Setan dan Allah, atau Setan versus Allah?  Ketika anda bertanya, Dari Mana Penderitaan Berasal?, untuk mendapatkan jawabnya, anda bisa masuk ke ranah sekuler dengan tanpa melibatkan agama apapun (misalnya, anda menderita sakit karena anda sendiri hidup tidak sehat, atau karena anda sendiri salah memilih makanan, atau karena anda berada pada waktu dan tempat yang salah), atau masuk ke ranah agama. Jika anda pilih yang kedua, maka anda masuk ke dalam suatu masalah teologis yang dinamakan teodise.

 

 

Nah, tulisan serial ini adalah refleksi kritis atas teodise. Istilah “teodise” dibentuk dari dua kata Yunani: theos (allah) dan dikē (keadilan). Jadi, teodise adalah doktrin tentang keadilan Allah.

 

Orang yang menganut teodise mempercayai bahwa Allah yang mahakuasa, maha pengasih dan maha penyayang dan maha adil, akan senantiasa berbuat adil dan penuh cinta kepada kaum mukmin yang percaya total kepadanya. Bagi mereka, menyembah Allah yang semacam ini akan menyebabkan mereka terhindar dari keburukan, nestapa, penderitaan dan bencana.

 

Tetapi… keyakinan mereka ini bertabrakan dengan kenyataan kehidupan yang mereka lihat di sekitar mereka dan di dalam kehidupan mereka sendiri. Ternyata ada banyak penderitaan dialami orang saleh. Malah orang jahat bertambah makmur dalam kehidupan mereka. Kenyataan kehidupan yang semacam ini membuat mereka bergumul, dan lahirlah dari pergumulan mereka ini apa yang disebut the theodicy problem, problem teodise: Bagaimana Allah masih tetap bisa dipercayai sebagai Allah yang maha pengasih dan penyayang, maha kuasa dan maha adil, sementara kenyataan kehidupan sangat bertentangan dengan apa yang mereka harapkan diberikan Allah ini kepada dunia dan khususnya kepada orang-orang saleh.

 

Problem teodise hanya muncul dalam agama-agama monoteistik yang tidak memberi tempat kepada satu (atau lebih) hakikat adikodrati lainnya di samping Allah yang maha esa dan maha kuasa. Konsep keesaan Allah atau tawhid ini dipertahankan kuat-kuat ketika suatu umat beragama monoteistik sedang aman, senang dan sejahtera, tidak sedang menghadapi penderitaan berat yang ditimpakan, misalnya, oleh suatu pemerintahan dunia yang jahat dan kejam, atau oleh suatu bencana alam.

 

Tetapi konsep keesaan Tuhan atau tawhid semacam ini diubah secara radikal ketika umat sedang menghadapi suatu penganiayaan dan deraan berat yang tak tertahankan, yang ditimpakan atas mereka oleh suatu pemerintahan lalim yang sedang berkuasa di dunia, atau sedang menanggung penderitaan berat karena kejadian alam. Konsep keesaan Allah atau tawhid ini, dalam situasi penderitaan berat semacam ini, diubah oleh umat minimal menjadi konsep diteisme dualistik kosmik. Dalam konsep ini dibayangkan ada suatu kekuatan lain adikodrati, di samping Allah yang maha esa, yang sedang berkuasa di dalam dunia ini, yang sedang melawan Allah yang maha esa. Dengan demikian, ada dua penguasa adikodrati dalam kosmos yang sedang bertarung satu sama lain, penguasa jahat melawan penguasa baik— dus, diteisme dualistik kosmik.

 

Berbagai umat beragama memberi nama berbeda-beda kepada penguasa adikodrati jahat lainnya ini yang sedang melawan Tuhan yang maha kuasa. Umat agama-agama monoteistik umumnya memberi nama Setan atau Iblis kepada hakikat adikodrati tandingan Allah yang maha kuasa ini.

 

Umat Hindu memberinya nama Siva, sebagai suatu pengejawantahan personal aspek-aspek destruktif dalam diri Allah yang maha esa.

