Setelah Bali dan Banda Aceh, Bandung adalah tempat favorit urutan ketiga dalam daftar daerah favorit saya di Indonesia.

 

Ada banyak alasan yang membuat saya menyukai Bandung, diantara sekian alasan itu adalah suasana Bandung yang begitu dinamis dan muda. Sebab  Bandung adalah kota yang dinamika kesehariannya didominasi oleh para mahasiswa.

Bersama Yogyakarta dan Malang, Bandung adalah tempat tujuan kuliah para mahasiswa yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia.

Sebenarnya kota seperti Jakarta dan Surabaya juga memiliki populasi mahasiswa yang tidak sedikit, tapi di kedua kota yang saya sebutkan terakhir, aktivitas bisnis dan industri jauh lebih dominan dalam mewarnai keseharian kota ini, sehingga warna muda dan dinamisnya aktivitas anak muda di kedua kota ini tidak sedominan di Bandung.

 

Sebagaimana kota-kota yang didominasi oleh aktivitas anak muda, Bandung begitu berwarna penuh ide dan gaya-gaya yang segar. Tapi sebagai kota yang menjadi tujuan kuliah mahasiswa dari seluruh Indonesia ada perbedaan mencolok yang membedakan Bandung dan Yogyakarta.

 

Yogyakarta yang merupakan pusat budaya Jawa, masyarakatnya masih begitu kental menganut budaya ini dalam keseharian. Sehingga karakter ini tampaknya memberi pengaruh besar kepada cara hidup dan kreativitas anak-anak muda yang ada di kota tersebut. Kreativitas anak muda berkembang di Yogyakarta saya perhatikan secara umum selalu memiliki sentuhan etnik dan lokal, trend yang berkembang dari Yogyakarta seperti kaos Dagadu misalnya berisi berbagai kreativitas dan humor dengan sentuhal lokalitas Yogyakarta yang kental dengan pengaruh lokalitas Jawa.

 

Sementara di Bandung, yang secara geografis dekat dengan Jakarta yang sejak zaman Belanda sudah menjadi tempat tujuan liburan akhir pekan warga menengah ke atas dari ibukota, secara budaya banyak bersentuhan dengan budaya kota besar yang kosmopolit. Persentuhan yang intens dengan warga menengah ke atas asal Ibukota yang berlibur ke Bandung, tampaknya membuat kota ini menyerap gaya kosmopolit dari kota Metropolitan dengan budaya kontemporer seperti Jakarta. Sehingga meskipun masih menyisakan ruang buat berkembangnya kreativitas berbasis nilai dan kultur Sunda, tapi di Bandung kultur muda bergaya kosmo terlihat lebih dominan.

 

Sesuai dengan julukannya sebagai Paris van Java, Bandung adalah kota mode-nya Indonesia. Tapi tidak seperti Paris yang identik dengan mode bermerk Internasional dan harga selangit. Bandung mengembangkan sendiri mode khas Bandung dengan memanfaatkan kreativitas anak mudanya, yang dijual oleh Bandung dalam hal mode ini adalah kreativitas, bukan merk. Sejak lama Bandung dikenal dengan pusat mode untuk pakaian berbahan Denim, Cihampelas dengan deretan toko jeans yang menampilkan display toko yang unik adalah ibukota Jeans yang sejak lama dikenal secara nasional. Beberapa tahun belakangan ini muncul distro yang menjual desain-desain unik yang dibuat terbatas. Dan lebih baru lagi, di Bandung bermunculan factory outlet yang menjual produk fashion bermerk dengan harga miring.

 

Jika Bali adalah tujuan wisata utama di Indonesia untuk turis manca negara, Bandung adalah tujuan utama turis lokal.

