Selasa, Lespi Murbei

Sesi belajar menulis yang lebih mirip sesi terapi kejiwaan bersama mas Wiwien selesai. Entah apa saja silabusnya, tapi saya senang saja bebas bertanya tentang alur cerita yang ingin saya tulis. Belum sampai mana-mana memang, karena dari outline yang akhirnya bisa saya rangkai menjadi lebih gamblang dari sebelumnya, mas Wiwien meramalkan bisa dijabarkan dalam sebuah novel dengan 200an halaman kuarto, dan saya baru menulis 8 halaman.

"Masih jauh," kata mas Wiwien.

Entah kenapa hari ini saya tiba-tiba bisa terdampar di teras belakang kantor Lespi di Murbei.

Menulis adalah hobi saya sejak kecil. Menjadi penulis adalah cita-cita saya sejak saya mengenal NH Dini dengan tulisannya tentang Semarang yang terbagi menjadi beberapa novel. Tapi jalan untuk terjerumus dalam komunitas menulis ini justru baru saja terbentang. Entah kenapa. Saya juga tak ingin mencari jawabannya. Semua seolah tiba-tiba saja. Padahal sama sekali tidak tiba-tiba. 

 

Mimpi saya, kegiatan saya, selalu seputar tulis menulis. Dulu saya membuat 3 blog yang akhirnya macet karena malas ngurus. Fesbuk benar-benar menjadi penolong karena ada fasilitas 'note' yang bisa membuat saja menyalurkan keinginan saya menulis kapan saja. Lalu saya bertemu mas Budi Maryono yang sebenarnya dulu kakak kelas saya di Sastra, cuma saya di sastra Inggris, dia di Sastra Indonesia. Dulu kami menyebutnya, 'anak Inggris' dan 'anak Indonesia'. 😀 Lalu saya ikut komunitas menulis yang digawangi mas Budi. Lalu ditawari ikut seminar dan pertemuan-pertemuan sekitar menulis. Lalu saya ditawari ikut kursus nulis novel di Rumah Media yang dikelola mas Budi. Dan saya setuju. Padahal saya menerima sms tawaran menulis itu waktu saya sedang berjuang sampai titik darah penghabisan di PLPG, pelatihan profesi guru. Tapi saya langsung sms saya ikut kelas novel. Entah kenapa.

 

Maka di sinilah saya. Di teras belakang kantor Lespi, menunjukkan tulisan saya yang masih 8 halaman pada mas Wiwien yang sering menggila kalau mengomentari status saya di wall FB. Di teras ini mas Wiwien juga masih gila, tapi sungguh dia mampu membuat saya menata dengan rapi ide-ide yang mencuat tak beraturan dalam benak saya. Mas Wiwien terus berkata-kata memberi gambaran alur cerita yang logis sehubungan dengan kisah yang akan saya tulis, sementara saya menatap tembok belakang yang membatasi halaman belakang Lespi dengan rumah di belakangnya. Menatap pohon-pohon di sana lebih mencerahkan daripada menatap wajah was Wiwien yang agak ancur. Dan semua berproses dengan sangat indah. Suara mas Wiwien yang masuk ke telinga saya, seperti udara yang masuk dalam benak saya, lalu membenahi ide-ide yang berserakan tak beraturan di sana. Saya hanya butuh menyerahkan diri pada alam dengan menatap pemandangan halaman belakang kantor ini. Hasilnya, outline novel Prames sudah lebih rapi sekarang. 

 

Kursus selesai, mas Budi datang. Beberapa hal kami bicarakan bertiga, termasuk peserta yang harusnya ada dua orang lagi, ternyata tidak datang dan membuat saya satu-satunya peserta angkatan pertama kelas novel Rumah Media yang digagas mas Budi. 😀 Pengumuman yang hampir saja terlupa dari mas Budi karena saya dan mas Wiwien kumat gilanya, adalah lomba menulis novel di Republika. Well, that's great! Tapi 150 halaman? MY GOD..!! Tinggal beberapa hari lagi. Deadline-nya tanggal 15 Oktober! So help me God….

 

Ah, sudahlah. Apa gunanya mengeluh? Enggak penting. Saya pikir saya mau mencoba saja. Kalau bisa sampai deadline, saya kirim. Kalau tidak sampai ya nanti saya kirim ke penerbit yang mau. Gitu saja. Enak…

 

Minggu, tempat jemuran lantai 3 rumahku

 

Saya sudah memutuskan untuk menulis tentang bapak. Buat saya ini sangat menarik karena bapak juga mengalami perjalan berTuhan yang sangat menarik. Tapi berhari-hari saya berusaha menulis, belum tampak juga saya harus memulai dari mana. Saya sudah membuat beberapa judul yang sudah saya isi dengan satu dua halaman, tapi setelah itu macet. Belum lagi pekerjaan kantor yang selalu tiba-tiba minta dikerjakan lebih dulu. Maka hari Minggu ini saya naik ke lantai 3 tempat saya biasa menjemur baju. 

 

Lantai plester dengan jendela-jendela besar yang hanya berupa lobang-lobang kotak di tembok ditutup dengan ram-raman kawat. Angin bertiup seperti menyapa, langit membentang di hadapan saya. Saya berusaha mengenang semuanya tentang bapak saya. Orang yang sudah pergi enam tahun lalu. Kenangan yang dulu sudah saya kubur susah payah, kini mesti saya aduk-aduk lagi agar muncul ke permukaan. Tak pernah sekalipun kenangan akan bapak bisa muncul tanpa setetes dua tetes air mata. Bukan, saya tak lagi menangisi kepergian beliau. Tapi saya hanya mengenang itu semua sebagai kenangan yang begitu indah. Betapa beruntung saya pernah menghabiskan waktu dengan bapak saya. Orang paling hebat dalam hidup saya. Orang yang tanpa sadar telah mempengaruhi sebagian besar perjalanan hidup saya. Tanpa perintah, tanpa bujukan, tapi bapak telah mempengaruhi saya dengan membiarkan saya menentukan hidup saya. Bapak tak pernah meminta saya mengikuti jalan yang pernah beliau jalani, tapi toh saya sekarang berada di jalan yang beliau tempuh waktu beliau seusia saya.

 

Begitulah. Hanya Tuhan yang tahu kenapa sekarang saya di sini, di lantai jemuran di lantai 3 rumah saya, berusaha mengingat semua tentang bapak saya. Menata semua kenangan itu dengan rapi dari awal dan mengambil peristiwa-peristiwa penting yang bisa saya bagi dengan orang lain lewat novel saya. Dan entah kenapa saya tak terlalu peduli lagi dengan lomba Republika yang dikatakan mas Budi. Tiba-tiba saya hanya ingin menyelesaikannya. Itu saja..

 

"Entah kemana jalan ini menuju, aku tak tahu. Aku juga tak peduli. Aku hanya ingin mengikutinya.."