 

Dalam teks-teks Buddhis, kekuatan jahat perusak yang kerap mengganggu Siddharta Gautama ketika dia sedang mencari pencerahan dinamakan Maara atau Paapimaa (="si Pencoba", "si Jahat", "Iblis"). Dalam menggoda Buddha, Maara digambarkan sering mengambil berbagai sosok menyeramkan yang memiliki seribu tangan, atau sedang menunggangi seekor gajah yang dinamakan Girimekhalaa, dan memiliki seribu skuadron penyerang. Setelah Maara dan pasukannya gagal menaklukkan Siddharta, tiga puteri Maara yang juga memiliki sifat jahat, yang masing-masing dinamakan Berahi, Kenikmatan, dan Kesenangan, berkomplot untuk mencoba dan menggoda Gautama secara erotik tak lama setelah dia mendapatkan pencerahan.

 

Para penganut Zoroastrianisme memberinya nama Ahriman, yang terpersonifikasi sebagai Angra Mainyu, sang ilah jahat yang sedang melawan sang ilah baik yang diberi nama Spenta Mainyu (mediator Allah yang maha kuasa, yang diberi nama Ahura Mazda).

 

Dalam tradisi biblis Kristen, dikenal nama Antikristus sebagai sang penguasa jahat yang sedang melawan Yesus Kristus.

 

Nah, dengan diajukannya konsep diteisme dualistik kosmik ini (bahwa di dalam kosmos atau jagat raya ini terdapat dua kekuatan adikodrati yang sedang bertarung satu sama lain) sebagian problem teodise dipecahkan. Ketika orang bertanya, mengapa ada penderitaan dalam dunia ini, mengapa orang saleh dianiaya, sebuah jawaban sudah tersedia: penderitaan itu ada karena ada sang penguasa jahat di dalam kosmos ini yang menjadi sumber semua penderitaan manusia.

 

Jadi, penderitaan dan kesengsaraan timbul bukan karena perbuatan Allah yang maha kuasa, maha kasih dan maha penyayang, melainkan karena perbuatan keji sang penguasa jahat tandingan Allah yang maha baik. Dengan demikian, sifat maha baik dan maha kasih Allah berhasil dipertahankan. Tetapi, pada pihak lainnya, muncul sebuah problem lain: jika memang ada satu (atau lebih) penguasa jahat dalam kosmos ini, yang bisa melawan dan menandingi Allah, maka tawhid dan sifat maha kuasa Allah terongrong bahkan ditiadakan. Ya, itulah memang akibat dari diajukannya konsep diteisme dualistik kosmik. Masalah ini tentu sudah dipikirkan oleh para pencetus konsep diteisme dualistik kosmik ini. Mereka sudah memiliki jalan keluarnya.

 

Dalam keyakinan para pendukung diteisme dualistik kosmik, sang penguasa supernatural jahat itu hanya berkuasa untuk sementara dalam dunia ini. Sang penguasa adikodrati yang kejam ini tidak dibiarkan Allah yang maha kuasa dan maha baik untuk berkuasa selamanya dalam kosmos ini. Pada akhir zaman, ketika dunia dan sejarah manusia berakhir, sang penguasa jahat ini akan dikalahkan oleh Allah yang maha kuasa dan maha baik dalam suatu pertempuran kosmik di kawasan adikodrati.

 

Bukan hanya dikalahkan, tetapi juga sang penguasa jahat ini beserta segenap antek insaninya dalam dunia (misalnya seorang raja yang lalim), akan mengalami pembalasan Allah habis-habisan, minimal setimpal dengan kejahatan dan kekejian yang mereka pernah lakukan terhadap umat Allah. Mereka akan dibelenggu, dirantai dan dipenjarakan dalam neraka kekal sampai selamanya. Pada sisi lain, suatu dunia baru diciptakan Allah yang maha baik dan maha adil untuk umat yang pernah disengsarakan dan didera sang penguasa jahat dan antek-antek insaninya. Dengan keyakinan semacam ini, orang-orang saleh yang sedang menderita diminta untuk bersabar, karena untuk segala sesuatunya konon akan ada penyelesaiannya nanti di dunia baru di ujung waktu!

 

Para pengonsep diteisme dualistik kosmik berbeda pandangan ketika mereka membayangkan bentuk dunia baru ini. Ada yang membayangkan dunia baru ini berada di luar sejarah, di kawasan supernatural, dan sama sekali tidak ada kaitannya lagi dengan dunia lama. Pandangan ini paling umum dipegang.

 

Namun ada juga yang memandang dunia baru ini sebagai suatu kelanjutan dan penyempurnaan dunia lama di kawasan kodrati, dunia baru yang sudah dibersihkan dari segala kejahatan dan penderitaan yang pernah dilakukan dan didatangkan sang penguasa jahat yang kini sudah dikalahkan dan sedang dihukum selamanya di kawasan adikodrati.

