Pertemuan saya dengan Nazaruddin, Senin, 28 November 2011 selama 4 jam di Rutan Cipinang, Jakarta Timur. Kasusnya menciut berkutat di urusan Wisma Atlit ke nama Yulianis, Rina dan Rosa saja – – sudah duluan divonis. Simaklah persidangan pertamanya hari ini menjadi bukti. Segitukah nyali KPK? Heboh berbangsa dan bernegara tak sebanding “pentas” persidangan hari ini.


Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, mantan anggota Komisi III DPR RI,  saat saya  temui mengenakan baju putih lengan panjang. Tepi kerah bajunya bermotif benang biru tebal. Ia tampak lebih kurus dibanding saat  baru mendarat di Halim setelah diterbangkan dengan pesawat  Gulfstream dari Bogota, Kolombia.

Suara azan Magrib mengumandang. 

Nazar  diam.

“Saya puasa,” katanya.

“Supir yang  biasa mengantar makanan sakit.”

Ia lalu mengambil  sebotol aqua,  dan  wafer coklat kotak.  Sembari menunggu seseorang yang membeli nasi Padang, kami mengobrol.

 

“Pak Iwan, kalau dibilang penjara itu surga, sini  seminggu coba di dalam.”

 

“Mana,  ada nggak  wartawan mau nyoba, seminggu  di penjara?” tantangnya.

 

“Biar ditempat yang dianggap paling ‘mewah’ sekalipun!”

 

Ia melempar omongan penjara surga, agaknya, berkait ke topik yang pernah diangkat oleh program teve Indonesia Lawyer Club (ILC) Tvone. Nazar lalu bertutur ihwal perkiraan dugaan yang akan didituduhkan kepadanya di persidangan hari ini Rabu, 30 November 2011.

 

“Untuk Wisma atlit, saya belum pernah di sidik,” ujarnya.

 

Perihal itu, salah satu tim lawyer Nazar, Hotman Paris, pernah mengatakan kepada media hal  sama.

 

Kok bisa disidangkan?

 

Pihak lawyer mengatakan, ini tentu berkait ke pengakuan Rosalindo Manulang, yang sudah duluan divonis. Dan kesaksian dua orang  yang  mungurus keuangan di PT Anak Negeri, yakni  Yulianis dan Oktarina Furi alias Rina.  Kedua saksi  itu menurut tim lawyer sejak awal diperiksa hingga kini diinapkan bilangan Bogor  dalam pengawasan penuh Komisi pemberantasan Korupsi (KPK).

 

Lantas bagaimana dengan  nama-nama yang sudah pernah diperiksa oleh KPK? Seperti Angelina Sondakh – – mengingatkan akan apel Washington dan Apel Malang – –  Mirwan Amir, Wayan Koster?

 

“Apa KPK  berani bertanya ke dua belas orang di fraksi  di mana  Angelina Sondakh memberikan pengakuannya tentang proyek Wisma Atlit, dan siapa saja yang kebagian? “ kata Nazar.

 

Saya diam.

 

Saya balik bertanya bagaimana pula dengan kasus proyek Hambalang, yang menyebutkan ada aliran  dana bahkan  diduga mengalir ke sosok Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat,  sebesar Rp 50 miliar, melalui tangan  Mahfud Suroso, yang menjalankan operasional proyek di bawah kendali Nazar dan Anas?

 

Di banyak kesempatan ke media acap saya pertanyakan mengapa sosok itu tidak dipanggil KPK, sementara kediaman Mahfud di bilangan Pondok Indah, saya jumpai sudah rata dalam arti riil dengan  tanah. Seorang penjaga mengatakan bahwa kediaman itu hendak dibangun ulang.

 

Nazar  menyebut ada sejumlah dana yang masuk kepada Anas Urbaningrum dan isterinya. Hal ini pernah juga ditulis dan dikonfirmasi majalah Tempo. Namun Anas dan isteri membantah.

 

Anda  begitu dekatnya dengan Anas, mengapa seakan patah arang?

 

“Benang merahnya di pertemuan pagi saat di Cikeas. Di saat kasus Wisma Atlit telah mengemuka.  Di depan Pak SBY saya katakan  beberapa proyek yang  digarap. Saya katakan apa yang saya jalankan diketahui Ketua Umum. Saat itu Pak SBY bertanya kepada Anas, dan Anas menjawab dia tidak tahu-menahu. Di situ saya merasa terpukul. Sakit sekali!” tutur Nazar.

 

“Pak Iwan ingatkan, sorenya saya diminta Anas ke Singapura.”

 

“Tanggal 24 Mei-nya saya ditetapkan tersangka.”

 

Perihal keterangan itu pun sebetulnya bukan barang baru. Dalam file saya beberapa media pun sudah menuliskan, terlebih Tempo.

 

Maka jika hari-hari belakangan publik bertanya, mengapa  kasus ini seakan anti klimaks, hanya keharibaan tekun memverifikasi-berlanjutlah  yang akan menjawab;  mengantar ke ujung kebenaran.

 

 

DUA bulan lalu  Muhammad Rahmad, mantan staf ahli  Anas Urbaningrum,  di Fraksi Demokrat, pernah datang ke rumah saya. Ia mangajak menulis buku dan mewawancarai banyak  pengurus Demokrat, yang intinya membantah keterangan Muhammad Nazaruddin. Rahmad kini salah satu Wakil Direktur Eksekutif Partai Demokrat.

 

Menulis, memverifikasi banyak hal memberikan  keuntungan mengantar  kita  ke banyak puzzle terlepas.

 

Rahmad contohnya.

