Malam itu, sendiri saja menjelang pergantian hari (sebenarnya masih kira2 satu jam lagi), dihembus hawa dingin dari AC Commuterline yang hanya terasa dingin di malam hari menuju sebuah rumah kreditan yang tak kunjung rapi di salah satu ujung Jakarta.

Berteman sebuah buku yang dibeli minggu lalu, yang berkisah tentang pemasaran, bagaimana seorang pembeli dalam memutuskan pembeliannya tidak berdasarkan rasio/logika nya tapi lebih berdasarkan perasaaan hatinya, dan betapa penting seorang penjual handal mampu merebut ‘hati’ calon pembelinya. Buku yang menarik, relevan dgn pergulatan batin aku yang makin mengeras beberapa minggu terakhir ini mengamati bisnis telekomunikasi yang makin keras dan penuh persaingan.

Tapi entah kenapa beberapa bulan terakhir ini kemampuan ku mengkonsumsi buku2 seperti menguap, meskipun aku berusaha mendisiplinkan diri utk membaca tuntas setidaknya 1 judul seminggu, sebuah jumlah yang jauh dari rekor ku sewaktu masih kuliah. Mungkin kerasnya hidup di Jakarta dan budaya instan internet yang jadi sebab ? ah atau mungkin aku saja yang malas dan makin tua, atau barang konsumsi ku sudah beralih dari buku ke makan minum di kafe/restoran asing, busana ber merk kortingan, atau bbm non subsidi…hmm atau kombinasi semua faktor diatas…entahlah…Dulu Dunia Sophie aku tuntaskan dalam 3 hari dan Novel Pram rata2 dalam sehari…

Tapi dulu memang aku punya banyak waktu karena toh aku jarang masuk kuliah….

Tapi kali ini aku tidak hendak bercerita tentang buku, apalagi konsep pemasaran atau industri telekomunikasi. Itu cerita untuk kali lain saja, aku lebih suka membagi perenungan ku tentang perjalanan….perjalanan apa saja.

Lebaran baru saja lewat, perjalanan mudik puluhan juta manusia serempak dalam beberapa hari merepotkan tidak hanya para pemudik sendiri tetapi juga pemerintah.

Bagi yang tidak beruntung, keinginan untuk bertemu sanak saudara dan handai tolan berubah menjadi isak tangis krn menjadi korban tindak kriminal di tengah perjalanan, mengalami kecelakaan, atau bahkan kisah hidupnya sendiri yang harus berakhir tragis.

Beberapa artikel di media massa mengulas fenomena ini dari berbagai sudut pandang. Ada yang sinis berpendapat, ini adalah fenomena ‘show off’, pamer keberhasilan materi. Yang lain, appresiasi budaya silaturahmi. Yang lain lagi, keinginan untuk berbagi pada sesama di kampung…dll….

Tapi bagiku sebuah perjalanan adalah proses pribadi, apapun bentuknya perjalanan itu, perjalanan rutin ke kantor/sekolah, mudik yang merepotkan dan melelahkan, bahkan perjalanan kehidupan yang dimulai ketika anda dan aku hadir sampai kita menutup mata dan meninggalkan dunia untuk kembali lagi pada alam, pada semesta, pada ketiadaan yang abadi.

Sebuah perjalanan tanpa tujuan pasti, merupakan pengembaraan. Sebuah perjalanan kehidupan adalah perjalanan yang penuh ketidak pastian. Tidak ada yang pasti selain ketidak pastian sendiri.

Sebaliknya yang aku lihat digerbong itu adalah hembusan napas dan detak jantung penumpangnya (termasuk aku juga) dipenuhi dgn daya upaya utk membuat semuanya menjadi pasti. Para pekerja kantor yang bekerja larut malam utk ‘memastikan’ tersedianya cukup sandang pangan papan bagi keluarganya, beberapa pekerja kasar lusuh nampak lelah setelah ‘memastikan’ hari ini dia bisa makan cukup utk menyambung hidup esok hari. Ibu muda bergaji pas pas2an berdandan modis utk ‘memastikan’ suaminya tidak berbuat macam2.

