Seorang ibu mengirim email di FB saya. Beliau bertanya apa saya ada waktu untuknya berkonsultasi. Kebetulan saya sedang online, maka saya sanggupi. Tak lama kemudian ia menyampaikan kisah prahara yang dihadapinya dalam keluarga, menyoal masalah perceraian yang akan ia hadapi. Suaminya ketahuan memiliki kekasih lagi yang sudah ia jalani setahun lebih, dan dengan mantap ia meminta cerai dari istrinya untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang baru dengan kekasih barunya itu. Dan sebagai tambahan, ini bukanlah perempuan pertama yang sang istri ketahui pernah bermain dengan suaminya.

Ibu ini adalah seorang business woman, beranak dua, masih cukup muda, belum 40 tahun usianya, wajahnyapun cantik.  Hal yang sukar dipercaya apabila prahara demikian menimpanya. Uang ada, wajah cantik, bisa cari uang sendiri, ‘what’s wrong with me?’ tentu ia berpikir demikian.

Satu jam lebih kami chatting, kebanyakan dia yang bicara, dan hanya sesekali saja saya yang menimpali agar terjaga komunikasi yang intens. Akhirnya setelah semua kalimat dan air mata ia gelontorkan, ia bertanya:

Jadi Aa Jin, saya harus bagaimana?”  

Ibu, saya memahami, walau tidak bisa merasakan sepenuhnya, apa yang ibu rasakan dan alami. Dan rangkaian kata penghiburan sebaik apapun tidak akan mampu menghapus rasa duka dan luka yang ibu rasakan. Saya mengerti rasa tertolak dan tersakiti Ibu. Dalam banyak kasus perceraian, wanitalah yang sering merasa berdosa dan bertanya-tanya, “apa yang salah dengan diriku? apa yang kurang dariku? mungkin aku yang tak mampu menjaga api kehangatan rumah tangga? mungkin aku kurang cantik? mungkin aku terlalu cerewet? mungkin….mungkin….mungkin…? kenapa…kenapa…kenapa?”

IDEALISME LEMBAGA PERKAWINAN ? INILAH REALITASNYA 

Cukup sudah kisah-kisah idealis romantis tentang perkawinan yang menina-bobokan perasaan, sekarang kita berbicara tentang realitas. Kita menarik diri dari emosi dan melihat dunia apa adanya dengan sudut pandang yang seobyektif mungkin, bahkan skeptis. Dan inilah realitasnya:

Tidak ada lembaga di dunia ini dimana kemunafikan dan kepura-puraan yang dilakukan oleh seorang lelaki kepada seorang perempuan, atau sebaliknya, yang lebih sering terjadi dari pada lembaga perkawinan. Dengan kata lain, hanya di dalam perkawinanlah kita menemukan hal-hal yang sedemikian rupa tidak mungkin dilakukan secara konsisten dan dalam jangka panjang oleh seorang lelaki kepada perempuan, atau sebaliknya. Anda mungkin tidak berani menipu teman anda baik dalam skala kecil-kecilan atau skala besar, namun anda bisa melakukannya kepada pasangan anda, mulai dari tidak mengatakan berapa gajih yang anda dapatkan dalam sebulan, sampai membelanjakan atau menyisihkan uang tanpa ketahuan. Anda mungkin akan bersikap hati-hati, tidak asal bicara, tidak mengatakan hal-hal yang melukai hati pada teman anda, namun anda akan secara tanpa sadar dan tanpa pikir panjang mengatakan semua kekesalan pada pasangan anda. Hanya dalam lembaga perkawinan sang istri secara konsisten pura-pura buta dengan ketengilan suaminya, dan sang suami pura-pura budeg dengan kecerewetan istrinya. Dan demi menjaga suatu bahtera perkawinan agar ideal dan langgeng, kita menganggap hal-hal demikian menjadi “bumbu” dalam keluarga.

