat ini,dan katanya ini memang akan diterjemahkan. Saya kutip salah satu paragraf darinya :

http://www.reocities.com/spenta_mainyu_2/sabian2.htm

Makanan Yang Dilarang

Ada daging hewan yang dilarang untuk dimakan sesuai dengan iman Sabian, yakni semua jenis bangkai; semua hewan yang dibunuh tanpa darah mengalir keluar, semua jenis karnivora dengan kuku belah, terutama babi dan anjing, burung pemangsa dan keledai. (Ini semua dilarang. Dalam Yudaisme disebut ‘herem’, dan dalam Islam ‘haram’ QS 5:3). Babi dilarang dalam Yudaisme, (Perjanjian Lama Imamat, Ulangan 14:8), dan akibatnya Islam pun melakukan pelarangan yang sama.  Larangan babi berasal dari kaum Sabian dan mereka yang hidup jauh sebelum kitab Perjanjian Lama dikanonkan. Ini adalah maslaah  larangan totem. Babi adalah binatang totem. Para anggota klan membangun ikatan antara binatang totem dan diri mereka sendiri. Menurut orang-orang ini binatang totem memiliki karakter yang luar biasa, beratribut super, dan dapat melindungi anggota klan. Itulah sebabnya hewan ini tidak harus dibunuh, dagingnya tidak boleh dikonsumsi. Babi adalah hewan dewa yang adalah musuh Osiris, menurut Herodotus. Dan bahwa dewa itu disebut ‘babi.’ Ini adalah dewa malam dan pelindung kejahatan. Pada malam terang bulan babi dikorbankan untuk bahwa sang dewa dan dagingnya dikonsumsi pada upacara-upacara tersebut (sebagai simbol penyatuan antara binatang totem dengan klan tersebut). Menurut Ibn Nadim, kaum Sabiun terbiasa mengorbankan babi bagi para dewa mereka sekali setiap tahun dan daging babi itu dikonsumsi. 

Jadi, dalam tradisi kaum Sabian, babi adalah binatang totem yang tabu untuk dimakan, tapi dilain pihak ia dikorbankan kepada para dewa dan dagingnya dimakan bersama pada upacara itu sebagai simbol ikatan antara binatang totem dengan klan yang dilindunginya. Siapakah kaum Sabian ini ? Apa yang nantinya disebut agama Sabian sebenarnya adalah agama dimana Ibrahim / Abraham berasal, menurut beberapa penulusuran sejarah kritis. Tokoh legenda Abraham berasal dari lingkaran sekte keagamaan purba ini yang begitu terkenal, karismatik dan berpengaruhnya sehingga nantinya ketika agama Yudaisme diformulasikan di abad-abad 9 – 7 SM, maka Abraham dijadikan patriakh milik bangsa Israel, dan ajaran2 agamanya diserap dan dikontekstualkan dengan kebutuhan mereka saat itu, termasuk perihal pelarangan memakan babi.

2. Geografis Israel

Menurut tuturan kitab-kitab Perjanjian Lama, kita mempelajari bahwa bangsa Israel Raya setelah dipimpin oleh Daud  dan Sulaeman yang masing-masing berkuasa selama 40 harus terbagi kedalam 2 kerajaan: Yudea di selatan dengan ibukotanya Yerusalem, dan Israel di utara dengan ibukotanya Samaria. Dikatakan bahwa sepuluh suku Israel memberontak melawan cucu dari Daud dan mendirikan kerajaan sendiri di utara beserta agama-agamanya sendiri. Sedangkan  kerajaan Yudea di selatan tetap mencoba taat pada agama nenek moyangnya, agama Musa.

Namun kisah di atas hanya kisah teologis yang belum tentu benar-benar menyejarah. Pada tahun 2000an  dua orang arkeolog Israel Neil Silbermann dan Israel Finkelsteinn melakukan ekskavasi di tempat-tempat bersejarah seperti Megiod, Ai, Yerusalem dll  dan menemukan hal-hal yang mengejutkan. Mereka mendapati kisah-kisah tentang Daud dan Sulaeman sebagai tokoh yang benar-benar ada, namun hidup mereka jauh terpisah jarak jamannya. Bahkan di jaman Daud, kemungkinan Yerusalem bukan kota kerajaan  besar, mungkin hanya sebuah desa kecil ! Sangat mungkin bahwa kisah-kisah yang kita kenal tentang dinasti Daud ini hanyalah kisah karangan yang ditulis oleh penguasa Yudea untuk kepentingan politiknya. Yudaisme, Kristen  dan Islam menerima kisah-kisah itu begitu saja sebagai sejarah suci, padahal tidak demikianlah apa yang benar-benar terjadi.

