Kalangan Kristen literalis menerima tuturan injil-injil Perjanjian Baru tentang Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, dengan sisa 12 bakul penuh (Markus 6:30-44 dan par.), sebagai tuturan sejarah faktual apa adanya. Bagi mereka, dengan memakai iman sebagai senjata pamungkas pertahanan diri, kisah ini adalah kisah sejarah faktual, yang hanya perlu diterima kebenarannya tanpa ragu, dan tak perlu diadakan investigasi saintifik untuk memeriksa faktualitas kisah ini. Mereka sama sekali mengenyampingkan berbagai ciri dan sifat hiperbolik serta tujuan kisah-kisah hebat skriptural religius yang ditulis sebagai media propaganda ideologis, devosional dan apologetis. Iman keagamaan memang kerap memblokir pemikiran kritis, lalu mematikannya.

 

Kontras dengan itu, kalangan Kristen kritis non-literalis memahami kisah mukjizat pemberian makan 5000 orang ini sebagai sebuah mitos, sebuah metafora, sebuah perumpamaan, a parable. Sebagai sebuah metafora, sebuah mitos, kisah ini tidak bermaksud mengisahkan sejarah faktual apa adanya, tetapi mau menyampaikan pesan-pesan teologis dalam rangka pembinaan komunitas atau dalam rangka propaganda agama. Sebuah pesan teologis bukanlah sebuah berita tentang suatu peristiwa sejarah, tetapi sebuah berita yang disampaikan untuk membangkitkan antara lain sebuah penyembahan dan pengagungan, sebuah sikap devosional reverensial, terhadap figur-figur besar yang dikisahkan di dalam kisah-kisah skriptural.

Mari kita adakan investigasi kritis lebih jauh terhadap kisah ini.

Harus diingat betul-betul bahwa yang ditemukan dalam Alkitab bukan mukjizat-mukjizat, tetapi kisah-kisah tentang mukjizat. Pembaca masa kini bukanlah penyaksi mukjizat-mukjizat yang dikisahkan di dalamnya, tetapi hanya sebagai para pembaca kisah-kisah itu. Kisah-kisah tentang mukjizat harus diterima apa adanya, yakni sebagai kisah-kisah. Memperlakukan kisah-kisah tentang mukjizat sebagai sama dengan fakta-fakta mukjizat empiris objektif adalah suatu lompatan yang terlampau jauh, melampaui keterbatasan kisah-kisah yang ditulis sebagai karya-karya sastra.

Selain itu, harus senantiasa diingat bahwa kisah-kisah mukjizat dalam kitab suci apapun tak pernah dimaksudkan untuk ditujukan kepada para pembaca modern oleh para penulis kisah-kisah ini dulu. Kita sebagai pembaca modern atas kisah-kisah dalam kitab suci adalah para penyelundup, yang memaksa masuk ke dalam dunia kisah kuno dan ke dalam dunia kuno para penulis kisah-kisah ini. Selalu ada kesenjangan sejarah (= kesenjangan temporal) dan kesenjangan budaya (= kesenjangan pemikiran) antara kita para pembaca modern dan para penulis kitab-kitab suci kuno.

 

Lagi pula, dalam Perjanjian Baru, kisah-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Selalu akan ada kesenjangan antara apa yang dikisahkan (misalnya oleh penulis Injil Markus di tahun 70) dan apa yang faktual telah terjadi (yang dilakukan Yesus pada awal tahun 30-an). Kalaupun para penulis kisah-kisah mukjizat memakai tradisi-tradisi lisan yang berawal pada masa kehidupan Yesus, semua tradisi lisan disebarkan tidak apa adanya, melainkan selalu mengalami penyuntingan, editing, sehingga mengalami banyak perluasan, penambahan, pembesar-besaran, dan perubahan, sehingga kisah-kisah ini makin jauh dari fakta-fakta di masa lampau.

