Allah, di manakah Dia? Hanya kekosongan menyelimuti alam…Dari manakah penderitaan berasal?

 

Sebuah jawaban lain atas pertanyaan ini ditemukan dalam gambaran kitab suci Yahudi-Kristen tentang Allah yang menyembunyikan diri dari kehidupan orang saleh. Selama Allah masih bersama dengan orang saleh, Allah berfungsi sebagai suatu "benteng" atau sebuah "perisai" yang melindungi mereka dari segala penderitaan, penganiayaan dan semua musuh (lihat antara lain 2 Samuel 22:2-4; Mazmur 18:3-4; Yeremia 16:19a). Jika Allah menyingkir dari orang saleh, maka orang saleh ini rentan diserang oleh kekuatan-kekuatan jahat kodrati maupun adikodrati, yang membuat mereka tersiksa dan teraniaya.

 

Dari kisah fiktif dalam Perjanjian Lama tentang Ayub yang sangat saleh, kita tahu bahwa penderitaan menerpa Ayub tak habis-habisnya ketika Allah menyingkir dari kehidupan Ayub dan Setan dibiarkan Allah berkuasa atas dirinya (Ayub 1:12; 2:6). Selama Ayub masih dalam penjagaan dan perlindungan Allah, Ayub sukses besar dan makmur dalam segala segi kehidupannya. Ketika Allah menarik diri dan menjauh dari Ayub, sekian azab menghancurkan seluruh kehidupan Ayub dan keluarganya.

 

Karena Allah telah menjauh sekian lama dengan akibat Ayub diterpa penderitaan bertubi-tubi, maka ketika Allah mau kembali kepadanya, sangat sulit bagi Ayub untuk menerima kembali Allah yang semacam ini! Tanpa takut sedikitpun, bahkan dengan kemarahan besar, Ayub melawan dan menerjang Allah ini! Dalam penderitaannya Ayub melihat bahwa Allah sedang “menerkam dan memusuhinya” (16:9; 19:11) dan “merobek-robek dan menyerang dirinya” (16:14). Karena itu, Ayub menyatakan pemberontakannya terhadap Allah yang semacam ini (23:2).

 

Penulis Mazmur 89:47-52 dengan berat mengeluh bahwa dia menerima berbagai macam penghinaan dari segala bangsa ketika Allah bersembunyi dari dirinya terus-menerus. Penulis Mazmur 10:1 bertanya kepada Allah, “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, Ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?”

 

Dalam suatu momen kegiatannya selaku seorang nabi Allah, nabi Yesaya, sementara mengakui Allahnya adalah juruselamat, sampai juga menyatakan bahwa Allah telah menyembunyikan diri-Nya (Yesaya 45:15): “Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat.”

 

Tertutupnya mata sang nabi ini mungkin karena dia dan bangsa Israel tidak bisa memahami  bagaimana Allah mereka sebetulnya bekerja, sehingga mereka tidak bisa melihat tangan Allah Yang Maha Esa (45:5, 14) sedang menggerakkan Koresh, Raja Persia, sebagai Mesias pilihan Allah sendiri, yang akan bertindak untuk kebaikan bangsa Israel (44:28; 45:1, 13).

 

Ketika Yesus menanggung azab di kayu salib, di manakah Allah berada, Allah yang Yesus biasa panggil dengan akrab sebagai sang Abba, sang Bapa? Menurut penulis Injil Markus (dengan mengutip Mazmur 22:2a), ketika Yesus kesakitan di kayu salib, Allah telah meninggalkan dirinya, menelantarkannya, sehingga Yesus pun, dalam kesendiriannya, berteriak keras kepada Allahnya ini, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang artinya, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Markus 15:34).

 

Yesus sengsara di kayu salib karena Allah telah menyingkir darinya. Seandainya Allah masih bersama Yesus, dia tidak akan mati disalibkan. Yesus di sini, dalam tuturan Markus, terperangkap kuat dalam sebuah problem teodise: Mengapa Allah meninggalkan orang yang saleh seperti dirinya ini sehingga dia menderita? Tak seorang pun tahu kata-kata apa saja yang diucapkan Yesus ketika dia kesakitan di kayu salib, karena semua muridnya telah lari meninggalkannya dan bersembunyi ketakutan, sehabis dia ditangkap, sehingga tak seorang muridnya pun berada di bawah kayu salib Yesus untuk memperhatikan gerak-geriknya dan mendengarkan ucapan-ucapannya. Meskipun demikian, bisa jadi dugaan penulis Injil Markus bahwa Yesus, sebagaimana tercermin dalam ucapan putus asanya itu, terperangkap problem teodise ketika dia sedang meregang nyawa di kayu salib, adalah dugaan yang benar!