Untuk ku, cukuplah aku pastikan KRL yang ku naiki sampai di stasiun tujuan, pulang ke rumah kreditan, dan merebahkan diri diatas kasur pegas yang belum lunas sembari mengistirahatkan otak yang terlalu sering mengembara kemana2. Tidur adalah kemewahan hidup tertinggi bagiku, dgn tidur semua bagian tubuh kita rehat sejenak, denyut jantung melemah, tekanan darah turun, otak kita memasuki kondisi tenang, segala pelik dan ruwetnya hidup sejenak lenyap dalam lelap. Dan tidur, adalah satu satunya hal yang bisa aku lakukan dimanapun dengan kenikmatan dan faedah yang sama.

Dulu kala, ber tahun tahun lalu, email id yang aku miliki adalah ‘sang pengembara’…..wuihh rasanya keren banget itu nama, kesannya puitik dan romantis, sedikit misterius. Membayangkan seorang manusia yang mengembara, dari satu tempat ke tempat lain, menulis dan menuturkan kisah pada orang2 yang ditemui di sepanjang perjalanan, berbincang bincang ringan sampai berat, menyanyi lantang di padang gurun, berlari telanjang di hutan, makan makanan apapun yang bisa dimakan, tidur dimana saja, mengembara seperti para nabi……sampai suatu saat harus berhenti dan menyerah pada waktu.

Tak menghamba pada siapapun, pada apapun, tak dihamba siapapun. Menyerah pada tujuan, bahwa kehidupan sesungguhnya sederhana saja, yaitu pengembaraan rohani pula jasmani. Tujuan akhirnya adalah pencarian akan kebahagiaan.

Manusia2 jaman ini mendefinisikan kebahagiaan sbg sebuah status yang materiil. Keluarga yang utuh istri/suami yang rupawan dan menawan, anak2 yang sholeh dan pintar, materi yang cukup, rumah nyaman, mobil mewah, pengakuan masyarakat, dianggap hebat krn jabatan ini itu, dianggap sukse krn memiliki ini itu.

Tapi cobalah renungkan cerita ini (aku ambil dari salah satu catatan pinggir Gunawan Muhammad) :

Alkisah seorang Raja Diraja, Abu Ishaq Ibrahim Ibn Adham. Meski ‘dunia’ di bawah kekuasaannya, meski 40 pedang emas dan 40 tongkat emas selalu mengiringi depan dan belakangnya, namun semuanya urung menghalangi bisikan hatinya.

Ibrahim Ibn Adham– yang dikisahkan syahid di tahun 165 H/ 782 M dalam sebuah ekspedisi laut melawan pasukan Byzantium– pada suatu tengah malam tidur di pembaringan kerajaan. Di tengah tidurnya, ia merasakan ada orang yang seolah berjalan di atas atap kamarnya.

“Siapa itu?” teriaknya.
“Seorang teman. Aku kehilangan unta, dan kini tengah mencarinya di atas atap ini,” jawab si pemilik suara.
“Dasar bodoh, engkau mencari unta di atas atap?” ujar Ibrahim.
“Orang bodoh?” tukas suara itu.
“Apakah engkau mencari Tuhan di dalam pakaian sutra dan di dalam tempat tidur emas?” sindir si pemilik suara.

Kalimat terakhir itu menyentak Ibrahim. Sesuatu terasa mengganjal dalam hatinya. Sepanjang malam ia gelisah. Hingga ketika pagi tiba, ia kembali ke singgasananya mencoba mencari makna.

Belumlah sempat ia mampu memecahkan gerangan apakah maksud perkataan semalam, seorang lelaki buruk rupa tiba-tiba memasuki ruang istananya. Karena buruknya, tak seorang pun pejabat dan pelayan yang sempat menegurnya.

“Apa maumu?” tanya Ibrahim.
“Aku singgah di penginapan ini,” kata si lelaki buruk rupa.
“Ini bukan penginapan. Ini adalah istanaku, wahai kamu yang telah gila,” teriak Ibrahim setengah marah.
“Siapa yang memiliki istana ini sebelumnya?” tanya si lelaki.
“Ayahku.”
“Sebelumnya?”
“Kakekku.”
“Dan sebelumnya?”
“Buyutku.”
“Sebelumnya lagi?”
“Ayah dari buyutku.”
“Kemana mereka semua pergi?” ujar si lelaki melanjutkan.
“Mereka telah tiada. Mereka telah wafat,” jawab Ibrahim.
“Lalu apa lagi namanya tempat ini kalau bukan penginapan, jika orang-orang hanya masuk dan kemudian pergi,” kata si lelaki buruk rupa.