Berapa banyak istri atau suami yang bila ditanya “seandainya ada kehidupan kedua, masih maukah anda memilih pasangan anda sekarang ini, sebagai pasangan anda nantinya, seandainya ada pilihan yang lebih baik?” – dan mereka memilih pasangan yang ada saat ini menjadi pasangannya di kehidupan kedua. Kalaupun seseorang memilihi demikian, apa pasangannya pun memilih hal yang sama? Apakah ketika suami istri bercinta, sang suami tidak mengkhayalkan mencumbu wanita lain yang lebih seksi dan diidam-idamkan dari pada istri yang sedang ia gauli?

Saya tidak menafikan bahwa memang ada perkawinan yang bahagia, dimana istri dan suami saling mencintai dan menyayangi, menerima dan mengalah tanpa paksaan demi idealisme perkawinan. Namun sayangnya tidak terjadi pada semua kasus. Jika seorang istri sudah melakukan apa yang menjadi bagiannya secara wajar dalam rumah tangga, mengapa ia merasa harus menyalahkan dirinya apabila perceraian terjadi ? Mengapa ia harus merasa tidak mampu menjaga suaminya? Memangnya suaminya ini seekor kuda yang harus terus diikat di tiang, dan matanya dipasangi kaca mata kuda? Jangankan laki-laki biasa, lha tokoh yang katanya seorang nabi terakhir dan sempurna saja, yang katanya teladan sempurna, tali kekang nafsunya pada wanita longgar sekali koq.

Jikalau ibu merasa sudah melakukan apa yang sewajarnya ibu lakukan, tidak perlu ibu terus menerus menyalahkan diri. Hadapilah kenyataan, dan bangkitlah. Menjadi janda bukanlah suatu aib, bahkan itu lebih mulia dan bermartabat daripada harus berpura-pura tidak melihat perselingkuhan, atau menerima pelecehan harga diri. Tidak semua orang berkesempatan menjalani bahtera rumah tangga yang ideal, bahkan dalam suatu pernikahan yang langgengpun perpisahan adalah hal yang tidak bisa dihindarkan, pertanyaannya adalah siapa yang duluan mati. Maaf kata,  kasarnya – anggap saja bapaknya anak-anak sudah mati ditelan bumi. Dan yang anda lihat sekarang bukan dia, tapi zombie hidup yang berbau busuk.Titik.

HIDUP BUKAN MASALAH PERCAYA ATAU TIDAK PERCAYA 

“Apa Aa Jin percaya dengan pepatah : ‘setiap dukacita pasti akan mendatangkan sukacita, dibalik sebuah musibah, pasti ada hikmah’ ?”

Hmmm sudah lama saya tidak pernah menyandarkan hidup ini pada kata “percaya”. Tapi jika Ibu mau, silahkan ibu percayai pepatah demikian. Mungkin dengan cara ini Ibu akan terbantu banyak.

“Jadi maksudnya, Aa Jin tidak percaya adanya hikmah dibalik musibah? adanya sukacita dibalik dukacita?”

Begini Ibu, masalah utamanya bukan apakah percaya atau tidak, tapi jika dengan kepercayaan itu Ibu merasa terbantu, silahkan ambil itu. Jika Ibu merasa sangsi, ya jangan ambil, abaikan saja. Hidup ini jangan terlalu dibawa pada kutub-kutub dualitas antara percaya dan tidak percaya. Misalkan begini ibu, saya tidak perlu percaya bahwa di depan saya ada sebuah komputer, sebab itu adalah suatu fakta. Mau percaya atau tidak percaya, faktanya ada komputer di depan saya, dan dengannya kita bisa berkomunikasi.

“Ohhhh, kalau begitu, pertanyaannya saya ralat, apa Aa Jin percaya adanya sukacita dibalik dukacita, dan adanya hikmah dibalik musibah?”  

Good. Jawaban saya adalah : tergantung.

“Tergantung apa?”