 

Bagaimanapun juga, kedua sudut pandang ini sama-sama meyakini bahwa dunia yang sekarang didiami manusia sudah tidak bisa diharapkan lagi, sehingga harus diganti dengan dunia yang sempurna sepenuhnya, yang akan didatangkan Allah yang maha kuasa dan maha pengasih.

 

Nah, semua konsep yang sudah diulas di atas disebut apokaliptisisme. Kata ini berasal dari kata Yunani “apokalipsis”, yang artinya “wahyu” atau “penyingkapan ilahi”. Disebut demikian karena semua hal yang akan terjadi di akhir zaman, mulai dari ihwal kapan akhir zaman tiba, ihwal dikalahkannya segala penguasa jahat di dalam suatu pertempuran kosmik sampai pada ihwal pembalasan Allah dan kedatangan dunia baru, diketahui umat hanya lewat wahyu atau penyingkapan ilahi yang disampaikan oleh Allah sendiri atau oleh seorang malaikat perantara kepada seorang nabi yang berasal dari antara umat.

 

Ya, apokaliptisisme bisa menyelesaikan problem teodise dengan memunculkan figur Setan atau Iblis atau Antikristus atau Ahriman atau Angra Mainyu sebagai biang keladi semua penderitaan dalam dunia ini, sambil tetap mempertahankan sifat maha adil dan maha baik Allah, dan juga dengan memulihkan kembali kemahakuasaan Allah pada akhir zaman. Tetapi sekian problem lainnya juga muncul, sebagai berikut.

 

Pertama, diteisme dualistik kosmik atau apokaliptisisme muncul dari pesimisme atau rasa putus asa manusia terhadap keadaan dunia masa kini. Menurut pandangan apokaliptis, dunia sekarang ini, karena sedang dikuasai Setan atau Iblis melalui antek-antek insaninya, sudah demikian jahat tak tertolong, sehingga harus dilenyapkan sama sekali dan diganti dengan suatu dunia baru di luar sejarah atau pun di dalam sejarah.

 

Pesimisme atau rasa putus asa umat beragama semacam ini bertentangan dengan usaha sebagian besar umat manusia lainnya, yang terus bekerja dengan penuh pengharapan untuk membuat dunia kita sekarang ini makin lebih baik lagi dari waktu ke waktu melalui kerja keras dan kerja cerdas di dunia sains dan teknologi dan melalui berbagai usaha global lainnya untuk menjadikan planet Bumi ini suatu tempat yang makin baik untuk semua makhluk hidup.

 

Kedua, apokaliptisisme mendambakan dan menjanjikan suatu kehidupan yang seluruhnya adil, baik dan sempurna bagi manusia, entah kehidupan semacam ini dialami dalam dunia ini ataupun akan dialami nanti ketika akhir zaman tiba. Jelas, ini adalah suatu visi yang utopis dan tidak realistik. Dunia yang sempurna semacam ini tidak akan pernah ada bagi manusia kapanpun juga.

 

Dalam realitas kehidupan, kapanpun juga manusia tetap akan hidup dalam kenyataan-kenyataan gabungan antara sakit dan sehat, kebaikan dan kejahatan, suka dan duka, cinta dan kebencian, keberhasilan dan kegagalan, miskin dan kaya, kehidupan dan kematian, putih dan hitam, dan seterusnya. Kenyataan-kenyataan gabungan ini adalah kenyataan-kenyataan kodrati, yang terstruktur dalam tata kosmik, dan akan tetap ada sampai selamanya, entah Allah itu ada ataupun Allah itu tidak ada!

 

Ketimbang terhanyut dalam suatu visi eskapisme yang utopis dan tidak realistik, jauh lebih baik jika kita membina diri kita dan diri manusia umumnya untuk dapat hidup dengan lebih baik, lebih berhasil, lebih bersukacita dan lebih menyayangi, dari saat ke saat, sambil tetap tabah ketika menghadapi kenyataan-kenyataan lain yang membuat manusia menderita.