Setelah berkata demikian, lelaki asing itu pun menghilang tanpa jejak. Menurut riwayat, lelaki itu tak lain Nabi Khidhr as.

Kejadian-kejadian misterius itulah, yang awalnya tak mampu dijelaskan akal Ibrahim, tapi akhirnya membuat dirinya bersimpuh meletakkan segala sesuatu yang membuatnya merasa tinggi hati.
Ketika suara itu, panggilan itu, telah paripurna dalam segenap intuisinya, ia menghampiri seorang gembala domba. Diberikannya jubah bersulam emas beserta mahkota bertahta permata, kemudian berganti mengenakan pakaian dan penutup kepala sang gembala yang terbuat dari bulu hewan.

Syahdan, saat itu semua malaikat seraya berdiri memandang Ibrahim.
“Betapa agung kerajaan yang kini dimiliki Ibn Adham,” ujar para malaikat.
“Ia telah membuang pakaian dekil duniawi, dan kini mengenakan jubah agung kemiskinan.”
Ibrahim Ibn Adham, sorang legenda sufi, memilih menghilang dari Kerajaan Balkh, dan mengembara ke arah barat untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa.

‘Kepastian’ hidup sebagai seorang raja penuh kuasa, wibawa, pengikut dan pengaruh ditinggalkannya, mengosongkan diri, menjadi hampa, lalu pergi utk mengembara, menempuh sebuah perjalanan. Menyambut ketidak pastian, menikmati yang tak terduga. Cerita2 serupa seperti ini bertebaran dalam khazanah sastra dan spiritual. Cerita tentang seorang pangeran Sakya, Sidharta Gautama, juga kisah2 dalam mitologi Yunani.

Dalam kebudayaan Jawa, ada sebuah tembang yang berbunyi seperti ini

Kawruhana sejatining urip (ketahuilah sejatinya hidup)
urip ana jroning alam donya (hidup di dalam alam dunia)
bebasane mampir ngombe (ibarat seperti mampir minum)
umpama manuk mabur (seperti burung terbang)
lunga saka kurungan neki (pergi dari kurungannya)
pundi pencokan benjang (dimana hinggapnya besok)
awja kongsi kaleru (jangan sampai keliru)
umpama lunga sesanja (umpama orang pergi bertandang)
njan-sinanjan ora wurung bakal mulih (saling bertandang, yang pasti bakal pulang)
mulih mula mulanya (pulang ke asal mulanya)

Perjalanan hidup ini singkat, seperti mampir minum saja.

Usia ku sudah hampir 34 thn sebentar lagi, bapak ku meninggal ketika mendekati usia 61 thn, harapan hidup penduduk pria Indonesia berdasarkan data BPS adalah 67 thn. Itu artinya aku sudah menempuh lebih dari separuh waktu ku di dunia, aku sudah minum bermacam2 jenis air kehidupan, air peceren (got), air susu busuk, air jeruk masam, air embun pagi nan segar, air anggur yang enak, air the poci nasgitel yang menenangkan, air capucino yang mendamaikan hati, berbagai macam jenis air.

Perjalanan pribadi ku, tanpa terasa sudah separuh aku tempuh…….tidak lama lagi aku akan kembali pada semesta. Moksa….lalu abadi, menjadi angin, menjadi debu, menjadi ilalang, menjadi ombak. Dan rasanya sudah selama itu, aku masih belum mencapai apapun, begini2 saja, diam di tempat. Kalo besok aku mati, mungkin malah ada banyak orang yang bersorak gembira krn telah berpulang seorang yang tak berguna.

Lalu kenapa, ada banyak orang yang bahkan dengan bangga menipu, mencuri, mengambil hak orang lain, padahal pada posisi yang strategis seperti mereka selayaknya mereka menggunakan satu2 nya yang harta yang mereka miliki mutlak, yaitu sang waktu, untuk membuat sejahtera rakyat banyak, orang miskin papa, agar air yang diminum kaum terpinggirkan itu tidak melulu air comberan tapi sesekali air kelapa muda yang segar.

Bukankah satu2 nya yang menjadi milik manusia hanya waktu…..segala macam harta benda dapat musnah seketika, tetapi waktu tetap milik kita selama masih bisa bernapas. Lalu kenapa digunakan untuk dengan sengaja menyengsarakan orang lain ?

VITA BREVIS……………

Selamat menempuh perjalanan hidup kita masing masing ! Selamat sampai tujuan !