Seorang murid sms saya menanyakan nomer hape salah satu guru. Kebetulan saya tidak punya nomer hape beliau ini. Ternyata murid saya ini lagi bingung. Dia tidak masuk karena sakit waktu ibu guru ini mengadakan ulangan di kelasnya. Ulangan itu hari selasa. Hari rabu dia sudah masuk tapi tidak menemui ibu ini karena dia pikir kamis ibu ini masuk kelasnya dan dia akan minta ulangan susulan hari kamis saja di kelas. Ternyata ibu ini tidak terima dan mengatakan anak ini menyepelekan karena tidak langsung menemui beliau hari Rabu itu.

 

Dengan galau dia merintih-rintih bahwa dia tidak menyepelekan. Tapi semua ini salah paham. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Dia sudah sms, tapi tidak ada balasan. Dia ingin ngebel tapi takut. Dia ingin menemui besok pagi, ibu ini besok tidak ada di sekolah. Saya katakan, mungkin sms yang dia kirim belum sempat dibalas saja. Tapi anak ini tetap saja ketakutan. 

Jadi saya bilang, " hidup cuma sekali kok takut banget. Kamu ateis ya? " 

Dia bingung, "Hah, kok ateis sih?"

"Nah kalau orang beragama kan cuma percaya sama Tuhan, ini malah kamu takut sama manusia biasa. Sudah. Percayakan saja semua pada Tuhan. "

Murid saya akhirnya bisa tertawa. Dia sadar bahwa dia tak perlu ketakutan yang tak perlu. 

"Kalau kamu lebih takut sama ibu itu daripada sama Tuhan, kenapa enggak kamu sembah sekalian ibu itu. Ambil sesajen buat beliau.."

 

Seperti film-film Amerika, murid saya akhirnya sadar tentang sesuatu malam ini. (Halah)