Menjalani pelatihan untuk mendapatkan sertifikat guru profesional sejak hari Rabu siang, awalnya terpikir bahwa semua dosen UNNES itu dogmatis. Saat pembukaan, pembawa acara sudah membuka dengan kalimat  "Mari kita buka acara ini dengan mengucapkan Bismillah"

Dan saya agak heran, kenapa hal tersebut diucapkan dalam acara dimana hadirinnya tidak semua beragama Islam. Menurut saya itu sangat pantas dilakukan saat acara-acara keagamaan. Tapi acara umum begini, saya kok agak pekewuh sama pemeluk agama lain jadinya. Terkesan mengabaikan keberadaan mereka. 

Ketika pejabat UNNES yang membuka acara, Pembantu Rektornya membuka acara, beliau mengucapkan salam dan mengulang untuk kedua kalinya karena merasa jawaban dari salam yang pertama kurang keras. Sampai-sampai mengatakan semoga yang tidak membalas salam tidak lulus PLPG. 

Saya tersenyum simpul. Pak Purek pasti sedang bercanda. Saya kira beliau juga pasti sadar kalo di sini tidak semua orang beragama Islam.

Sejak pembukaan saya berpikir bahwa sepertinya UNNES dipenuhi dosen-dosen yang agak fanatik sampai Minggu pagi ini, ketika seorang dosen yang di kalangan teman-teman terkenal killer. Saya kira teman-teman benar. Kata-kata beliau menusuk hati. Kritikan tajam selalu muncul dengan nada tinggi dan untuk telinga orang Jawa agak bikin meriang. Tapi hari ini saya tiba-tiba jatuh cinta pada beliau. 

Ceritanya hari ini kami harus membuat rencana mengajar dan mestinya dikumpulkan. Tapi teman-teman belum selesai dan kebetulan tugas saya sudah kelar, jadi saya ajukan punya saya. Well, seperti biasa, beliau kembali berteriak marah karena apa yang saya tulis sungguh dari harapan. Saya dianggap tidak paham bagaimana membuat penilaian. Dan ini memang banyak dilakukan banyak guru di Indonesia. 

"Percuma ada sertifikasi," kata beliau dengan nada tinggi dan muka masamnya yang khas.

Tiba-tiba muncul statement yang mengagetkan saya, katanya, 

"Jangan-jangan pelajaran bahasa Inggris ini sama nasibnya dengan pelajaran agama!"

What? Saya melongo. Tumben ada dosen yang begini. Dosen-dosen yang lain terkesan dosen yang 'baik-baik'. Enggak banyak komentar dan hanya memberikan pelajaran yang relevan. Tidak ada komentar yang kontroversial.

"Apa tujuan pelajaran agama, sebenarnya?" teriak beliau lagi.

Seorang teman di depan menjawab, "untuk membentuk pribadi yang muttaqin"

"Apa muttaqin itu?"

"Pribadi yang baik," teman saya yang sama menjawab lagi.

"Apa ukuran baik itu?"

"Rajin solat"

"Memangnya kalo rajin solat itu sudah jaminan orang itu baik?"

Teman saya diam.

"Selama masih banyak orang kaya Nazaruddin, pelajaran agama itu percuma!" 

Kami semua tersenyum, beberapa tertawa lirih. Hal ini memang sebuah ironi. Tapi berapa orang yang berani bicara begini? Tak banyak.

Siang ini, meski pak Amir, nama dosen itu mengupas habis tugas yang sudah saya buat dan mengatakan bahwa jangan-jangan pelajaran bahasa Inggris itu percuma karena diajarkan sekian lama tetap saja anak Indonesia tak mampu berbahasa Inggris, tapi saya tiba-tiba salut sama bapak ini.