 

Sebagai kisah-kisah, kisah-kisah tentang mukjizat dapat dianalisis secara rasional ilmiah, dengan mengajukan antara lain pertanyaan-pertanyaan berikut:

* dalam konteks sosial-kultural historis dan religius apa kisah-kisah itu ditulis;

* faktor-faktor apa yang berperan di dalam penulisan kisah-kisah itu;

* untuk kisah-kisah tentang mukjizat dalam Perjanjian Baru, adakah kisah-kisah paralel yang dapat ditemukan dalam dunia Greko-Romawi;

* apa tujuan penulisan kisah-kisah tentang mukjizat dalam konteks luas dunia Greko-Romawi;

* di tempatkan dalam konteks zamannya dan dalam konteks temuan-temuan arkeologis mutakhir dan kajian-kajian antropologis lintas-budaya, apakah ada hal-hal yang dikisahkan yang tidak mungkin terjadi dalam sejarah;

* termasuk ke dalam jenis sastra (literary genre) apakah kisah-kisah tentang mukjizat itu;

* dalam konteks seluruh dokumen sastra yang memuat kisah-kisah mukjizat itu, apa fungsi sastrawi dari kisah-kisah tentang mukjizat itu;

* dan mengapa kisah-kisah ini muncul dalam suatu konteks sastra tertentu dan bukan dalam suatu konteks sastra lainnya.

 

Kisah tentang Yesus memberi makan lima ribu orang (laki-laki) dengan lima roti dan dua ekor ikan, pertama-tama adalah kisah, bukan fakta. Di sini kita berhadapan dengan kisah Injil tentang mukjizat Yesus, bukan dengan mukjizat Yesus itu sendiri.

 

Warga gereja kebanyakan tidak menyadari bahwa hanya dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus sendiri langsung membagi-bagikan makanan itu kepada lima ribu orang itu (Yohanes 6:11); sedangkan dalam Injil-injil lainnya para murid Yesuslah yang membagi-bagikan makanan yang sebelumnya mereka telah terima dari Yesus. Perbedaan pengisahan ini memperlihatkan adanya perbedaan sudut pandang tentang siapa Yesus bagi penyusun Injil Yohanes. Kenyataan adanya perbedaan tekstual semacam ini sudah tak memungkinkan orang untuk memperlakukan semua kisah dalam injil-injil PB sebagai kisah-kisah sejarah. Mana yang benar, Yesus sendiri yang membagi-bagikan, atau murid-muridnya yang mengedarkan makanan itu? Tak mungkin ada dua sejarah yang berlainan, untuk hanya satu kejadian! Salah satunya saja yang benar, atau keduanya salah sekaligus.

 

Sejalan dengan kristologi Injil Yohanes secara keseluruhan, Yesus di dalam kisah pemberian makan dalam Injil Yohanes ini ditampilkan sebagai seorang yang serba mandiri dan sanggup sendirian mengatasi segala permasalahan yang mendatangi dirinya.

 

Harap dimaklumi, bukan tempatnya di sini untuk mengajukan semua pertanyaan di atas kepada kisah ini.

 

Terhimpunnya dalam satu hari orang laki-laki sampai lima ribu orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) bukanlah kejadian mudah; ini adalah sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan Yesus dengan aman-aman saja, mengingat baik Herodes Antipas (penguasa Galilea dan Perea) maupun Roma (penjajah seluruh tanah Palestina zaman Yesus) akan segera bereaksi secara represif militeristik terhadap setiap usaha menghimpun massa dalam jumlah besar, seperti telah terjadi pada Yohanes Pembaptis yang dibunuh Herodes Antipas karena kekuatirannya atas massa pengikut Yohanes Pembaptis (baca tuturan tentang ini dalam Flavius Yosefus, Antiquities 18.116 dyb) dan pada kegiatan-kegiatan sejenis lainnya seperti telah dilaporkan juga oleh sejarawan Yahudi yang sama, Yosefus.

 

Jadi, dilihat dari konteks sosio-politis zaman Yesus, sangat mustahil kalau Yesus bisa menghimpun lima ribu orang laki-laki dengan dirinya tetap aman-aman saja. Selain itu, harus diingat, pada zaman kuno total penduduk di kawasan-kawasan di sekitar tempat terjadinya pemberian makan lima ribu orang itu jelas tidak mencapai angka lima ribu.

