Tag

Bersyukur, suatu kata yang mudah diucapkan tetapi sulit sekali dilaksanakan dengan ikhlas.

 

Masih ingat ketika saya masih taat beragama dan merasa telah berada di jalan yang paling benar. Tapi kok ya setiap lagi ada rejeki, berbentuk duit atau apapun, malah kurang bersyukur, dan malahan senantiasa merasa rejeki itu kurang. Sering sekali berkata dalam hati maupun out loud "yah kok cuma segini sih?" Nah, itu pas ada rejeki atau kesenangan yang datang, coba bayangkan kalau sedang diberi "cobaan" yang katanya juga harus kita syukuri. Boro boro bersyukur, yang ada malah sumpah serapah, marah sama nasib dan juga marah sama Tuhan.

Jaman itu walaupun segala sesuatu berkecukupan dan cenderung berlebihan tetapi semua hal itu tidak terlihat sama mata, seakan malah segala sesuatunya kurang. Yang terasa adalah hidup itu penuh dengan penderitaan, dan merasa seperti itu di tengah 'nyetir mobil anyar yang dan ber-AC, dalam perjalanan harian ke mall pulang kantor untuk mengusir kebosanan dengan shopping tiada henti. Even in that condition saya sepertinya tidak bisa bersyukur dan memilih utk nit-picking atau berfokus kepada hal hal yg kurang dalam hidup saya yang sebetulnya tidak ada kurangnya.

Satu dekade lebih telah berlalu semenjak masa masa itu dan hidup saya sekarang ini jauh berbeda dengan hidup saya yang dulu. Kalau boleh dibilang berubah 180 derajat lah dari segala segi (dan bukan 360 derajat seperti orang orang suka bilang untuk menekankan banyaknya perubahan tersebut, padahal kalau 360 derajat mah ya balik lagi ke tempat yang sama heheheh) , yang sayangnya tidak dapat saya uraikan semua disini, tetapi sekedar menyentuh permukaan saja sih untuk contoh cerita mungkin masih bisa.

Kalau menuruti perasaan dan otak apa yang saya dapatkan sekarang lebih banyak bikin meringis karena sakit atau sedih dibanding tertawa kesenangan karena bahagia, tapi for some reason, mungkin karena saya sudah meninggalkan agama yang diorganisir oleh manusia yang selama ini malah membuat saya hidup seperti zombie yg panik dan ketakutan ketinggalan kereta dan ketakutan dinilai orang, atau mungkin juga faktor u dan ph (umur dan pengalaman hidup) pengerjaan bersyukur dan arti sesungguhnya dari bersyukur atas segala sesuatu yang kita dapatkan, baik maupun "buruk" itu malah jauh lebih luwes dan mengalir bagi saya. Mungkin juga karena setelah tiga dekade lebih hidup di dunia ini saya akhirnya menemukan formula kebahagiaan yg selama ini saya cari dengan desperate tetapi melulu ke tempat tempat yang salah.

Formula ajaib tersebut untuk saya ternyata tidak lain tidak bukan adalah "bersyukur" dan "pasrah" dan mungkin juga karena saya jauh lebih zen sekarang dibanding dulu.

Kalau orang beragama itu mungkin mengerjakan aktivitas bersyukur dan pasrah adalah kepada Tuhan. Mungkin memang sebagai umat yang taat, dan bagi sebagian orang mungkin juga untuk menimba pahala sebanyak mungkin agar nanti di hari penentuan lantai lantai di bawah kaki mereka tidak akan terbuka dan menjatuhkan badan mereka ke dalam api neraka jahanam. Apa yang mereka lakukan, apapun alasannya adalah suatu hal yang saya hormati, tetapi kalau untuk saya pribadi terus terang melakukan kegiatan bersyukur dan pasrah ini lebih untuk  mental state well being saya dan lebih penting lagi agar hidup juga terasa ringan apabila dijalani dengan pengertian penuh bahwa banyak hal yang terjadi adalah di luar kuasa kita, maka kita harus dapat berpasrah diri, dan bersyukur atas apapun yang kita miliki.

Ini bukan omong kosong belaka karena saya adalah living proof hal ini, bahwa ini memang benar benar bekerja. Misalnya ketika yang saya miliki dulu ada 100 buah, tetapi saya kurang bersyukur dan merasa itu tidak cukup karena sibuk melarak lirik tetangga yang punya 120, 200, 1000, maka yang saya rasakan adalah kurang, kurang dan kurang. Sekarang, ketika saya hanya memiliki 25 dan saya fokus dengan diri sendiri saja dan merasa cukup, maka secara ajaib memang ternyata semuanya cukup, dan bahkan suka berlebih dan masih bisa berbagi 1 atau 2 dengan orang lain.

Dulu saya suka meledek falsafah yang saya sebut dengan "falsafah untung" milik orang jawa yang sedikit sedikit bilangnya untung. Misalnya seperti ini, "Untung mati ketabrak mercedes, coba kalau ketabrak bajaj, kan keluarganya tidak bisa minta ganti rugi" wong sudah mati kok ya masih untung.

Tapi sekarang saya kok ya jadi berfalsafah seperti itu juga, memang benar orang jaman dulu bilang hati hati kalau mentertawakan orang karena nanti malah kita bisa berada di tempat yang sama.

"Untung overspeeding cuma 19 km di atas speed limit, jadi denda 80 euro, kalau lebih dari itu bisa kena 150 euro kan?" penerapan prinsip untung yang agak salah karena dari awalnya kenapa sok ngebut ngebutan lupa sama umur dan gak terima kenyataan bahwa sudah uzur dan nyetir harus sudah mulai pelan seperti nenek nenek atau,

"Untung cuma rugi sekian euro, coba kalau lebih dari itu…" dimana penerapan prinsip untung untuk kasus ini lebih ngaco lagi karena namanya udah rugi ya tidak untung, mau rugi cuma satu perak atau seribu perak, tetap aja sama sama rugi walaupun degree of sufferingnya rugi 1 perak dan 1000 perak itu memang berbeda.

Namun walaupun agak salah maupun ngaco, saya mengalami sekali bahwa bersyukur, even di saat sedang bermasalah pelik justru membantu agar saya lebih kuat lagi, apalagi diiringi oleh berpasrah diri (dalam kasus saya berpasrah diri itu berniat dan usaha se-pol mungkin tetapi pasrah dan bersiap diri apabila hasilnya tidak sesuai apa yang kita harapkan, jadi lebih seperti terapi psikologis dibanding agamis) kedua hal ini jika dilakukan beiriringan ternyata memang resep jitu menjaga kewarasan otak dan kebahagiaan hidup. Kalau saya bisa kasih click like button di bawah falsafah hidup ini seperti yang saya sering lakukan di status teman teman saya di facebook, pasti saya sudah lakukan dari dulu. Tapi berhubung tidak ada apa apa yang bisa di klik jadi saya tulis saja disini, sembari berpromosi falsafah andal sekaligus mengingatkan diri lagi secara diulang biar lebih nglotok lagi penerapannya, paling tidak untuk saya pribadi.