 

Ketiga, apokaliptisisme mendorong kaum mukmin untuk cepat-cepat masuk ke dalam suatu dunia sempurna yang didalamnya Iblis atau Setan atau Antikristus sudah tidak ada atau sudah dikalahkan total, karena mereka sudah tidak tahan hidup dalam dunia sekarang ini, yang tidak memenuhi visi ideologis atau angan-angan utopis religius mereka sendiri. Dorongan ini, kita tahu, banyak kali memunculkan tindakan-tindakan kekerasan seperti terorisme yang bertujuan, pada titik ekstrimnya, untuk melalui perang nuklir sejagat melenyapkan planet Bumi ini yang mereka bayangkan sedang dikuasai si Setan Besar Amerika Serikat atau si Setan Besar Arab Saudi, misalnya.

 

Keempat, apokaliptisisme sebetulnya mengajarkan kaum mukmin untuk terus membenci orang-orang lain yang menyengsarakan mereka, dan terus menyumpahi mereka untuk segera mati dan masuk neraka sebagai bentuk penghukuman Allah atas mereka yang seadil-adilnya. Tentu kita bisa memaklumi kalau orang tidak bisa menyetujui atau membenci orang-orang yang berlaku jahat kepada mereka. Kita juga bisa memahami kalau orang menginginkan orang jahat dihukum seberat-beratnya demi keadilan dan demi menimbulkan efek jera pada semua kriminal.

 

Tetapi, suatu ajaran agama yang terus-menerus membuahkan kebencian dan amarah dalam diri kaum mukmin bukanlah ajaran agama yang baik dan sehat, apalagi jika ajaran agama ini membentuk kaum mukmin untuk baru terpuaskan jika dendam mereka kepada orang lain terbalaskan di akhirat, yakni ketika orang jahat dimasukkan ke dalam neraka dan mereka, sebagai orang baik, dimasukkan ke dalam surga. Apalagi, jika surga dan neraka di alam baka itu tak pernah ada dalam kenyataan, tetapi hanya ada dalam mitologi.

 

Bukankah ajaran agama yang baik dan sehat adalah ajaran yang membentuk kaum mukmin untuk bisa memaafkan orang-orang yang bersalah sekalipun orang-orang yang bersalah ini telah berlaku sangat jahat terhadap mereka? Selain itu, hati yang terus diisi dengan amarah dan dendam dan sumpah akan membuat manusia tidak pernah bisa hidup sejahtera di dalam dunia ini, dan malah sebaliknya akan membuat mereka sakit jiwa dan sakit pikiran terus-menerus.

 

Kelima, para penganut apokaliptisisme melihat Setan atau Iblis, sebagai makhluk rohani yang tidak kasat mata, sebagai sumber semua kejahatan dan penderitaan manusia. Sudut pandang semacam ini membuat mereka gagal atau tidak mau melihat bahwa semua penderitaan dalam dunia ini dapat dicari sebab-sebabnya pada hal-hal duniawi, kodrati dan manusiawi, misalnya karena cara hidup yang salah, karena kondisi alam yang buruk, karena bencana alam, atau karena sistem keamanan masyarakat yang tidak dapat diandalkan, atau karena sistem hukum dan sistem ekonomi serta sistem politik yang tidak baik dan tidak adil dalam suatu negara. Apokaliptisisme mencari keselamatan di dalam dunia yang kiamat, bukan di dalam dunia sekarang ini, yang di dalamnya semua sistem penyelenggara kehidupan perlu diperbaiki sehingga menjadi lebih baik bagi semua orang.

 

Terakhir, keenam, apokaliptisisme menjanjikan penyelesaian suatu perkara kejahatan duniawi di luar sejarah dan di luar dunia yang belum tentu akan pernah ada. Karena terus-menerus menunggu akhir zaman yang diberitakan akan segera terjadi, namun dalam kenyataannya tidak pernah terjadi, kaum mukmin yang dibesarkan dalam pemikiran apokaliptisisme menjadi lupa bahwa sebetulnya penyelesaian atas masalah kejahatan dan penderitaan dalam dunia ini dapat diperoleh dalam dunia ini sekarang ini dengan adil, misalnya melalui pengadilan negara atau, jika pengadilan domestik gagal, melalui pengadilan internasional yang sekarang ini berpusat di Den Haag, Belanda. Apokaliptisisme lahir dalam zaman kuno ketika sistem hukum internasional belum ada, lembaga pengadilan internasional atas kejahatan kemanusiaan di aras global belum dibangun, dan PBB belum didirikan, ketika ada sangat banyak penyakit yang belum dapat diobati, ketika sains dan teknologi belum semaju sekarang ini yang telah terbukti banyak membantu manusia dalam meringankan atau malah mengalahkan penderitaan.