Tergantung bagaimana kita menjalaninya. Ada kasus-kasus dimana dibalik dukacita terdapat dukacita, juga dibalik musibah ada keluh kesah berkepanjangan. Semuanya dikembalikan kepada mereka yang menjalaninya, bukan pada sesuatu agen ilahi di alam lain.

“Hmmmm jadi buat Aa Jin, tidak ada tuhan atau allah yang maha sempurna dalam merencanakan kehidupan di dunia ini?”

Baiklah Ibu, akan saya jawab pertanyaan anda, tapi sekali lagi, saya ingin memperkuat pertahanan rasionalitas ibu dalam mengatasi kegamangan emosi yang sedang Ibu jalani. Inilah pendapat saya:

BAHASA TEOLOGIS BUKANLAH BAHASA REALITAS

Dalam dunia ini setidaknya ada dua isme yang berpengaruh yang ditemukan oleh manusia dalam rangka memaknai hidupnya melewati suatu prahara kehidupan.

Yang pertama adalah keyakinan yang meyakini adanya suatu tokoh adikodrati yang maha pencipta dan sempurna dalam perencanaannya baik dalam skala kecil, individu, sampai skala besar, alam semesta, dari awalnya sampai akhirnya.

Seperti yang Ibu pasti ketahui, isme yang demikian dipegang oleh agama-agama samawi, Yudaisme, Kristen dan Islam serta varian agama yang keluar dari arus utama masing-masing, dan aliran-aliran spiritual berbasis theisme.

Dalam keyakinan ini, iman atau kepercayaan, atau keyakinan yang teguh menjadi syarat utama kelayakan si penganutnya. Dalam Islam disebut syahadat dan rukun iman, dalam kristen  disebut kredo atau iman rasuli, dalam Yahudi disebut Shema.

Saya kutip versi Yudaisme:

“ Dengarkanlah Israel, Allah itu Esa, jangan ada padamu ilah padamu untuk engkau sembah selain TUHAN (Yahweh)”

Dalam versi Kristen, yang ini lebih indah, dramatis dan puitis :

Aku percaya kepada Allah, Bapa yang maha kuasa, pencipta langit dan bumi, …..

dan pada Yesus Kristus, …….. Firman Allah yang hidup, yang sebelum penciptaan berasal dari Sang Bapa, Terang yang keluar dari Terang, yang sejati dari yang sejati….yang dilahirkan dari perawan Maria, disalibkan, dibangkitkan dari kematian, turun ke dunia orang mati, naik ke atas sorga, dan dari sana akan turun kembali menjemput orang percaya.. Aku percaya pada penebusan dosa, dll … dll… ” 

Well, kedengarannya begitu indah dan luar biasa menyejukkan, tapi pertanyaannya adalah apakah ini realitas atau suatu konsep keimanan yang disampaikan dalam kerangka bahasa yang elok? Bahasa, seindah-indahnya bahasa adalah melulu bahasa, bukan realitas sejarah yang memuat kejadian sesungguh-sungguhnya yang bisa diverifikasi. Konsep keimanan di atas tadi adalah bahasa teologis, bukan bahasa sehari-hari yang mewadahi realitas yang dicoba dikomunikasikan.

Dalam Islam, bahkan melangkah sedikit lebih naif, syahadat islam diawali dengan : aku BERSAKSI tiada Tuhan selain Allah (yang sebenarnya adalah versi lain dari Shema Yudaisme dan juga yang seharusnya : tiada ilah lain selain Allah, jadi Allah termasuk dalam jenis ilah juga, tapi ilah yang egois yang tak mau memberi ruang bagi ilah-ilah lain untuk setara dengannya). Aku BERSAKSI  Muhammad adalah utusan Allah.

