Saya seorang pengamat budaya. Saya perhatikan, bahkan di Jakarta Kota, tempat-tempat hiburan seperti night clubs dan karaoke yg notebene pengunjungnya adalah peranakan Cina, ternyata sudah bertahun-tahun mengedepankan musik asli berbahasa Mandarin. Tidak ada lagi itu Dendang Melayu yg dianggap terlalu kampungan. Pedahal Dendang Melayu adalah musik Cina dengan kata-kata berbahasa Melayu. Pertamakali dipopulerkan oleh Peranakan Cina. Tetapi karena peranakan Cina di Indonesia di-diskriminasi, akhirnya di-stereotype-kan lah bahwa budaya peranakan Cina adalah budaya tradisional Indonesia, dan the peranakan Cina harus berorientasi ke budaya Cina yg asli, tanpa campuran Indonesia, which is something strange. Aneh sekali. Permainan stereotypes yg, mungkin, dinikmati oleh banyak orang.

 

Kalau saya bilang, kata "bapak" di bahasa Indonesia berasal dari istilah "baba" yg dipakai oleh peranakan Cina. Di Malaysia tidak dipakai kata "bapak", yg dipakai adalah kata "tuan", yg juga mungkin berasal dari bahasa Hokkian yaitu "toan". Dan akar katanya, kata "tua" itu sendiri, definitely berasal dari bahasa Hokkian. Yg urutannya pertama selalu disebut "tua/toa" di kalangan peranakan. Ada pula yg bilang istilah "kakak" di bahasa Indonesia berasal dari istilah "koko" (Hokkian). Mungkin benar prettt…

 

Di Singapura ada Museum Peranakan. Disini semua artefak budaya Cina Peranakan dikumpulkan. Mungkin kita nanti harus ke Singapura untuk mempelajari asal usul Peranakan Cina di tiga negara: Indonesia, Malaysia dan Singapura. Pedahal faktanya, komunitas Cina peranakan paling besar berada di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Dan budaya yg dikembangkan oleh Cina peranakan di Jawa sudah diakui sebagai budaya asli Indonesia. Memang asli, asli dikembangkan di Indonesia, oleh orang peranakan, yaitu keturunan pendatang dari Cina yg menikah dengan penduduk lokal.

 

Saya jadi ingat Wali Sanga yg konon peranakan Cina. Dari 9 wali, cuma satu yg bukan prettt…

 

Istilah "kakak" cuma digunakan di Indonesia. Di Malaysia digunakan istilah "abang". Kemungkinan benar istilah "kakak" berasal dari "koko" di bahasa Hokkian yg digunakan oleh orang peranakan Cina (dulu dan sekarang) untuk memanggil pria yg sedikit lebih tua.

 

Di bahasa Sunda, kata "kakak" adalah "aa". Bahasa Sunda pakai juga istilah "bibi" dan "uwa". Kalau istilah-istilah itu digunakan di kalangan peranakan Cina juga, kemungkinan memang aslinya istilah milik Peranakan Cina, dan kemudian masuk ke bahasa Sunda. And not the other way around prettt…

 

Kata "uwa" definitely Hokkian, in my opinion. Aslinya should have been "tua/toa". Kalau itu benar, dan saya tidak lihat kenapa harus salah, maka kita bisa perkirakan berapa banyak kata-kata yg dihasilkan dari akar kata "tua/toa" di bahasa Hokkian yg akhirnya merajalela di bahasa Indonesia yg, sudah diakui juga, asalnya dari bahasa Melayu Pasar. Yaitu bahasa Melayu yg digunakan oleh Peranakan Cina. Orang Melayu asli menggunakan Melayu Tinggi, dan Peranakan Cina menggunakan Melayu Pasar. Melayu Pasar inilah yg kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia. Makanya bahasa Indonesia beda dengan bahasa Melayu. Kita pakai yg kasar, yg pasaran, karena terpengaruh oleh Peranakan Cina yg menggunakannya di koran-koran terbitan mereka, yg mencapai puncaknya di Koran Kompas, haha..

 

Yg lucu, peranakan Cina di Indonesia menganggap diri mereka Cina atau Hokkian. Teng Lang atau Hokkian Lang. On ther other hand, mereka yg asli tidak menganggap begitu. Yg Cina asli tanpa campuran (mungkin pendatang baru), cenderung melihat Peranakan Cina sebagai pribumi Indonesia. Kasusnya sama seperti orang Belanda yg melihat orang Indo Belanda sebagai orang Indonesia. Dan orang Indonesia yg melihat orang Indo Belanda sebagai orang Belanda.