 

Ada tiga golongan penafsir atas kisah tentang mukjizat pemberian makan lima ribu orang ini. Yang pertama adalah kalangan supernaturalis, yang menyatakan bahwa Yesus, dengan kekuatan supernaturalnya, betul-betul faktual pernah melakukan mukjizat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, dengan sisa dua belas bakul (dari mana bakul-bakul ini berasal?).

 

Masalah dari tafsiran kalangan supernaturalis ini adalah kesulitan orang entah untuk membayangkan terhimpunnya bergunduk-gunduk roti dan ikan mendadak sehabis makanan-makanan ini (lima ketul roti dan dua ekor ikan) didoakan Yesus, atau pun untuk membayangkan bahwa di tangan para murid yang membagi-bagikan makanan itu akan langsung muncul roti-roti dan ikan-ikan baru tidak habis-habisnya sampai semua orang yang duduk berhimpun mendapat makanan. Para mentalist dan illusionist dalam zaman modern yang piawai memakai trik teknologis dan trik mental untuk memperdaya masyarakat juga pasti tidak bisa mengadakan kejadian semacam ini: mengadakan gundukan roti secara mendadak bergunung-gunung di sekitar diri mereka!

 

Penafsir kedua adalah dari golongan rasionalis (atau golongan naturalis). Mereka menyatakan bahwa prakarsa Yesus dan para murid untuk membagi makanan itu kepada beberapa orang yang sedang duduk di barisan terdepan telah mendorong orang-orang lain di dalam perhimpunan besar itu untuk juga membagi-bagi makanan yang mereka telah bawa dari rumah masing-masing kepada orang-orang lainnya, sehingga akhirnya semua orang mendapatkan roti dan ikan yang cukup, tanpa perlu mukjizat terjadi. Semua kejadiannya sangat natural, alamiah biasa. Kesulitan tafsiran rasionalis ini adalah teks Injil-injil jelas-jelas tidak berbicara tentang sharing of bread dan sharing of fish semacam itu. Sebaliknya, dalam Injil-injil dikatakan bahwa orang-orang yang berhimpun di situ sama sekali tidak membawa makanan apa pun, kecuali hanya lima roti dan dua ekor ikan (yang ada pada seorang anak).

  

Tetapi harus diakui bisa saja hal yang dibayangkan kalangan penafsir rasionalis ini secara faktual historis benar; tetapi karena kejadian historis yang semacam ini tidak membuat Yesus tampil sakti mandraguna, maka sejarah diubah oleh para penulis kitab-kitab injil dalam Perjanjian Baru (mulai dari Markus) sehingga lahirlah kisah-kisah hebat tentang Yesus membuat mukjizat pemberian makan 5000 orang ini yang kita dapat baca sekarang dalam injil-injil PB. Sudah menjadi suatu kecenderungan umum di kalangan orang Kristen perdana dulu untuk semakin lama semakin mempermuliakan dan mengagungkan Yesus, bahkan akhirnya sampai menempatkan Yesus setara dengan Allah sendiri, karena mereka dengan tidak mau kalah sedang terlibat dalam suatu persaingan ideologis sengit dengan kalangan-kalangan lain di dunia Yunani-Romawi yang sudah memiliki figur-figur mahaagung mereka sendiri, seperti Kaisar Augustus yang dipandang orang Roma sebagai sang juruselamat dunia yang kelahirannya membawa kabar baik dan keselamatan untuk seluruh kawasan kekaisaran.

 

Tafsiran ketiga yang paling mungkin diterapkan adalah dengan memperlakukan kisah ini sebagai sebuah kisah teologis mitologis, bukan kisah sejarah. Tafsiran teologis sesuai dengan hakikat setiap Kitab Suci sebagai sebuah kitab keagamaan, sebuah kitab teologis, bukan sebuah kitab sejarah.