 

Pada waktu bangsa Yahudi mengalami Holokaus, yakni dianiaya dan dibantai oleh rezim Hitler yang berkuasa atas negeri Jerman dari 1933 sampai 1945 selama Perang Dunia II, orang Yahudi bergumul amat sangat di mana Allah mereka berada. Sekian jawaban diberikan oleh bangsa Yahudi, oleh para ahli teologi mereka.

 

Kita kenal sastrawan Elie Wiesel. Dia adalah seorang Yahudi yang selamat dari Holokaus setelah masuk ke kamp-kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, Buna, Buchenwald dan Gleiwitz, yang kemudian termashyur di dunia melalui novel-novelnya, khususnya melalui satu novel pertamanya tentang Holokaus yang berjudul Night. Elie Wiesel juga seorang peraih Hadiah Nobel Perdamaian pada 1986.

 

Apa kata Wiesel tentang di mana Allah berada ketika jutaan orang Yahudi dianiaya, disengsarakan dan dibunuh oleh Nazi? Dalam suatu bagian novel Night ini, Wiesel bukan hanya menyatakan Allah tersembunyi, tetapi Allah sungguh-sungguh telah terbunuh. Tulis Elie,

 

“Tak kan pernah kulupakan momen-momen itu yang telah membunuh Allahku dan jiwaku dan mengubah mimpi-mimpiku menjadi debu.”

 

Ya, bagi Wiesel, Allah telah tiada, R.I.P., karena terbunuh, sehingga bangsa Yahudi menderita azab besar tanpa penolong, dan semua harapan dan mimpinya kandas, bak debu-debu berterbangan, lenyap diterpa angin keras!

 

Bagi Buddhisme Mahayana dan Buddhisme Zen, pengalaman akan "kekosongan" (Śūnyatā), emptiness, voidness, nothingness, adalah suatu pengalaman tertinggi, autentik dan mencerahkan mengenai Realitas Akhir Pamungkas. Meminjam pengalaman kaum Buddhis ini, jika seorang teistik merasakan dan mengalami ketiadaan Allah, kekosongan Allah, bisa jadi ini juga adalah pengalaman keagamaan tertinggi baginya, pengalaman pencerahan di mana Allah dan dirinya ditemukan sudah tak terpisah lagi, tetapi menyatu selengkap-lengkapnya, sehingga tak ada lagi Allah di luar dirinya, tak ada lagi Allah dalam jagat raya. Dirinyalah Allah; dirinyalah jagat raya. Ketika dirinya terbunuh, Allah juga terbunuh. Seorang teistik semacam ini tidak akan latah mengikuti teriakan Yesus di kayu salib, yang kecewa sangat berat karena merasa telah ditinggalkan Allah, sang Bapanya, padahal dia merasa selama kehidupannya dia telah melakukan banyak kebajikan.

 

Dus, ketika seorang filsuf besar Jerman, Friedrich Nietzsche (1844-1900), menyatakan "Allah sudah mati" (Gott ist tot), pernyataannya ini bukan sebuah penghujatan dan kesesatan, melainkan (menurut sebuah tafsiran, misalnya tafsiran Kaufmann) sebuah realisasi atau pencapaian tertinggi dan terhalus dari suatu usaha keras intelektual dan spiritual untuk menemukan Realitas Akhir Pamungkas, yang oleh Paul Tillich disebut the Ground of Being, the Ultimate Reality. Sang filsuf besar ini sesungguhnya telah menemukan bahwa Allah adalah suatu kekosongan dan dirinya juga suatu kekosongan! Bukan saja Allah sudah mati; Nietzsche pun sudah mati juga! God is dead; Nietzsche is dead too!  Sebagaimana kerap disalahpahami, penemuan Nietzsche ini bukan sebuah nihilisme, sebab penemuan semacam ini, kita tahu, mengharuskan Nietzsche untuk mengajak orang yang sezaman dengannya untuk menemukan dan menjalankan suatu cara berada yang baru, a new mode of being, sebagai "manusia-manusia super", Übermenschen, suatu penemuan yang mungkin jauh meninggalkan semua penemuan para nabi dan pendiri agama apapun yang sudah dikenal.