Kedua arkeolog ini menerbitkan buku berjudul : The Bibel Unearthed. Dan dalam buku itu mereka mengupas perbedaan antara 2 kerajaan. Kerajaan Israel di utara tampaknya kerajaan yang makmur, sebab terletak di daerah yang makmur dan cukup mendapatkan air dari sumber sungai Jordan. Sedangkan kerajaan selatan, Yudea, adalah kerajaan kecil yang ngampung dengan peradaban yang begitu bersahaja. Ini sangat berbeda dengan apa yang dapat dibaca dalam kitab-kitab Perjanjian Lama di mana Tuhan / Allah mencintai Yudea dan membenci Israel yang suka menyembah berhala.

Dari ekskavasi lebih lanjut, di utara ditemukan tulang belulang babi, sedangkan di selatan tidak pernah ditemui satupun. Dari segi geografis hala ini dianggap wajar karena kontur tanah Yudea yang berbukit-bukit dan kering tidak memungkinkan hutan-hutan yang rimbun dan perladangan yang memadai. Tampaknya memang babi tidak pernah hidup di sana. Apalagi kerajaan Yudea berbatasan dengan Padaang Gurun Sinai yang kering, nampaknya wajar bahwa kehidupan sangat keras dan kurang maju. Sedangkan negara Israel di utara berbatasan dengan Libanon, dan datarang tinggi Golan Syria yang sejuk.

Pada abad 8 SM, seiring dengan menguatnya kerajaan Asyur / Syria di utara, akhirnya kerajaan Israel di utara dihancurkan oleh Asyur, dan rakyat di utara melarikan diri ke Yudea di selatan. Pada saat itu kota Yerusalem yang tadinya kecil dan tidak berkembang, tiba-tiba dibanjiri oleh orang-orang utara dan berkembang 10 kali dari sebelumnya. Ketika suatu kota dan kerajaan berkembang tanpa kendali, apa lagi di masa peperangan, maka social-cost nya sangatlah tinggi, kejahatan, plot-plot politik, kudeta dsb adalah umum. Pada saat itu raja yang berkuasa di Yudea, Josiah, mengambil tindakan politis yang brilian. Karena suku-suku dari utara memiliki agama-agama yang berbeda, dengan suku-suku di selatan, maka ia mengambil keputusan untuk memformulasikan agama baru yang lebih ketat untuk mewadahi aspirasi spiritual rakyatnya dan tujuan politis dinastinya. Dari sinilah ia mengambil agama musa sebagai agama kerajaan dan YHWH sebagai allah kerajaan itu. Praktek-praktek agama politeistik dari utara dilarang, kuil-kuil persembahan pada Baal di bakar, imam-imamnya dibunuh. Mulai dari sinilah sebenarnya sebagian dari kisah-kisah Perjanjian Lama berevolusi ke dalam bentuk yang kita kenal sekarang.

Apakah benar Musa pernah ada? mungkin, tapi yang jelas ia tidak membawa setidaknya 2 juta bangsa Israel keluar dari Mesir melewati laut, dan berputar-putar selama 40 tahun di gurun Sinai seperti yang dipercayai oleh Yudaisme, Kristen dan Islam. Fakta arkeologis menyebutkan tidak pernah ada catatan tentang keluarnya bangsa Israel dari Mesir dalam jumlah besar, dan tidak pernah ada kejadian 10 tulah allah di Mesir. Bahkan di Gurun Sinai tidak pernah didapati fosil atau sisa-sisa apapun yang menunjukkan ada suatu bangsa pernah berkeliaran di gurun itu selama 40 tahun !

Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Untuk apa kisah-kisah itu dituliskan? apa tujuannya? Tujuan penulisan kisah-kisah itu diabad  7 SM oleh para penulis kitab di bawah instruksi Raja Yosia adalah untuk membangun sebuah kerajaan yang kuat, menyatukan mereka yang berbeda secara agama dan adat ke dalam satu negara-bangsa yang kuat dibawah panji-panji semangat keagamaan : one God (Yahwe). one king (Yosia), one dinasty (Daud), one priest (Harun) one Prophet (Musa), one religion (Yudaisme) ! Pahamkah anda sekarang ?

Yahwe, tuhan bangsa Israel, tadinya bukan satu-satunya dewa dalam masyarakat Yudea dan Israel. Pada jaman itu ada banyak dewa sesembahan mereka. Yahweh hanyalah salah satu darinya. Ada banyak dewa sesembahan bangsa kanaan dan Israel, diantaranya adalah Baal, Asyitoret, Dagon dll. Bahkan Yahweh memiliki seorang istri, namanya dewi Asherah, dewi kesuburan !  Sekarang dengan mengetahui fakta-fakta ini, masihkah kita berpikir ada sejarah suci agama yang bersifat faktual dan linear yang memuncak pada suatu figur nabi misalnya Musa, Yesus atau Muhammad? Ternyata faktanya adalah manusialah yang mengangkat sesosok dewa jadi tuhan dan allahnya, bukan sebaliknya, tuhan mengangkat seorang nabi dan suatu bangsa !