Nah coba kita pikir, dalam bahasa sehari-hari, kata ‘BERSAKSI’ kita gunakan apabila kita sendiri melihat dengan mata kepala sendiri, kita mendengar sendiri dengan telinga kita sendiri, dan atau kita telah membuktikan kebenaran dari kalimat yang kita saksikan tersebut. Masalahnya adalah apa benar : tiada tuhan selain Allah? apa benar Muhammad utusan Allah? kapan kita lihat dan dengar dan saksikan kejadian itu?  Kita hanya mendengar tentang Muhammad dari orang lain yang sekian generasi jauhnya dari kejadian sebenar-benarnya. Hanya sedikit sekali umat islam yang tahu bahwa cerita tentang kehidupan Muhammad baru ditulis 200 tahun setelah tahun kematiannya. Bahkan di jaman Abbasiyah, semakin kesini ceritanya semakin komplit dan detail dengan nama, tempat dan tanggalnya, hal mana para penulis paling awalpun (150 – 200 tahun setelah tahun yan g disangkakan sebagai tahun kematian Muhammad, 632 M, tidak berani menuliskan detilnya). Jadi jelas bahwa di sini kisah-kisah itu dikarang dan dibumbui serta didramatisir untuk suatu kepentingan. Kepentingan apakah? Kepentingan politik penguasa? Ya. Kepentingan kaum agamawan? Ya. Kepentingan apa lagi? kepentingan psikologis manusia.

Manusia memiliki sisi negatif dalam soal kepercayaan, yaitu mudah untuk mencari suatu keyakinan dan berpaut padanya demi memaknai jalan hidupnya. Benar atau tidaknya kepercayaan itu tidaklah menjadi masalah, pada awalnya, yang penting adalah dari titik tolak ini kita bisa memaknai keberadaan hidup kita di bumi.

Semua keyakinan, kredo, syahadat bukanlah bahasa-bahasa ilmiah yang didasarkan pada empirisme dan kerangka rasionalitas seperti yang diminta orang moderen saat ini, melainkan pada bahasa-bahasa teologis yang diciptakan oleh orang-orang jaman dulu yang sederhana dalam budaya berpikir dan worldview yang terbatas yang berguna untuk menancapkan komunitasnya  pada suatu sudut pandang subyektif demi suatu penguatan psikologis berbasis sektarian dan tribalis dan berdimensi politis dalam meniti kehidupan yang sukar di jaman itu.

Tidak ada seorangpun yang pernah ke neraka atau ke sorga, tidak ada seorangpun yang pernah menyaksikan suatu tuhan / dewa menciptakan alam semesta seperti yang dikisahkan dalam kitab-kitab agama, namun kisah-kisah semacam itu mungkin sudah cukup bagi orang jaman dulu untuk menjawab masalah dari mana kita berasal dan akan kemana kita menuju. Setelah mereka memegang suatu  keyakinan tersebut, maka mereka mulai berfokus pada apa yang baik bagi mereka saat itu dalam komunitasnya. Itulah sisi negatif mental manusia, dan agama mengeksplor sisi negatif itu dengan ancaman akan hari akhir, dan iming-iming hadiah yang kekal abadi.

Ada atau tidak adanya surga dan neraka sebenarnya bukanlah isu utama dalam agama, tapi bahwa lewat kepercayaan akan adanya surga dan neraka maka hasrat-hasrat liar dalam diri individu dalam masyarakat dapat dikekang.

Begitu pula paralelnya, ada atau tidak adanya hikmah dibalik musibah bukan isu utama, namun jika keyakinan itu menambah “Tonicum Bayer spiritual” bagi si pemercaya, dan dengan perspektif itu rasa duka dan luka bisa terkurangi, pesimisme digantikan dengan optimisme hidup, maka ambilah itu. Dengan demikian keyakinan semacam ini menjadi shock absorber mental  bagi si pemercayanya.