 

Tetapi, bagi bangsa Yahudi pengalaman akan "ketiadaan Allah", karena Allah sudah terbunuh di dalam terbunuhnya enam juta orang Yahudi oleh rezim Nazi, adalah pengalaman traumatik genosida yang akan terus terasa dan terkenang sepanjang masa. Pengalaman ini bisa membuat orang Yahudi apapun "anti-teologi" pada satu pihak, dan pada pihak lainnya dapat membuat mereka terus dikuasai sinroma "anak yang dikorbankan dengan keji". Sinroma ini bisa membuat bangsa Yahudi entah terus merasa sebagai bangsa yang tak berdaya dan patut dikasihani, atau pun menjadikan mereka bangsa yang tegar dan yakin bahwa mereka harus terus berjuang membela, menyelamatkan dan mempertahankan diri sendiri sebagai sebuah bangsa di hadapan bangsa-bangsa lain yang memusuhi mereka.

 

Dengan menyatakan bahwa Allah tidak hadir, bahwa Allah menjauh, bahwa Allah bersembunyi, bahwa Allah telah terbunuh, maka penderitaan yang menimpa orang-orang saleh jelas tidak dapat diasalkan pada diri Allah ini. Penderitaan dialami orang saleh bukan karena Allah yang menimpakannya kepada mereka. Bukan! Tetapi karena ada kekuatan-kekuatan lain yang dengan bebasnya menyengsarakan umat, tanpa bisa dihentikan oleh Allah karena Allah memang sedang tidak hadir di tempat ketika penderitaan menerjang umat Allah. Apakah argumen semacam ini berhasil mengatasi problem teodise, dan tidak menimbulkan sejumlah problem lain? Hemat saya, tidak, berdasarkan beberapa alasan berikut.

 

Pertama, kalau Allah bisa tersembunyi, bisa tidak hadir, bisa tiada, maka hilanglah sifat maha hadir dan maha penolong Allah yang sebetulnya ingin dipertahankan dengan kuat dalam teodise.

 

Kedua, kalau Allah bisa tidak hadir, dan sebagai ganti diri-Nya ada kekuatan-kekuatan lain yang jahat, yang sedang berkuasa atas diri umat Allah, maka hilanglah juga sifat maha kuasa Allah.

 

Ketiga, kalau karena Allah bersembunyi umat menjadi sengsara atau rentan terhadap serangan penderitaan, maka Allah yang semacam ini dapat diibaratkan sebagai seorang ayah yang tidak bertanggungjawab, tega hati dan pengecut, yang lari bersembunyi ketika anak-anaknya sedang atau akan dianiaya orang-orang jahat. Konsep tentang Allah yang semacam ini sama sekali tidak bisa diperdamaikan dengan nilai-nilai moral dan nilai-nilai sosial yang mau ditegakkan dalam suatu masyarakat yang bertanggungjawab, yang memandang ayah atau bunda sebagai pelindung-pelindung anak-anak selama anak-anak belum mampu hidup mandiri.

 

Keempat, orang ateis adalah orang yang menyatakan bahwa Allah tidak ada. Kalaupun para agamawan berpendapat bahwa Allah memang ada pada diri-Nya sendiri, orang ateis tidak memerlukan Allah ini sebagai sang pelindung maha kuasa mereka. Dari 6, 78 milyar penduduk dunia dalam dekade pertama abad XXI ini, 1,1 milyar adalah orang ateis. Apakah semua orang ateis dalam jumlah sangat besar ini dengan demikian tidak terlindung dan karenanya akan selalu didera kekuatan-kekuatan jahat sehingga mereka sengsara? Kenyataannya tokh tidak demikian! Banyak ilmuwan besar memilih jadi ateis!

 

Para penganut deisme, sementara tidak ateistik, juga memandang Allah tidak campur tangan sama sekali dalam kehidupan dunia dan kehidupan manusia setelah Allah ini mencipta segala sesuatunya dan menyetelnya untuk jalan sendiri, ibarat seorang pembuat arloji yang tidak berurusan langsung lagi dengan arloji yang sudah dibuatnya dan yang sudah disetelnya untuk jalan sendiri. Bagi kaum deis, setelah Allah mencipta segala sesuatu, Allah ini  mengambil cuti panjang tak terbatas, atau cuti abadi, sehingga tak perlu lagi menerima gaji (= sesajen, darah manusia, darah hewan, doa, pujian, kredo, dogma, doktrin, ritual) dan order pekerjaan apapun (menjawab doa, mengatur alam, membuat mukjizat, berperang)! Dalam iman, seorang deis adalah orang bertuhan, beragama, tetapi dalam praktek kehidupan nyata dia ateistik yang berbahagia, dalam arti dia tak memerlukan kehadiran dan keterlibatan Allah dalam semua perkara kehidupan duniawi yang dijalaninya dengan happy happy saja.

