Sungguh menarik membayangkan apa yang dikutip Carl Sagan pada bukunya Cosmos (1980), mengikuti Edwin Abbott seorang sarjana yang hidup di Inggris zaman Victoria, dia memberikan nama tempat ilustrasi cerita ini sebagai Negara Datar.

 

Di dalam buku tersebut menceritakan kehidupan di sebuah Negara Datar. Negara yang dihuni makhluk-makhluk berbentuk datar. Ada yang berbentuk segi empat, segi tiga, dan bentuk-bentuk datar lainnya. Makhluk-makhluk itu sibuk keluar masuk bangunan datar, sibuk dengan kegiatan-kegiatan dan kesibukan mereka yang datar.

 

Makhluk-makhluk di Negara Datar terperangkap dalam dunia dua dimensi (panjang dan lebar). Tidak sedikit pun dari mereka tahu tentang atas-bawah, sedikit pengertian pun tidak. Kecuali ahli matematikawan Negara Datar, “Dengarkanlah, mudah sekali untuk mengetahui tentang dimensi lain yang tegak lurus pada kedua dimensi ini..”

 

Makhluk penghuni Negara Datar berceletuk, “Bicara apa kau? Tegak lurus pada dua yang lain. Hanya ada dua dimensi!. Tunjukanlah di mana dimensi ketiga?!”

 

Ahli Matematika itu pun kecewa dan berjalan dengan lunglai. Tidak ada yang mendengarkan kata-katanya.

 

Suatu ketika makhluk dari tiga dimensi berbentuk apel datang ke Negara Datar. Begitu melihat makhluk segi empat di Negara Datar dengan semangat persahabatan antardimensi, makhluk tiga dimensi berbentuk apel yang melayang di atasnya memberikan salam, “Halooo, saya makhluk tiga dimensi! Senang mengenalmu…”

 

Makhluk dua dimensi berbentuk segi empat yang malang itu tidak dapat melihat siapa pun di sana. Lebih buruk lagi dia mengira, suara salam tersebut muncul dari badannya yang datar, suara dari dalam. Dia berpikir, mungkin dia telah menderita gejala kegilaan.

 

Begitu lah kira-kira apa yang akan terjadi pada kita seandainya ada makhluk 4 dimensi fisik mengunjungi kita makhluk tiga dimensi (ruang). Makhluk empat dimensi ini dapat muncul dan menghilang sesuka hatinya. Ia dapat mengambil kita dari ruang yang terkunci rapat dan membuat kita tiba-tiba muncul di suatu tempat.

 

Beruntung bila tiba-tiba muncul di suatu planet berisi wanita-wanita cantik dan seksi. Bagaimana kalau tiba-tiba muncul di suatu planet berisi hewan seram raksasa yang haus seks, misalnya Dinosaurus hiperseks??!! Terus terang, saya tidak mau menjadi korban pemerkosaan berjamaah para Dinosaurus sialan tersebut!!

 

Kesulitan kita membayangkan dimensi yang lebih tinggi dari dimensi tempat kita tinggal sama dengan kesulitan yang dialami mahkluk dua dimensi di atas ketika disuruh membayangkan tiga dimensi.

 

Teori superstring menggambarkan semesta sepuluh dimensi dengan sembilan dimensi ruang dan satu dimensi waktu, dengan skala Planck yang kurang lebih 10 triliun kali lebih kecil daripada skala atomik.

 

Menurut para ahli teori superstring, saat Big Bang sembilan dimensi ruang tersebut (termasuk 3 dimensi ruang kita) identik. Dengan memuainya semesta, hanya tiga dimensi yang ikut berekspansi bersama semesta. Sementara keenam dimensi lainnya terpilin menjadi apa yang disebut dengan ruang internal (internal space) kira-kira dengan skala 10^-33 cm.

 

Menurut teori-M perluasan dari teori superstring, dimensi tak hanya 10 namun lebih dari itu yakni, 11 dimensi.  Tidak hanya berisi dawai bergetar, tapi juga bisa titik atom (satu dimensi), lembar (dua dimensi), kubus (tiga dimensi), dan bentuk-bentuk lain yang sulit kita bayangkan (bentuk empat dimensi ke atas).

 

Eksotisme dimensi-dimensi tersembunyi hanya akan menjadi keindahan matematis di atas kertas semata, jika kita tak mampu untuk mereduksinya menjadi dunia nyata empat dimensi (tempat yang biasa kita kenal). Seperti cerita penghuni negara datar yang tak akan pernah dapat memahami keindahan dunia tiga dimensi.

 

– RLT

 

Daftar Pustaka:

Sagan, C .(1980). Cosmos. New York: Ballantine Books.

Hawking, S. (2011). The Grand Design. New York: Bantam Books.

Setiawan, S. (1994). Gempita Tarian Kosmos. Yogyakarta: Andi Offset