Musa, kalaupun tokoh ini pernah ada, tidak secara langsung bertanggung jawab atas pembentukan agama Yudaisme dan kanonisasi kitab-kitab Taurat yang terjadi ratusan tahun setelah ia wafat.  Hal yang sama terjadi dengan agama kristen, dan Islam. Kelak imperialis Arab melakukan hal yang sama yakni mengangkat suatu tokoh dan agama tertentu, memoles kisah-kisah berdasarkan motif politis, kebutuhan dan konteks budaya dan jaman mereka di abad 8-10 M di Irak, Iran dan Syria.  Tokoh yang bernama Muhammad ini belum tentu mengatakan dan bertindak seperti apa yang ditulis dalam Sirat, Sunnah dan Hadits yang ditulis 200 tahun setelah wafatnya. Sang Kalifah yang berkuasa, lewat para juru tulisnya, menggiring umatnya pada suatu ideologi bersama yang dilandasi atas intervensi penyelenggara ilahi dalam sejarah, untuk suatu tujuan politik – Communitiy Building. Sekali lagi kita temukan motif yang sama : one God (Allah), one Prophet (Muhammad), one priest (Ali), one ideology (Islam), one king (Al Makmun?), one dinasty (Abbasiyah).  Got it ?

Ketika kita melihat “sejarah agama” – sadarlah bahwa itu paling mungkin bukanlah sejarah faktual, namun kisah-kisah yang ditawarkan oleh lingkaran kelompok iman tertentu dalam perspektif keimanan tertentu, dalam motif politik tertentu,  yang menginginkan pembacanya untuk mempercayai bahwa kisah-kisah tersebut seakan-akan pernah terjadi. Pelarangan babi dalam Hukum Musa yang sekarang kita ketahui diformulasikan di abad 7 SM dibawah instruksi Yosia, dipercaya bulat-bulat bahwa itu berasal dari tuhan/Yahwe/ Allah, padahal sama sekali bukan. Dengan demikian maka tidak ada dimensi ilahinya di sini, yang ada adalah dimensi antropologi, budaya dan psikologi sosial.

3. Faktor Kearifan Lokal.

Kita tahu bahwa ribuan tahun lalu, kehidupan sangat berbeda dengan sekarang. Pada saat itu kebebasan berekspresi invididu ditenggelamkan dalam peraturan-peraturan keluarga dan kesukuan. Dalam aturan kesukuan kita mengenal pakem-pakem, tabu dan kearifan lokal. Bisa jadi pelarangan babi, disamping faktor totem dan geografis Yudea yang tak memungkinkan, juga dikarenakan faktor kearifan lokal. Suku-suku Israel memandang babi sebagai hama yang harus dienyahkan, dimusuhi bagi pertanian mereka yang memang tidak bagus. Menyukai babi berarti memberi lahan bagi pembudi-dayaannya. Dari mana mereka mendapatkan pakan berlimpah untuk babi-babi ini yang dikenal rakus, sementara ladang mereka pun tidak cukup subur ? Silahkan anda pikirkan hal ini.

Selain babi dianggap binatang yang rakus dan pemalas (dan ini subyektif sekali !), cara pemotongan babi yang dianggap tidak wajar oleh suku-suku Israel memungkinkan pelarangan babi itu. Setahu saya babi tidak dipotong dileher yang dianggap wajar oleh orang Yahudi dan Islam, yang sebenarnya juga praktek yang tidak berkepribinatangan juga, melainkan dipukul dan disiksa dahulu. Di Barat yang modern mereka mengharamkan praktek pembunuhan pada ternak tanpa pembiusan terlebih dahulu, dan saya percaya ini juga berlaku pada pemotongan babi.   Jadi anda bisa lihat, dengan akal yang sehat, kita bisa mengurangi kekerasan pada mahluk lain, sekalipun pembunuhan memang tak terhindarkan.

Nah, sekarang adakah sudah jelas semuanya? Intinya, semua fenomena keagamaan harus dicermati secara kritis dari perspektif sejarah, budaya, antropologi, psikologi sosial dll yang runut, rasional dan logis, bukannya lewat cocologi spiritual yang mengait-kaitkan sains untuk mendukung asumsi bahwa ada sesosok intelegent supranatural yang tahu masalah higienis tidaknya suatu produk makanan, tapi di lain pihak sosok ilahi itu bertindak ceroboh, lalai, diskriminatif dan konyol dengan memberikan agama-agama pada manusia sebagai standar kebenaran mutlak dan malah cenderung jadi piranti pencuci otak kaum yang intelektualitasnya kurang dan kendaraan politik bagi para penguasa.