Kepercayaan bahwa ada sesosok tuhan yang mencobai atau menguji manusia per individu mungkin cocok untuk memotivasi mental si pemercaya bahwa ada motif-motif ilahi yang menjanjikan level kebahagiaan yang lebih tinggi di balik permasalahan yang dihadapi. Namun keyakinan ini akan kontradiktif dengan kasus-kasus yang khusus dan berskala besar. Contoh : Kristen dan Islam percaya bahwa ujian / cobaan yang diberikan tuhan tidak akan melebihi kekuatan manusia, namun faktanya ada orang yang bunuh diri karena suatu kegagalan hidup, kalau begitu tuhan telah keliru memberi ujian / pencobaan yang melebihi kekuatan si individu itu. Apa senangnya sih tuhan memasang-masangkan manusia lewat skenario buatannya, tapi di lain pihak memisahkannya individu tadi dengan individu lain? Apa tuhan gak punya kerjaan lain yang berskala besar dan massif, misalnya meniadakan kelaparan dan peperangan, merekayasa gen manusia agar tidak beringas, egois dan serakah ? Kalau benar pada faktanya tuhan urus campur dalam masalah percintaan dan perkawinan maka ia lebih cocok jadi agen biro jodoh saja, ketimbang jadi SUPREME BEING yang lalai dan tak berperasaan.

Jadi di sini kita melihat ternyata setelah suatu keyakinan itu dianalisa, maka kebenarannya malah jauh dari jargon-jargon yang selama ini digembar-gemborkan. Itulah kenapa saya tidak mau menjawab pertanyaan Ibu mengenai percaya atau tidak percaya, namun saya membuka ruang akan adanya, atau tidak adanya, suatu dampak psikologis dari suatu kepercayaan dibalik bahasa-bahasa teologis ajaran tersebut. Itulah jenis yang pertama.

ORTOPRAKSIS – BUKAN ORTODOKSI  

Jenis yang kedua, yang unik, adalah ajaran yang tidak mau berkutat dengan masalah ada atau tidak tuhan personal, namun menekankan pada penguatan mental si umat untuk menghadapi suatu kehidupan yang keras dengan jalan yang bermartabat. Ajaran seperti ini dapat kita temukan utamanya dalam Buddhisme dan Tao dan beberapa dalam ajaran Hinduisme. Pertapa Gautama, misalnya, sangat skeptis dan menganggap sepi tentang suatu keyakinan akan adanya tuhan personal yang memiliki atribut-atribut sifat manusiawi, maha ini dan itu, baginya menjalani kehidupan dengan benar adalah jauh lebih berguna dari pada mempercayai cerita tentang suatu sosok maha dewa.

Dalam sebuah cerita dikisahkan seorang perempuan yang bernama Gotami (namanya hampir sama dengan nama sang Buddha, Gotama). Dalam hari yang sama ia kehilangan suami dan anaknya karena dipagut ular. Dengan terisak-isak ia menghadap Pertapa Gotama dan meminta apakah ia berkenan menolongnya. Tentu jika kita menempatkan diri sebagai Gotami, kita akan meminta Buddha untuk membangkitkan anaknya yang mati (seperti dalam kasus Yesus membangkitkan anak yang mati), namun Buddha tidak tergerak untuk melakukannya, setidaknya ia tidak mau melakukakannya secara percuma. Ia memberikan syarat : “Pergilah engkau ke setiap rumah, dan mintalah kepada mereka segenggam lada hitam. (Saat itu lada hitam adalah bumbu yang mudah didapatkan). Namun engkau hanya boleh mengambilnya dari keluarga yang satu kalipun tidak pernah kehilangan orang-orang yang dicintainya, tidak kakek-neneknya, tidak ayah –ibunya, tidak saudara laki-laki dan perempuannya, tidak anaknya, tidak cucunya, dan tidak kerabatnya. Jika engkau sudah mendapatkannya ,kembalilah kepadaku, maka aku akan membangkitkan anakmu dari kematian”.