 

Ia saya kenal ketika  memverfikasi kasus pembunuhan mahasisawa Indonesia di NTU, David Hartanto Wijaya pada 2009 lalu.  Saat itu  Rahmad, Sekrtetaris III Kedubes kita di sana. Awal 2010 ia keluar dari Deplu bergabung  menjadi staf ahli Demokrat. Melalui Rahmad saya punya  akses  baik  Anas dan Nazar.

 

Maka permintaan Rahmad, menulis buku versi dia saya tolak.

 

Bagi saya Nazar dan Anas adalah sama. 

 

Sama-sama bermasalah dalam dugaan menghimpun dana untuk kepentingan politik dan dirinya merebut berbagai proyek APBN.

 

Karenanya menjadi sangat lucu bila saya menulis buku sepihak.

 

Di lain sisi, oknum Partai Demokrat,  hingga hari ini ada  saja yang menuding saya antek Nazar, karena  saya bisa melakukan skype  di saat Nazaruddin dalam pelarian.  Tentu sah saja.  Dan adalah sah juga saya menyebut bahwa  pekerjaan ber-skype itu menjadi bagian verifikasi tiada henti hingga saat ini dan seterusnya.

 

“Semua saya berbuat untuk Anas. Kami punya target Anas  menjadi Presiden untuk 2014. Itu semua harus dengan uang. Memang mana bisa menjadi Ketua Umum partai tanpa uang,. Pak iwan kan tahu?” ujar Nazar

 

Kalimat itu juga sudah banyak diumbar Nazar ke berbagai media.

 

Alex Lay, yang pernah menjadi lawyer KPK,  di Tvone pernah menyebutkan bahwa semua omongan Nazaruddin bohong belaka. Dalam konteks saya yang menjalankan verifikasi, kepada banyak media saya katakan paling tidak 50% omongan Nazar kebenaran.

 

Di mana di antaranya kebenarannya?

 

Saya melacak bangunan Gedung PT Anugrah Nusantara, perudsahan bersama Nas dan Nazar.  Kantornya di Jl Casablanca, di pojokan kiri di samping Hotel Haris di jl..  Saharjo, Jakarta Selatan.  Sejak 2008 Anas Urbaningrum, acap ngantor di sana. Setidaknya  melalui keterangan tukang rokok di samping bangunan, mengaku acap  melihat  Anas bersama Nazar shalat Jumat di belakang kantor mereka itu.

 

“Anas ada di akte perusahaan.”

 

Kalimat itu pun sudah pula pernah ditulis Tempo, bahkan Tempo mendapatkan kutipan Anas yang mengatakan ia sudah keluar, namun bukti dokumen keluarnya dari akte perusahaan tak pernah dijumpai Tempo.

 

“Begini sajalah Pak Iwan, pada 2009  Metro tv di antaranya pernah wawancarai Anas di kantor kami itu. Cari sajalah file-nya ada itu,” ujar Nazar.

 

“Jadi apa yang harus dibantah Anas tentang tak ada kaitan saya dengan dia? Saya itu berbuat dan bekerja untuk dia, bahwa ada bagian saya, kan sah juga secara bisnis?” ujar Nazar.

 

 

 

WAKTU sudah menujukkan pukul  17.30. Seorang kerabat Nazar datang dengan 4 kotak nasi Padang. Nazar membuka bungkusan kuah dan sayur singkong. Ia tampak lahap menyantap goreng ayam dan rendang bersama sambel ijo.

 

Jadi persidangan Rabu nanti Anda nilai bagimana?

 

Nazar nyengir lalu tertawa. Ia tak langusng menjawab pertanyaan saya.

 

“Pak, di sini saya agak mendingan.  Bisa bicara dengan banyak tahanan lain. Di Mako Brimob saya sendiri. Ini pun ada aja tangan yang ingin mengusahakan saya dibalikin ke Mako,” ujar Nazar.

 

Saya ikut menemani berbuka  Nazar. Azan Isya  baru saja berlalu di  Senin malam itu.

 

Jika yang diproses hanya kasus receh, Wisma Atlit dan hanya di Yulianis dan Rina saja bagaimana?

 

“Rina itu sudah lama saya  tak jumpa, terakhir  2009. Dan menjadi lucu kan saya tak pernah disidik hingga hari ini soal  Wisma Atlit itu. Lihat sajalah nanti pengadilan Rabu, masalah hanya diciutkan ke   dua nama itu dan saya saja.”

 

“Yulianis itu juga dalam kendali Anas, karena ya di perusahan saya, ya perusahan Anas.”

 

Nazar lalu nyengir lagi,  tanpa ia pedulikan butiran nasi di mulutnya seakan hendak muncrat.

 

“Maka saat ini, satu saja yang saya sesalkan. Isteri saya sudah jauh hari mengingatkan. Tak usahlah berpolitik. Berbisnis saja!”

 

“Saya melanggar nasehat isteri saya.”

 

“Saya merasa hancur karena melanggar nasehat itu.”

 

“Hancur hati  terpisah, saya berdosa dengan anak-anak saya harus  seperti ini.”

 

Kepada saya Nazar berjanji memberikan data tambahan bagaimana fakta hubungannya dengan Anas nyata. “Mobil Toyota Harrier Anas, itu dibeli di Duta Motor, Pecenongan, dari uang dari fee proyek kami. Itu contoh lain yang saya punya bukti,” ujarnya.

 

Lantas Anda bicara terus soal Anas dan bukankah telah  dilaporkan pencemaran nama baik?

 

“Ya silakan saja. Saya punya bukti. Dan kalau KPK benar bekerja, persidangan hari Rabu pasti akan berbeda, ini kan tidak.”

 

“Saya yakin publik kecewa. Keadilan dalam memberantas korupsi, hanya bergantung kepentingan dan kekuasaan.”

 

Dok Pribadi