 

Kisah pemberian makan lima ribu orang ini klop dengan keseluruhan pesan teologis Injil Matius. Bagi penulis Injil Matius, Yesus adalah “Musa yang baru”, yang membawa hukum baru, dan yang mengulangi kembali bahkan melampaui kisah-kisah besar yang pernah dikisahkan tentang Nabi Musa. Harus jangan dilupakan bahwa bagi bangsa Yahudi kapanpun juga, nabi teragung mereka bukanlah Abraham/Ibrahim, melainkan Musa. Jadi, jika orang mau bersaing secara ideologis dengan Yudaisme, orang ini perlu menciptakan satu figur suci yang harus setara dengan atau bahkan melampaui Musa.

 

Kalau dulu untuk memelihara umat Israel yang sedang berada dalam perjalanan di padang gurun di bawah pimpinan Musa (dan Harun) Allah telah memberi mereka makan “daging” dan “roti” (yang disebut manna) (lihat Keluaran 16), kini, untuk umat Allah yang baru, yaitu Israel baru (= gereja Matius), Yesus sebagai Musa yang baru atau bahkan lebih besar dari Musa juga telah memberi himpunan besar para pengikutnya roti dan daging ikan sampai mereka kenyang, langsung dari tangannya sendiri. Di tangan penulis Injil Matius, Musa adalah nabi besar tipologi Yesus, nabi yang muncul kembali di dalam figur Yesus yang muncul kemudian dalam sejarah Israel, yang melakukan perbuatan-perbuatan yang sejajar dengan, atau lebih hebat dari, yang dilakukan Musa.

 

Atau, dalam pandangan Matius, Yesus adalah Nabi Elia yang baru, atau bahkan lebih agung dari Nabi Elia, yang sanggup tanpa habis-habis memberi roti kepada bukan hanya satu orang, tetapi kepada banyak orang, kurang lebih serupa dengan apa yang pernah dilakukan Elia kepada seorang janda di Sarfat dalam konteks lain (lihat 1 Raja-raja 17:7-16). Bagi orang Yahudi pada abad pertama Masehi, Elia adalah figur nabi agung yang tak pernah mengalami kematian fisik sebab dia dulu dipercaya telah diangkat ke surga dengan kereta berapi yang ditarik kuda berapi ( 2 Raja-raja 2:11) dan dia dipercaya akan datang kembali pada "hari Tuhan" (Maleakhi 4:5), dan mereka menunggu kedatangannya sebagai salah satu tahap dari tindakan-tindakan besar Allah untuk memulihkan pamor dan kedaulatan bangsa Yahudi. Komunitas Matius percaya, bahwa Yohanes Pembaptis yang menjadi pendahulu Yesus, adalah nabi Elia sendiri yang telah datang kembali (Matius 11:13-14).

 

Jadi, pemberian makan 5000 orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan, hanya ada dalam teks, dalam dunia kisah, dalam dunia ide teologis, bukan dalam sejarah insani faktual.

 

Dengan mempertimbangkan semua hal di atas, saya memutuskan untuk memandang kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan 5000 orang (lelaki) dengan 5 roti dan 2 ekor ikan sebagai kisah-kisah fiktif yang ditulis untuk mempertahankan sebuah teologi atau sebuah mitos tentang Yesus bahwa Yesus itu lebih besar dari Musa, atau bahwa Yesus adalah nabi yang sejajar dengan nabi agung Elia, yang sanggup untuk mengenyangkan semua pengikutnya, sehingga mereka, sebagai orang Yahudi, perlu berpaling kepadanya dan percaya penuh.

 

Jadi, kisah-kisah ini adalah propaganda politis teologis Kristen yang disusun ketika umat Kristen perdana sedang berusaha menjadi besar di tengah tekanan dari berbagai kelompok pesaing, misalnya dari Yudaisme, sekaligus sebagai kisah-kisah devosional yang dapat membangun fanatisme yang makin kuat dalam diri komunitas para penulis Injil terhadap Yesus, sang Tuhan mereka.