Karena sedang dilanda keguncangan emosi, Gotami mengiyakan permintaan itu. Ia meminta dari satu rumah ke rumah lain, tapi sebelum ia menadahkan tangan untuk menerima pemberian itu, ia bertanya dahulu : “Aku berharap di rumah ini kalian tidak pernah kehilangan orang yang kalian cintai, kakek atau nenek, ayah atau ibu, saudara-saudari, anak atau kerabat, tidakkah ?” Tentu saja tidak ada keluarga yang demikian. Akhirnya Gotami menyadari bahwa usahanya untuk menemukan satu keluarga yang lengkap tanpa duka cita adalah sia-sia, ia merefleksikan pencarian itu dengan apa yang ia alami. Ia sadar bahwa kehilangan orang yang dicintainya adalah wajar, sekalipun begitu berat untuk ia terima. Ia harus merelakan kepergian orang-orang yang selama ini ia cintai dan bangga-banggakan, sebagaimana katak yang tak boleh menampik datangnya musim kemarau, dan selalu mengharapkan musim hujan abadi.

“Sebentar Aa, cerita itu benar-benar mengena buat saya. Seperti Gotami yang tidak dibantu oleh Buddha dengan mukjizat, saya seperti harus menghadapi kenyataan hidup, seberat apapun itu.”

Ya benar, salah satu fase penyembuhan adalah : menerima fakta itu, seberat apapun itu. Dengan menerima fakta duka itu, maka setengah dari perjuangan telah dimenangkan. Justru dengan menyangkal, dengan memistifikasi / menspiritualkan kedukaan kita malah berlari dari kehidupan. Para psikoanalis dan psikoterapis memahami hal ini, ia membiarkan para pasiennya untuk berbicara, berbicara dan berbicara, mengeluarkan semua beban mental dan setelah itu membawa si pasien untuk melihat bahwa hidup tidak seberat seperti yang dilihat sebelumnya. Setiap orang mengalami kenaasannya masing-masing. Setiap orang menjalani “dukkha”nya masing-masing.

Dalam praktek meditasi Buddisme, misalnya, ada kontemplasi dimana meditator menganalisa, siapakah saya? apakah saya ini perasaan saya? apakah saya ini pikiran saya? apakah perasaan ini kekal? apakah perasaan ini diinginkan? kenapa perasaan ini tidak saya inginkan? apakah ini menimbulkan rasa tidak suka pada saya? kenapa saya tidak menyukainya? apakah karena ini tidak sesuai dengan keinginan saya? apakah keinginan saya itu kekal? dll…. latihan kontemplasi ini membawa meditator untuk mampu menguraikan bahwa baik itu kebahagiaan atau kesedihan adalah momen-momen yang terdiri dari elemen-elemen yang beragam dan memiliki kausalitasnya masing-masing, ia tidak datang tanpa alasan dan pergi tanpa alasan. Maka berkembanglah kemampuan untuk menerima hidup dengan warna dan skenario sebagaimana adanya, dan tidak terikat dengan konsep dualitas suka –duka, benar – salah, mujur – naas. Dengan kata lain penderitaan yang kita alami sebenarnya lebih terasa apabila kita memikirkan perasaan kita dan kekhawatiran serta penolakan kita akan penderitaan itu. Padahal ada beda antara penderitaan dengan persepsi kita akan penderitaan itu.

Kisah Gotami di atas bisa jadi fakta, bisa juga hanya kisah karangan di kemudian hari, kita tidak tahu pasti. Namun dari kisah itu kita mengetahui urat nadi pengajaran Petapa Gotama bukanlah ortodoksi,  yaitu tentang ajaran keyakinan lurus akan adanya suatu sosok adikodrati yang maha mengatur ini dan itu, yang bisa menyulap ini dan itu hanya bagi mereka yang mempercayai keberadaan tokoh adikodrati itu. Pengajarannya adalah ortopraksis, yakni tentang menjalani hidup yang lurus dalam perspektif yang manusiawi, rasional, dan keseharian. Bahwa pada akhirnya seiring dengan perjalanan sejarah kita melihat ajaran Gotama pun menangalami moderasi dengan adanya dogma dan ritual, itu menunjukkan bahwa bagaimanapun ada sisi-sisi lemah dalam psikologis manusia yang harus difasilitasi oleh agama sebagai suatu pegangan yang sederhana, mudah dipraktekan oleh setiap orang, dan menjawab masalah-masalah keseharian, misalnya tentang permasalahan rumah tangga, romantika hidup,  hierarki sosial dll.