 

Setiap akhir pekan, Bandung banyak dikunjungi oleh turis lokal asal Jakarta yang selalu memenuhi toko-toko fashion yang ada di kota ini. Bahkan belakangan, tidak hanya Jakarta. Bandung juga menjadi kota kunjungan favorit bagi warga Malaysia. Begitu populernya Bandung di Malaysia sehingga sejak beberapa tahun yang lalu sudah ada jalur penerbangan langsung dari Malaysia ke Bandung, tanpa perlu singgah di Jakarta. Sekarang perjalanan dari Kuala Lumpur ke Bandung menjadi begitu mudah dan murah, bayangkan saja Perusahaan Penerbangan Air Asia bahkan terkadang menawarkan tiket hanya seharga Rp.500.000- Kuala Lumpur – Bandung Pulang Pergi. Dan seperti warga Jakarta yang berkunjung ke kota ini, warga Malaysia yang berkunjung ke Bandung juga umumnya datang untuk berbelanja produk-produk fashion.

 

Saya sendiri sangat menghindari mengunjungi Bandung di akhir pekan, karena banyaknya pengunjung yang datang ke Bandung setiap akhir pekan membuat jalanan Bandung yang sempit macet di mana-mana dan kita pun tidak dapat menikmati suasana Bandung secara maksimal.

 

Sebagai kota tujuan wisata kelompok kelas menengah ke atas, Bandung juga menyediakan banyak restoran berkelas dengan berbagai macam type. Adanya berbagai universitas di Bandung yang memiliki fakultas Arsitektur, membuat gaya arsitektur restoran-restoran berkelas ini juga tampak menarik. Berbagai gaya arsitektur dieksplorasi untuk menghasilkan tampilan berkelas, mulai dari yang bertipe tradisional, gabungan antara modern dan tradisional sampai yang memiliki gaya kontemporer. Restoran-restoran seperti ini tersebar di pelabagai sudut kota Bandung, mulai dari di tengah kota sampai ke daerah pinggiran yang berbukit-bukit seperti restoran The Valley dan The Peak yang terletak di ketinggian menawarkan pemandangan lampu kota yang gemerlap.

 

Menariknya di Bandung, di antara deretan restoran berkelas yang lapangan parkirnya dipenuhi mobil-mobil mulus milik konsumen, juga terselip warung-warung tenda tradisional yang menawarkan makanan berharga murah dengan konsumen masyarakat menengah ke bawah. Contohnya seperti yang terlihat di salah satu sudut Jalan Sumatera ini.

 

Soto Madura di tengah jepitan restoran berkelas di Jalan Sumatera

 

Bahkan di dekat lampu merah jalan Sumatera, berseberangan dengan restoran Tony Jack yang sudah bangkrut tampak warung pecel lele yang seolah sedang bertarung berhadap-hadapan berebut pelanggan dengan Pizza Hut, sebagaimana layaknya dua petinju yang sedang bertarung di ring.

Pecel Lele Vs Pizza Hut

Warung-warung tradisional seperti ini tidak hanya terdapat di Jalan Sumatera, tapi tersebar di seluruh pelosok Bandung.

 

Bagi pengunjung kota Bandung dengan bekal uang pas-pasan, warung-warung seperti ini tentu menjadi pilihan sebagai tempat untuk mengisi perut.

 

Meskipun secara tampilan fisik restoran ini jauh kurang menarik dibandingkan dengan restoran-restoran berarsitektur indah, tapi makanan yang ditawarkan oleh warung-warung murah ini tidak kalah secara rasa. Ada beberapa warung murah yang menyajikan masakan dengan rasa yang istimewa sehingga juga ramai dikunjungi oleh konsumen menengah ke atas. Tempat seperti itu sebut saja misalnya nasi goreng di jalan Jawa, ayam goreng RCTI (disebut begini karena lokasinya ada di depan kantor RCTI), perkedel bondon di dekat gedung Asia Afrika atau Bubur Ayam Mang Oyo yang merupakan tempat makan favorit saya untuk sarapan pagi.

 

Di Bandung, meskipun sesekali saya juga mengunjungi restoran-restoran seperti Sapu Lidi, Kampung Daun atau The Valley, tapi untuk makan sehari-hari di Bandung tentu saja saya lebih memilih makan di warung-warung murah seperti ini. Itu karena di samping harganya yang jauh lebih murah dibanding restoran-restoran yang saya sebutkan di atas. Makanan yang ditawarkan oleh warung-warung murah ini memang adalah jenis makanan yang saya konsumsi sehari-hari.

 

Wassalam

 

Win Wan Nur

Traveller Veteran