 

Ini semacam studi kasus hubungan antar ras (interracial relationship). Banyak gejala yg bisa diamati. Yg jelas, Peranakan Cina di Malaysia dan Singapura tidak bisa nyampur dengan Cina asli. Bahasa dan budayanya beda. Di Indonesia juga kurang lebih seperti itu kasusnya. Yg peranakan tidak bisa bercampur dengan yg "singke" (totok). Lucu juga, pedahal saya oke saja kalau berteman dengan orang Hong Kong atau orang Taiwan. Tapi tidak bisa dengan Cina totok di Indonesia. Different. A big bridge separating us.

 

Cina Totok yg menjadi WNI defensif sekali. Full of curigations. Mungkin karena terlalu lama diperlakukan semena-mena di Indonesia. Sedangkan orang Hong Kong dan Taiwan yg aslinya memang ada disana tidak begitu. We can be friends with them, but very susah untuk berteman dengan orang totoks di Indo. Very sad.

 

Singapura dan Malaysia bisa begitu cepat maju dan relatif kaya karena komposisi keturunan Cina di negara mereka besar sekali. Mungkin relatif banyak totoknya juga, yg memang lebih ulet bekerja dibandingkan orang peranakan. Di Indonesia, keturunan Cina mungkin cuma 10% dari populasi, sebagian besar peranakan. The Chinese in Southeast Asia are the movers, since colonial times. Penggerak ekonomi, dan budaya juga (no prettt… this time).

 

Saya mungkin rancu disini. 10% itu populasi orang Kristen. Kalau populasi Peranakan Cina di Indonesia mungkin lebih kecil lagi, mungkin paling banyak cuma 5%. Bandingkan itu dengan jumlah sekitar 30% di Malaysia, dan 70% di Singapura.

 

Bisa juga diajukan proposisi bahwa Peranakan Cina dan Indo Belanda adalah orang-orang nasionalis yg pertama secara konkrit, karena budaya mereka merata, tidak terikat kepada salah satu etnik. Walaupun mungkin juga tidak terlalu tepat karena ada juga istilah Cina Betawi, Cina Jawa, Cina Padang, dll… Very funny but true, full of carricatures and comical too. And humane indeed. Very manusiawi.

 

 

Borjuasi (kelas menengah) juga baru mulai muncul di Indonesia. Perlu a significant number of borjuasi untuk bisa mulai berdampak. Sekarang sudah mulai, walaupun masih malu-malu meong. Penciptaan pemerintahan bersih dan demokrasi merupakan gerakan borjuasi. Penegakan HAM juga. Reformasi hukum juga. Semuanya masih berjalan, dan dihalang-halangi oleh mereka yg mau mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari kekalnya kebodohan di masyarakat. Pembodohan masyarakat merupakan agenda dari kaum agama dan koruptor. Borjuasi kebalikannya. Peranakan Cina di Indonesia jelas masuk golongan borjuis, kelas menengah atau, kalau mengikuti istilah Gus Dur, bagian dari masyarakat madani.

 

Raja Mataram sendiri menjadi supplier beras untuk VOC. Sebelum ditaklukkan oleh Belanda, Mataram menjadi supplier beras bagi VOC di Batavia. Keuntungannya masuk kantong Sultan, dan bukan untuk menyejahterakan rakyatnya. Sultan Mataram was pedagang beras. Sultan Banten was pedagang lada. Mereka berdagang dengan VOC. Rakyat harus dipertahankan kebodohannya dengan takhayul-takhayul. Situasinya baru berubah di pertengahan abad ke 19, ketika Belanda menerapkan politik pencerdasan rakyat di Indonesia. Liberalisme menang di Belanda, akibatnya politik kolonial berubah. So, pendidikan menyeluruh telah dimulai oleh Belanda. Bahkan penggunaan bahasa Melayu (yg sekarang dikenal sebagai bahasa Indonesia) diresmikan oleh Belanda. Bukan dimulai oleh Sumpah Pemuda.

 

Belanda bergerak di struktur atas, komunitasnya lebih sedikit. Peranakan Cina jauh lebih banyak dibandingkan orang Belanda dan Indo Belanda, sehingga bisa menjadi agen perubahan bagi masyarakat Indonesia. Bahkan sampai sekarang.

 

Peranakan Cina mungkin komunitas terbesar yg paling berpendidikan di masa kolonial. Paling berpendidikan setelah komunitas Belanda dan Indo Belanda sendiri. Komunitas lainnya adalah keturunan Arab. Keturunan Arab di Indonesia dan Peranakan Cina memiliki status sama di masa kolonial, yaitu keturunan asing. Sama competitive-nya, sama berpendidikan-nya. Yg ribet itu masyarakat Indonesia kebanyakan. Bebal. Keras kepala. Gila hormat. Ingin cepat kaya. Korup. Suka latah dan kesurupan.

 

 

 Suka latah dan kesurupan.