Hal ini memperlihatkan bagaimana pada dasarnya kesadaran sebagian besar umat manusia begitu rendah, dan masih berkutat dalam hal-hal yang bersifat tampilan luar dan mesti bersifat mutlak dualitas. Itulah kenapa dalam cerita-cerita Buddhis, sesaat setelah pencerahan paripurnanya Pertapa Gotama merasa sangsi apakah ajarannya akan mampu dipahami oleh manusia ? Keputusan Sang Buddha dimitologiskan dalam dialog antara dirinya dengan Brahma Sahampati. Dewa Brahma ini memohon kepada Buddha untuk tidak membawa mati sendirian ajarannya, sebab di setiap jaman, akan ada sedikit individu yang matanya bathinnya hanya tertutup sedikit saja debu kebodohan bathin, dan untuk merekalah ajaran Buddha akan dipahami sampai intinya. Brahma Sahampati ini adalah personifikasi idea tuhan yang berpribadi dalam budaya berpikir brahmanaisme. Drama ini adalah simbol akan adanya mutualisme simbiosis antara ajaran inti sang buddha yang lirih, intelek, sukar dipahami, jalan untuk individu-individu yang sudah matang  dengan kerangka budaya brahmanaisme yang selebratif, ritualis, dan komunal.

Nah Ibu, saya telah membeberkan dua metoda umum tentang bagaimana manusia melihat konstelasi dirinya, dan kesukaran hidup. Di sini saya tidak menawarkan agama, tapi membicarakan tentang perspektif yang dipakai agama-agama. Perspektif mana yang ibu pakai untuk menjalani hidup, silahkan ibu pertimbangkan.

“Wah, baru saya diajak bicara begini berat. Tapi asyik juga, sepertinya saya diangkat dari arena masalah hidup, terus diposisikan jadi pengamat,  yah Aa”

Saya minta maaf karena membuat ibu sedikit berkernyit mencoba memahami tulisan saya. Tapi tujuan saya adalah menguatkan sisi-sisi rasionalitas Ibu, bukan menina-bobokan perasaan dan menspiritualkan kesedihan menjadi suatu skenario ilahi.

“Justru ini yang saya butuhkan saat ini Aa, penguatan sisi-sisi rasional yang selama ini hancur diombang-ambing perasaan. Jadi apa yang harus saya lakukan ?”

Ibu tahu apa yang terbaik untuk Ibu lakukan, hadapi saja kenyataan, menitilah kehidupan dari hari ke hari tanpa dibebani banyak pertanyaan “filosofis” kenapa, mengapa, apa salahku, bagaimana nantinya. dll. Dan seperti biasanya : waktu akan melakukan semua kelukaan hati. Carilah orang-orang yang Ibu percayai, ambilah aktifitas & hobby yang baru, buatlah diri anda senang dengan apa yang anda ingin lakukan. Ingat hidup anda bukan buat anak-anak semata, tapi buat anda sendiri sendiri.

Oh ya, satu lagi pesan dari lagunya Christina Aguilera :

 

You are beautiful no matter what they say 

Words can’t bring you down 

 

You are beautiful in every single way 

Yes, words can’t bring you down 

”Trima kasih Aa, buat waktu dan nasehatnya”

Sama-sama. Ini hanya kebetulan saja. Saya juga minta ijin untuk mempublish sebagian dari chatting kita buat teman-teman lain.

“Tidak masalah, asal judulnya dari saya, yah?”

Okey, apa judul yang Ibu sarankan?

“You’re so beautiful in every single way.” 

That’s how you are. Itu cocok menggambarkan diri anda dan semua teman-teman kita.

Iklan