 

Jadi, ketidakhadiran Allah tidak otomatis akan menimbulkan penderitaan bagi manusia. Manusia pada dirinya sendiri dan melalui sains dan teknologi dapat melindungi diri dari banyak bentuk penderitaan. Ketidakhadiran Allah malah bisa membuat orang makin mandiri, makin dewasa dan makin tegar dalam menjalani kehidupan dalam dunia ini. Semakin cepat seorang anak lepas dari ayah bundanya, semakin cepat dia dewasa dan tegar. Di mana Allah tidak hadir, di situ bisa ada kemerdekaan dan pemikiran kritis!

 

Kelima, jika seorang saleh menginginkan kehidupannya terbebas dari segala bentuk penderitaan dengan terus-menerus meminta Allah tetap hadir untuk melindungi dirinya, maka bisa terjadi si orang saleh ini akan menolak semua bentuk perlindungan dan pertolongan yang dapat diupayakan manusia melalui sains dan teknologi modern.

 

Banyak sekali orang saleh di dunia ini dengan fanatik (baca: dengan bodoh) menolak pertolongan medis apapun karena mereka hanya bergantung pada Allah mereka melalui doa-doa dan ritual-ritual mereka untuk kesembuhan penyakit mereka atau penyakit sanak famili mereka. Akibatnya, ya dari antara mereka atau dari antara sanak famili mereka ada yang mati karena “iman” yang bodoh dan tidak cerdas! Supaya hal buruk ini tidak terjadi, orang beriman perlu menyadari dan menerima bahwa “iman kepada Tuhan” itu memiliki batas-batas yang tidak boleh dilewati, jika mereka menginginkan kehidupan yang sehat.

 

Seorang bunda yang tak membawa anaknya yang sakit parah ke rumah sakit untuk menerima pertolongan dan pengobatan medis, sehingga anaknya ini mati, karena si bunda ini hanya berdoa kepada Tuhannya seturut dengan perintah gerejanya yang mengajar umat untuk menolak semua bentuk pengobatan medis, akan segera berurusan dengan aparat kepolisian dan bisa berakhir dengan dirinya dihukum dalam penjara. Iman yang kebablasan bukan lagi iman, tetapi kebodohan dan kedunguan. Kehadiran Allah yang intens dirasakan seorang beriman, dapat membuat akal sehat dan pemikiran kritisnya terblokir, tak bekerja. Di mana Allah hadir, di situ bisa ada bukan kemerdekaan, tetapi perbudakan, bukan sikap dewasa, tetapi sikap kekanak-kanakan!

 

Keenam, ihwal hadir atau tidak hadirnya Allah sebetulnya bukan ditentukan oleh diri Allah itu sendiri, tetapi ditentukan sendiri oleh manusia secara subjektif dalam teologi yang dikonsepnya sendiri. Bisa terjadi dalam suatu bencana dahsyat, seorang mukmin akan mengklaim bahwa dia dengan kuat merasa Allah ada di tengah kehidupannya, sementara seorang mukmin lainnya akan menyatakan bahwa Allah telah meninggalkan dirinya. Jadi, hemat saya, daripada memperdebatkan apakah Allah hadir atau Allah absen di dalam suatu kesulitan yang sedang menimpa manusia, jauh lebih konstruktif jika kita semua mau bertindak secara rasional untuk mengatasi berbagai macam penderitaan yang sedang menimpa umat manusia melalui berbagai macam kerja nyata kita di dalam masyarakat.

 

Ketujuh, jika kehadiran dan penyertaan Allah dipercaya sebagai sumber semua kemakmuran, kesenangan dan keberhasilan, maka konsep teologis semacam ini bisa berbahaya buat kehidupan etis manusia. Bahayanya di mana? Bahayanya: orang bisa berpura-pura melupakan bahwa harta kekayaan yang mereka miliki sebenarnya bersumber dari tindak pidana korupsi atau perbuatan melanggar hukum lainnya; lalu, sebagai gantinya, mereka akan mengklaim bahwa semua harta kekayaan dan sukses mereka itu diperoleh sebagai berkat-berkat Allah yang maha baik dan maha hadir dalam kehidupan mereka. Jadi, di sini teologi dibuat untuk melegitimasi perbuatan tidak bermoral.

 

Itulah tujuh masalah yang muncul jika problem teodise mau diselesaikan dengan konsep tentang Allah yang tersembunyi atau tidak hadir.

 

(Bersambung ke bagian 3)