Suatu hari anak saya yang bungsu, 7 tahun, berlari-lari ke arah saya yang sedang membaca buku dan berteriak kegembiraan, “Daddy, Daddy I have find the way”. Saya agak terkejut dengan kemampuan serap bahasanya. Sekalipun secara gramatikal salah, tapi cara mengekspresikannya cukup baik. “Found what?” balas saya ingin tahu. “To make water out more”. Saya mengernyitkan dahi kebingungan, maksud anak ini apa?  

 

Dia membimbing saya masuk ke kamar mandi. “look here Daddy, I have find the way to make water out more and more.” Dia menunjuk ke selang yang sedang dipakai untuk mengisi air di penampung air. Dia pijit sebagian mulut selang itu sehingga debit air yang keluar jadi terlihat deras. Memang benar, karena ada tekanan di mulut selang maka debit air itu seolah-olah jadi lebih besar. Suara deburan air yang menimpa penampung pun terdengar ‘dahsyat’. Saya tertawa kegelian. Anak ini ternyata cukup prihatin juga dengan keadaan rumah kami. Memang karena kemarau yang panjang, air sumur kami jadi kering. Dan istri saya sering mengomel dengan keadaan ini. Dan dalam kapasitas berpikir yang masih terbatas, anak ini mengekspresikan keingintahuan & kepeduliannya.

 

Dengan sederhana saya mencoba jelaskan bahwa memijit mulut selang tidak menambah volume air yang keluar. volume air yang keluar pertama-tama ditentukan oleh seberapa banyak sumber air yang ada di sumur, kemudian seberapa kuat kapasitas sedot dan sembur dari si pompa, juga seberapa jauh jarak si pompa dengan tujuan air. Itu juga belum berakhir, ada kondisi-kondisi yang diluar kemampuan saya, saya bisa memperdalam sumur, saya bisa membeli pompa yang lebih baik, tapi saya tidak bisa mengatur cadangan air tanah yang mengalir ke sumur kami, saya tidak bisa mengatur musim kering supaya lebih pendek, saya tidak bisa mengatur masyarakat untuk tidak sembarangan menebang pohon dsb. Jadi singkatnya dengan memijit mulut selang, tidak  berhubungan dengan memperbesar debit air, itu hanya menambah perasaan senang saja melihat air keluar lebih banyak. Anak ini mengeryitkan dahinya, sambil berkata “Daddy, you mean I wrong ?”

 

Saya diberkati allah maka pastilah agama saya benar !

 

Saya akan ambil kejadian di atas sebagai refleksi dari asumsi-asumsi yang terjadi secara umum pada masyarakat kita. Beberapa teman saya bekerja di instansi pemerintahan, seperti kejaksaan, perhubungan dan telkom. Mereka bilang pada saya betapa ibadah haji dan umrah yang dilakukan beberapa kali membawa berkah tersendiri bagi mereka. Saya hanya mengangguk-angguk menyenangkan mereka. Tapi pertanyaan yang mendasar adalah : dari mana mereka mendapatkan uang untuk pergi umrah, sementara gaji mereka saja sebenarnya tidak mampu untuk membeli rumah besar dan 2 mobil pribadi seharga 500 jutaan ?

 

Teman-teman Tionghoa saya rajin banget ke gereja. Mereka bilang dengan memberi perpuluhan ke gereja, mereka diberkati berkali-kali lipat. Tapi otak saya mengatakan “Kalian ‘diberkati’ karena kalian berasal dari kelas menengah, didukung oleh kelas pengusaha yang saling mempercayai, coba kalau elemen-elemen itu dipreteli dari kalian, pasti kalian tidak senyaman seperti sekarang.”

 

Bahwa tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, saya percaya itu. Tetapi tidak berarti bahwa kalau anda memberi kepada gereja, mesjid, vihara dsb, itu lebih baik daripada anda memberi kepada orang lain yang lebih membutuhkan, atau memberi buku pada perpustakaan dsb. 

 

Bahwa anda diberkati dengan keadaan anda sekarang, tidak membuktikan bahwa agama anda lebih benar dari pada agama lain, atau bahwa tuhan anda luar biasa dari pada tuhan agama lain. Itu semata-mata karena ada elemen-elemen pendukung kejadian tersebut. Sebab kalau suatu agama ditentukan validitasnya oleh faktor diberkatinya anda, maka kita harus tanyakan bagaimana dengan mereka yang jadi pengungsi di Yaman, Palestina, Somalia, Sudan, Libia dll. Dimanakah tuhan ? tidakkah dia seharusnya lebih mencintai orang-orang tak berdaya ini, dan bukanya pilih kasih dengan mereka yang sering mengunjungi rumahnya di Mekkah dan Madinnah walau dengan sumber harta yang tidak jelas halalnya.

 

Mengapa anda merasa tuhan itu berkuasa memberkati anda hanya karena anda memberi perpuluhan ke gereja, sementara tuhan yang sama tidak bisa melepaskan orang kristen Timur Tengah dari genosida sistematis para penguasa Arab & radikalis Islam ?

 

Sama seperti anak saya yang kegirangan karena memijit mulut selang, melihat debit airnya yang lebih kencang, tapi tidak sadar bahwa itu hanyalah perasaan semu saja, demikianlah logika kebanyakan dari kita, yang tidak mau berpikir secara menyeluruh, dan senang berkanjang dalam romantisme agama.